rigeleo

Taksi yang Minho tumpangi melaju tanpa ragu—membelah jalanan ibu kota yang nyaris tidak menunjukkan adanya tanda-tanda aktivitas.

Minho terus menerus menekan tombol di ponselnya, berharap secercah keajaiban datang. Namun, kali ini keajaiban memang sedang tidak berpihak padanya. Jadi, mau tidak mau ia hanya berpasrah diri dan memandangi lampu kota dari dalam kaca mobil.

Jam tengah malam di ibu kota membuat Minho dengan cepat sampai ke laman apartemennya. Setelah membayar, dan tak lupa berucap terima kasih, Minho berlari kecil untuk sampai ke lift.

Tombol yang menunjukkan lantai 5 pun ia tekan. Beruntungnya, kali ini lift hanya berisikan dirinya dan sepasang kekasih.

Begitu pintu lift terbuka, Minho. melihat sosok yang tak asing di matanya. Walaupun penglihatan Minho terkadang patut dipertanyakan, tetapi dalam jarak pandangnya kali ini, ia dapat melihat Seungmin yang tengah terduduk di depan pintu apartemen mereka. Merunduk—menggeser layar handphonenya ke segala arah.

“Seungmin,” panggilnya.

Lantas, Seungmin menoleh dengan cepat, kemudian buru-buru berdiri dengan mata yang berkaca-kaca.

Minho lari menghampiri Seungmin dengan penuh tanda tanya.

“Kamu kenapa di luar, sayang?”

Seungmin pun sesegera mungkin menekan tombol di hp-nya, yang tak lain adalah tombol akhiri panggilan. Mau tak mau, mata Minho ikut tertuju pada layar handphone Seungmin. Di atasnya, tertera nama kesayangannya—Kino.

Menyadari itu, Minho pun bertanya, “kamu kenapa telepon aku? Ada yang aneh di dalem? Atau gimana? Maaf tadi aku ngga bisa dihubungin, baterai aku low, aku baru sadar tadi pas mau pulang.”

“Kak, kalau kamu ngga pulang kayaknya aku tidur di luar, deh,” ucapnya dengan nada sendu.

“Soalnya kunci aku ngga tau ke mana, ngga tau jatuh, atau ketinggalan di mobil Felix, atau gimana—pokoknya ngga tau. Tadi aku udah telepon Felix, tapi dia juga off handphonenya.”

Raut wajah Minho seketika berubah, tergambar raut bersalah di wajahnya.

“Astaga, sayang.. Maaf banget, maaf aku ngga bisa dihubungin tadi. Duh, kamu udah lama nunggunya? Masuk dulu deh, yuk.”

Tipe apartemen Minho bukanlah yang menggunakan kartu, password, atau semacamnya. Jadi, itulah sebabnya Seungmin tidak bisa masuk, karena akses satu-satunya hanyalah kunci yang dipegang oleh masing-masing dari mereka.

Setelah berhasil masuk, Minho buru-buru mengambil sebuah gelas dan menuangkan air hangat untuk Seungmin minum. Karena saat Minho genggam tangan Seungmin, tangan itu terasa membeku. Mungkin disebabkan karena Seungmin sudah lumayan lama berada di luar.

Minho duduk di samping Seungmin sambil meyodorkan segelas air hangat. Dengan cekatan, tangan kiri Seungmin pun ia bawa ke genggamannya sambil sesekali ia gosok-gosok, guna menciptakan hangat.

“Kamu udah lama di luar nya?”

Idk, kayaknya baru setengah jam, kurang lebih.”

“Astaga... Kok bisa, sih. Kenapa ngga ke security aja? Kan di situ dingin.”

“Iya, tadinya kalau 10 menit lagi ngga ada balesan dari kamu, aku mau ke security. Soalnya kan biasanya kamu ceklis tuh sebentaran, atau ngga ceklis di awal karena sinyal, terus nanti jadi ceklis dua sendiri. Tapi tadi aku tungguin, statusnya ngga berubah berubah. Sumpah, rasanya aku mau nangis aja tadi.” Jelas Seungmin panjang lebar.

Minho ikut tersedu mendengarnya. Ia pun mengusak kepala Seungmin, kemudian memeluknya untuk beberapa saat. Selama itu, mereka terdiam, entah kenapa.

“Oh iya, tadi aku juga telepon Kak Chris, tapi ngga nyambung. Kayanya di-silent, ya?”

“Kayaknya iya, dia juga tadi lagi charger hp, tapi ditaruh di meja makan. Soalnya colokan yang di deket tv tuh buat colokin charger laptop, sayang. Jadi kita ngga tau ada telepon masuk.” Seungmin pun mengangguk paham.

Keduanya pun merasa jauh lebih tenang setelah berpelukan—napas keduanya tidak lagi memburu, degup jantung mereka pun jauh lebih tenang dibandingkan dengan beberapa saat sebelumnya.

“Kakak sendiri, gimana? Kok bisa pulang? Kenapa ngga jadi nginep?” Tanya Seungmin keheranan.

“Mmm.. Ngga gimana-gimana. Pengen aja. Kangen kamu dah kayaknya.”

Seungmin tertawa sekilas, “apa sih, baru juga seharian.” Sanggahnya.

“Seharian itu lama, tau!”

“Hahaha, kamunya aja tuh, kangenan banget jadi orang. Gimana kalau aku ngga di sini?”

“Dih, emang mau ke mana?”

“Ya kali aja nanti pas libur bisa pulang ke rumah mama, who knows?

“Kalau gitu, aku ikut. Gampang, kan.”

“Ngikut mulu kaya anak bebek—Yaudah ah, udah, entar lagi ngobrolnya. Aku mau mandi. Bawa kuman banyak banget nih aku kayanya.”

“Aku juga bawa banyak kuman kayanya,”

“Yaudah, nanti mandinya gantian, abis aku.”

“Mandi bareng aja, boleh?” Begitu mendengar perkataan Minho, Seungmin langsung loncat dari sofa dan menyambar handuk yang ada di dekat balkon, kemudian lari ke kamar mandi.

“Huuu dasar, pelit!” Seru Minho begitu Seungmin menutup pintu.

“Bodo! Kalau mandi sama kamu, mandinya jadi lama, aku ngantuk!”

Mendengarnya, Minho hanya cekikikan di sofa.


Usai Seungmin melihat Minho melajukan motornya dengan mantap—Seungmin mencoba membuang jauh jauh pikiran tentang Minho, yang pergi entah ke mana dan bersama siapa.

Waktu terus berjalan, namun pikiran Seungmin terus berputar pada Minho. Ia bahkan lupa, bahwa dalam 1 jam lagi, ulang tahunnya yang ke 17 tahun akan segera tiba.

Karena pikiran tentang Minho yang tak kunjung mereda, Seungmin memilih untuk memejamkan matanya.

Tak butuh waktu lama, ia pun tertidur.


Kini, waktu menunjukkan hampir pukul 12 malam. Dalam hitungan menit, hari akan berganti. Dan pada malam pergantian hari pula, Minho akan menjalankan rencananya.

Setelah memastikan semuanya sudah siap—seperti, kue ulang tahun, lilin, dan beberapa tas berisi kado—Minho mulai mengendap-endap memasuki rumah Seungmin.

Kunci cadangan yang Minho peroleh—yang tak lain dari Mama Seungmin, amat memudahkan dirinya untuk menyelinap masuk.

Ia melangkahkan kakinya dengan langkah yang sangat berhati-hati. Bahkan, detak jantungnya terasa lebih nyaring daripada langkah kakinya sendiri.

Baru saja Minho membuka pintu utama, rungunya sudah menangkap suara bising dari televisi. Kemudian, sebelum ia benar-benar masuk untuk menghampiri Seungmin, ia letakkan sejenak barang bawaannya di ruang tamu, dengan maksud untuk melihat situasi di depannya.

Dilihatnya Seungmin yang tengah terlelap—matanya pun terpejam dengan sempurna. Namun, dapat Minho lihat juga raut wajah Seungmin yang nampak gelisah. Dahinya mengerut dan napasnya terbilang cukup berat. Minho juga dapati tv yang menyala, disertai dengan volume keras.

Minho tahu betul apa yang sedang ia saksikan—ia tahu, bahwa ini adalah salah satu kebiasaan Seungmin saat ia sedang merasa gelisah dan tak nyaman. Juga, ketika ada sesuatu yang menggangu pikirannya. Jadi, supaya Seungmin dapat melupakan hal itu, ia biasanya akan terlelap dengan volume keras yang mengiringi tidurnya—entah itu berasal dari televisi yang menyala, atau dari musik yang sengaja ia setel menggunakan speaker.

Lalu, tanpa ragu, ia hampiri si surai coklat. Lagi-lagi dengan sangat hati-hati, supaya tidak menginterupsi tidur si manis di hadapannya.

Minho duduk bersimpuh tepat di depan Seungmin yang terlelap. Tangan kanannya mulai bergerak untuk mengusap surai yang lebih muda dengan lembut, tak lupa juga ia mengusap pipi yang kadang kala menunjukkan rona kemerahan itu.

Tangan Minho yang dingin akibat terkena udara malam saat ia mengendarai motor, membuat Seungmin terbangun perlahan. Netra coklatnya berusaha menangkap sosok di depannya yang masih terlihat samar.

“Kok mau ulang tahun malah tidur?” Tutur Minho dengan lembut.

Seungmin yang masih terheran pun bangkit dari tidurnya, kemudian duduk sambil mengusap matanya, “kakak?” Ucapnya pelan.

Minho tidak menjawab dengan sepatah katapun. Ia berdiri dan kembali menuju ruang tengah. Tak butuh waktu lama, ia pun kembali dengan kue ulang tahun yang bertancapkan lilin, dengan angka yang menunjukkan umur Seungmin sekarang.

Apa yang Minho lakukan, sukses membuat mata Seungmin membulat sempurna—binar di matanya juga bersinar di ruangan yang gelap.

“Kakak inget?” Tanya Seungmin polos. Kemudian Minho tertawa kecil kala mendengar pertanyaan yang ia rasa konyol.

“Astaga, dari kecil juga kita rayain bareng-bareng. Mana mungkin lupa, cil?”

“Gue kira... Gue kira lo lupa,”

“Kenapa mikirnya begitu?”

“Gue kira, lo udah lupain gue gara-gara lo bilang kalau lo udah punya crush, degem, apalah itu.”

Mendengar pernyataan konyol Seungmin, tawa Minho pecah seketika. Minho tidak menyangka, bahwa pikiran Seungmin atas perkataan yang Minho lontarkan kemarin akan berdampak lumayan serius. Bersamaan dengan tawa yang kian memudar, terbesit rasa bersalah di benak Minho.

“Tiup dulu, cil.” Pinta Minho.

Seungmin pun meniup lilin berangka 71 tersebut. Iya, 71. Minho sengaja menaruhnya seperti itu.

“Kenapa 71, sih?” Protes Seungmin sebelum meniup lilin tersebut.

“Oh, salah, ya?” Ledek Minho dengan sengaja.

Bibir Seungmin mengerucut gemas, “tau, ah!” Finalnya.

Minho pun menaruh kue ulang tahun tersebut di meja yang tak jauh dari sofa—kemudian ia duduk tepat di samping Seungmin.

“Maaf ya,” ucap Minho tiba-tiba, yang membuat wajah Seungmin membentuk tanda tanya.

“Gua bohong soal itu, sumpah. Gua cuma mau surprise-in lu aja, kok! Awalnya gua kira, ya... Lu bakalan anggap itu bercandaan, atau seenggaknya lu biasa aja gitu. Taunya lu marah begini,”

Tak terima dengan kalimat akhir yang Minho ucapkan, Seungmin pun menyanggah, “Ngga marah, ya! Kata siapa coba?”

“Tuh, tuh! Kalau ngga marah harusnya biasa aja, kan?”

“Ya, gue ngga terima, lagian dibilang marah,”

“Terus apa dong? Kesel? Jengkel? Ngga suka?”

“Ngga! Biasa aja.”

“Apa? Orang kemarin aja di chat sewot banget.”

Seungmin pun teringat apa yang ia ketik kemarin, dan seketika terdiam.

“Kalau ngga mau jawab, gapapa. Gua tau, kok.”

“Dih, jangan langsung nyimpulin, dong!”

“Mau bilang tapi malu, kan?”

“Bilang apaan? Aneh.”

“Bilang kalau lu sebenarnya suka sama g—” Kalimat Minho terhenti akibat ulah Seungmin yang dengan sengaja membungkam mulut Minho dengan telapak tangannya.

Selanjutnya, mereka lewati malam menuju pagi itu dengan sukacita—canda, tawa, dan.. sedikit tangisan, mungkin?

Dan pada akhirnya, masing-masing dari mereka tidaklah perlu menjelaskan tentang bagaimana isi hati satu sama lain. Hal itu sudah terlewat mudah untuk keduanya tebak.

// kissing


Hari ini tanggal 14 Februari—hari yang identik dengan bentuk hati dan coklat di dalamnya. Hari di mana orang-orang melakukan berbagai macam hal untuk menunjukkan rasa kasih sayang mereka kepada pasangan masing-masing.

Kali ini Hyunjin juga ambil bagian dalam merayakannya bersama sang pemilik hati. Walaupun tak harus menunggu hari ini untuk memperlakukan Seungmin dengan spesial, namun jika dilakukan pada hari ini pasti rasanya akan berbeda, pikirnya.

Maka dari itu, sejak jauh-jauh hari Hyunjin sudah memikirkan bagaimana caranya supaya rencananya berjalan dengan mulus. Mengingat sang kekasih sangat hafal apapun gerak gerik Hyunjin.


Kini waktunya ia menjalankan rencana tersebut.

Setelah saling berkirim pesan, Hyunjin menunggu Seungmin di luar mobilnya. Senyum manis itu masih belum hilang dari parasnya sejak ia membaca respon yang diberikan kekasihnya beberapa menit lalu.

Dalam benaknya juga terbesit rasa puas karena telah berhasil mengerjai Seungmin. Otaknya ikut membayangkan bagaimana lucunya Seungmin ketika terburu-buru, pasti mulutnya tak berhenti bersumpah serapah.

Sepersekian menit kemudian, Seungmin pun keluar dari kediamannya. Dan benar saja, dari kejauhan Seungmin sudah mengeluhkan tingkah Hyunjin yang menjengkelkan. Walaupun dalam hatinya tak dapat dipungkiri bahwa ia senang bukan kepalang.

“Sumpah ya, Hyunjin! Surprise sih surprise, tapi kan akunya jadi buru-buru gini,”

“eh, tuh! terus kamu juga pake baju rapih, kalau tau gitu kita dresscode-an ajahaaahh yaudah deh, udah terlanjur. Ayo jalan, keburu telat.”

Hyunjin hanya cekikikan mendengar protes dari Seungmin. Bagaimana bisa orang yang sedang kesal itu terlihat begitu gemas, alih-alih terlihat seram?

Yang lebih tua pun membukakan pintu mobil dan mempersilahkan Seungmin untuk masuk.

Babe, aku bercanda... Reservasinya masih jam 20.45 hehe...” Ucap Hyunjin dengan wajahnya yang tak merasa bersalah sedikitpun. Netranya masih konsisten menatap Seungmin yang masih terus mengeluh, lama kelamaan bibir Hyunjin pun membentuk lekuk sabit akibat tingkah gemas kekasihnya itu.

For real?! Ih sumpah rese banget, aku belum pake liptint sama parfume, loh! Kalo gitu aku masuk bentar ya, bentaran aja, cuma 5 men—”

Mendengarnya, Hyunjin tertawa sekilas. Ia perlahan mendekat dan mulai memcumbu bilah favorit di depannya itu. Hyunjin menyesap lembut bibir Seungmin—sangat lembut, hingga yang dapat Seungmin rasakan hanyalah kasih sayang yang berusaha Hyunjin salurkan.

Tangan Hyunjin menahan tengkuk Seungmin. Jempolnya ia gunakan untuk mengusap pipi yang kian menghangat itu.

“Cantik. Bibirnya udah merah.” Ledek Hyunjin sambil tersenyum jahil begitu ciuman mereka terlepas.

“Nyebelin. Merah si merah, tapi bengkak dikit.”

“Masih cantik, kok. Tapi kalau ttp mau pake, itu ada liptint kamu yang ketinggalan di tas belakang, coba liat aja.”

Seungmin pun meraih tas yang ada di bangku belakang. Benar saja, ada beberapa barang Seungmin yang ternyata tertinggal di mobil Hyunjin.

Begitu menemukan yang dicari, Seungmin pun mengoleskan pewarna bibir itu secukupnya. Dirasa cukup, Seungmin pun mengembalikannya ke dalam tas.

How?

“Tambah cantik.” Sekali lagi Hyunjin mengecup bibir Seungmin yang pada akhirnya kembali mengundang protes dari mulut yang lebih muda.

lowercase


2 tahun berlalu, banyak tanda tanya yang muncul dalam benak seungmin—salah satunya tentang bagaimana bisa ia bertahan jika tidak ada minho di sampingnya?

bagi segelintir orang memang terdengar terlalu berlebihan, tak sedikit juga yang mungkin akan melontarkan cercaan jikalau tau bahwa itulah yang terlintas di benak seungmin selama ini. terlebih lagi dua orang temannya.

seribu satu cara sudah ditawarkan, baik oleh jisung maupun jeongin. namun tak satupun yang dapat menghapus ruang untuk minho di hati seungmin. kendati dua orang teman itu mendukung hubungan seungmin, tetapi ada masanya mereka lelah mendengar seungmin menangis. lelah dalam artian iba, tentunya.

jika jisung dan jeongin bersikeras menghapus awan kelabu pada hari-hari seungmin—dengan alasan tidak tega jika melihatnya terus menangis—seungmin pun mempunyai alasan lain untuk menolak bantuan sahabatnya.

seungmin percaya minho akan kembali.

acap kali seungmin mengambil satu langkah untuk mencoba melupakan minho, pada saat itulah bayang-bayang minho muncul di hadapannya dan memaksa untuk menarik mundur langkahnya. pada saat yang sama pula, hatinya langsung meyakini bahwa pria bersurai legam itu akan kembali ke dalam peluknya.

benar saja,

sekarang,

minho—semestanya,

kembali.

dengan hati yang siap, kini seungmin membuka lebar-lebar pintu gerbangnya kala bel rumah miliknya ditekan sebanyak 2 kali oleh seseorang yang tengah ia tunggu.

begitu gerbang sepenuhnya terbuka, temu tatap tak dapat dihindarkan. keduanya mematung sempurna—memproses apa yang tengah mereka lihat dengan netra masing-masing.

angin bertiup dengan lembut—menyapa lonceng angin yang tergantung di teras. alunan suara nan syahdu pun menguar di sela-sela hembusan angin.

suara itu pada akhirnya membangunkan mereka yang terlelap dalam adu tatap yang tak berujung.

mula-mula minho ulas senyum terbaiknya, namun ternyata respon seungmin justru berbanding terbalik.

air mata yang sudah di pelupuk mata itu pun tak dapat seungmin tahan lebih lama. air mata itu terjun bebas membasahi pipinya yang nampak sedikit tirus dari yang terakhir kali minho lihat.

minho pun mengambil langkah cepat untuk memeluk jiwa rapuh di depannya. ia dekap tubuh itu dengan harapan bahwa jiwa di dalamnya perlahan akan memulih. rasa rindu yang saling berbalas itu pada akhirnya akan terobati.

“saya di sini...”

isak tangis itu justru makin menguat begitu mendengar suara minho untuk pertama kalinya—setelah dua tahun.

suara itu masih sama.

suara itu masih terdengar begitu lembut saat menyapa rungu seungmin.

seungmin rindu kata 'saya' yang selalu minho ucapkan kala berbicara dengannya. hal ini mengingatkan seungmin pada kejadian di masa lampau,

kala itu, seungmin melayangkan protes bertubi-tubi pada minho, karena kekasihnya itu lebih memilih menggunakan kata 'saya' dibanding 'aku' untuk berbicara pada seungmin. tentu hal ini bukanlah tabiat dua insan yang sedang menjalin asmara pada umumnya.

“ih, pake aku aja, jangan saya saya, kak!” cebik seungmin dahulu.

“seungmin, kapan kita pertama kali ketemu?”

“ya... waktu itu kamu kan atasan aku.”

“nah, itu alasannya.”

butuh waktu setengah tahun bagi seungmin untuk mencerna maksud dibalik perkataan minho—yang padahal waktu itu seungmin pikir kekasihnya itu tidak memberikan jawaban.

namun pada hari-hari menjelang perpisahan mereka, minho mengatakan—bahwa minho sekedar ingin saja memakai kata saya di sela percakapan mereka sehari-hari.

minho ingin selalu dapat mengingat bagaimana kupu-kupu di perutnya itu kembali beterbangan—membawanya pada masa lalu, saat keduanya bertemu.

sejak mereka bertemu, minho sudah terhanyut dalam apiknya netra seungmin. setiap kali keduanya berpapasan, dan seungmin dengan sengaja melempar senyum... saat itu juga minho langsung salah tingkah. hatinya seketika membentuk taman bunga yang luas nan indah, tak lupa di perutnya juga beterbangan kupu-kupu yang cantik—namun lebih cantik si pujaan hati.

•••

“seungmin, saya kangen kamu—kata orang-orang, rasanya ngga enak. ternyata bener.”

“jangan pergi lagi, aku ngga suka sendiri.”

“iya, lain kali saya titip kucing saya ke kamu. biar kamu ngga sendiri.”

“jangan konyol.”

di tengah isak minho yang tertahan, ia masih lebih mendahulukan senyum seungmin. ia ingin melihat senyum itu kembali terukir pada wajah cantiknya.

satu bulir,

dua bulir,

pada akhirnya bulir demi bulir air mata minho menetes membasahi baju yang seungmin kenakan. seiring rintik air mata yang terjatuh, semakin erat pula dekapannya.

minho juga rindu seungmin. rasanya banyak yang ingin ia ungkapkan kala rindu itu melanda. namun kata-kata nya seakan tercekat di pangkal tenggorokan, yang lama-kelamaan mengendap dalam benaknya.

“ngga apa-apa kalau ngga bisa diungkapin pakai kata-kata. nangis aja, ada aku.” begitulah ucap seungmin.

“maafin saya...”

“iya, aku maafin, walaupun yang ini kebangetan jahat.”

“seungmin, saya ngga mau lagi ke mana-mana sendiri. enakan ada kamu. kalau ngga ada kamu, saya selalu bingung, rasanya kaya hilang arah.”

“ajak aku kalau kamu pergi, kak. nanti aku bantu cari jalan.”

“kalau ngga ada kamu, rasanya... semua jalan yang saya lewatin itu berakhir di kamu.”

“oh... berarti ngga ada opsi buat ninggalin aku. gitu, ya?”

minho tertawa sekilas dan menatap paras seungmin. tangan kirinya mengusap hidung bangir seungmin yang memerah sebab menangis. kemudian, ia tangkup juga pipi kirinya sembari diusap-usap perlahan.

minho mengangguk pelan, menyetujui jawaban yang seungmin tangkap. “boleh, deh. itu jawaban versi kamu, kamu simpen sendiri. nah, jawaban versi saya, juga saya simpen sendiri.”

“kok gitu? berarti itu bukan jawaban yang bener, dong?”

“bener, sayang. tergantung perspektif.”

“ternyata kamu ngga berubah, ya...”

•••

— fin.

Sejak pagi menjelang, hal pertama yang mengendap pada pikiran Keenan ialah maksud dari perkataan Naren.

Besok...

“Apaan, sih? Aneh.” Gumam Keenan begitu kata itu kembali melintas di otaknya.

Jauh di dalam lubuk hatinya, Keenan tidaklah menyangkal bahwa tingkah lakunya yang seolah tidak menginginkan Naren itu justru terlihat bodoh sekarang.

Karena, jika dipikir-pikir, kemarin ia selalu mendorong Naren begitu jauh. Masa iya sekarang kalau Naren nembak, gue terima? Kan malu!

Tapi di bagian hatinya yang lain, ia sudah menantikan hal ini terjadi dalam hidupnya–di mana Naren mengungkapkan perasaannya, kemudian meminta Keenan untuk menjalin hubungan dengannya.

Ah... sekedar memikirkannya saja sudah sukses membuat pipi Keenan merona sempurna, bagaimana jika nanti benar-benar terjadi?


Sedari pagi, Keenan tidak melihat keberadaan Naren maupun Aldo. Sepasang sahabat itu seakan lenyap ditelan bumi, bahkan Aldi—saudara kembar Aldo pun menanyakan hal yang sama.

Hingga saat pulang sekolah, tepatnya di lapangan menuju gerbang—tiba-tiba Naren muncul dengan senyum sumringahnya, sambil berjalan ke arah Keenan.

“Len?”

“Yah, Nan... Gua kira lu bakalan nyariin gua.” Nada bicara kecewa dan raut sedih yang sengaja dibuat-buat pun terlukis pada paras Naren.

“Kenapa emangnya? Lagian juga lu dari tadi ke mana? Tumben.”

“Ada kok, di kelas. Soalnya dari tadi gua degdegan, takut ketemu lu... Hahaha..”

“Aneh.”

“Pulang bareng, yuk?” Tiba-tiba saja lengan panjang Naren menyergap pundak Keenan. Walaupun Keenan memiliki bahu lebar, namun ternyata tangan Naren dapat mudah menjangkaunya. Sontak, Keenan pun terbelalak kaget.

Seakan paham, Naren pun berkata, “Masih ada hutang dare, nan.” ucapnya sembari menunjukkan cengiran yang tak dapat ditolak oleh seorang pun, termasuk Keenan.

Belum sempat Keenan berkata sepatah kata pun— kini tangan kanan Naren sudah menggenggam pergelangan Keenan untuk dilingkarkan pada pinggang Naren.

(+) Jadi tuh kayak... tangan kiri Alen ngerangkul pundak Keenan. Terus tangan kanan Keenan ngerangkul pinggang Alen dari belakang gitu. t_t semoga paham yahhh

Walaupun posisi mereka kini sudah berada di depan gerbang, kini warga sekolah yang tengah menuju parkiran siswa pun menujukan netra mereka pada keduanya.

“Len, lepas gak?! Ntar gue ketemu antek antek lu gimana?”

Mendengarnya, tawa Naren meledak.

“Oh, jadi selama ini lu nolak gua gara-gara takut?”

“Nih, ya. Pertama, mereka itu sangar sangar. Kayak... Alen is mine! Terus juga, yang kedua, gue ngga pernah nolak lu, ya!”

“Hahaha oke??? Jadinya gua diterima, dong?”

“Alen, bisa ngga jangan ngomong di sini? Diliatin, tuh!” Kemudian Keenan buru buru melepas rangkulan Naren dengan menggigit punggung tangannya. Kemudian ia segera berlari mencari motor Naren.

“Aw! Eh, jangan lari!” Walaupun sedikit nyeri, Naren masih bisa tertawa sekilas karena melihat tingkah Keenan yang menggemaskan. Naren paham betul bahwa pipi Keenan kini tengah menunjukkan rona merah muda.

Dalam hatinya, Naren melayangkan harapan—semoga suatu saat ia dapat melihat senyum manis, serta rona cantik itu menguar dari wajah Keenan secara jelas. Pasti akan terlihat sangat cantik, pikir Naren.

Seperti yang dikatakan Hazel melalui pesan singkat kemarin malam—hari ini Nala akan menghabiskan sebagian waktunya bersama Hazel.

Mereka membuat janji untuk pergi di malam hari. Namun sayang, hari masih terlalu pagi untuk dinantikan malamnya. Padahal, Nala sudah kepalang bersemangat untuk menemui kekasihnya itu—dan tentu saja, alasannya tak lain adalah karena kepergian Hazel yang memaksa mereka untuk berjarak selama beberapa waktu.

Pagi ini, begitu Nala bangun, ia langsung bergegas untuk mandi. Memang, bukanlah hal yang umum untuk dilakukan Nala sehari-hari. Wajar saja, karena kali ini ia mempunyai maksud dan tujuan tertentu, maka dari itu ia memaksa jiwanya untuk bersiap lebih awal.

Setelah banyak bimbang dilalui di sela-sela lamunan bangun tidurnya—kini Nala sudah siap dengan pakaian olahraganya. Lengkap dengan celana training, jaket, dan juga sepatu.

Hari masih lumayan gelap, bahkan semburat cahaya sang fajar masih terlihat samar—bayangan tuan bulan yang masih terjaga sepanjang malam pun ikut bersanding dengan sang fajar. Meskipun didukung dengan suasana demikian, tekad adalah tekad, Nala tidak berniat sedikitpun untuk mengurangi tekadnya.

Good for you, Nala.

Pagi nan sejuk ini membawa langkah Nala berjalan—terkadang berlari—menjajaki segala tempat. Terkadang langkah kakinya terhenti untuk meminum beberapa teguk air supaya dirinya tetap terhidrasi.

Nala terus menyusuri arah yang sudah ia tentukan—arah itu menuju wilayah apartemen Hazel. Seiring langkah yang ia tempuh, matahari kian naik. Kini sang surya telah menampakkan diri sepenuhnya.

Beruntung, sebelum hari terlalu panas ia sudah mencapai unit apartemen Hazel. Ditekannya pin yang sudah ia hafal di luar kepala—begitu masuk, tampak banyak kekacauan. Seperti perabotan bekas memasak yang belum dicuci, koper yang terbuka dengan isi yang tercecer, juga Mayo dan Ginger yang terus memanggilnya untuk mengisi mangkuk makanannya.

Sedangkan Hazel masih terbaring di tempat tidur. Matanya terpejam dengan rapat, tak ada kerutan dahi khas orang yang tengah terinterupsi akan suara. Dapat dipastikan bahwa Hazel kelelahan setelah perjalanan yang kemarin ia tempuh. Nala pun memutuskan untuk tidak membangunkan Hazel terlebih dahulu.

Sembari menunggu Hazel bangun, Nala membereskan seluruh kekacauan ini dengan perlahan. Bahkan, sebisa mungkin ia lakukan dengan suara yang minim.

Sekitar satu jam kemudian, Nala telah selesai. Kini, jam menunjukkan pukul 10 pagi—tiba-tiba mata Nala merasa berat. Mungkin karena ia bangun terlalu pagi hari ini.

Nala tidak dapat menahannya lebih lama, bahkan untuk berdiri saja rasanya sudah sedikit limbung. Ia pun segera mengambil tempat di samping Hazel untuk membaringkan tubuhnya. Posisi Hazel yang terlentang membuat naluri Nala mengajaknya untuk menenggelamkan diri dalam pelukan Hazel.

Karena Nala tahu Hazel tidak mudah untuk terbangun, maka tanpa ragu Nala pun menyamankan diri di samping kekasihnya. Kepalanya ia letakkan di atas lengan kekar Hazel—dan tak lupa, tangannya ia bawa melingkari pinggang lelakinya. Nala pun dengan mudah ikut menyusul Hazel ke alam mimpi.


“La, bangun. Udah jam 10 lewat, makan, yuk?” ucap Hazel sembari mengusap dahi Nala.

Nala itu kebalikan dari Hazel. Maka dari itu ketika Hazel mendaratkan tangannya pada dahi Nala, Nala pun dengan mudah terbangun.

Begitu Nala membuka matanya perlahan, ia langsung menangkap sosok Hazel yang masih mendekapnya, “pa-gi, Hazel.” tuturnya setengah sadar.

“Pagi, cantik,” bukannya langsung bangkit, Hazel justru semakin mendekap Nala. Sedangkan yang didekap hanya menurut.

“Kamu sejak kapan di sini? kok ngga bangunin aku?”

“Aku tadi abis jogging, terus sekalian ke sini.”

“Kan lumayan jauh, La. Tadi juga masih pagi, masih sepi, emang gapapa?”

“It's fine, aku emang lagi pengen jogging aja. Terus juga kalo nunggu malem kelamaan.”

“Tinggal bilang kangen padahal,” seperti biasa, Hazel dipaksa untuk menahan gemas. Tingkah kekasihnya itu memang sulit ditebak. Padahal beberapa tahun mereka menjalin hubungan, seharusnya bukanlah perkara sulit untuk mengatakan hal semacam itu.

“Kamu mau makan apa?” tanya Nala mengalihkan.

“Ngga tau. Mau masak aja? tapi aku cuma ada bahan buat sandwich sama pasta doang kayanya.”

“Gapapa. Ayo, bangun.” Tubuh Nala yang sudah hampir dalam posisi duduk tiba-tiba kembali ditarik pelan oleh Hazel.

“Tapi sebentar, aku kangen kamu. Mau peluk dulu 5 menit.”

Nala mengiyakan permintaan Hazel. Toh, ia pun samanya. Mereka saling mendekap dalam hening. Hanya ada suara kecupan kecil yang sesekali dilayangkan Hazel. Nala terlihat menyusut setiap kali Hazel merengkuhnya. Tubuh mungilnya itu sangat cocok untuk terus berada dalam pelukan kekasihnya.


“Sayang, kamu beresin semuanya tadi?” tanya Hazel dengan lantang.

“Iya, Zel, berantakan banget. Kamu semalem capek banget, ya?” jawab Nala dari dalam kamar mandi.

“Capeknya biasa aja, kok. Aku emang niatnya pengen beresin hari ini, aku berantakin emang biar pas aku liat ini tuh bawaannya mau langsung aku beresin.” Jelas Hazel sembari membalik roti yang ia panggang di atas teflon.

Nala pun akhirnya keluar dari kamar mandi sembari mengusak rambutnya dengan handuk. “Yah, Zel, udah terlanjur..”

“Kok yah? justru aku yang ngga enak, La. Kamu ke sini pagi-pagi, berangkatnya jalan kaki, pas udah di sini malah beresin apart aku.”

Nala mengalungkan handuk itu di lehernya. Tangannya ia gunakan untuk meraih kucing oranye yang diketahui bernama Ginger itu; untuk duduk di pangkuannya. “Gapapa, Zel. Kamu kaya sama siapa aja, sih.”

“Makasih banyak, ya, cantik.” Hazel mengecup pucuk kepala Nala sekilas, dilanjut dengan menaruh sepiring sandwich dan susu di depan Nala.

“Sama-sama, Ajel.”

“Sekarang kamu cuci tangan dulu, habis itu makan.”

Nala menurunkan Ginger ke lantai dan segera menghampiri wastafel. Setelahnya, ia kembali duduk untuk menyantap sajian yang dibuat oleh Hazel. Awalnya mereka ingin membuatnya bersama, tetapi Hazel bersikeras membujuk Nala supaya tidak membantunya.

Ia mengunyah rotinya perlahan-lahan sembari menonton acara televisi kesukaannya. Dari arah punggungnya, ia dapati suara Hazel yang sepertinya tengah mencari sesuatu. “Hazel, kamu cari apa?” tanya Nala.

“Ngga, kok. Ini, hairdryer, udah ketemu.”

Hazel menghampiri Nala, tangan kanannya membawa hairdryer sedangkan tangan kirinya menggenggam vitamin rambut.

“Bangkunya aku mundurin dikit, ya, La. Aku keringin dulu rambutnya.”

Nala memang tidak suka jika rambutnya lembab—apalagi basah. Dan Hazel tau itu.

“Padahal habis ini mau aku keringin sendiri, hehehe,”

“Udah, kamu makan dulu aja, ya.”

Di sela-sela kegiatan mereka, tiba-tiba memori Nala membawanya pada suatu waktu di bulan September—kejadiannya sama persis seperti saat ini.

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Hazel yang seketika memecah lamunan Nala.

“Hahaha engga,”

Nala teringat saat dirinya usai mandi—saat itu Hazel juga membantunya mengeringkan rambut. Namun setelahnya, terjadilah pergelutan antara dua insan yang terbalut nafsu—di atas ranjang.

Hal itu membuat Nala sedikit salah tingkah, bahkan, sekarang pipinya mungkin sudah sedikit memancarkan rona kemerahan.

“Selesai!” Hazel mematikan pengering rambut itu, dan seketika suara bising pun mereda.

“Hazel, nanti kita ngga usah pergi, ya? kayanya kamu masih capek.”

“Aduh, kebiasaan. Aku ngga suka, ya, kalo kamu ngga enakan gini. Padahal kamu sendiri ngga suka kalo aku ingkar janji.”

“Ih, tapi 'kan ini aku yang mau. Ya?”

“Emang mau ngapain? ngga bosen di sini?”

Nala bangkit dari duduknya. Ia langsung menghadap Hazel untuk membelai rahang lelaki di depannya.

“Aku mau. Kamu.. mau ngga?” bisik Nala selembut mungkin.

“Bukannya kalo kaya gini akunya lebih capek, ya?” timpal Hazel sambil menyunggingkan senyum.

Nala dengan puppy eyes-nya pun beraksi, “Can i take it as a 'yes'?”

“Emang ada jawaban lain selain itu?”

[ tbc ]

Seperti yang dikatakan Hazel melalui pesan singkat kemarin malam—hari ini Nala akan menghabiskan sebagian waktunya bersama Hazel.

Mereka membuat janji untuk pergi di malam hari. Namun sayang, hari masih terlalu pagi untuk dinantikan malamnya. Padahal, Nala sudah kepalang bersemangat untuk menemui kekasihnya itu—dan tentu saja, alasannya tak lain adalah karena kepergian Hazel yang memaksa mereka untuk berjarak selama beberapa waktu.

Pagi ini, begitu Nala bangun, ia langsung bergegas untuk mandi. Memang, bukanlah hal yang umum untuk dilakukan Nala sehari-hari. Wajar saja, karena kali ini ia mempunyai maksud dan tujuan tertentu, maka dari itu ia memaksa jiwanya untuk bersiap lebih awal.

Setelah banyak bimbang dilalui di sela-sela lamunan bangun tidurnya—kini Nala sudah siap dengan pakaian olahraganya. Lengkap dengan celana training, jaket, dan juga sepatu.

Hari masih lumayan gelap, bahkan semburat cahaya sang fajar masih terlihat samar—bayangan tuan bulan yang masih terjaga sepanjang malam pun ikut bersanding dengan sang fajar. Meskipun didukung dengan suasana demikian, tekad adalah tekad, Nala tidak berniat sedikitpun untuk mengurangi tekadnya.

Good for you, Nala.

Pagi nan sejuk ini membawa langkah Nala berjalan—terkadang berlari—menjajaki segala tempat. Terkadang langkah kakinya terhenti untuk meminum beberapa teguk air supaya dirinya tetap terhidrasi.

Nala terus menyusuri arah yang sudah ia tentukan—arah itu menuju wilayah apartemen Hazel. Seiring langkah yang ia tempuh, matahari kian naik. Kini sang surya telah menampakkan diri sepenuhnya.

Beruntung, sebelum hari terlalu panas ia sudah mencapai unit apartemen Hazel. Ditekannya pin yang sudah ia hafal di luar kepala—begitu masuk, tampak banyak kekacauan. Seperti perabotan bekas memasak yang belum dicuci, koper yang terbuka dengan isi yang tercecer, juga Mayo dan Ginger yang terus memanggilnya untuk mengisi mangkuk makanannya.

Sedangkan Hazel masih terbaring di tempat tidur. Matanya terpejam dengan rapat, tak ada kerutan dahi khas orang yang tengah terinterupsi akan suara. Dapat dipastikan bahwa Hazel kelelahan setelah perjalanan yang kemarin ia tempuh. Nala pun memutuskan untuk tidak membangunkan Hazel terlebih dahulu.

Sembari menunggu Hazel bangun, Nala membereskan seluruh kekacauan ini dengan perlahan. Bahkan, sebisa mungkin ia lakukan dengan suara yang minim.

Sekitar satu jam kemudian, Nala telah selesai. Kini, jam menunjukkan pukul 10 pagi—tiba-tiba mata Nala merasa berat. Mungkin karena ia bangun terlalu pagi hari ini.

Nala tidak dapat menahannya lebih lama, bahkan untuk berdiri saja rasanya sudah sedikit limbung. Ia pun segera mengambil tempat di samping Hazel untuk membaringkan tubuhnya. Posisi Hazel yang terlentang membuat naluri Nala mengajaknya untuk menenggelamkan diri dalam pelukan Hazel.

Karena Nala tahu Hazel tidak mudah untuk terbangun, maka tanpa ragu Nala pun menyamankan diri di samping kekasihnya. Kepalanya ia letakkan di atas lengan kekar Hazel—dan tak lupa, tangannya ia bawa melingkari pinggang lelakinya. Nala pun dengan mudah ikut menyusul Hazel ke alam mimpi.


“La, bangun. Udah jam 10 lewat, makan, yuk?” ucap Hazel sembari mengusap dahi Nala.

Nala itu kebalikan dari Hazel. Maka dari itu ketika Hazel mendaratkan tangannya pada dahi Nala, Nala pun dengan mudah terbangun.

Begitu Nala membuka matanya perlahan, ia langsung menangkap sosok Hazel yang masih mendekapnya, “pa-gi, Hazel.” tuturnya setengah sadar.

“Pagi, cantik,” bukannya langsung bangkit, Hazel justru semakin mendekap Nala. Sedangkan yang didekap hanya menurut.

“Kamu sejak kapan di sini? kok ngga bangunin aku?”

“Aku tadi abis jogging, terus sekalian ke sini.”

“Kan lumayan jauh, La. Tadi juga masih pagi, masih sepi, emang gapapa?”

“It's fine, aku emang lagi pengen jogging aja. Terus juga kalo nunggu malem kelamaan.”

“Tinggal bilang kangen padahal,” seperti biasa, Hazel dipaksa untuk menahan gemas. Tingkah kekasihnya itu memang sulit ditebak. Padahal beberapa tahun mereka menjalin hubungan, seharusnya bukanlah perkara sulit untuk mengatakan hal semacam itu.

“Kamu mau makan apa?” tanya Nala mengalihkan.

“Ngga tau. Mau masak aja? tapi aku cuma ada bahan buat sandwich sama pasta doang kayanya.”

“Gapapa. Ayo, bangun.” Tubuh Nala yang sudah hampir dalam posisi duduk tiba-tiba kembali ditarik pelan oleh Hazel.

“Tapi sebentar, aku kangen kamu. Mau peluk dulu 5 menit.”

Nala mengiyakan permintaan Hazel. Toh, ia pun samanya. Mereka saling mendekap dalam hening. Hanya ada suara kecupan kecil yang sesekali dilayangkan Hazel. Nala terlihat menyusut setiap kali Hazel merengkuhnya. Tubuh mungilnya itu sangat cocok untuk terus berada dalam pelukan kekasihnya.


“Sayang, kamu beresin semuanya tadi?” tanya Hazel dengan lantang.

“Iya, Zel, berantakan banget. Kamu semalem capek banget, ya?” jawab Nala dari dalam kamar mandi.

“Capeknya biasa aja, kok. Aku emang niatnya pengen beresin hari ini, aku berantakin emang biar pas aku liat ini tuh bawaannya mau langsung aku beresin.” Jelas Hazel sembari membalik roti yang ia panggang di atas teflon.

Nala pun akhirnya keluar dari kamar mandi sembari mengusak rambutnya dengan handuk. “Yah, Zel, udah terlanjur..”

“Kok yah? justru aku yang ngga enak, La. Kamu ke sini pagi-pagi, berangkatnya jalan kaki, pas udah di sini malah beresin apart aku.”

Nala mengalungkan handuk itu di lehernya. Tangannya ia gunakan untuk meraih kucing oranye yang diketahui bernama Ginger itu; untuk duduk di pangkuannya. “Gapapa, Zel. Kamu kaya sama siapa aja, sih.”

“Makasih banyak, ya, cantik.” Hazel mengecup pucuk kepala Nala sekilas, dilanjut dengan menaruh sepiring sandwich dan susu di depan Nala.

“Sama-sama, Ajel.”

“Sekarang kamu cuci tangan dulu, habis itu makan.”

Nala menurunkan Ginger ke lantai dan segera menghampiri wastafel. Setelahnya, ia kembali duduk untuk menyantap sajian yang dibuat oleh Hazel. Awalnya mereka ingin membuatnya bersama, tetapi Hazel bersikeras membujuk Nala supaya tidak membantunya.

Ia mengunyah rotinya perlahan-lahan sembari menonton acara televisi kesukaannya. Dari arah punggungnya, ia dapati suara Hazel yang sepertinya tengah mencari sesuatu. “Hazel, kamu cari apa?” tanya Nala.

“Ngga, kok. Ini, hairdryer, udah ketemu.”

Hazel menghampiri Nala, tangan kanannya membawa hairdryer sedangkan tangan kirinya menggenggam vitamin rambut.

“Bangkunya aku mundurin dikit, ya, La. Aku keringin dulu rambutnya.”

Nala memang tidak suka jika rambutnya lembab—apalagi basah. Dan Hazel tau itu.

“Padahal habis ini mau aku keringin sendiri, hehehe,”

“Udah, kamu makan dulu aja, ya.”

Di sela-sela kegiatan mereka, tiba-tiba memori Nala membawanya pada suatu waktu di bulan September—kejadiannya sama persis seperti saat ini.

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Hazel yang seketika memecah lamunan Nala.

“Hahaha engga,”

Nala teringat saat dirinya usai mandi—saat itu Hazel juga membantunya mengeringkan rambut. Namun setelahnya, terjadilah pergelutan antara dua insan yang terbalut nafsu—di atas ranjang.

Hal itu membuat Nala sedikit salah tingkah, bahkan, sekarang pipinya mungkin sudah sedikit memancarkan rona kemerahan.

“Selesai!” Hazel mematikan pengering rambut itu, dan seketika suara bising pun mereda.

“Hazel, nanti kita ngga usah pergi, ya? kayanya kamu masih capek.”

“Aduh, kebiasaan. Aku ngga suka, ya, kalo kamu ngga enakan gini. Padahal kamu sendiri ngga suka kalo aku ingkar janji.”

“Ih, tapi 'kan ini aku yang mau. Ya?”

“Emang mau ngapain? ngga bosen di sini?”

Nala bangkit dari duduknya. Ia langsung menghadap Hazel untuk membelai rahang lelaki di depannya.

“Aku mau. Kamu.. mau ngga?”

“Bukannya kalo kaya gini akunya lebih capek, ya?” timpal Hazel sambil menyunggingkan senyum.

“Can i take it as a 'yes'?”

“Emang ada jawaban lain selain itu?”

[ tbc ]

Seperti yang dikatakan Hazel melalui pesan singkat kemarin malam—hari ini Nala akan menghabiskan sebagian waktunya bersama Hazel.

Mereka membuat janji untuk pergi di malam hari. Namun sayang, hari masih terlalu pagi untuk dinantikan malamnya. Padahal, Nala sudah kepalang bersemangat untuk menemui kekasihnya itu—dan tentu saja, alasannya tak lain adalah karena kepergian Hazel yang memaksa mereka untuk berjarak selama beberapa waktu.

Pagi ini, begitu Nala bangun, ia langsung bergegas untuk mandi. Memang, bukanlah hal yang umum untuk dilakukan Nala sehari-hari. Wajar saja, karena kali ini ia mempunyai maksud dan tujuan tertentu, maka dari itu ia memaksa jiwanya untuk bersiap lebih awal.

Setelah banyak bimbang dilalui di sela-sela lamunan bangun tidurnya—kini Nala sudah siap dengan pakaian olahraganya. Lengkap dengan celana training, jaket, dan juga sepatu.

Hari masih lumayan gelap, bahkan semburat cahaya sang fajar masih terlihat samar—bayangan tuan bulan yang masih terjaga sepanjang malam pun ikut bersanding dengan sang fajar. Meskipun didukung dengan suasana demikian, tekad adalah tekad, Nala tidak berniat sedikitpun untuk mengurangi tekadnya.

Good for you, Nala.

Pagi nan sejuk ini membawa langkah Nala berjalan—terkadang berlari—menjajaki segala tempat. Terkadang langkah kakinya terhenti untuk meminum beberapa teguk air supaya dirinya tetap terhidrasi.

Nala terus menyusuri arah yang sudah ia tentukan—arah itu menuju wilayah apartemen Hazel. Seiring langkah yang ia tempuh, matahari kian naik. Kini sang surya telah menampakkan diri sepenuhnya.

Beruntung, sebelum hari terlalu panas ia sudah mencapai unit apartemen Hazel. Ditekannya pin yang sudah ia hafal di luar kepala—begitu masuk, tampak banyak kekacauan. Seperti perabotan bekas memasak yang belum dicuci, koper yang terbuka dengan isi yang tercecer, juga Mayo dan Ginger yang terus memanggilnya untuk mengisi mangkuk makanannya.

Sedangkan Hazel masih terbaring di tempat tidur. Matanya terpejam dengan rapat, tak ada kerutan dahi khas orang yang tengah terinterupsi akan suara. Dapat dipastikan bahwa Hazel kelelahan setelah perjalanan yang kemarin ia tempuh. Nala pun memutuskan untuk tidak membangunkan Hazel terlebih dahulu.

Sembari menunggu Hazel bangun, Nala membereskan seluruh kekacauan ini dengan perlahan. Bahkan, sebisa mungkin ia lakukan dengan suara yang minim.

Sekitar satu jam kemudian, Nala telah selesai. Kini, jam menunjukkan pukul 10 pagi—tiba-tiba mata Nala merasa berat. Mungkin karena ia bangun terlalu pagi hari ini.

Nala tidak dapat menahannya lebih lama, bahkan untuk berdiri saja rasanya sudah sedikit limbung. Ia pun segera mengambil tempat di samping Hazel untuk membaringkan tubuhnya. Posisi Hazel yang terlentang membuat naluri Nala mengajaknya untuk menenggelamkan diri dalam pelukan Hazel.

Karena Nala tahu Hazel tidak mudah untuk terbangun, maka tanpa ragu Nala pun menyamankan diri di samping kekasihnya. Kepalanya ia letakkan di atas lengan kekar Hazel—dan tak lupa, tangannya ia bawa melingkari pinggang lelakinya. Nala pun dengan mudah ikut menyusul Hazel ke alam mimpi.


“La, bangun. Udah jam 10 lewat, makan, yuk?” ucap Hazel sembari mengusap dahi Nala.

Nala itu kebalikan dari Hazel. Maka dari itu ketika Hazel mendaratkan tangannya pada dahi Nala, Nala pun dengan mudah terbangun.

Begitu Nala membuka matanya perlahan, ia langsung menangkap sosok Hazel yang masih mendekapnya, “pa-gi, Hazel.” tuturnya setengah sadar.

“Pagi, cantik,” bukannya langsung bangkit, Hazel justru semakin mendekap Nala. Sedangkan yang didekap hanya menurut.

“Kamu sejak kapan di sini? kok ngga bangunin aku?”

“Aku tadi abis jogging, terus sekalian ke sini.”

“Kan lumayan jauh, La. Tadi juga masih pagi, masih sepi, emang gapapa?”

“It's fine, aku emang lagi pengen jogging aja. Terus juga kalo nunggu malem kelamaan.”

“Tinggal bilang kangen padahal,” seperti biasa, Hazel dipaksa untuk menahan gemas. Tingkah kekasihnya itu memang sulit ditebak. Padahal beberapa tahun mereka menjalin hubungan, seharusnya bukanlah perkara sulit untuk mengatakan hal semacam itu.

“Kamu mau makan apa?” tanya Nala mengalihkan.

“Ngga tau. Mau masak aja? tapi aku cuma ada bahan buat sandwich sama pasta doang kayanya.”

“Gapapa. Ayo, bangun.” Tubuh Nala yang sudah hampir dalam posisi duduk tiba-tiba kembali ditarik pelan oleh Hazel.

“Tapi sebentar, aku kangen kamu. Mau peluk dulu 5 menit.”

Nala mengiyakan permintaan Hazel. Toh, ia pun samanya. Mereka saling mendekap dalam hening. Hanya ada suara kecupan kecil yang sesekali dilayangkan Hazel. Nala terlihat menyusut setiap kali Hazel merengkuhnya. Tubuh mungilnya itu sangat cocok untuk terus berada dalam pelukan kekasihnya.


“Sayang, kamu beresin semuanya tadi?” tanya Hazel dengan lantang.

“Iya, Zel, berantakan banget. Kamu semalem capek banget, ya?” jawab Nala dari dalam kamar mandi.

“Capeknya biasa aja, kok. Aku emang niatnya pengen beresin hari ini, aku berantakin emang biar pas aku liat ini tuh bawaannya mau langsung aku beresin.” Jelas Hazel sembari membalik roti yang ia panggang di atas teflon.

Nala pun akhirnya keluar dari kamar mandi sembari mengusak rambutnya dengan handuk. “Yah, Zel, udah terlanjur..”

“Kok yah? justru aku yang ngga enak, La. Kamu ke sini pagi-pagi, berangkatnya jalan kaki, pas udah di sini malah beresin apart aku.”

Nala mengalungkan handuk itu di lehernya. Tangannya ia gunakan untuk meraih kucing oranye yang diketahui bernama Ginger itu; untuk duduk di pangkuannya. “Gapapa, Zel. Kamu kaya sama siapa aja, sih.”

“Makasih banyak, ya, cantik.” Hazel mengecup pucuk kepala Nala sekilas, dilanjut dengan menaruh sepiring sandwich dan susu di depan Nala.

“Sama-sama, Ajel.”

“Sekarang kamu cuci tangan dulu, habis itu makan.”

Nala menurunkan Ginger ke lantai dan segera menghampiri wastafel. Setelahnya, ia kembali duduk untuk menyantap sajian yang dibuat oleh Hazel. Awalnya mereka ingin membuatnya bersama, tetapi Hazel bersikeras membujuk Nala supaya tidak membantunya.

Ia mengunyah rotinya perlahan-lahan sembari menonton acara televisi kesukaannya. Dari arah punggungnya, ia dapati suara Hazel yang sepertinya tengah mencari sesuatu. “Hazel, kamu cari apa?” tanya Nala.

“Ngga, kok. Ini, hairdryer, udah ketemu.”

Hazel menghampiri Nala, tangan kanannya membawa hairdryer sedangkan tangan kirinya menggenggam vitamin rambut.

“Bangkunya aku mundurin dikit, ya, La. Aku keringin dulu rambutnya.”

Nala memang tidak suka jika rambutnya lembab—apalagi basah. Dan Hazel tau itu.

“Padahal habis ini mau aku keringin sendiri, hehehe,”

“Udah, kamu makan dulu aja, ya.”

Di sela-sela kegiatan mereka, tiba-tiba memori Nala membawanya pada suatu waktu di bulan September—kejadiannya sama persis seperti saat ini.

“Kamu kenapa senyum-senyum sendiri?” tanya Hazel yang seketika memecah lamunan Nala.

“Hahaha engga,”

Nala teringat saat dirinya usai mandi—saat itu Hazel juga membantunya mengeringkan rambut. Namun setelahnya, terjadilah pergelutan antara dua insan yang terbalut nafsu—di atas ranjang.

Hal itu membuat Nala sedikit salah tingkah, bahkan, sekarang pipinya mungkin sudah sedikit memancarkan rona kemerahan.

“Selesai!” Hazel mematikan pengering rambut itu, dan seketika suara bising pun mereda.

“Hazel, nanti kita ngga usah pergi, ya? kayanya kamu masih capek.”

“Aduh, kebiasaan. Aku ngga suka, ya, kalo kamu ngga enakan gini. Padahal kamu sendiri ngga suka kalo aku ingkar janji.”

“Ih, tapi 'kan ini aku yang mau. Ya?”

“Emang mau ngapain? ngga bosen di sini?”

Nala bangkit dari duduknya. Ia langsung menghadap Hazel untuk membelai rahang lelaki di depannya.

“Aku mau. Kamu.. mau ngga?”

“Bukannya kalo kaya gini akunya lebih capek, ya?” timpal Hazel sambil menyunggingkan senyum.

“Can i take it as a 'yes'?”

“Emang ada jawaban lain selain itu?”

[ tbc ]

cw tw // broken home, family issues, suicidal thought, kissing


lama berteman dengan rama tentu saja membuat farel hafal betul segala hal yang menyangkut rama. tak terkecuali permasalahan keluarga rama—yang sudah mulai retak sejak rama duduk di bangku sekolah menengah pertama.

sejauh yang farel ingat, rama tidak pernah memintanya untuk menjemput, bahkan menginap di rumah-nya.

maka dari itu, farel asumsikan jika kali ini adalah yang paling parah. karena, jika orang tua rama memulai cekcok, rama hanya akan melapor ke farel dan farel pun dengan lapang membantu rama untuk mengalihkan suara suara negatif dalam pikiran rama yang disebabkan oleh teriakan kedua orang tuanya yang saling bersahutan.

namun, kali ini rama nampaknya berada pada puncak kewarasan—yang jika ia tetap berada di sana, rama akan gila dalam beberapa menit saja. maka dari itu ia meminta farel untuk menjemputnya untuk meninggalkan rumah itu, setidaknya sampai esok hari, jika memungkinkan.

setelah saling berkabar, farel langsung melajukan motor kesayangannya—membelah sunyinya malam dengan deruan mesin yang terdengar sedikit kasar.

tak butuh waktu lama bagi farel sang pembalap unggul untuk pada akhirnya sampai di depan warung kopi yang digadang-gadang buka 24 jam itu.

farel dapati rama yang langsung menghampiri dirinya tanpa membisikkan sepatah kata pun. mengerti akan hal itu, farel pun maklum dan memilih untuk memutar balik motornya sebelum malam semakin larut.

demi semesta yang tak pernah tertidur, demi malam yang dingin, dan demi lampu jalanan yang kerap kali berkedip—farel berani bertaruh jika malam itu farel dapati pelukan paling erat yang pernah rama layangkan untuknya.

di samping itu, farel juga sadari bahwa semakin farel melaju, tubuh rama semakin bergetar. getaran itu lama kelamaan berubah menjadi rintihan pilu yang farel harap farel tidak akan pernah mendengarnya.

basah jaket farel yang membentuk lingkaran besar—namun abstrak—membuktikan banyaknya beban pikiran, serta suara suara rama yang tidak pernah tersampaikan.

hasrat farel untuk mendekap rama sudah meluap-luap. maka, farel tambah laju motornya supaya ia dapat memeluk erat rama-nya.

semakin dekat tujuan mereka, semakin halus pula suara isakan rama. bukan tanpa sebab isakan itu berubah menjadi sehalus debu, melainkan rama tak ingin jika ibu dari farel khawatir.

karena, bagaimanapun juga mereka sudah mengenal satu sama lain sejak lama. ibu farel pun sudah tau permasalahan rama—bahkan, ibu farel kerap kali menghimbaunya untuk pergi ke rumah farel saja jika sewaktu-waktu per-cekcok-an ini kembali terjadi.

rama ingat betul bagaimana ibu farel membukakan pintu rumahnya dengan lebar seraya merentangkan tangan untuk memberinya peluk kala hati dan pikirannya remuk.

kemudian, sampailah mereka di rumah dua tingkat, dengan halaman yang penuh dengan berbagai macam tanaman.

rumah farel tak sebesar rumah rama, namun jika rama diharuskan memilih di mana ia akan menetap, rama akan selalu memilih rumah farel.

karena, rumah itu selalu hangat, selalu dipenuhi oleh cinta kasih. begitu lah yang rama rasakan ketika berada di sana.

“ibu sama ayah udah tidur, ram. tapi tadi aku udah bilang, kok. kita langsung naik aja, ya?” ucap farel begitu memasukkan motornya di ruang tamu.

“kamu ke atas duluan aja, ram. aku mau ambil minum sama yang lainnya. terus, kalo kamu mau pake kamar mandi, pake aja, ya.”

rama masih mengunci rapat mulutnya dan membiarkan bahasa tubuhnya yang mengambil alih.

begitu naik dan memasuki kamar farel, rama meletakkan tasnya di kursi belajar milik farel, kemudian pergi ke kamar mandi untuk cuci tangan, kaki, dan membasuh wajahnya. setidaknya, hanya itu yang rama rencanakan.

namun, rencana manusia dapat berubah sewaktu-waktu.

rama yang tadinya hanya berniat untuk bersih bersih justru memilih untuk menyalakan kran air, kemudian duduk di kloset duduk sembari memuaskan hasrat untuk kembali melanjutkan tangisnya yang sempat tertunda.

sayang, tampaknya niat rama untuk membuat tangisnya tak terdengar telah terbaca oleh farel.

“rama, sini kalau mau nangis. jangan di dalem, dingin, nanti kamu sakit.”

rama masih enggan untuk keluar.

“rama, aku marah loh, ya, kalau kamu ngga keluar.”

dengan langkah yang tertatih, rama berjalan keluar dan berdiri di depan farel dengan matanya yang merah nan sembab.

farel yang sedari tadi menahan diri pun akhirnya langsung menghamburkan peluknya untuk rama. tangannya ia gunakan untuk mengelus dan menepuk pelan punggung kokoh rama.

kali ini, rama tak banyak bicara seperti biasanya. tak terdengar ocehan protes ataupun suara tawa yang menguar dari mulut rama.

kali ini hanya ada isakan sendu yang farel dengar.

“ada aku, rama. ada aku.”

“yel, bisa ngga sih aku kabur aja dari dunia. aku beneran capek. capek banget.”

“ngga bisa, ram. belum waktunya. karena mungkin menurut tuhan kamu itu masih kuat, kamu itu hebat.”

“tapi nyatanya aku ngga sekuat itu, yel.”

“tapi kamu hebat,”

im not.

“kamu hebat, bisa bertahan sejaaaaauh ini. mungkin, kalo aku jadi kamu aku belum tentu sekuat kamu.”

farel lepas tautan tubuh mereka untuk pandangi wajah rama yang mengkilap karena air mata.

walaupun mata rama masih berlinang air mata, namun indahnya tak berkurang sedikitpun.

farel bawa jemarinya untuk usap pipi rama yang sesekali masih dijatuhi air mata.

bukannya berhenti, tangisan rama justru makin menjadi. entah karena apa, sekarang wajah rama sudah sepenuhnya tenggelam di bahu farel. begitu pun tangannya yang masih mencengkeram erat baju belakang farel.

“cantik, kenapa nangis lagi? hahaha, aku salah ngomong, ya?”

rama menggeleng pelan. surai legamnya sedikit menggelitik leher farel.

“kamu kenapa sebegininya ke aku, yel?”

“karena apalagi? aku sayang sama kamu. aku udah bilang, kan?”

“aku juga sayang sama kamu, yel. tapi aku belum bisa bilang.”

“aku tau. nanti ada waktunya kok.”

“aku takut kamu mikir kalo aku cuma mainin kamu atau manfaatin kamu.”

“hahahahah, ngga akan. karena aku percaya kamu bukan orang yang kaya gitu, ram. kalau kamu ngga sayang sama aku, pasti kamu udah ngehindar, kan?”

“ayel, makasih banyak. makasih banget. aku beruntung punya kamu, ibu, sama ayah.”

“rama, jangan sekalipun kamu mikir buat ninggalin dunia, ya? masih ada aku, ibu sama ayah di sini. kalau ngga ada kamu, kita semua sedih,”

“rama, kamu masih punya aku. aku bakalan di sini terus sama kamu, kamu jangan takut kalau aku bakalan ninggalin kamu. karena, gimana ya... kalau aku ninggalin kamu, yang ada aku yang sedih, aku yang kesiksa. bayanginnya aja aku ngga bisa.”

ayel, i feel the same way.. aku juga ngga bisa bayangin kalo ngga ada kamu. kayanya aku bakalan gila, atau mungkin aku udah ngga ada sekarang.”

“kan aku bilang, itu juga karena kamu hebat. kamu bisa buang jauh jauh pemikiran itu karena diri kamu sendiri, bukan aku.”

“yel, janji sama aku kalau kamu bakalan di sini sama aku terus...”

“aku janji, ram. aku janji.”

“tunggu sebentar lagi ya, yel.”

“lama juga aku tungguin, kok. ngga apa apa, take your time, okay? coba sekarang aku mau liat muka cantiknya, boleh?”

rama pun mengelap air matanya dengan telapak tangannya dan mulai mendongakkan kepalanya perlahan-lahan.

“kamu cantik, cantik banget. pipi sama hidung kamu merah, lucu, aku suka. tapi aku ngga suka kalo sebabnya karena nangis.”

“kalo gitu, sebab yang kamu suka tuh yang kaya gimana?”

“aku suka kalo pipi kamu merah sendiri kalo lagi blushing.”

“kalo lagi blushing, berarti penyebabnya kamu!”

“terus kalau hidung, itu karena aku cubitin terus hidungnya.”

“kamu stop gemesin aku, makanya.”

“justru itu, mana bisa?”

rama tersenyum lebar sekilas dan memalingkan wajahnya yang memerah karena tersipu—mengingat, jika jarak mereka kurang dari satu meter.

farel menarik dagu rama untuk menatapnya kembali.

namun, akhirnya tak hanya terjadi adu tatap.

farel sedikit menunduk dan menarik tengkuk rama untuk menyatukan bilah delima mereka.

keduanya menyesap bibir satu sama lain dengan lembut, tanpa melibatkan pertarungan antar lidah di dalamnya.

cw tw // broken home, family issues, suicidal thought, kissing


lama berteman dengan rama tentu saja membuat farel hafal betul segala hal yang menyangkut rama. tak terkecuali permasalahan keluarga rama—yang sudah mulai retak sejak rama duduk di bangku sekolah menengah pertama.

sejauh yang farel ingat, rama tidak pernah memintanya untuk menjemput, bahkan menginap di rumah-nya.

maka dari itu, farel asumsikan jika kali ini adalah yang paling parah. karena, jika orang tua rama memulai cekcok, rama hanya akan melapor ke farel dan farel pun dengan lapang membantu rama untuk mengalihkan suara suara negatif dalam pikiran rama yang disebabkan oleh teriakan kedua orang tuanya yang saling bersahutan.

namun, kali ini rama nampaknya berada pada puncak kewarasan—yang jika ia tetap berada di sana, rama akan gila dalam beberapa menit saja. maka dari itu ia meminta farel untuk menjemputnya untuk meninggalkan rumah itu, setidaknya sampai esok hari, jika memungkinkan.

setelah saling berkabar, farel langsung melajukan motor kesayangannya—membelah sunyinya malam dengan deruan mesin yang terdengar sedikit kasar.

tak butuh waktu lama bagi farel sang pembalap unggul untuk pada akhirnya sampai di depan warung kopi yang digadang-gadang buka 24 jam itu.

farel dapati rama yang langsung menghampiri dirinya tanpa membisikkan sepatah kata pun. mengerti akan hal itu, farel pun maklum dan memilih untuk memutar balik motornya sebelum malam semakin larut.

demi semesta yang tak pernah tertidur, demi malam yang dingin, dan demi lampu jalanan yang kerap kali berkedip—farel berani bertaruh jika malam itu farel dapati pelukan paling erat yang pernah rama layangkan untuknya.

di samping itu, farel juga sadari bahwa semakin farel melaju, tubuh rama semakin bergetar. getaran itu lama kelamaan berubah menjadi rintihan pilu yang farel harap farel tidak akan pernah mendengarnya.

basah jaket farel yang membentuk lingkaran besar—namun abstrak—membuktikan banyaknya beban pikiran, serta suara suara rama yang tidak pernah tersampaikan.

hasrat farel untuk mendekap rama sudah meluap-luap. maka, farel tambah laju motornya supaya ia dapat memeluk erat rama-nya.

semakin dekat tujuan mereka, semakin halus pula suara isakan rama. bukan tanpa sebab isakan itu berubah menjadi sehalus debu, melainkan rama tak ingin jika ibu dari farel khawatir.

karena, bagaimanapun juga mereka sudah mengenal satu sama lain sejak lama. ibu farel pun sudah tau permasalahan rama—bahkan, ibu farel kerap kali menghimbaunya untuk pergi ke rumah farel saja jika sewaktu-waktu per-cekcok-an ini kembali terjadi.

rama ingat betul bagaimana ibu farel membukakan pintu rumahnya dengan lebar seraya merentangkan tangan untuk memberinya peluk kala hati dan pikirannya remuk.

kemudian, sampailah mereka di rumah dua tingkat, dengan halaman yang penuh dengan berbagai macam tanaman.

rumah farel tak sebesar rumah rama, namun jika rama diharuskan memilih di mana ia akan menetap, rama akan selalu memilih rumah farel.

karena, rumah itu selalu hangat, selalu dipenuhi oleh cinta kasih. begitu lah yang rama rasakan ketika berada di sana.

“ibu sama ayah udah tidur, ram. tapi tadi aku udah bilang, kok. kita langsung naik aja, ya?” ucap farel begitu memasukkan motornya di ruang tamu.

“kamu ke atas duluan aja, ram. aku mau ambil minum sama yang lainnya. terus, kalo kamu mau pake kamar mandi, pake aja, ya.”

rama masih mengunci rapat mulutnya dan membiarkan bahasa tubuhnya yang mengambil alih.

begitu naik dan memasuki kamar farel, rama meletakkan tasnya di kursi belajar milik farel, kemudian pergi ke kamar mandi untuk cuci tangan, kaki, dan membasuh wajahnya. setidaknya, hanya itu yang rama rencanakan.

namun, rencana manusia dapat berubah sewaktu-waktu.

rama yang tadinya hanya berniat untuk bersih bersih justru memilih untuk menyalakan kran air, kemudian duduk di kloset duduk sembari memuaskan hasrat untuk kembali melanjutkan tangisnya yang sempat tertunda.

sayang, tampaknya niat rama untuk membuat tangisnya tak terdengar telah terbaca oleh farel.

“rama, sini kalau mau nangis. jangan di dalem, dingin, nanti kamu sakit.”

rama masih enggan untuk keluar.

“rama, aku marah loh, ya, kalau kamu ngga keluar.”

dengan langkah yang tertatih, rama berjalan keluar dan berdiri di depan farel dengan matanya yang merah nan sembab.

farel yang sedari tadi menahan diri pun akhirnya langsung menghamburkan peluknya untuk rama. tangannya ia gunakan untuk mengelus dan menepuk pelan punggung kokoh rama.

kali ini, rama tak banyak bicara seperti biasanya. tak terdengar ocehan protes ataupun suara tawa yang menguar dari mulut rama.

kali ini hanya ada isakan sendu yang farel dengar.

“ada aku, rama. ada aku.”

“yel, bisa ngga sih aku kabur aja dari dunia. aku beneran capek. capek banget.”

“ngga bisa, ram. belum waktunya. karena mungkin menurut tuhan kamu itu masih kuat, kamu itu hebat.”

“tapi nyatanya aku ngga sekuat itu, yel.”

“tapi kamu hebat,”

im not.

“kamu hebat, bisa bertahan sejaaaaauh ini. mungkin, kalo aku jadi kamu aku belum tentu sekuat kamu.”

farel lepas tautan tubuh mereka untuk pandangi wajah rama yang mengkilap karena air mata.

walaupun mata rama masih berlinang air mata, namun indahnya tak berkurang sedikitpun.

farel bawa jemarinya untuk usap pipi rama yang sesekali masih dijatuhi air mata.

bukannya berhenti, tangisan rama justru makin menjadi. entah karena apa, sekarang wajah rama sudah sepenuhnya tenggelam di bahu farel. begitu pun tangannya yang masih mencengkeram erat baju belakang farel.

“cantik, kenapa nangis lagi? hahaha, aku salah ngomong, ya?”

rama menggeleng pelan. surai legamnya sedikit menggelitik leher farel.

“kamu kenapa sebegininya ke aku, yel?”

“karena apalagi? aku sayang sama kamu. aku udah bilang, kan?”

“aku juga sayang sama kamu, yel. tapi aku belum bisa bilang.”

“aku tau. nanti ada waktunya kok.”

“aku takut kamu mikir kalo aku cuma mainin kamu atau manfaatin kamu.”

“hahahahah, ngga akan. karena aku percaya kamu bukan orang yang kaya gitu, ram. kalau kamu ngga sayang sama aku, pasti kamu udah ngehindar, kan?”

“ayel, makasih banyak. makasih banget. aku beruntung punya kamu, ibu, sama ayah.”

“rama, jangan sekalipun kamu mikir buat ninggalin dunia, ya? masih ada aku, ibu sama ayah di sini. kalau ngga ada kamu, kita semua sedih,”

“rama, kamu masih punya aku. aku bakalan di sini terus sama kamu, kamu jangan takut kalau aku bakalan ninggalin kamu. karena, gimana ya... kalau aku ninggalin kamu, yang ada aku yang sedih, aku yang kesiksa. bayanginnya aja aku ngga bisa.”

“_ayel, i feel the same way.. aku juga ngga bisa bayangin kalo ngga ada kamu. kayanya aku bakalan gila, atau mungkin aku udah ngga ada sekarang.”

“kan aku bilang, itu juga karena kamu hebat. kamu bisa buang jauh jauh pemikiran itu karena diri kamu sendiri, bukan aku.”

“yel, janji sama aku kalau kamu bakalan di sini sama aku terus...”

“aku janji, ram. aku janji.”

“tunggu sebentar lagi ya, yel.”

“lama juga aku tungguin, kok. ngga apa apa, take your time, okay? coba sekarang aku mau liat muka cantiknya, boleh?”

rama pun mengelap air matanya dengan telapak tangannya dan mulai mendongakkan kepalanya perlahan-lahan.

“kamu cantik, cantik banget. pipi sama hidung kamu merah, lucu, aku suka. tapi aku ngga suka kalo sebabnya karena nangis.”

“kalo gitu, sebab yang kamu suka tuh yang kaya gimana?”

“aku suka kalo pipi kamu merah sendiri kalo lagi blushing.”

“kalo lagi blushing, berarti penyebabnya kamu!”

“terus kalau hidung, itu karena aku cubitin terus hidungnya.”

“kamu stop gemesin aku, makanya.”

“justru itu, mana bisa?”

rama tersenyum lebar sekilas dan memalingkan wajahnya yang memerah karena tersipu—mengingat, jika jarak mereka kurang dari satu meter.

farel menarik dagu rama untuk menatapnya kembali.

namun, akhirnya tak hanya terjadi adu tatap.

farel sedikit menunduk dan menarik tengkuk rama untuk menyatukan bilah delima mereka.

keduanya menyesap bibir satu sama lain dengan lembut, tanpa melibatkan pertarungan antar lidah di dalamnya.