rigeleo


Lagi-lagi pesan dari seorang Felix-lah yang membuat Jisung tergerak. Terkadang ia pun sadar bahwa kontrol diri itu perlu, namun, Jisung merasa masih terlampau sulit untuk melakukannya.

Jisung pun akhirnya keluar pintu kamarnya dan pergi sejenak ke arah dapur. Suara langkahnya saat menuruni tangga ternyata disadari oleh si pemilik kost.

Begitu ia sampai dapur, suara halus menyapa rungunya. “Mas Jisung, balik kapan? Kok Ibu ngga liat, ya?”

Jisung sedikit tersentak kaget. “Eh ... Ibu, kirain siapa. Saya pulang subuh tadi, Bu.”

“Oalah, si Bapak ya yang bukain?”

Ia mengangguk sambil tersenyum. “Iya, Bu. Ada bapak lagi nyapu depan, tadi pagi pas saya pulang,” jelasnya.

Sang pemilik kost itu hanya mengangguk, seraya berkata, “Mas Jisung, bisa ngobrol sebentar sama saya?”

“Bisa, Bu.”

Kemudian Jisung mengekori Ibu pemilik kost tersebut untuk menuju ke ruang tamu kost.

Sembari berjalan, Jisung menimbang beberapa asumsinya mengenai topik apa yang akan dibahas oleh si pemilik.

“Jadi gini, Mas. Mas Jisung lagi berantem sama Mas Seungmin, ya?” tanya si pemilik kost dengan nada sehalus mungkin.

Melihat gerak-gerik Jisung yang enggan untuk menjawab, sang Ibu kost pun melanjutkan kalimatnya, “Kalau ngga bisa dijawab, ngga apa-apa, Mas. Soalnya kemarin pas banget setelah Mas Jisung keluar, Mas Seungmin tuh ngeliatin dari atas. Nah, ngga lama, Ibu kan kalau ada anak Ibu yang keluar tuh kamarnya Ibu cek dulu, takutnya teh kelupaan dikunci atau apa. Nah, di situ ada Mas Seungmin, duduk di depan pintu kamarnya Mas Jisung. Mungkin nungguin Mas Jisung pulang, terus mungkin Mas Seungmin tau kali, ya, kalo Mas Jisung ngga pulang. Jadinya dia balik ke kamarnya,” jelasnya panjang lebar.

Mendengarnya, Jisung hanya mengusap wajahnya kasar. Rasa bersalah kian menggerogoti dirinya. Kendati demikian, ia masih ingin menggali informasi lebih lanjut.

“Dia duduk di depan kamar saya lama, Bu?”

“Lumayan, kan Mas Jisung pergi jam 9 lewat, nah itu Mas Seungmin duduk di situ sampai jam 11 lewat. Saya mau tanya, tapi takutnya ini masalah personal. Terus juga kata si Bapak, tadi subuh teh Mas Seungmin balik ke depan kamar Mas Jisung, ketuk-ketuk gitu. Tapi pas dia denger suara motor Mas Jisung, dia langsung naik ke kamarnya.”


Kini, Jisung menatap kosong ke arah pintu kamar Seungmin. Ia menarik nafas panjang sebelum akhirnya memberanikan diri untuk mengetuk pintu.

Beberapa ketukan ia layangkan, namun tak kunjung mendapat respons dari si penyewa kamar.

Dirinya hendak melihat masuk ke arah jendela, namun ternyata Seungmin menutup gordennya—padahal, biasanya ia hanya mengenakan gorden semi transparan. Akhirnya, Jisung pun berinisiatif menarik bangku yang ada di depan kamar Seungmin untuk melihat ke dalam lewat jaring-jaring ventilasi yang biasa ada di atas pintu.

Terlihat samar, tetapi Jisung dapat melihat Seungmin yang tengah tertidur meringkuk di atas tempat tidurnya. Sisinya berantakan, seperti tidak ditata selama beberapa hari terakhir. Lagi-lagi Jisung teramat tau, bahwa kekasihnya itu paling tidak tahan dengan kamar yang berantakan.

Jisung kembali amati sekitar Seungmin, di sana terdapat beberapa obat dan plester penurun panas.

Ia pun turun dan mengetuk pintu tersebut sedikit lebih keras—berusaha membangunkan Seungmin. Saat Jisung sedikit frustasi, tangannya dengan reflek hinggap pada kenop pintu. Tak disangka, ternyata pintu tersebut tidak dikunci dari dalam.

Kemudian tanpa ragu, Jisung berjalan pelan ke dalam. Menghampiri Seungmin yang terbaring di ranjangnya.

“Seung, bangun ...” ucapnya pelan, sembari menepuk pelan pipi Seungmin. Tetapi, Jisung terlonjak kaget kala ia dapati pipi Seungmin yang menghangat, kemudian untuk memastikan, ia letakkan juga tangannya pada dahi Seungmin— yang ternyata sedikit lebih panas.

“Seungmin, bangun sayang, badan kamu panas banget. Ke dokter, yuk?”

Masih tak bangun juga.

Setelah beberapa kali percobaan, akhirnya Seungmin terbangun. Matanya terbuka perlahan-lahan, walaupun nampaknya sangat berat.

Netra Seungmin pun menelisik, siapakah gerangan sosok yang berada di hadapannya saat ini. Pandangannya sedikit buram, kepalanya pusing bukan main.

“Seung, ini aku.”

Mendengar suara yang familiar, Seungmin berusaha untuk bangun. Jisung pun membantunya perlahan.

Seungmin masih terdiam, ia tertunduk sambil memijat pelan dahinya. Jisung sangat khawatir melihat kondisi Seungmin yang pucat bukan main. Tangannya tergerak untuk menyibak rambut Seungmin ke belakang sembari sesekali memastikan suhu tubuh kekasihnya.

“Kenapa bisa begini?” tanya Jisung. Padahal ia tahu jelas, bahwa ini akibat pertengkaran mereka tempo hari. Jisung kelewat paham tentang bagaimana Seungmin yang mudah jatuh sakit bukan hanya ketika sibuk saja, tetapi juga ketika berselisih paham. Ketika itu terjadi, kekasihnya itu cenderung memikirkannya terus menerus hingga berdampak pada kondisi kesehatannya.

Seungmin hanya menggeleng lemah, entah karena ia takut untuk sekedar berbicara—karena yang ia tahu, Jisung masih enggan berbicara padanya—atau memang karena ia tidak bertenaga saja.

“Kita ke dokter, ya?”

Untuk yang kedua kali, Seungmin hanya menggelengkan kepalanya.

“Kenapa ngga mau ngomong sama aku? Gapapa, ngomong aja. Aku udah ngga marah,” ujar Jisung.

Manik legam Seungmin tatap Jisung takut-takut. Tanpa sadar, lama kelamaan air matanya turun. Perlahan pula suara isakannya mulai terdengar.

“Sayang, kenapa nangis? Ada yang sakit?”

“Kamu ... kamu yang sakit gara-gara aku kemarin, kan?” ucap Seungmin. Suaranya bergetar.

Jisung pun akhirnya memeluk Seungmin tanpa ragu, kemudian menepuk punggungnya pelan.

“Ji, aku minta maaf. Maafin aku.” Seungmin mengucap kalimat tersebut berulang kali karena Jisung tak kunjung memberi respon berupa kalimat.

Jisung mengingat kembali pesan yang kemarin Seungmin kirim. Ia sudah di tahap pasrah dengan semua keputusan Jisung, bahkan jika akhirnya harus berpisah, Seungmin akan terima. Begitulah yang Jisung baca tadi. Jisung pun berpikir, wajar saja Seungmin menjadi seperti ini, pastilah pikiran-pikiran buruk tentang hubungan mereka benar-benar menghantui Seungmin.

“Aku udah ngga marah, aku udah cukup marahnya. Jangan nangis lagi, ya?”

“Maafin aku, Ji ....”

“Aku maafin, sayang. Udah, ya, udah. Jangan mikir gimana-gimana lagi.”

“Ji, aku ngga masalah kalo kamu mau pu—” kalimat Seungmin tiba-tiba terputus, digantikan oleh suara berat Jisung yang terdengar begitu serius. “Ngga. Kita ngga bakalan putus, dan aku ngga mau putus.”

Sekali lagi, Jisung menarik nafas panjang dan berkata, “Maafin aku juga, ya. Maaf karena marahnya terlalu lama, maaf juga gara-gara aku kamu jadi sakit.”

Seungmin menggeleng ribut, “Aku yang minta maaf ke kamu, Ji. Padahal semuanya udah jelas, tapi aku masih aja bikin kamu sakit ... and i think, i deserve this

Deserve apa? Sakitnya? Ngga. Ngga sama sekali.”

Seungmin kembali memeluk Jisung erat-erat seraya berucap, “Aku ngga mau berantem lagi sama kamu. Aku minta maaf, Ji ...”

Jisung pun membalas pelukan Seungmin, sembari tangannya mengusap rambut Seungmin dengan lembut, juga mengecup pucuk kepala itu sesekali.

“Aku juga minta maaf, aku janji ngga bakalan marah sampai sebegininya lagi. Jangan sakit lagi, ya.”


Mendengar kabar bahwa sang kekasih tidak berada di lokasi awal, membuat Jisung kalang kabut.

Walaupun amarah tengah melahap setengah dirinya, Jisung masih memiliki secuil kewarasan untuk mengesampingkan jauh-jauh egonya untuk kemudian mencari Seungmin.

Hari kian larut. Kendaraan yang biasanya ramai melintas pun bahkan merasa enggan untuk melanjutkan aktivitasnya. Kini hanya tersisa beberapa orang setengah sadar yang berlalu lalang, berusaha mencari jalan pulang.

Sedangkan Jisung masih tak kunjung menemukan kekasihnya. Namun, ia merasa yakin bahwa keberadaan sang kekasih tak jauh dari bangunan bertingkat tiga—tempat mereka tinggal.

Jisung kembali menyusuri jalanan dengan lampu remang-remang tersebut, berharap ada sesuatu yang terlewat.

Jarak dua halte dari kost tempat mereka tinggal—dari kejauhan, netra Jisung menangkap sosok pemuda yang tengah duduk tertunduk sembari mengusap wajahnya sesekali. Karena minimnya pencahayaan di halte tempat pemuda itu menepi, akhirnya Jisung menghampirinya untuk memastikan.

Benar saja, sosok itu tak lain adalah Seungmin. Ia menatap kosong bumi yang dipijaknya, masih dalam keadaan menangis. Nafasnya pun ikut tersengal, dan dapat dipastikan wajahnya menjadi sembab bukan main.

Jisung memberhentikan motor hitam legam kesayangannya itu tepat di dekat Seungmin. Karena merasa terinterupsi, Seungmin pun mendongak untuk melihat siapa yang ada di depannya.

“Kenapa ngga pulang?” tanya Jisung begitu tatapannya beradu dengan netra Seungmin.

Bukannya menjawab, Seungmin justru makin mengeraskan tangisnya. Jisung pun demikian, ia enggan mengulang pertanyaannya.

“Gua yang diginiin kok lu yang nangis?” Wajahnya terlihat serius dengan ekspresi datar. Kendati demikian, masih ada kepedulian dalam diri Jisung. Selanjutnya, ia justru memakaikan jaket yang semula ia pakai ke tubuh Seungmin.

“Maaf, Ji ... aku ngga berani pulang. Aku takut kamu makin marah ....”

Lagi-lagi Jisung menutup rapat mulutnya. Ia kemudian memakai helmnya dan menarik pelan tangan Seungmin untuk duduk di motornya. Seungmin sedikit menahan gerak tubuhnya supaya tidak tertarik oleh Jisung, namun, kekasihnya itu segera menoleh dan berkata, “Naik. Kita pulang.”

Mendengar nada bicara yang tak biasa ia dengar, Seungmin pun menjadi segan dan memilih untuk patuh.

Dikarenakan jarak yang tidak terlalu jauh, mereka pun akhirnya sampai. Begitu turun dari motor, Jisung kembali memegangi pergelangan kekasihnya sembari berjalan ke lantai 3, alias ke kamar milik Seungmin.

Sesampainya di depan pintu, Jisung merogoh kantung celananya untuk mengeluarkan kunci kamar Seungmin yang biasanya dititip padanya.

Pintu pun terbuka, dan Jisung mendorong pelan tubuh Seungmin untuk masuk. Begitu dirinya membalik badan, ganti tangan Seungmin yang kini mencekal tangannya. Seungmin tak berucap sepatah kata pun, ia hanya menatap Jisung dengan tatapan yang tersirat berlembar-lembar kalimat yang siap untuk dilontarkan.

Namun, Jisung terlebih dahulu membuka suaranya. “Masuk. Gua ngga mau ngobrol sekarang,” ucapnya yang kemudian melepas tautan yang Seungmin ciptakan.

Jisung pergi ke kamarnya setelah ia menutup pintu. Menyisakan Seungmin sendirian yang kini dirundung rasa bersalah.

Seungmin paham letak kesalahannya, ia pun tau bahwa yang Jisung rasakan tidaklah jauh berbeda dengan yang ia rasakan kemarin—kala Jisung bercengkerama dengan orang yang tidak ia sukai. Atau mungkin... lebih sakit?

Menerima balasan pesan dari Jisung membuat suasana hati Seungmin sedikit membaik. Jisung terbilang tidak pernah gagal dalam menghiburnya, walaupun di sebagian orang mungkin terlihat menyebalkan—karena beberapa orang berpendapat, ada waktu untuk serius dan ada waktu untuk bercanda, ya ... memang. Namun, selagi Jisung bisa mengemas keduanya dalam satu waktu, hal itu bukanlah masalah besar bagi Seungmin.

Gelembung pesan terakhir sudah terbalaskan, Seungmin pun langsung berlari dari arah pintu—untuk membuka kunci pintu—kemudian kembali ke kasurnya.

Begitu pintu dibuka, Jisung dengan seringainya yang menyebalkan langsung menyapa Seungmin. “Gua tau ya, lu abis buka kunci langsung lari,” ucapnya sambil menaruh panci berisikan bungkusan mi ramen dan beberapa bahan pendukung.

Seungmin hanya terdiam, matanya masih mengawasi Jisung yang berjalan ke arahnya. “Biasa aja kali ngeliatinnya,” protes Jisung.

Yang diajak bicara hanya mencebik kesal, ia pun berkata, “Lu nyebelin!”

Mendengar ocehan kekasihnya, Jisung hanya tertawa kecil. Dirinya sudah terbiasa mendapatkan banyak protes dan omelan dari kekasihnya itu, namun, bukannya balik marah atau merasa takut, Jisung justru makin menambah niatnya untuk terus menggoda Seungmin.

Jisung, sini dong, mau peluk. Bilang gitu kan enak.”

“Males,” sanggahnya.

Meskipun demikian, saat Jisung berdiri di depannya dan mulai mengusak rambutnya, Seungmin perlahan melunak. “Kenapa, sih, kok bisa sampe bt banget gini?” tanya Jisung sambil memainkan surai hitam Seungmin.

Seungmin yang hatinya sudah mulai melunak pun meraih pinggang Jisung untuk dipeluk. Ia menyembunyikan wajahnya pada perut Jisung dan mulai meracau pelan. Entah apa yang diucapkannya, Jisung pun tak dapat menangkapnya dengan jelas.

“Gapapa, sayang, kan ujungnya lu bisa kan jawabnya? Itu udah keren kok. Jangan terlalu mikirin hasilnya, dosennya pasti paham kok kalo lu bisa jawab pertanyaannya walaupun agak ngadat ngadat jawabnya.”

“Ngga usah ngeledek ah,”

“Hahaha ... kaga ngeledek itu, sumpah. Lu udah ngerjain semaksimal mungkin, jadi, pasti hasilnya bakalan ngikutin. Lu inget ga sih pas semester kemarin lu juga begini. Dibantai abis-abisan sama pertanyaan dari dosen, lu bilang jawaban lu kaga maksimal, tapi ternyata dapet A. Nah, berlaku juga buat ini. Gua yakin lah nilai lu kaga bakal dapet B apalagi C,” jelas Jisung, mencoba menghibur Seungmin.

Jisung paham, bahwa pacarnya itu kelewat ambis. Jadi, jika menurutnya ada yang kurang maksimal, maka akan selalu dibawa pikiran.

Setelah Jisung mengucapkan hal itu, gerak Seungmin jadi makin gusar. Kelamaan, Jisung merasakan hangat pada baju bagian perutnya.

Seungminnya menangis.

Jisung pun menarik pelan kepala Seungmin untuk mendongak. Dilihatnya mata yang sembab dan berlinang air mata, hidung yang sedikit memerah, dan air mata yang perlahan mengalir menuruni pipi Seungmin. Jisung usap pipi itu dan kembali memeluknya. Seungmin tidak banyak bicara, mengucap sepatah kata kala menangis saja ... sudah syukur.

Bagi Jisung, Seungmin yang ini dengan Seungmin yang biasanya, merupakan dua orang yang berbeda. Maka dari itu sebisa mungkin Jisung membedakan perlakuannya ketika menghadapi Seungmin yang ini— Seungmin yang menunjukkan sisi lemah lembutnya jika ia mau, dan hanya padanya.


Setelah kepulangan Hyunjin, Seungmin pergi ke dapur untuk membantu Ibundanya—bukan untuk memasak, bukan. Karena Seungmin sendiri tidak bisa memasak, maka dari itu, ia hanya membantunya mencuci piring.

Di sela-sela kegiatan, mereka terus berbincang mengenai berbagai macam hal. Momen seperti inilah yang menjadi favorit Seungmin—mengobrol bersama sang Ibunda sembari melakukan kegiatan yang menyenangkan. Memasak, contohnya.

Menu masakan mereka kali ini cukup instan, yaitu spaghetti. Sembari menunggu mie spaghetti tersebut melunak, Bunda menyiapkan sausnya terlebih dahulu. Beberapa bumbu dan bahan pun dimasukkan. Setelah beberapa saat, Bunda menyendok sedikit saus itu ke telapak tangannya, kemudian mencicipinya.

Setelah dirasa cukup, Bunda mematikan kompor, sembari berkata, Mmm ... enak sausnya, udah pas. Sayang banget, Hyunjin tadi Bunda suruh tunggu sebentar buat makan malem, tapi dianya ngga mau. Katanya takut terlalu malem nyampenya—tapi, ya, bener sih ....”

Lantas Seungmin langsung menoleh begitu nama Hyunjin disebut. “Lagian tadi seru banget ngobrol berdua, ngga ngeliat jam, akunya dikacangin pula,” sindir Seungmin.

Mendengarnya, sang Ibunda tertawa pelan—cenderung meledek. “Abisnya, ngobrol sama dia seru, Dek. Dia tuh anaknya unik gitu menurut Bunda. Anaknya tuh jujur banget gitu, lho. Kalo ditanya, keliatan dia jawab apa adanya aja, ngga dilebih-lebihin dan ngga dikurang-kurangin. Biar Bunda tebak, dia anaknya ceroboh, ya? Atau mungkin tipikal yang sering kena hukum gitu?”

“Hahaha bener, Bun. Anaknya jujur banget bangetan kalo ditanya, jawabnya beneran apa adanya hahaha ... and, yup! Kata temenku, dia agak ceroboh. Dia juga sering dihukum, tapi setau aku, sih, bukan karena kasus yang gimana-gimana. Biasanya, sih, karena dia lupa bawa atribut gitu, kalo nggak, ya ... paling-paling telat,” jelas Seungmin santai.

Bunda mengangguk pelan sambil mengaduk panci berisikan spaghetti. “Oh iya, Dek. Waktu itu kamu cerita, kalo ada anak cowo yang sering ngasih kamu susu. Itu maksudnya si Hyunjin, atau siapa?” tanyanya.

Seungmin yang sedang meneguk air putih pun seketika tersedak kaget. Uhuk!—Bunda, ih!”

“Loh, kenapa kaget gitu? Bener, ya? Hahaha ...” ledeknya.

Kilas balik

Seungmin melepas sepatunya dengan terburu-buru sembari mengucapkan salam, sebelum masuk ke rumah.

Bunda yang melihat anaknya seperti dikejar sesuatu itu pun bertanya, “Dek, kenapa buru-buru gitu? Kan hari ini ngga ada les,” ucapnya.

“Bun, sumpah! Di luar panas banget, ngga kuat aku,” keluh Seungmin.

Setelah pergi ke kamar mandi untuk cuci kaki, Seungmin tidak langsung berganti baju, melainkan ia duduk di samping sang Bunda yang terduduk santai di sofa—menikmati cutinya.

“Lagi, sih, tadi Bunda jemput ngga mau. Kan naik mobil ngga panas, Dek.”

“Bunda tuh liburnya jarang-jarang. Jadi, sekalinya libur harus dinikmati!”

Mendengar kata-kata hangat yang diucapkan anak semata wayangnya, Bunda pun tersenyum lebar. Tentunya sambil menahan gemas.

“Oh, iya, Bun. Akhir-akhir ini tuh ada anak cowo yang ngasih aku susu. Awalnya dia ngasih karena balas budi mungkin, ya? Karena aku minjemin dia buku paket. Terus setelahnya, dia malah jadi ngasih aku terus. Kayaknya udah kehitung 3-4 kali gitu deh, Bun.”

Ketika anak laki-lakinya buka suara, Bunda pun menatapnya tak percaya. “Serius, Dek? Dia suka sama kamu kali?”

Seungmin memutar bola matanya malas. “Aku aja baru kenal gara-gara persiapan LDK ini, lho, Bun. Belum ada sebulan.”

“Astaga, Adek ... yang namanya suka mah bisa kapan aja, even dalam waktu singkat pun bisa. Beda cerita kalo tentang cinta, yang satu itu butuh waktu, butuh adaptasi,” jelas Bunda.

Seraya berpikir, Seungmin diam-diam separuh menyetujui perkataan sang Ibunda. “Oke, move aja, nanti aku diledekin Bunda—Oh iya, Bun, aku agak ngga enakan gitu kalo dikasih terus. Tapi kalo nolak, takut orangnya tersinggung. Jadi, aku mau bales ngasih dia sesuatu gitu, kira-kira apa, ya, Bun?”

Bunda tertawa kecil akibat pernyataan anaknya itu. Umm... coba aja kamu bikinin bekal, Dek. Nanti Bunda bantuin, deh!”

“Iya, sih, boleh. Simple juga soalnya. Tapi, aku ngga dalam waktu semingguan ini, mungkin minggu besok besoknya, Bun.”

“Ngga masalah, nanti bilang Bunda aja, biar Bunda bantuin bikin. Soalnya kan kamu ngga bisa masak.”

Kemudian, tawa keduanya pecah, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.

Kilas balik, selesai.

Mengingatnya saja sudah membuat pipi Seungmin menghangat, dan bagian paling menyebalkan adalah ... Bunda menyadari hal itu.

“Iya-iya, itu Hyunjin yang aku maksud. Jangan ngeliatin aku begitu, dong! Aku malu, Bun,” rengek Seungmin.

“Oh, wow ... bener ternyata. Sweet juga ya anaknya,” sahut Bunda.

Seungmin terdiam sejenak, kemudian ia bertanya, “Menurut Bunda, dia gimana? Berdasarkan first impression Bunda tadi.”

“Bunda ngerasa dia tuh bisa diandalkan gitu, Dek. Ngga tau, sih, firasat aja. Terus dia juga sopan, easy going juga, ya pokoknya berdasarkan first impression Bunda, sih, ngga ada yang aneh, Dek. Selayaknya anak SMA aja, yang kalo ditanya atau diajak ngobrol pasti masih agak gugup dan takut salah ngomong. Tapi ngga masalah juga sebenarnya, wajar aja.”

Menyimak perkataan sang Ibunda, Seungmin pun mengangguk pelan. Bagi Seungmin, itu merupakan satu pijakan baginya untuk menentukan arah mereka kedepannya. Ya ... walaupun sebetulnya Seungmin juga masih tidak tahu, akan Hyunjin bawa ke mana arah mereka.


Setelah melaksanakan rapat LDK selama kurang lebih satu setengah jam, akhirnya mereka semua pulang pada pukul 5 sore. Hal ini lumrah dilakukan oleh warga sekolah, terlebih lagi ketika ada kegiatan rapat ataupun ekskul yang dilaksanakan sepulang sekolah—asalkan tidak melebihi jam 6 sore.

Ketika selesai berpamitan satu sama lain, mereka semua berpencar-pencar. Ada yang pergi ke toilet, ada pula yang memantapkan diri menuju gerbang untuk segera pulang—sedangkan Seungmin pergi ke arah perpustakaan, sesuai yang diamanatkan gurunya. Jarak perpustakaan itu tidaklah jauh—terletak di gedung seberang, yang hanya dipisahkan oleh lapangan.

Seungmin berjalan santai sambil mendengarkan musik dengan headphone kesayangannya tanpa menaruh curiga pada apapun di sekitarnya. Namun, tanpa ia sadari, ternyata ada seseorang yang tengah mengikuti langkahnya secara diam-diam.

Ketika hendak sampai, sebuah tangan menepuk pundaknya secara tiba-tiba. Dengan refleks, Seungmin langsung berbalik dan mengepal tangannya; bersiap untuk meninju apapun yang akan dia lihat ketika berbalik.

Hyunjin tersentak. “Eh! Ini gua, ini gua,” ucapnya sembari menutupi wajahnya, takut-takut jika Seungmin betulan meninjunya.

“Astaga, Hyunjin!” Seru Seungmin, tak kalah kaget.

Seungmin kemudian memunggungi Hyunjin dan kembali berjalan perlahan sembari menetralkan nafasnya yang memburu akibat ulah Hyunjin. Sedangkan si pelaku hanya tersenyum jahil. Ya... walaupun sebetulnya ia sedikit bergidik sewaktu melihat ekspresi Seungmin.

“Lo ngapain ngikutin gue?” tanya Seungmin sinis.

Setelah mendapat respon lebih lanjut, Hyunjin akhirnya menyejajarkan diri di samping Seungmin sembari terus berjalan. “Gua penasaran, kenapa lu ngga langsung ke gerbang buat pulang. Pikirnya kalo lu ke toilet, gua tungguin di luar.”

Seungmin mendelik. “Ngapain?!”

Hyunjin kelabakan, ucapannya sedikit terbata-bata. “E—engga! Ini bukan kayak yang lu pikirin. Bukannya gua mesum, bukan! Tapi sekarang udah sore banget, sekolah udah sepi. Seenggaknya, ya ... pergi berdua,” ungkapnya.

“Lo takut gue diculik hantu?”

Ekspresi Hyunjin sedikit menimbang. “Bisa jadi! At least, kalo kita diculik, kita berdua.”

Seungmin pun menghela napas panjang begitu mendengar alasan Hyunjin. Sekilas ia memikirkan apa yang dikatakan Jisung dan Jeongin tempo hari, mengenai maksud Hyunjin yang tengah gencar mendekati dirinya selama kurang lebih 2 minggu belakangan.

Seungmin jadi mempertanyakan kebenaran akan hal itu. Apakah Hyunjin benar tengah mendekatinya dengan maksud untuk menjalin hubungan?

“Seung! Tadi gua denger katanya lu mau ke perpus, kan? Itu ... perpusnya kelewat.” Untuk kedua kalinya, Hyunjin kembali menepuk pundak Seungmin. Akhirnya Seungmin tersadar dari lamunannya. “Oh, iya! Lupa,” ucapnya. Ia pun langsung berbalik.

Setelah sampai di depan pintu perpustakaan yang sudah tertutup, Seungmin lepas headphone yang mengalung di lehernya sejak ia berbicara dengan Hyunjin. Selanjutnya, ia melepas sepatu dan menaruh ponsel ke dalam tasnya, kemudian meninggalkan tas tersebut di kursi depan perpustakaan.

Tiba-tiba Hyunjin mencekal tangan Seungmin. “Bentar, lu mau ngapain ke perpus?” tanyanya.

“Cuma mau ngecek kipas sama AC-nya, Hyun. Sekalian kunci pintu, soalnya tadi bu Maya minta tolong. Lo ... mau masuk?” jelas Seungmin.

Hyunjin tidak menjawab, namun ia dengan cepat melepas sepatunya dan mendahului Seungmin yang bahkan masih berada di ambang pintu. Kemudian Seungmin pun mengekori bocah jahil itu. Sedangkan Hyunjin langsung sibuk berkeliling melihat sudut perpustakaan—yang entah sejak kapan telah sedikit berubah.

Anak laki-laki dengan kacamata yang bertengger di hidungnya itu sedikit keheranan melihat Hyunjin. Namun, ia abaikan pemandangan aneh di depannya dan kembali melakukan tugasnya.

Saat Seungmin mencoba membuka laci, ia teringat betapa menyebalkannya laci ini. Biasanya laci ini selalu dibiarkan terbuka, karena jika sudah tertutup, maka akan sulit untuk ditarik, dan sialnya—kali ini laci tersebut dalam keadaan tertutup. Artinya, Seungmin harus mengeluarkan segenap tenaganya untuk menarik laci tersebut.

Suara tulang jemari Seungmin yang kerap kali beradu dengan laci, membuat Hyunjin sedikit terinterupsi dan mencoba menghampiri sumber suara.

“Eh, lu ngapain?” ucap Hyunjin begitu melihat Seungmin yang sedikit demi sedikit menarik laci tersebut.

Seungmin menghela napas frustasi. “Haaaah ... can you help me, please?”

“Hahaha, sure!”

“Tapi pelan-pelan, ya, nariknya. Jangan langsung ditarik semua, nanti yang ada kita kepental.”

Dengan beberapa tarikan, laci itu akhirnya terbuka. Keduanya bernapas lega setelahnya.

Seungmin ambil kunci itu, tak lupa juga ia mengambil snack yang diperuntukkan untuknya.

Hyunjin mengernyitkan dahinya. “Emang boleh diambil?”

Seungmin menoleh. “Boleh, kok. Katanya ambil aja, ini imbalan gue, hahahaha ... terus, ini buat lo karena udah nemenin gue.” Seungmin menyodorkan satu bungkus biskuit coklat yang ada di kedua tangannya. Dengan senang hati Hyunjin pun mengulurkan tangannya, matanya sedikit berbinar saat menerima biskuit coklat tersebut.

“Makasih, ya, Seungmin!” Hyunjin sontak berpikir, harus ia pajang di mana biskuit coklat ini?

“Oh iya, Hyunjin, tolong gantungin kuncinya di pintu, dong. Gue mau matiin kipas sama AC yang di ujung itu.” Tanpa berkata apapun, Hyunjin langsung mengangguk dan menuju pintu.

Saat Seungmin tengah mencari remot AC, ia mendengar pintu tersebut seperti sedang dikunci, kemudian kembali dibuka. Beberapa kali terdengar demikian, sampai akhirnya suara tersebut berhenti dan digantikan dengan suara ciri khas orang yang sedang berusaha mengutak-atik kuncian pintu supaya dapat terbuka. Benar saja, tak lama Hyunjin berseru, “Seungmin!”

Mata Seungmin terbelalak, ia lupa memberi tahu Hyunjin tentang pintu yang bermasalah tersebut.

“Seungmin, maaf, tadi gua iseng kunci pintunya, terus gua buka lagi, terus gua kunci lagi. Tapi pas mau gua buka lagi, ternyata ngga bisa. Maaf banget, gimana, dong?”

“Hah? Seriusan ngga bisa kebuka?” ucap Seungmin tak percaya. Ia pun mengambil alih tempat Hyunjin dan mencoba mengutak-atik gagang pintu tersebut.

Setelah kurang lebih 10 menit, hasilnya nihil. Pintu tersebut tetap tidak bisa dibuka. Mereka kini terkunci di ruangan penuh buku tersebut.

Keduanya kini duduk sambil menatap kosong satu sama lain.

Kemudian, Seungmin teringat, ia bisa menghubungi Babeh untuk menolong mereka. Ketika Seungmin rogoh kantung celananya, ia menyadari bahwa ponselnya ia letakkan di dalam tas sebelum ia masuk, dan sialnya lagi, tas tersebut berada di luar.

Seungmin beberapa kali merutuki dirinya. Di sisi lain ia mengkhawatirkan hari yang kian gelap—Seungmin takut dengan kegelapan. Apalagi dirinya akan menghadapi kegelapan di lingkungan sekolah yang memiliki pencahayaan minim ketika malam.

“Seung, maaf ....” ucap Hyunjin lirih.

“Hyun, sumpah, gue ngga marah. Tapi ayo, pikirin caranya keluar.”

“Iya, gua juga lagi mikirin gimana caranya. Handphone gua mati soalnya.” Jantung Seungmin makin terpacu mendengarnya. Kalau begini, bagaimana cara mereka keluar?

Seketika Seungmin teringat suatu hal. Biasanya, bu Maya menyimpan charger milik siswa yang tertinggal di kotak yang berada di atas lemari kaca berisikan karya para siswa. Ia pun segera menarik tangan Hyunjin untuk bangun.

“Hyun, di situ ada charger biasanya, tapi kalo gue sendiri yang ambil ngga bisa. Jadi, lo gendong gue, bisa?” jelasnya.

“Bisa, bisa!” Hyunjin langsung mengambil posisi berjongkok dan membiarkan Seungmin naik di pundaknya. “Hyun, maaf kalo berat. Tahan sebentar, ya.”

“Gapapa! Aman, kok.” Perlahan-lahan Hyunjin berdiri supaya Seungmin dapat meraih kotak tersebut.

Kotak itu lumayan berat dikarenakan isinya yang bukan hanya kumpulan charger, melainkan banyak benda lain yang tak kunjung diambil pemiliknya.

Menahan kotak yang berat sembari turun dari pundak Hyunjin membuat Seungmin sedikit limbung. Dirinya terhuyung ke samping, dan dipastikan akan jatuh terduduk. Dengan cekatan, Hyunjin meletakkan telapak tangannya di belakang kepala Seungmin supaya laki-laki itu tidak terantuk ujung meja. Karena Hyunjin tau, itu menyakitkan.

“Aw!—Maaf, Hyunjin. Sakit ngga tangannya?” tanyanya khawatir, sembari membolak balikkan tangan Hyunjin yang digunakan untuk menahan kepalanya. Beruntungnya juga, jarak Seungmin dengan lantai tidaklah terlalu jauh, jadi bokongnya tak begitu sakit begitu beradu dengan lantai.

Entah kenapa Hyunjin justru mengelus kepala Seungmin—padahal ia tahu betul, tangannya-lah yang merasakan nyeri. “Gapapa, Seung. Ngga sakit,” jawabnya sembari mengulurkan tangan untuk membantu Seungmin bangun.

Kemudian mereka berdua bergegas ke sudut ruangan di mana stop kontak itu berada.

Baru 5 menit mereka menghubungkan charger tersebut dengan handphone, tiba-tiba lampu mati, dan ruangan mendadak gelap. Jantung Seungmin berdebar tak karuan, ketakutannya menjadi kenyataan. Sedari tadi ia takut, bahwa sewaktu-waktu listrik akan mati. Benar saja.

Karena biasanya, ketika Seungmin sedang menghabiskan waktu di sini, listrik sering mati, entah kenapa. Namun, karena terjadi siang hari, Seungmin tidak terlalu mempermasalahkannya. Toh, cahaya matahari masih dapat masuk. Namun, saat ini situasinya berbeda, hari sudah gelap, ditambah ruangan tempat dirinya berada pun sama gelapnya.

Seungmin meraih tangan Hyunjin dan merematnya kuat-kuat. Hyunjin yang takut sekaligus bingung pun menggunakan kedua tangannya untuk menggenggam tangan Seungmin. Ia bertanya, “Seung, kenapa?”

“Demi apapun, gue ngga suka gelap, Hyun. Gue takut, ini beneran gelap. Segelap itu.”

Hyunjin pun merangkul Seungmin dan menuntunnya untuk kembali ke tempat awal mereka. Ia dudukkan Seungmin tepat pada pintu, karena setidaknya sedikit pencahayaan dari luar dapat membuatnya lebih baik, tetapi, Seungmin masih menunduk takut.

Hyunjin rengkuh Seungmin yang tengah meringkuk ketakutan—badannya sedikit gemetar. Dagunya ia sandarkan pada kepala Seungmin sembari tangannya mengusap pundak anak laki-laki itu.

“Sebentar, ya, gua bakalan cari cara. Jangan takut, ada gua—gua ngga ke mana-mana. Tunggu, ya.”

Hyunjin berlari kecil ke sisi kiri pintu, dekat meja. Di sana terletak ventilasi udara yang berada di atas kaca jendela mati; tidak bisa dibuka maupun ditutup. Ia pun naik ke atas meja dan dengan sekuat tenaga berusaha melepas mika tebal yang biasa digunakan untuk menutupi ventilasi ruangan ber-AC. Persetan jika ia diminta untuk ganti rugi atau apapun, yang terpenting ia dapat membawa Seungmin keluar dari ruangan gelap ini.

Tak seberapa lama, usaha Hyunjin akhirnya membuahkan hasil. Mika tersebut akhirnya terlepas, dan kini Hyunjin dapat dengan bebas berteriak untuk memanggil satpam ataupun penjaga sekolah.

“Pak, tolong! ... halooooo, siapapun tolong bukain pintu perpustakaan—tolong, Pak! ... Babeh! ... Ada orang ngga di sana?!” seru Hyunjin sekuat tenaga.

Beberapa menit tak ada jawaban, tiba-tiba cahaya yang berasal dari senter menyorot setengah wajah Hyunjin yang berada di ventilasi udara. Kemudian Hyunjin dengan cekatan menyibak gorden di bawahnya dan melambaikan tangan berulang kali.

Akhirnya, orang yang kerap kali disapa Babeh, yang merupakan penjaga sekolah itu datang menghampiri mereka.

Hyunjin melihat Seungmin yang masih duduk meringkuk dengan kepala tertunduk. Saat Hyunjin menyentuh pundaknya, Seungmin sedikit telonjak kaget.

“Seung, ada Babeh, Seung! Ayo, bangun, kita keluar dari sini.” Perlahan-lahan, Hyunjin menarik tubuh Seungmin untuk bangun. Kakinya masih gemetar, wajahnya pun enggan mendongak. Hyunjin yang lebih tinggi 3—5 cm dari Seungmin pun dengan hati-hati merangkul bahu Seungmin, tangannya kembali ia gerakkan untuk mengelus pelan rambut bocah itu.

“Nak, Hyunjin?” ucap penjaga sekolah dengan khawatir.

“Babeh ... makasih banyak ya, udah dibukain. Tadi saya nemenin Seungmin buat kunci pintu perpus dan sebagainya. Tapi apesnya, kita kekunci, ditambah mati lampu, jadi kita ngga bisa ngehubungin siapapun. Makanya, saya ngelepas mika yang itu biar bisa teriak. Untungnya ada Babeh lagi keliling,” jelas Hyunjin.

“Ya ampun, Nak ... pantesan saya lihat motor siapa itu yang masih diparkir. Saya kira memang sengaja ditinggal, terus saya bawa masuk gerbang. Diparkir depan uks. Terus, ini kalian udah lama?”

“Iya, itu kayaknya motor saya, dan saya di sini sejak jam 5 lewat, Beh ....”

“Ya Tuhan, lama banget. Sekarang sudah jam 7 lewat, Nak. Memang listrik yang buat perpustakaan ini kalo sudah jam setengah 6, bakalan saya matikan. Saya kira tadi ngga ada orang—yaudah, ayo keluar, kalian pulangnya bareng, kan?”

“Iya, Beh, dia saya anterin pulang sekalian. Sekali lagi makasih banyak, Beh. Maaf juga itu mikanya saya copot.”

“Ngga apa-apa, Nak. Biar nanti saya yang bereskan. Kalian pulangnya hati-hati, ya, pelan saja bawa motornya. Soalnya Nak Seungmin kayaknya masih agak kaget.”

“Iya, Beh, saya pamit dulu, ya.”

Sebelum menuju parkiran, Hyunjin dudukkan Seungmin di kursi sambung tempat Seungmin menaruh tas tadi. Ia membuka botol air minum miliknya yang isinya masih tersisa setengah, kemudian menyodorkannya pada Seungmin.

Seungmin akhirnya mendongak takut-takut, melihat sekelilingnya—yang terlihat hanyalah lorong dengan lampu remang. Namun, kondisi ini sudah lebih baik ketimbang tadi. Maka Seungmin ambil botol minum tersebut, dan mulai meneguknya pelan. Sedangkan Hyunjin membantunya memasangkan sepatu, dan mengikat tali.

Setelah selesai, Hyunjin berdiri dan melihat Seungmin yang masih murung. “Better?” tanyanya yang kemudian dijawab dengan anggukan lemah oleh Seungmin.

Akhirnya, mereka berjalan ke parkiran dalam—di depan uks, untuk mengambil motor dan bergegas untuk pulang.

Seungmin menyandarkan kepalanya pada punggung Hyunjin dengan posisi menoleh ke kanan. Sedangkan tangannya dengan ragu-ragu berpegangan pada ujung jaket Hyunjin.

Seungmin merasa kondisi dirinya kian membaik. Rasa panik itu perlahan mereda, digantikan oleh perasaan aman dan nyaman.

Seungmin pun tak bisa berbohong, bahwa kini detak jantungnya sedikit berada di luar kendali. Begitupun Hyunjin, yang jantungnya berdegup tak kalah kencang—Seungmin bisa rasakan itu.

Sekitar 20 menit, akhirnya mereka sampai di depan rumah Seungmin. Ia pun turun perlahan dari jok belakang. Sebelum masuk, Seungmin ucapkan sedikit basa-basi disertai ungkapan terima kasih pada Hyunjin.

Sebelum Seungmin hendak berbalik, tiba-tiba Hyunjin cekal tangan kirinya pelan, dan sedikit menarik Seungmin maju untuk layangkan peluk. Hanya sekilas. Kemudian Hyunjin biarkan Seungmin berdiri kebingungan dengan seribu tanya.

Ia memutar balik motor kesayangannya, dan mulai melaju bersama angin untuk membelah jalanan ibu kota.

CW // mention of break up


Dalam tidurnya, Hazel rasakan sesak tepat di dadanya. Ia pun rasakan hangat di pipinya, seperti beberapa tetes air mata yang mengalir.

“Hazel! Bangun, Zel. Heiii, kamu kenapa?” Suara lembut itu hadir di tengah mimpi Hazel yang buruk—membuatnya ingin segera bangun dan melihat sosok pemilik suara itu.

Hazel pun akhirnya bangun dengan nafas terengah-engah. Ia langsung terduduk, matanya terbelalak, sesekali pula ia usap wajahnya.

Kepalanya ia tolehkan ke samping kanan ranjangnya. Terlihat sosok yang barusan ia lihat di mimpi.

Nala—Ia ada di sini, di sampingnya.

Wajah Nala terlihat sangat khawatir atas apa yang menimpa Hazel barusan. Ia berusaha untuk menetralkan nafas Hazel yang terengah-engah dengan cara mengusap tangannya pelan pada punggung Hazel.

“Hazel, kamu mimpi jelek, ya? Kamu kayak ketakutan banget tadi.”

Hazel meraba wajah dan pundak Nala secara bergantian, “Nala? Ini kamu? Beneran kamu, kan?” Tanyanya memastikan.

“Iya, ini aku, Zel. Kenapa? Ada apa?”

Hazel hembuskan nafas lega. Badannya pun seketika lemas, ia berusaha raih tubuh kekasihnya untuk ia peluk.

“Aku ngga tau kamu mimpi apa, tapi i'ts okay, zel. Itu cuma mimpi.” Nala membalas pelukan Hazel dengan erat sembari membelai rambut Hazel dengan lembut.

“Sumpah, aku bisa tahan dikasih mimpi horror, sadis, atau apapun itu. Tapi engga kalo sama mimpi yang barusan, La. Jantung aku rasanya merosot. Sakit banget.”

“Mind to tell me?”

“Aku... Aku mimpi kita putus. Penyebabnya karena aku, aku selingkuh sama sabitha, aku marah sama kamu karena kamu baikan sama rendi. Padahal kamu cuma baikan, La. Tapi aku gegabah banget di situ. Dan puncaknya itu barusan.”

Nala mengisyaratkan pada Hazel untuk memelankan laju bicaranya.

Sekali lagi, Hazel tarik napas panjang, “Barusan aku mimpi, La, kalo kamu punya pacar baru, namanya Rama—engga! Bukan pacar, tapi tunangan kamu.”

Raut wajah Nala juga nampak sedih mendengarnya. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa, rasanya tak etis jika ia menertawai perilaku Hazel—yang padahal jelas-jelas tengah khawatir atas dirinya, atas hubungan mereka.

“Jelek banget mimpinya! Tapi, udah ya, Zel. Gapapa, jangan dipikirin. Kamu ngga mungkin kaya gitu, dan aku juga ngga mungkin tiba-tiba aja baikan sama rendi.”

“Aku kaget,”

“That's fine, Zel. Semuanya bakalan baik-baik aja, kok. Tidur lagi aja, yuk?” Hazel pun mengangguk dan mulai merebahkan dirinya, dan mereka mendekap satu sama lain.

Selama 15 menit mereka berdiam diri, namun masing-masing dari mereka tahu, bahwa keduanya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan tertidur.

Nala yang sedang memainkan jemari Hazel pun sedikit terkejut kala tangan yang sedang ia mainkan tiba-tiba saja menggenggam tangannya, “Nala, kenapa kamu ngga tidur?”

Nala pun sedikit mendongak dan menatap manik legam Hazel.

“Aku takut kamu mimpi jelek lagi...”

“Ngga bakalan, sayang. Mimpinya udah aku blokir! Jadi nanti aku langsung bangun semisal mimpinya muncul lagi. Aku ngga mau lama-lama nontonin mimpi itu.”

“Kamu sedih?”

“Kalau ada level di atasnya sedih, aku ada di situ, La. Aku ngga bisa kalau suruh bayangin hal itu. Cukup mimpi tadi aja, sisanya aku ngga mau lagi. Aku? Disuruh berpaling dari kamu? Gak logis, La, sumpah.”

“Hahaha, iya-iya, aku paham. Semoga mimpi jeleknya jauh-jauh dari kamu, ya!”

Setelah Nala meyakinkan Hazel dengan beberapa patah kata, akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba tidur. Hazel kembali dekap Nala dalam peluknya, dagunya ia sandarkan pada kepala Nala, sambil sesekali mengecupnya.

“Oh iya, La, sekarang tanggal berapa? Jangan lupa, takutnya kamu ada kelas.”

“Sekarang 'kan jam dua pagi, udah masuk ke besokannya—Oh, berarti sekarang tanggal 15 Desember 2020”

Mendengarnya, jantung Hazel kembali berdegup kencang.

CW // a lil bit angst, mention of break up


Sepulang kerja, Nala sudah merencanakan bahwa ia akan pergi sejenak ke kedai kopi langganannya yang terletak searah dengan jalan pulangnya.

Begitu sampai, Nala langsung memesan kopi dan beberapa potong kue yang biasa ia beli. Setelahnya, Nala duduk di spot favoritnya—kursi yang ada di samping kaca lebar toko—sambil menatap ke arah luar.

Tak disangka, beberapa saat kemudian, hujan turun. Tetesan air hujan itu membasahi kaca lebar di sampingnya, dan hanya menyisakan pemandangan samar bagi Nala. Selagi melamun, tiba-tiba ponsel Nala bergetar, diiringi munculnya bar notifikasi berisikan pesan dari seseorang yang ia ketahui bernama 'Rama'.

“Iya, aku udah di sini. Kamu nyetirnya pelan-pelan, ya? Jangan buru-buru. Hati-hati!”

Begitulah pesan singkat yang Nala kirim pada pemuda itu.

Sembari menunggu, Nala memilih untuk memakan kue-nya terlebih dahulu. Ketika sedang sibuk menyuap sepotong demi sepotong kue—tiba-tiba kaca itu memantulkan cahaya mobil yang hendak parkir di depan toko. Awalnya, Nala kira itu Rama, ternyata bukan.

Laki-laki pemilik mobil yang baru saja terparkir itu pun masuk dengan baju yang sedikit kebasahan akibat berlari dari mobil, sampai ke dalam toko.

Pemuda itu berjalan ke arah kasir tanpa menoleh ke sekitarnya, karena ia tau bahwa beberapa pengunjung toko sedang menatap ke arahnya. Disebutnya 2 menu yang terdengar familiar di telinga Nala, yang menyebabkannya langsung menoleh. Saat pemuda itu selesai memesan, ia berbalik. Secara sontak, sorot mata mereka beradu.

Keduanya bertemu dalam ketidaksengajaan. Nala yang sedang menghabiskan sisa harinya setelah pulang kerja, tiba-tiba bertemu dengan sosok yang selama ini ia hindari. Hazel yang dari jauh nampak mematung, kini mulai memberanikan diri untuk berjalan menghampiri Nala yang juga tak tahu harus bereaksi bagaimana.

Bibir Nala sedikit bergetar, matanya berkelana ke sembarang arah, berusaha menghindari kontak mata.

“Nala?” Suara dingin itu menyapa Nala.

Nala dengan kikuk menanggapi, “Hazel?”

“Umm.. Hai? Maaf, aku tau kamu ngga mau ngeliat aku. Tapi, aku juga ngga tau kamu di sini.”

“Aaa... That's fine, kita sama-sama ngga tau. Lagian juga ini tempat umum.” Nala mencoba menjawab dengan nada se-netral mungkin.

How was life, La? Maaf—”

As you see, Zel. Kalau yang kamu maksud itu hari-hari setelah putus, pastinya berat. Tapi sekarang aku udah jauh lebih baik.”

“Nala, maaf. Aku ngga maksud buat mention itu.”

“Iya, tau. Ngga usah minta maaf terus, ya? Biar kejadian itu jadi pelajaran aja buat kita.”

“O..okay. Kamu ke sini sendiri, La?”

“Aku—”

Lonceng pintu toko tiba-tiba saja berbunyi, menandakan ada orang yang baru saja membuka pintu toko tersebut. Hazel dan Nala pun menoleh sejenak. Nala menyipitkan matanya kala melihat siapa yang datang dengan kemeja yang sudah tidak beraturan bentuknya.

“Nala!” Sapa pria tersebut.

“Umm.. Aku ke sini sama dia, Zel. Oh iya, Ram—kenalin, ini Hazel.”

Mereka berjabat tangan seperti selayaknya orang berkenalan. Hazel menyapanya dengan senyum, begitupun Rama.

“Halo, Zel. Saya Rama. Tunangannya Nala.”

“Ah, iya—Hazel, temennya Nala.”

Nala sedikit terkejut mendengarnya, walaupun tidak ada yang salah dengan itu. Nala hanya sedikit tidak terbiasa.

Bohong jika dibilang dada Hazel tidak merasa sesak. Kepalanya bak dihantam kuat-kuat kala mendengar pernyataan laki-laki yang tidak tampak familiar itu.

“Kalau gitu, aku duluan ya, La. Ada kerjaan yang masih belum selesai soalnya.” Ucap Hazel sambil memasang senyum yang sulit diartikan. Tangannya menepuk sekilas pundak Rama, kemudian ia berlalu untuk mengambil pesanannya sebelum benar-benar meninggalkan toko tersebut.

Saat tengah menyetir, terlintas pada pikiran Hazel untuk menepi sejenak. Ia ambil botol air mineral yang tadi ia beli, kemudian meminumnya dengan terburu-buru.

Ia sempatkan diri untuk membuka ponselnya, entah kenapa. Bukan untuk melihat notifikasi apa saja yang masuk, bukan untuk melihat siapa saja yang mengiriminya pesan.

Pikiran Hazel hanya tergerak untuk sekedar melihat kalender, yang ternyata memperlihatkan tanggal 15, bulan Desember, 2022.

Tepat dua tahun lalu, mereka usai.


Nala yang biasa menemui Hazel dengan membawa segenap perasaan cintanya, tidak pernah menyangka, bahwa akan ada hari di mana ia berdiri di hadapan Hazel dengan hanya membawa sisa-sisa perasaannya. Nala yang biasanya selalu menatap Hazel dengan penuh cinta, kini tak lagi.

Nala tak dapat menyangkal, bahwa jauh di dalam hatinya, masih tersisa sedikit cintanya untuk Hazel. Karena bagi Nala—menghapus cintanya untuk sosok yang pernah menjadi bagian dari dirinya, merupakan sebuah ketidakmungkinan. Jadi, biarlah rasa cinta itu tetap di sana meskipun tak lagi utuh.

Sekarang, yang tersisa hanyalah sebuah ruang bagi seonggok perasaan yang Nala simpan sejak lama untuk menghadapi Hazel nantinya.

Ruang tersebut bukanlah ruang untuk perasaan cinta yang diharap-harap akan tumbuh kembali seiring berjalannya waktu. Bukan. Ruang tersebut hanyalah berisikan perasaan lapang yang ia sisakan untuk Hazel.

Dalam kurun waktu yang terbilang cukup lama, Nala menggunakan segenap waktunya untuk belajar menerima segalanya, termasuk menerima takdir yang diutus untuknya. Salah satunya dengan menerima bahwa inilah akhir dari cerita-nya dengan sosok laki-laki bernama Hazel— inilah sebuah keharusan yang memaksanya untuk ikhlas.

Awalnya memang sakit bukan main. Namun, Nala terus mencoba untuk melapangkan segalanya, demi hari ini. Berkat hal itu, kini Nala dapat menatap Hazel dengan tegar, juga, dengan hati yang lapang.


begitu minho membaca deretan pesan dari pacarnya, ia langsung bersiap menuju minimarket yang dimaksud tadi. lantaran jaraknya yang dekat, minho memilih untuk berlari dari pada mengendarai motornya.

ia sambar jaket yang tadi seungmin tinggalkan di atas meja, kemudian ia langsung mengencangkan laju larinya. dalam perjalanan—panik ia rasakan. namun di sela-sela rasa panik yang melanda, minho justru sesekali menahan tawanya kala membayangkan tingkah kekasihnya yang tak jauh berbeda dengan bocah yang sedang mencoba hal baru—namun pada akhirnya kesulitan sendiri.

tidak. bukan berarti minho tidak senang direpotkan. ia, sih, senang-senang saja. bahkan minho sudah menyiapkan telinganya untuk mendengar cerutuan seungmin yang dirasa tidak akan berhenti hingga 15 menit ke depan.

tak begitu lama, minho pun sampai di minimarket tersebut. dan benar, yang pertama kali ia lihat adalah seorang pria yang terduduk—lebih tepatnya tidur sambil terduduk—di bagian kasir.

minho menyentuh pelan lengan pria itu, supaya tidak terkejut begitu terbangun.

beruntungnya, tak butuh waktu lama, pria yang sedang shift malam tersebut langsung terbangun. lantas minho langsung menjelaskan keadaan saat ini.

“maaf mengganggu, mas. tadi ada anak kec—eh, maksudnya cowok pake baju kaos warna putih, terus dia numpang ke toilet, kan, ya? dia barusan ngabarin saya kalau dia sekarang lagi kekunci di toilet.” ucapnya dengan jelas.

pria di depan minho langsung terperanjat kaget. ia pun segera bangun dari duduknya, “oh, iya, mas. tadi ada, tapi saya ngga tau udah keluar atau belum. saya lupa bilang juga ke dia kalau pintu toilet jangan dikunci dari dalem. soalnya lagi rusak, dan baru dibenerin siang nanti, mas. jadi, kalo dikunci dari dalam kan ngga pakai kunci, ya. jadi, cara satu-satunya harus dibuka secara manual pakai kunci dari luar.” kata sang pegawai tak kalah jelas—sambil mencari kunci di laci kasirnya.

setelah berada di depan toilet, minho memanggil seungmin, “cil, kamu masih di dalem, kan?”

“ngga, ini hantu!” candanya, walaupun dengan nada gemetar.

begitu pintu terbuka, minho justru sumringah melihat seungmin. parasnya yang semakin lama dilihat, justru semakin menggemaskan baginya.

“kamu ngapain, sih, ada aja tingkahnya malem-malem. lagian udah dibilang, ngomong dulu kalo mau pergi-pergian.”

“kamu mah! akunya disayang kek, ditanyain apa kek, ini malah marah-marah.” seungmin langsung melengang, tak lupa mengucapkan terima kasih kepada sang pegawai, dan mendahului minho.

minho pun sama, ia mengucapkan terima kasih, lalu berlari kecil menyusul kekasihnya.

“jangan marah, dong. kamu lucu tau tadi, kaya anak kucing kesangkut terus ngga bisa keluar. terus pas udah di-rescue malah kabur soalnya malu diliatin orang.”

mendengarnya, seungmin tak ragu untuk layangkan pukulan pada lengan minho, “perbandingan kamu tuh selalu ngga jelas dan nyebelin gini, ya?!” ucapnya dengan nada jengkel.

“serius! hahaha—sini, aku gendong. kasian, kakinya pegel.”

meski kesal, seungmin menyetujui tawaran minho. ia pun langsung hinggap ke punggung yang lebih tua.


perihal apa yang seungmin katakan pada akun instagram milik minho—adalah benar adanya.

lowercase cw // kiss


seiring malam menjelang, jalanan ibu kota yang biasanya padat merayap itu perlahan melonggar. berkat hal itu, dika dapat melajukan oscar—motor kopling berwarna hitam kesayangannya itu—dengan cepat.

wajah yang berlindung di balik helm bertipe semi full face tersebut ternyata tak luput dari terpaan angin yang menyelinap masuk pada tiap celah yang ada—menyebabkan rambutnya sedikit menguar. akibatnya, pikirannya akan melvan sedikit teralihkan.

dika memilih untuk menepi sejenak untuk menata rambut dan membenarkan posisi helm yang ia rasa kurang nyaman. ia pun melepas helmnya dan mulai mengusak wajahnya bak orang frustasi.

kacau dan rumit.

dua kata itu sangat menggambarkan pikiran dika saat ini. perasaannya terbagi dua—pada satu sisi, dika ragu untuk mengambil langkah lebih jauh bersama melvan. karena ia takut kalau perasaannya ini hanyalah perasaan tidak enak hati pada melvan akibat kejadian beberapa waktu lalu.

meskipun demikian, sisi lain pada perasaan dika menyadari, bahwa rasa yang dika simpan untuk melvan terus berkembang seiring waktu. dika sendiri pun tak menyangkal, bahwa, jauh dalam lubuk hatinya terdapat perasaan ingin memiliki melvan seutuhnya.

lantas, mengapa dika terlihat amat kebingungan?

entah. padahal, sebelumnya ia merasa baik-baik saja menjalani hubungan seperti ini dengan melvan. begitupun melvan yang tidak ambil pusing mengenai status mereka. namun, lagi-lagi, entah mengapa kali ini terasa begitu rumit.

setelah menepi sejenak, dika pun kembali mengendarai motornya untuk segera pulang.

tak seberapa lama, dika pun sampai di depan pintu kost-nya. ia memilih untuk berganti pakaian sebentar, kemudian barulah ia menghampiri melvan yang kamarnya berada persis di lantai atasnya. hal itu dika lakukan karena ia berniat untuk menemani melvan kali ini. terbesit perasaan iba di benaknya kala ia membayangkan melvan terduduk lesu sendirian, sembari mengerjakan tugas yang entah akan selesai dalam berapa waktu.

alih-alih kopi yang ia bawa untuk diberikan pada melvan supaya melvan terjaga, dika justru membawa 2 kotak susu coklat kesukaan melvan. dengan tangan yang penuh akan barang bawaan, dika dengan susah payah meraih gagang pintu yang untungnya tidak terkunci itu.

begitu pintu terbuka, dika masuk sambil menggelengkan kepalanya. rasa-rasanya, ini bukanlah kamar melvan yang ia kenal—yang selalu tertata rapi dan terlihat minimalis.

terlihat lembaran kertas di mana-mana, laptop yang layarnya terpancar dengan terang, juga beberapa buku berserakan.

“astaga van, ini seriusan kamar lu?” ucap dika pertama kali.

“ngga usah ngeledek. gue sebenarnya juga udah gatel mau beresin ini, tapi tenaga gue abis cuma buat duduk dan melototin laprak ngga jelas ini.” jawab melvan sambil terus berkutat pada laptopnya.

“yaudah nih, makan dulu, abis itu baru lanjut lagi.”

seketika melvan sumringah, matanya sedikit berkaca-kaca melihat dika—yang saat itu terlihat seperti malaikat penyelamatnya.

“suapin, ya!” pintanya sambil berjalan riang menuju wastafel.

“lu kenapa deh, lagi clingy banget kayanya akhir-akhir ini???” kata dika dengan nada bingung, sembari membuka bungkusan nasi goreng itu untuk melvan.

“ngga boleh emangnya?” ucap melvan sambil menjauhi wastafel.

alih-alih menyerbu nasi goreng titipannya, melvan justru berjalan menghampiri dika yang duduk bersandar di atas kasur.

belum sempat dika menjawab, melvan kini sudah mendudukkan dirinya di atas pangkuan dika dan langsung mengalungkan tangannya pada leher dika, wajahnya pun ia benamkan pada ceruk leher laki-laki di hadapannya.

“maaf ya, akhir-akhir ini lagi capek banget.” hembusan nafas melvan terasa hangat di ceruk leher dika. nada bicaranya juga tampak tidak dibuat-buat.

dika paham dengan apa yang melvan rasakan. tugas yang kerap kali dibebankan memang terasa begitu menyiksa. apalagi, melvan jauh dari rumah. pasti melvan merasa kesepian, pasti melvan juga kebingungan harus pulang ke mana saat sudah berada pada titik terujung dari rasa lelahnya.

dika membalas pelukan melvan dengan melingkarkan tangan kirinya pada pinggang melvan, dan wajahnya ia tenggelamkan pada bagian pundak laki-laki di pangkuannya. tangan kanan dika pun ikut tergerak untuk mengusap punggung melvan dengan lembut, sembari sesekali ia tepuk-tepuk perlahan.

“kenapa ngga minta temenin gua dari kemarin-kemarin?”

“banyak faktornya,”

“gua dengerin, kok.”

“pertama, gue ngga mau ganggu. tapi akhirnya ganggu juga, ya? — kedua, ngga tau gue yang lagi terlalu perasa atau gimana, tapi lo kaya lagi ketus ke gue akhir-akhir ini.”

“dua aja? katanya banyak?”

“gue takut aja... takut makin suka sama lo, takut makin ngga bisa jauh-jauh dari lo, takut kalo—ah, pokoknya banyak. tapi, dik, gue mau tau, status kita ini apa sih sebenarnya?”

dika sedikit terperanjat mendengar kalimat akhir yang melvan lontarkan.

ia beri jarak sedikit tubuhnya dengan tubuh melvan yang tengah asik bersandar pada satu sama lain.

“melvan, dengerin, ya—” ia mengusap pipi melvan dengan lembut, tatapan dari sorot mata dika melesat jauh ke dalam sorot mata melvan, yang seakan memberi pengertian untuk mempercayai apa yang akan dika katakan setelah ini.

“gua ngga pernah ngerasa kalo lu ganggu gua. jadi, repotin gua terus, ya?—terus, maaf kalo misalnya gua bikin lu ngerasa demikian, tapi sumpah, gua ngga ada maksud buat ketusin lu atau apapun itu, oke?”

mulutnya ia kunci sebentar untuk menatap wajah melvan sebelum ia melanjutkan kalimatnya. di raut wajahnya, nampak kegelisahan yang dika rasakan. ia takut kalau jawabannya akan mengecewakan melvan—yang sekarang dika ketahui telah menaruh perasaan padanya.

tangan melvan yang semula ia letakkan pada pundak dika, kini beralih untuk mengusap rambut belakang dika—pandangannya ia alihkan ke sembarang arah sambil sesekali menatap dika. melvan tak sanggup jika harus menatap dika saat ini. banyak ketakutan yang terlintas dalam benak melvan. ada juga pertanyaan yang terus berputar di otaknya sedari tadi.

apakah tindakannya sudah benar?

apakah keputusannya untuk menyatakan perasaan, tidaklah gegabah?

apakah dika memiliki perasaan yang sama terhadapnya?

apakah hubungan mereka—yang entah apa statusnya—akan berakhir sampai di sini?

dika pun meraih tangan melvan untuk ia genggam, dengan harapan, laki-laki di depannya ini akan merasa sedikit lebih tenang.

“gua juga, van. awalnya gua juga ngerasa begitu. gua takut kalo gua ketemu lu, nanti perasaan gua bakalan makin dalem. gua takut setiap gua ngeliat mata lu, gua makin ngga bisa kontrol perasaan gua. gua juga sama kaya lu, van, awalnya—”

“awalnya gua ngerasa kaya gitu karena gua masih cari celah buat nyangkal. gua masih sibuk denial kalo gua sebenarnya ngga punya perasaan sama lu. lama kelamaan, jujur, capek. jadi, sejak itu gua biarin perasaan gua lepas, gua biarin mereka mau ngapain aja. alhasil apa? gua udah ngga takut kalo gua bakalan jatuh ke lu se-jatuh-jatuhnya. karena gua tau, van, apa yang gua takutin itu sebenarnya udah terjadi ke gua. gua udah terlanjur jatuh cinta sama lu sedalem itu. perasaan gua ke lu juga udah susah buat gua kontrol. akhirnya gua nyadar, terus, apalagi yang mau gua takutin?”

“gua sayang sama lu, van. sayang banget malah. tapi maaf, kalo gua belum bisa kasih kepastian yang jelas, gua belum bisa kasih lu status yang lu mau. tolong kasih gua waktu sebentar, ya?”

perasaan melvan sedikit lebih lega. setidaknya, dika mempunyai perasaan yang sama. soal apa status mereka, biarlah waktu yang menjawab.

melvan kembali memeluk dika sekilas. kemudian wajahnya ia jauhkan sejenak—bertatapan—sebelum pada akhirnya bibir mereka saling bertemu.

awalnya mereka hanya melibatkan bibir. lama kelamaan, lidah mereka juga ikut mengambil alih. meski ini bukanlah hal yang baru mereka lakukan, namun kali ini mereka merasa ini lebih mendebarkan dari biasanya.

tangan melvan yang bertengger pada dada dika menjadi saksinya—tangan itu merasakan detak jantung dika yang berdegup lebih kencang. tak seperti saat saat sebelumnya.

dika pun sama—ia rasakan nafas melvan yang lebih memburu dari biasanya. gerak bibir melvan juga sedikit lebih agresif—membuat dika kewalahan untuk mengimbanginya.

setelah dirasa cukup, mereka sedikit menjauh dan kembali menatap satu sama lain, sembari tersenyum.

dika memgecup bibir dan pipi melvan. tak lupa juga ia mendekat—menempelkan kening mereka dan mengusakkan hidungnya pada hidung melvan—seperti biasa.

dika angkat tubuh melvan untuk dipindahkan ke sampingnya, supaya dirinya dapat berdiri. ia pun mulai melangkah untuk mengambil nasi goreng yang tadi ia beli, juga, mengambil segelas air.

“makan dulu, ya. nasinya udah agak dingin, nih. apa mau dipanasin dulu?”

melvan menggeleng dan tersenyum “ngga usah,”

“makasih ya, dika. kalo mau balik ke kamar, gapapa. nanti gue makan sendiri.”

“ngga ah, gua di sini aja, mau ngeliatin lu ngelaprak.”

“mending bantuin dari pada ngeliatin???”

“kan udah ngga pusing, hahahaha”

“kalo masih, gimana? nanti dibantuin ngerjain atau dicium lagi?” melvan tersenyum jahil.

melihatnya, dika hanya menggeleng heran dan pada akhirnya ikut tersenyum, “terserah kamu.” ucapnya.

Seperti rencana, keduanya kini berada di suatu ruangan dengan hiasan elegan. Berdua—berhadapan. Tatap mata mereka enggan lepas satu sama lain, pun tangan mereka yang juga masih bertautan.

Minho tak dapat menyangkal, bahwa Seungmin yang berada di hadapannya kini begitu menawan.l dengan pakaian formal, ditambah senyumnya yang masih setia terukir, pipinya yang juga merona, dan matanya yang berkilauan—membuat Minho terdiam, tak berkutik sedikitpun.

Begitupun Seungmin kala melihat Minho. Ia menatap mata Minho yang entah mengapa makin ia dalami tatapannya—rasanya makin berkaca-kaca. Malam ini, kekasihnya itu tampak luar biasa. Otaknya tidak dapat memikirkan siapapun selain laki-laki dihadapannya. Laki-laki yang sudah bersamanya selama kurang lebih 27 tahun.

Sapuan angin yang menyelinap lewat sela-sela pintu balkon yang setengah terbuka membuat rambut Seungmin tak beraturan. Saat itulah Minho melancarkan aksinya. Tangannya kanannya ia gunakan untuk merapikan kembali rambut sang kekasih.

Setelahnya ia berkata, “udah, yuk. Makan lagi.”

Seungmin mengangguk sambil tersenyum dan menyuap makanannya perlahan.

Selama itu, mereka banyak membicarakan banyak hal. Mulai dari pekerjaan, hingga masa kecil mereka. Awalnya tidak terbesit di benak Seungmin untuk kembali menggali masa kecil mereka. Bukan tanpa alasan, melainkan Seungmin sedikit malu. Mengingat, dahulu ia mentah mentah menolak Minho, bahkan bersumpah untuk enggan menikah dengan kakak kelasnya kala itu.

Namun, sebaliknya. Minho-lah yang justru membuat arah pembicaraan ke arah masa kecil mereka. Mulai dari Seungmin kecil yang banyak bicara, Minho kecil yang tidak bisa diam, dan tentang mereka yang selalu bersama-sama sejak kecil.

“Kita.. Udah jauh banget, ya, kak?”

Minho mengangguk setuju, tangan kanannya mengusap pipi Seungmin lembut, “Habis ini mau ke mana?”

Awalnya Seungmin agak bingung, apa konteks dari pertanyaan Minho. Tetapi, ia menanggapinya dengan konteks yang umumnya dikatakan.

“Pulang? Atau kamu mau ke mana dulu, gitu?”

“Kitanya, Seung. Kita mau ke mana?” Seungmin tambah bingung dibuatnya, jika bukan konteks seperti itu, lantas konteks yang bagaimana?

“Aku ikut kakak aja, deh. Kakak maunya ke mana?”

“Maksud aku, hubungan kita, Seung. Kalau aku bilang, kamu mau ngga nikah sama aku? Kamu mau ikut? Kamu mau nikah sama aku?”

Jantung Seungmin berdegup tak karuan, bahkan Seungmin yakin bahwa Minho pun dapat mendengar suara di tiap detakannya.

“You're joking?”

“Ngga. Aku ngga mau bercanda soal kamu.”

“Say it again, please?”

Sebelum Minho mengulangi perkataannya, ia mengeluarkan kotak cincin berwarna merah delima dari kantungnya. Ia tarik napas panjang, setelah merasa tak lagi ragu, ia pun membukanya sembari berkata, “Seungmin kim, will you be my forever?”

Bukannya menjawab, Seungmin justru menitikkan air matanya. Ia tak menyangka dengan apa yang ia dengar barusan. Suara bahagianya bertabrakan dengan pernyataan Minho.

“How could I say no, kak?”

Minho tersenyum lebar mendengarnya. Ia belum pernah merasa sebahagia ini saat menerima sebuah jawaban. Dengan cepat Minho sempatkan cincin itu di jari manis Seungmin, lalu mencium punggung tangan laki-laki-laki bersurai hitam tersebut.

“Makasih, Seungmin. Makasih banyak.” Minho memeluk Seungmin erat, seakan-akan Seungmin hanya miliknya seorang.

Seungmin pun mengistirahatkan dagunya pada pundak Minho dan ikut tersenyum bahagia.

Memori mereka seakan mengajak mereka kembali melintasi ruang dan waktu, memutar ulang kejadian-kejadian yang membekas antar keduanya. Hingga pada akhirnya mereka berkata dalam hati masing-masing, “akhirnya.”

Meski demikian, yang ini bukanlah akhir. Masih banyak perjalanan yang akan mereka tempuh di depan sana. Selebihnya, mereka berharap, bagaimanapun kondisi jalan yang akan mereka tempuh, semoga mereka dapat melewatinya bersama-sama.