rigeleo

— under the moonlight


“halo?” sapa minho sebagai pembuka, “liat, lu kaya bocil deh, seung. bocil yang kalo keluar harus pake jaket tebel.” lanjutnya.

seungmin mendengus, “ih kenapa?” tanya-nya, “gapapa, lucu” kata minho sambil mengacungkan jempol.

“ini sebetulnya ngga terlalu tebel, kok. terus juga ini idenya abang,” seungmin mencebik.

“bagus dong, malem-malem jangan kaosan doang, dingin.”

“dih, sendirinya juga kaosan doang tuh,”

“yang ga boleh kaosan doang itu bocil, kan gua udah gede,”

“maksud kakak, aku bocil gitu? matanya kemana deh?”

“kan, makin kaya bocil hahaha— sabuknya dipake ya.”

seungmin memasangkan sabuknya, lalu menatap minho heran, “kak, tumben bawa mobil?”

“pengen aja, lagian takut baliknya kemaleman.”

kemudian minho mulai melajukan mobilnya. belum setengah perjalanan, minho menyerahkan tangannya yang membentuk dua jari, “pilih, jari telunjuk atau jari tengah.”

seungmin yang ragu pun bertanya, “ini apaan dulu?” minho memicingkan matanya, “mmm yaaa, ini anggep aja kaya mau ngapain dulu

seungmin tunjuk jari tengah minho, “ini aja deh, artinya apa?” minho tersenyum, “nah, sesuai. kalo jari tengah kita makan sama beli jajan dulu.”

“yesss! tapi, kita mau kemana?”

“kita nitip mobilnya di rumah chan. nah, ga jauh dari rumah chan tuh biasanya ada food court gitu. terus jalan sebentar, terus ada deh...” jelas minho.

tak lama, keduanya sampai di depan rumah chan— yang rupanya, sang pemilik sedang duduk bersantai di teras.

“oy, ho! langsung masukin aja.” setelah mendapat aba-aba, minho masukkan mobilnya ke garasi chan.

minho dan seungmin keluar dari mobilnya, “tante sama om kemana?” tanya minho basa basi, “nginep di rumah kakaknya,”

“ohh berarti aman dong, ya?” minho memainkan alisnya, “aman, sip, udah sana. keburu malem, ntar diributin changbin lagi.”

“hahaha, yaudah gua cabut dulu,”

“pergi dulu ya, kak!” seru seungmin.

mereka berjalan tak jauh, hingga nampak keramaian yang minho maksud.

“mau makanan berat atau jajan aja?”

“aku jajan aja, tadi udah makan sama abang.” kemudian mereka berjalan, disamping itu, minho mencoba untuk mengambil gambar dari keramaian di depannya dengan kameranya.

kemudian seungmin yang penasaran pun mendongak melihat minho. minho yang paham pun langsung menunjukkan hasilnya, “gimana?” seungmin tercengang, “ihh bagus, kak! lagi-lagi!”

“iya ayo sambil jalan, sekalian lu liat liat mau jajan apa. harus jajan loh, ya”

“beres deh.”

lalu, seungmin memilih beberapa jajanan yang menarik perhatiannya. ia membeli sekotak takoyaki, thai tea, tak lupa dengan dimsum, juga roti toast dengan saus black pepper.

sedangkan minho, ia membeli manisan rambut nenek, es coklat, sosis kentang, dan corn dog.

'ini namanya kulineran' batin seungmin.

sembari jalan, minho terus menangkap gambar. tak jarang juga minho mengambil gambar seungmin yang tengah membayar jajanannya. juga menjadikannya objek utama di tengah keramaian.

“beres!” ucap seungmin yang selesai dengan apa yang ia beli.

“masukin tas gua aja makanannya.”

lalu seungmin membuka resleting tas minho— lalu memasukkannya.

mereka semakin berjalan menuju tempat yang minim lampu jalan. hal itu membuat seungmin bingung, “kita mau kemana?” minho menunjuk bukit di belakang sekolah.

“di sana kalau malem itu bagus.”

“apa ngga gelap?”

“ngga, di sana justru ada banyak orang, biasanya sih banyak yang ke sana. terus ada penjual dadakan yang nyediain lapak buat makan lesehan gitu,” seungmin kaget, bagaimana bisa ia baru tau tempat semacam itu.

“kita nanjak dong?”

“ya... iya, gimana lagi?”

mereka terus berjalan sampai pada gapura, mereka berhenti sejenak.

“ini, lu gendong tas gua,” minho menyerahkan tasnya, tanpa basa basi, seungmin langsung ambil.

“nah, lu naik,” kata minho.

“ayo!” kemudian seungmin berjalan mendahului minho yang baru mengambil posisi berjongkok.

lalu minho berlari mengejar seungmin, menarik tudung kepala pada hoodienya, “bocil, lu naik ke punggung gua. gua gendong.”

seungmin menautkan alisnya, “berat kali kak,” minho memasangkan tudung kepala seungmin, “emang.”

“tuh, yaudah jangan!”

“becanda si— ayo naik. di sini masih gelap, kalo gamau naik gua tinggal.”

seungmin menatap minho sinis, “iya iya, dasar maksa!”

“udahh?” minho memastikan.

seungmin berseru, “satu... dua... tiga... lets gooooo!”

seungmin memposisikan satu tangannya ke depan bak superman yang sedang terbang, sedangkan minho berlari kecil sambil tertawa.

— : —

mereka pun sampai diatas bukit, yang ternyata tidak terlalu jauh. kalau kata seungmin, ini adalah bukit versi mini.

seungmin kemudian loncat dari gendongan minho, “ih, ih, apaan nih bagus banget???” seungmin menatap pemandangan dari atas bukit dengan ekspresi kagum.

“bagus, kan? — coba nengok,”

seungmin menoleh,

ckrek!

kilau flash dari kamera minho menyilaukan pandangan seungmin.

“inoooo!”

“hahaha, bagus kok, nih liat.”

“iya bagus, tapi kan kaget.”

kemudian minho mendatangi seorang penyedia jasa pinjam tikar yang memang selalu berjualan di sana.

“kak, kenapa kita ke sini?”

“biar ga berisik, di sini ngga terlalu rame, tapi ngga sepi banget juga.”

“iya sih bener, ada orang tapi ngga banyak, jadi pas.”

kemudian seungmin mengeluarkan semua yang dibelinya tadi, “kak, kamu sering ke sini?” minho mengangguk, “sering, sendirian.”

“kak, kalau mau ke sini jangan sendirian, ajak aku!”

“boleh, tapi gantian ya nanti, lu yang gendong gua, gimana?”

“ih, kan yang tadi kakak yang mau,”

“iyaa, kalo lu yang mau juga gapapa, gua gendong naik turun.”

“emang ngga berat?”

“”gendong aja bocil, nah, rasanya kaya gitu.”

“sumpah, stop ngeledekin aku bocil bocil!”

“emang bocil, nih, kecil banget, segini.” minho mengangkat tangannya dengan jari membentuk (🤏)

“kalo gitu aku boleh minta gendong setiap hari?”

“boleh boleh,”

“di sekolah?”

“boleh, biar orang tau, seungmin sekecil itu, seungmin punya gua..”

“hahaha bisa! tapi nanti ciwi ciwi kamu....”

“ciwi ciwi apaan, ngga ada tuh!”

“minho lovers, hahahaha” seungmin tertawa kencang.

sinar bulan menemani mereka—berbincang ringan, tertawa, menangkap gambar satu sama lain. melakukan hal-hal sederhana yang besar dampaknya bagi keduanya.

mereka rasa, hari itu adalah hari dimana mereka lebih terbuka satu sama lain dibanding hari biasanya— yang hanya sekedar bercanda, atau hanya meledek satu sama lain.

namun, kali ini beda, mereka coba berbicara menggunakan hati. dengan perlahan, tapi sampai.

...jika bukit ini bisa berbicara, mungkin sekarang ia sudah mengucap syukur karena hari itu adalah pertama kalinya minho datang dengan ke sana tawa, dengan perasaan bahagia, dan juga dengan seungmin.


p.s : latar bukit ini udah pernah aku pakai di oneshot angkasa pukul tiga pagi. aku baru inget pas udah selesai nulis hehehe, well.. semoga ngga bosen ya! 🤓

lowercase


siang ini, selepas pulang sekolah— seungmin berencana mengunjungi perpustakaan sekaligus toko buku milik teman kakeknya tersebut. bukan sekedar ingin meminta saran, namun, ia merasa akhir-akhir ini jarang mengunjungi keduanya.

beruntung, cuaca siang ini tidak sepanas hari hari sebelumnya. seungmin memilih naik bus sampai ke toko kue langganannya, kemudian dilanjut dengan berjalan kaki ke tempat yang ia tuju.

cling

bunyi lonceng pintu toko kue terdengar nyaring.

di toko ini tidak hanya menjual berbagai macam kue, tapi juga ice cream dan beberapa camilan. namun, karena seungmin lebih sering membeli kue di sini, maka ia sebut toko ini sebagai toko kue saja.

sebelum membuat pesanan, tentunya seungmin akan melihat lihat apa yang ingin ia beli.

“misi, mba, ada kue yang less sugar ngga ya? tapi juga yang lembut gitu,” tanya seungmin kepada salah satu karyawan toko.

nampaknya, karyawan tersebut mengenali seungmin, “ah, seungmin? pasti mau beli buat oma, ya?”

seungmin kira, yang ia ajak bicara barusan bukanlah yang biasa membuat pesanannya, “eh iyaa, ini aku, mba nya masih inget aja hehehe— iya, ini buat oma sama opa, mereka suka makanan manis, mba. tapi, tau sendiri mereka ngga boleh terlalu banyak makan makanan manis.” jelas seungmin.

“iya sih bener, oh iya, kuenya ada kok. mau yang kaya gimana?”

“yang kaya biasa aja mba,”

karyawan tersebut berjalan ke arah belakang— mungkin untuk mengambil persediaan kue yang diminta seungmin.

“nah, ini kuenya— terus, mau yang mana lagi, nih?” tanya wanita tsb sambil menempatkan kue pada sebuah kotak.

“mmmm.. apa ya, ini aja deh mba, ice cream yang mint choco. sama macaroonnya juga, sekotak.”

“oke deh siap, sebentar ya!”

setelah beberapa saat, seungmin akhirnya mendapatkan pesanannya. setelah membayar— tak lupa berterimakasih, seungmin berjalan menuju perpustakaan.

di perjalanan, ia bertemu banyak kucing— namun, bukan itu poinnya. ketika ia melihat kucing kucing tersebut, ia teringat pada minho— juga rasa bersalahnya.

jarak dari toko kue menuju perpustakaan tidaklah terlalu jauh. jadi, sekarang seungmin sudah sampai.

ting!

suara khas pintu dibuka membuat sang pemilik lantas menoleh untuk memastikan siapa yang datang.

“halooo oma, opa!” sapa seungmin bersemangat.

“aduh nak, siang-siang gini kamu kesini apa ngga panas?” tanya opa khawatir.

“ngga kok, pa, di luar ngga terlalu panas. makanya seungmin kesini hehehe,” jawabnya.

seungmin memeluk opa kemudian mendudukkan dirinya di kursi dekat pintu, “oma kemana, pa?” tanya seungmin, karena sepertinya oma sedang tidak ada di dalam.

“oma-mu lagi ke seberang, beli koran,”

“orang disini aja banyak bacaan hahaha,” opa langsung mengangguk, tanda setuju, “iya, tadi opa bilang begitu, tapi yaudahlah. mungkin dia udah hafal buku buku di sini, plus isinya.”

tidak lama kemudian, yang dibicarakan pun datang dengan langkah pelan, “ohhh ada seungmin? udah lama, nak?”

“hehe belum kok, ma, barusan aja nyampe,” seungmin berjalan ke arah pintu untuk membawakan sesuatu yang dibawa oma— yang nyatanya bukan hanya koran, melainkan beberapa belanjaan.

“eh, oma lupa, nak... kemarin itu, temenmu yang kamu bawa, siapa namanya?” tanya oma penasaran

“ohhh, kak minho itu, ma. ada apa?”

“kemarin dia ke sini, agak murung gitu. tapi pas opa-mu tanya, katanya lagi capek sama cuma pengen baca buku aja.”

dalam hati, seungmin membatin, 'bukannya kak minho ngga suka baca buku? maksudnya, kalaupun cape, ya... gue pikir dia ke tempat yang dia suka, bukan ke sini, ke tempat penuh buku yang notabenenya dia gak suka.'

“gitu, ya, ma? — ma, pa, aku mau cerita, boleh?”

kemudian seungmin ceritakan apa yang menjadi pikirannya 2 hari belakangan, beserta kalimat yang di katakan kakaknya lewat chat, tentunya.

“kalau opa, setuju sama abangmu, nak. kalau memang begitu posisinya, kamu memang harus ngalah. mulai komunikasi, walaupun susah. coba saja kamu bayangkan, kalau saat kamu komunikasi saja kondisinya ngga terlalu baik, bagaimana kalau ngga komunikasi sama sekali?” tutur opa.

“iya, nak, betul itu. oma tau, mungkin kamu mau kasih waktu buat minho, cuma, bedakan mana kasih waktu, mana putus komunikasi.” imbuhnya.

seungmin menimpalinya dengan beberapa kalimat diselingi beberapa pertanyaan.

beberapa jam berlalu, waktu menunjukkan pukul 7 malam. merasa sudah mendapatkan jawaban, seungmin pamit pulang.

ia memilih berjalan kaki lagi, menuju halte tempatnya turun. di tengah perjalanan, ternyata turun hujan yang membuatnya mau tidak mau harus berteduh, karena, ia tidak membawa payung, jas hujan, atau benda semacamnya.

seungmin sadar, dirinya kini tengah berada di dekat kedai kopi tempat dirinya dan minho membeli kopi waktu itu. ia sangat ingin memesan secangkir kopi hangat di dalam sana, namun, rasa ingin itu tiba-tiba lenyap. mungkin seungmin merasa, kopi tersebut akan berkali-kali lipat lebih nikmat jika ia meminumnya bersama orang yang membawanya kemari.

tidak perlu ku sebutkan, ku rasa kalian paham siapa orangnya.

seungmin menunggu hujan mereda sambil membuka handphone-nya— menggulir layarnya ke kanan, ke kiri, ke atas, ke bawah, kemanapun itu asal dirinya tidak merasa bosan.

dari arah kanan, datang laki-laki yang memakai hoodie beserta tudung kepala, tak lupa masker untuk menutupi wajahnya.

kendati demikian, seungmin tidak sesulit itu untuk mengenali sosok yang mendekat ke arahnya. namun— seungmin takut dugaannya tak pasti, maka, ia hanya melihat ke arahnya.

kini, sosok tersebut berada tepat di depan seungmin— lalu, membuka tudung serta maskernya satu persatu.

“lain kali, kalo kemana-mana bawa payung.”

“kak inoooo!”

ahh sial, panggilan tersebut membuat minho melemah. kemudian, minho duduk di samping seungmin, “kakak sendiri, kesini ga bawa payung...” kata seungmin, mencoba memulai percakapan.

“ngga penting,” sahutnya minho singkat.

“kakak ngapain ke sini?”

“hujan, harusnya lu tau,”

“aku paham aja, kok. cuma ngga mau kepedean, kalau kakak ke sini mau jemput aku.” tukasnya.

minho terdiam,

“kak, ayo pulang,” pinta seungmin sambil menatap minho.

“masih hujan.”

“hujan hujanan aja...”

“ga usah ngaco, nanti lu sakit,”

“ngga bakal, kak. aku ga gampang sakit, aku suka hujan—” seungmin memotong kalimatnya sembari menggigit bibirnya, “oh iya, maaf, aku lupa kalo kakak juga bisa sakit. kita neduh dulu aja, ya?”

minho paham, saat ini ia sedang merajuk. juga, suasana hatinya belum sepenuhnya membaik sejak hari itu. tapi minho yakin, semuanya akan berangsur membaik seiring dirinya menggenggam tangan milik sosok di sampingnya kini.

maka, minho tautkan jemarinya dengan jari seungmin— mengeratkan genggamannya seraya menatap seungmin. mengisyaratkan bahwa dirinya tidak keberatan berada di bawah derasnya hujan, asalkan bersama seungmin—berdua—menggenggam satu sama lain.

seungmin mendongak sembari tersenyum, paham akan maksud minho. kemudian keduanya berlari kecil di tengah derasnya hujan.

malam itu, mereka biarkan hujan yang menjadi alasan bagi keduanya untuk memulai segala sesuatu yang baru.

lowercase


seungmin melangkahkan tungkainya menuju ruang sinematografi— ruang yang ia hindari selama beberapa minggu.

walaupun seungmin terkadang masih mengingat hal menjengkelkan pada hari itu dan enggan ke ruang tersebut— namun, tidak menutup fakta bahwa ia menuruti permintaan minho— manusia penyebab dirinya kesal. dan sekarang, ia sudah berada tepat di depan pintu dengan perasaan senang cenderung campur aduk, memikirkan apa yang akan menjadi topiknya dengan minho kali ini.

secara, dirinya tak pandai memulai percakapan, sedang minho tak mahir mencari topik.… entah apa jadinya jika mereka berdua berada dalam satu ruangan yang sama. mungkin mereka akan diselimuti oleh rasa hening hingga jam istirahat berakhir. tapi, siapa tahu kali ini berbeda.

“kakkk???” panggil seungmin dari luar, “kok dikunci? — ehh atau belum di dalem ya?” sambungnya.

kemudian bunyi kunci diputar terdengar di telinga seungmin, “sini, masuk,” ketika seungmin masuk, minho mengunci pintunya lagi.

seungmin menatap minho penuh heran, “kenapa dikunci?” tanya-nya.

“soalnya kalo ngga dikunci kadang ada anak yang istirahat di sini,— tenang gua ga macem-macem kok.” jawab minho.

seungmin tahu apa maksud perkataan minho, maka, ia hanya menanggapi kalimat sebelumnya, “anak? anak apaan, kak, maksudnya? umm.. han.. tu... anak anak?”

minho menghela nafasnya, “bisa-bisanya lu mikir begitu. maksudnya tuh ya murid yang lain. logika aja, kalo hantu, walaupun dikunci masih bisa masuk, kan?”

“iya sih... kali aja gitu hantunya beda,”

minho tidak menjawab, ia menggelar karpet bulu yang biasa anak ekskul sinematografi gunakan ketika rapat atau sekedar bersantai.

“bawa bekal apa?” tanya minho.

“bawa nasi goreng. tadi mau bawa makanan yang beberapa macem lauk gitu, tapi bunda kesiangan.” jawab seungmin yang sudah membuka kotak bekalnya ketika minho menggelar karpet.

minho mengangguk, “sini di bawah aja,” lalu seungmin bawa kotak bekalnya.

ketika seungmin hendak duduk, ia teringat sesuatu, “yahhhhh... aku lupa bawa minum, bentar ya kak,”

“disini aja jagain ruangannya, gua mau keluar bentar.”

“ish aneh— jangan lama-lama.”

ketika minho sudah berada di luar ruangan, seungmin mulai mengeluh akan sikap aneh minho — yang menyuruhnya datang, tapi dia sendiri meninggalkan seungmin sendirian. seungmin tidak berpikir bahwa minho pergi untuk membeli air mineral untuknya, karena, sungguh, seungmin tidak berpikir bahwa minho adalah tipikal orang yang seperti itu.

seungmin pikir, minho orang yang cuek. memang, hal itu tidak salah, namun 'cuek' yang dipikiran seungmin adalah cuek yang seperti betul-betul tidak peduli, tidak mau tahu, sedikit kasar, enggan meminta maaf, dan tentunya asal bicara.

tapi tenang itu hanya first impression dan tolong maafkan pikiran seungmin pada saat itu. karena sekarang seungmin merasa bahwa minho tidak seburuk itu. hal-hal buruk yang dipikirannya saat itu langsung terbantah seketika, kecuali sifatnya yang cuek itu. minho masih cuek, dan mungkin itu ciri khas nya, pikir seungmin.

minho memasuki kembali ruangan tersebut, “kakak abis darimana sih?” tanya seungmin dengan mulut penuh makanan.

jawaban minho lain dari jawaban yang diminta seungmin, “makan itu dikunyah, seungmin. bukan diemut.”

“kata bunda, aku emang kalo makan lama, tapi ngga diemut. cuma ngunyah-nya aja yang lama.” jawab seungmin mantap.

setelah mengunci pintu, minho meletakkan sebuah botol air mineral di sampingnya kotak bekal seungmin, “nih, buat minum.”

seungmin mengambilnya botol tersebut, “hihihi makasih kak!”

seungmin berkata dalam hati, 'sekarang apa?'

karena, minho hanya memperhatikan seungmin makan. sembari sesekali melihat ponselnya yang sebetulnya hanya digeser ke segala arah tanpa punya tujuan pasti.

“kata abang, kalo lagi ngobrol sama orang, mendingan hpnya disimpen dulu.” ucap seungmin tiba-tiba yang otomatis mengejutkan minho.

minho menaruh handphone-nya di sebelahnya, “iya, mau ngomong apa?” kata minho yang langsung memusatkan pandangannya pada seungmin.

“ummm, apaya... aku penasaran aja kenapa kakak kaya cuek gitu? atau apaya dibilangnya, pendiem padahal ngga juga, tapi keren juga.” seungmin mengedikkan bahunya.

minho tersenyum, “mau bilang kalo gua cool? bilang aja, emang bener, kan?”

“ih ngga ya, pede banget— btw, aku ngga suka kalo kakak terlalu ketus gitu nadanya, serem, berasa dimarahin, udah gitu mukanya datar aja lagi.” jelas seungmin

“emang iya? perasaan biasa aja. kalo muka, kayanya ngga yakin bisa 'ramah' terus. soalnya emang begini muka gua,”

“kak, aku ngga nyuruh kamu ngerubah apa-apa, cuma cerita aja. kan sekarang aku tau kalo kakak sebenarnya ngga beneran marahin aku, cuma nadanya aja kaya orang marah.”

“maaf ya, lo jadi mikir gitu...”

seungmin mengerucutkan bibirnya, maksud seungmin bukan seperti itu, seungmin tidak menuntut kata maaf dari minho karena memang bukan itu maksudnya. seungmin hanya bercerita sedikit tentang pandangannya ke minho,

“kok minta maaf? ga perlu, orang kakak ga ngapa ngapain. aku juga baru kenal kakak, anggap aja penyesuaian, ya.”

minho tidak menjawab karena merasa sedikit canggung, ia tidak pandai dalam mengucap kata, namun jika soal aksi, perlakuan maupun pembuktian, ialah jagonya.

minho mengambil remote proyektor untuk memutar lagu, “mau lagu apa?”

“the most beautiful thing (?) — ah aku ngga tau lagu yang bagus, mungkin genrenya bukan tipe kakak.”

“kan gua nanya ke lu, berarti gua 'ikut' lu.”

“gitu yaa... coba aja setel,”

minho mencari judul lagu tersebut di bar pencarian, kemudian muncul di baris paling atas. maka tanpa ragu minho pencet video musik paling atas.

kemudian akhirnya, seungmin menyelesaikan acara makan bekalnya, kemudian menutup kotak bekal lalu minum.

saat itu, minho menerima panggilan masuk. minho izin mengangkat panggilan tersebut. sepertinya, bukan panggilan yang terlalu penting, karena minho hanya mengucapkan beberapa kata yang meng-iya-kan si pembicara di seberang sana.

“seung seung, masa katanya guru-guru rapat lagi? aneh, bukannya kemarin udah rapat ya? masa rapat terus.” ujar minho sarkas, padahal dalam hatinya ia merasa senang.

“yang bener kak? coba aku cek dulu,” seungmin buka handphone-nya untuk memastikan info yang masuk adalah benar, “eh iya, kata temenku, berarti kita freeclass dong?” kemudian ia tertawa.

minho mengangguk, “iya sampai ishoma. btw mau nyanyi ngga? micnya bisa nih, daripada ga ngapa-ngapain kan?” tanya minho sambil mempersiapkan mic dan speaker mini yang akan digunakan.

“mau mau mau!”

mereka menghabiskan waktu freeclass mereka untuk melakukan hal-hal acak yang sekiranya bisa dilakukan, mulai dari karaoke-an, menonton film pendek, me-review dan mendengarkan rekomendasi lagu satu sama lain, dan sebagainya.

tak terasa, pada film pendek terakhir yang mereka putar, seungmin secara tak sadar tertidur pulas.

minho yang menyadari itu pun membiarkan seungmin tidur, “capek banget emang?” minho menatap seungmin sambil bergumam. mendengar gumam-an minho, seungmin sedikit terusik, “tidur aja, nanti gua bangunin,”

kemudian minho menjauh menuju meja, takut tiba-tiba ada orang yang mengintip ke arah pintu— mengingat pintu tersebut terbuat dari kaca yang walaupun luarnya gelap, jika diteliti, masih bisa melihat ke arah dalam. takut jika nantinya ia dikira berbuat yang tidak-tidak dengan seungmin.

ia menatap seungmin yang sepertinya sangat tenang dalam mimpinya, hal itu membuat hati minho menghangat. di sisi pikirannya yang lain, ia mengakui bahwa seungmin terlihat cantik saat tidur, dan ia mempertanyakan, bagaimana bisa seseorang tidur dalam keadaan cantik? mungkin ia akan bertanya pada seungmin suatu hari nanti.

saat sedang fokus memperhatikan seungmin, ia mendengar seungmin bergumam— yang tak lain bahwa seungmin sedang mengigau. ia hampiri seungmin perlahan-lahan.

“kak minho galak... je... lek...” ucap seungmin di mimpinya.

minho lagi-lagi hanya bisa tersenyum, menahan gemas.

satu jam berlalu, waktu ishoma pun tiba. minho bangunkan seungmin dengan hati-hati,

“seung, bangun, ishoma. istirahat dulu ayo ke kelas atau jajan ke kantin.”

seungmin membuka matanya perlahan-lahan, “h.. hah? seriusan kak? aduh kayanya aku tidur lama banget,”

“ngga, ngga lama, cuma satu jam lebih sedikit.”

seungmin merenggangkan tubuhnya, “itu lumayan lama tau, kalo tidur di sekolah tuh ngga tau kenapa jadi 'berasa' gitu” ucapnya sambil membuka botol air mineral.

“kakakkk...” panggilnya.

“apaa?”

seungmin menunduk ragu, “m-mau baikan sekarang aja, boleh ngga?”

jemari minho terangkat untuk menegakkan kepala seungmin yang tertunduk, “jangan nunduk, kalo ngomong sama gua, liat gua, kaya kemarin kemarin..”

“iya.. kak, maaf udah ngerepotin beberapa minggu belakangan.”

“ngga ngerepotin— jadi, kita baikan?”

seungmin mengangguk ria bak anak anjing kegirangan, “baikan!”, kemudian tersenyum manis.

minho mengusak kepala seungmin, “udah, yuk, keluar— tadi lu dicariin 2 temen lu itu, si jisung sama jeong.”

kemudian keduanya meninggalkan ruangan yang menjadi penyebab sekaligus akhir dari pertengkaran mereka belakangan.

lowercase


jam istirahat sudah berbunyi sekitar 5 menit yang lalu, sekarang, seungmin berada di dekat ruang sinematografi untuk menemui minho— sesuai kata seungmin kemarin.

tak butuh waktu lama, akhirnya minho datang. seungmin mengenalinya dari kejauhan— dalam hatinya, seungmin merasa sedikit canggung. karena, seungmin berpikiran bahwa minho tidak menyukainya. sedangkan minho justru dibuat pusing dengan perubahan seungmin seminggu belakangan.

tiba-tiba minho berada tepat di depan seungmin, “jangan bengong,” ujar minho sambil melambaikan tangannya.

seungmin tersadar dari lamunannya setelah mendengar suara minho, “eh? kak... sorry sorry, ini ya kuncinya, aku duluan.”

minho sudah menduga— bahwa seungmin benar-benar sedang menghindarinya.

“bentar,” ucapnya sambil menahan tudung kepala pada hoodie seungmin, “gua belum ngomong apa-apa.”

“mm... mau bilang makasih, kan? ya.. yaudah iya, sama-sama.”

“seungmin, lu ngehindarin gua?”

seungmin terdiam,

“jawab kalo emang gua salah sangka.”

“ngga, kak.” sangkal seungmin sambil menunduk.

“jangan bohong,”

“aku ngga ngehindar, kok. bukannya kakak, ya, yang ngga suka sama aku? setiap ketemu aku pasti selalu ketus. terus waktu itu, kenapa kakak nolong aku? kalo akhirnya bilang begitu. sebelumnya, aku ngga maksud bilang ini buat gimana-gimana— tapi jujur kak, kalo gamau nolong pun sebetulnya aku gapapa, aku masih bisa sendiri. kakak tau kan maksud aku?” jelas seungmin yang masih enggan menatap lawan bicaranya.

“sumpah, gua nolong lu beneran kemauan gua, seung. soal kata-kata gua yang kesannya kaya ngga ikhlas, atau bikin lu ngerasa kalo gua direpotin sama lu, itu ngga sengaja. maaf, gua ngga sadar karena bilang itu secara spontan.” jawab minho.

seungmin mengangguk, “okay,” kemudian berniat untuk berlalu. namun dicegah oleh minho, lagi.

“kenapa lagi, kak?” sambil mencoba melepas tangannya dari genggaman minho.

“gua minta maaf...”

“iya,”

“maaf seung, gua ngga mikir kalo kata-kata yang gua anggap biasa aja malah nyakitin orang lain,”

“iya, aku ngerti,”

“gua tau kalo lu masih marah atau semacamnya, but, please kalo udah mau ngobrol sama gua, lemme know, seung.”

“thanks kak, aku ke kelas dulu.” pamitnya.


di jalan menuju kelas, ia bertemu changbin. changbin yang melihat adiknya jalan terburu-buru pun berencana untuk menghentikan langkahnya.

sama seperti minho, tudung kepala hoodie-nya ditarik changbin, “jalan buru-buru amat, mau kemana lu?”

seungmin menoleh dengan wajah kesal yang dibuat-buat, “ish abang! lepas ah, mau ke kelas.”

“muka lu kenapa gitu si?”

“gapapa,”

“ngobrol dulu sini sama gua.”

“ngga liat jam ya lo? udah mau masuk nih.”

“guru-guru pada rapat, emang ngga liat grup kelas?”

seungmin menatap changbin dengan tatapan meragukan, “yaelah, cek coba kalo ngga percaya,” ucap changbin.

seungmin cek grup kelasnya, dan benar, ternyata ada rapat. otomatis setelah ini, ia freeclass.

“cerita, mau?” tanya changbin memastikan.

”...iya...”

mereka berjalan beriringan menuju gazebo di bawah pohon dekat lapangan.

“jadi, kenapa?”

maka seungmin ceritakan semuanya, mulai dari kejadian di ruang sinematografi sampai barusan.

“gitu, ya? — lu masih sering mikirin kata orang terlalu jauh, ya? — oke, gua ngga maksud unvalidasi perasaan lu, karena pasti kalo itu kejadian di gua juga, gua belum tentu ngerasain yang sama kaya lu. jadi, its okay, dek, kalo lu ngerasanya kaya gitu. fyi dek, minho orangnya emang ceplas ceplos, gua ngga membenarkan sifatnya yang begitu, tapi ini buat info aja. supaya kedepannya lu bisa atur mau bersikap gimana pas dia begitu lagi, gua ngga akan nyuruh lu buat bersikap A atau B ketika dia gitu ke lu hanya karena dia temen gua. terserah. tapi, ada baiknya kalo lu berdua sama-sama baikan dan ambil jalan keluar. walaupun keliatan sepele, tapi kalo sama-sama diem ngga ada yang gerak ngga bakalan selesai, dan justru kedepannya kalo ada masalah selalu dibesar-besarin karena urusan yang ini ngga diselesain.”

“tapi, bang, gue kan berhak marah...”

“iya, gua ngga bilang kalo lu ngga boleh marah tuh ngga. take ur time, mau baikan kapan itu terserah lu. ga mau baikan juga terserah, itu hak lu. tapi, minho kan udah effort tuh mau minta maaf dan jelasin alasanya. so, why not?” ujar changbin.

“ya, iya sih, tapi sementara ini jaga jarak dulu, gapapa kan bang?”

“up to you, gua cuma saranin doang, sisanya terserah— dah, ya, gua mau balik ke kelas dulu.”

“he'em, thanks bang,”


seungmin memutuskan untuk tetap di tempatnya, enggan beranjak, sambil memikirkan usulan dari changbin. selang 15 menit, ada telepon masuk— dari felix.

“halo, lix?” sapa seungmin untuk membuka percakapan.

seunggggg, gue mau ngomongin yang tadi, lo lagi freeclass kan?

“tau darimana gue freeclass? lo sendiri?”

biasalah, jeo sama ji. iya, gue free juga, guru olahraganya izin.

“hahaha yaudah, mau ngomong apa?”

soal kak minho,

dalam hati, seungmin berucap, 'yang bener? dari tadi kayanya minho minho terus bahasannya.'

“okay, kenapa?”

waktu itu, dia pernah cerita, kalo dia ketemu anak kelas 10 yang telat juga, dan gue mikir pasti itu lo. tapi gue diem aja. terus, dia minta pendapat gue tentang dia yang asal ngomong tuh gimana dan sebagainya. dia cerita kalo dia ngga sengaja ngomong hal ngga enakin ke orang, terus orang itu ngejauh. damn, gue baru nyadar kalo yang dimaksud itu lo seung, setelah lo cerita tadi. terus gue kaya, 'tumben kak lo mikirin sebegininya, biasanya cuek aja,' gitu seung. soalnya emang biasanya dia ngga pernah mikirin tentang apa yang dia ucapin ke orang. ketus ya ketus, asal ngomong ya asal ngomong. tapi ini beda. jadi, makin gue panas panasin dong, kaya yakinin dia kalo dia mungkin suka sama orang yang dimaksud. terus dia jawab 'ngga kali, lix, orang gue ketemu dia aja baru sebulan kurang lebih. masa langsung suka? toh, juga gua ketemu itu orang jarang.'

“maksud lo?! — lo berasumsi kalo kak minho suka sama gue? ya nggak lah aneh, ketemu juga sekelibat doang, mentok mentok waktu kemarin itu.”

ah seungmin, namanya perasaan tuh ngga ada yang tau. bisa jadi munculnya cepet bisa jadi nyadarnya lama. nah, mungkin kak minho tipikal yang munculnya cepet tapi masih denial. tapi, nih, kalo lo ke kak minho gimana?

“gimana apanya anjir? ya biasa aja lix,”

terus kenapa lo sedih?

“ya gitu, tapi yang jelas bukan dalam romantic way kaya gua sedih dia cuek atau gimana tuh ngga, ngga gitu!”

hahaha lucuuu, sama sama denial, bentar lagi jadian yeay,

“lo nyebelin banget, bye.”

kemudian seungmin menutup teleponnya sepihak.

ia bermonolog sambil berjalan ke kelas, “yakali anjir gue suka sama dia? dan.. apalagi dia?! yang ketusnya begitu suka sama gue? ngga, hal ter-ngga mungkin.” kemudian ia menggelengkan kepalanya berharap semacam itu buyar seketika.

To my love ; H

He has a mole under his pretty eyes. When he smiles or laughs, his eyes are shaped like a crescent moon, it's beautiful, isn't it? Umm and he has a small dimple on his cheek, which only comes out when he smiles, so I hope he always smiles.

Dear, H I'm curious about something, is your smile still as bright as when you looked at me? Does the eye you used to focus all your attention on me still have the galaxy there?

Contact me, tell me about your painting, about what color you put on your canvas, about what object you used for it. Is it still me? or.. her? Whoever the object is, whatever the color you used, I'm sure the painting is still beautiful.

Don't you miss me? because i always miss you. Since the day destiny decided to separated us, that's where the days of longing began, about you and everything in it.

lowercase


seungmin berjalan dengan tempo sedang, diiringi suara senandungnya untuk menghilangkan rasa gelisah dalam hati. entah kenapa hari ini rasanya jarak kelasnya dengan ruang ekskul sinematografi terasa sangat dekat.

dirinya berhenti di depan pintu kaca berwarna gelap— ruang sinematografi— yang padahal terlihat sangat jelas jika dilihat dari dalam. seungmin memperhatikan pantulan dirinya di depan pintu kaca, terlihat rautnya yang seperti menyiratkan beribu pertanyaan.

tak lama, terdengar suara dari dalam ruangan, “masuk, jangan berdiri di depan,” lantas seungmin bergegas masuk sambil membungkukkan badannya.

“eh, kakak yang kemarin, ya?” ucap seungmin. “mhm, lo ikut sinem juga?” “iyaa, kakak juga?” minho mengangguk, “iya, semalem orang sinem nyuruh gua dateng.”

seungmin kemudian ikut mengangguk kemudian duduk di lantai, “aku juga, kak, dipanggil. padahal form aku hilang, kayanya sih jatuh pas aku lari atau manjat tembok kemarin— oh, ya! kemarin makasih banyak ya, kak. kakak bantuin aku tapi kakak yang dihukum.”

minho memusatkan perhatiannya saat seungmin bicara, “oh, itu, gapapa santai. btw, menurut lo yang ngechat lo semalem siapa?”

seungmin mengedikkan bahunya, “ngga yakin, tapi kayanya kakak ketuanya? soalnya pas aku liat nama whatsappnya itu minho, di ig sinem namanya lee minho

“dia pas ngechat lo, gimana?”

“biasa aja sih, to the point gitu, aku takut kakaknya galak tapi,”

“kenapa bisa mikir gitu?” tanya minho

“nggatau sih, cuma pikiran aja, mungkin?”

tiba-tiba pintu terbuka, “woy minho, lama banget— eh, adeknya changbin, ya?” ucap seorang teman minho

'channnn lo kenapa tiba-tiba masuk?!' batin minho

minho berlari ke arah pintu untuk menyeret chan sebelum chan mendapat jawaban dari seungmin.

“sorry, anak rese, biasa,”

“kakak. kak minho?”

“i-iya...”

“kok ngga bilang?! maksudnya, gitu deh...” tanya seungmin ragu

tiba-tiba nada bicara minho berubah, sedikit lebih tegas dan mengintimidasi, “buat apa juga bilang? oke, langsung aja.”

“apanya yang langsung, kak?”

minho memposisikan duduknya di kursi, menghadap seungmin, “nama, kelas, alasan masuk ekskul, motto. sebutin, 5 menit.”

seungmin menyebutkan semua yang diminta, hatinya berdebar karena tatapan intimidasi minho.

“kenapa alasannya itu? lo niat ekskul ngga?”

“niat, kak. kalo aku bilang nyari pengalaman nanti malah makin dipojokkin, kan bingung, yaudah aku pake jawaban juj—” jawaban seungmin terpotong karena perilaku kakak kelasnya yang tiba-tiba

minho berjalan mendekati seungmin, seungmin makin mundur dan semakin lama semakin terpojok di sudut ruangan, “dipojokkin kaya gini? atau gimana? ngomong yang jelas.”

“m-munduran, kak..”

yang lebih tua menggaruk tengkuknya yang sebetulnya tidak gatal, “sorry, jangan mikir macem macem, gua ga ada niatan mesum,” lalu minho memundurkan dirinya beberapa langkah kemudian melipat tangannya.

“maksud aku tadi, kaya.. nanti aku ngomong apa aja serba salah gitu.” lanjut seungmin dengan polos

“lo tau darimana kalo gua bakal nyalahin lo?”

“ngga, kan, BIASANYA.” ujar seungmin penuh penekanan.

“lo mau diterima ekskul ngga?”

“terserah deh kak, aku pasrah aja,”

“ok, nih kunci ruangan, lo yang pegang. kalo sewaktu waktu ada yang butuh, lo yang tanggung jawab.” kata minho sambil melempar kunci

seungmin menangkap kunci tersebut, “tapi aku kan bukan anggota, bukannya ngga boleh?” dengan suara agak lantang karena minho yang mulai beranjak keluar ruangan.

minho membelakangi seungmin sambil mengikat tali sepatunya, “lo tau maksud gue, kan?”

“maksudnya? eh, HAH?! yang bener aja, kak? aku diterima?”

sambil berjalan menjauh, minho mengacungkan jempolnya.

seungmin bermonolog, “wahh gila, ni orang maksud dan tujuannya apa coba? ngeprank?”

lowercase


seperti biasa, kali ini seungmin telat lagi. bedanya, hari ini dia tidak sempat membuka handphone untuk sekedar mengumpat atau memberi pesan pada temannya.

ia pasang headsetnya untuk mendengarkan musik supaya tetap tenang. beruntung, hari ini tidak macet, kalau macet— ahhh tamat sudah. tapi, tetap saja, ia sampai di sekolah ketika gerbang baru saja ditutup tepat saat ia baru memarkirkan motornya.

seungmin memutuskan untuk membeli minum sebentar, “mas, masnya kok ngga masuk?” tanya ibu penjaga warung.

“saya telat bu, itu gerbangnya udah ditutup juga lagian.” jawab seungmin.

ibu penjaga warung kemudian melihat dasi yang dikenakan seungmin, “ohh masnya kelas 10? pantesan belum tau,”

seungmin menatapnya bingung, “di sini gerbang tutup jam 7 pagi, tapi pelajaran dimulainya pas jam setengah 8 toh, mas?” seungmin mengangguk cepat, “iya, bu, bener.”

ibu penjaga warung menunjuk gang kecil samping sekolah, “mumpung masih ada waktu, mas, masnya ke sana aja. nanti ada tembok yang isinya coret-coretan gitu, nah biasanya kalo ada yang telat pasti lewat situ, mas. temboknya ada pijakannya kok terus tembusnya ke belakang kantin. pokoknya ngga tinggi tinggi amat kok temboknya, lagian masnya juga tinggi, pasti nyampe lah..” jelas ibu penjaga penjaga warung.

“hah beneran bu? makasih banyak ya bu, saya kesana dulu, takut makin telat.”

“iya, mas hati-hati, soalnya kadang ada guru yang ke situ buat mergokin murid.”

“sip deh bu, makasih banyak sekali lagi,” seungmin pun berlari ke arah gang kecil lalu mencari tembok yang dimaksud. tak sulit untuk mencarinya, karena tembok yang lain bersih dari coretan, jadi, seungmin dapat langsung mengenalinya.

saat seungmin sedang memanjat, awalnya cukup mudah, namun saat ia ingin menaikkan kakinya yang satu lagi— ternyata cukup sulit. kemudian, ada yang memegang pinggangnya. seungmin kaget, dengan reflek— ia melepas pegangannya pada tembok.

bunyi khas orang jatuh terdengar ditelinganya. “aww.. sakit,” seungmin meringis.

“sakitan mana sama gua? bangun woy,” kata orang yang ditindih seungmin. lantas, seungmin langsung bangun dan membersihkan bajunya yang terkena pasir.

mata seungmin langsung tertuju pada dasi yang dikenakan orang tersebut, 'anjir kelas dua...' batinnya.

“eh, maaf kak maaf, aku reflek lepas pegangan tadi, kaget soalnya kakak megang pinggangku,” jelasnya.

“gua mau bantuin lu, biar cepet, gua juga telat soalnya.”

“ohh... gitu ya? yaudah kakak naik aja duluan, aku bantuin, aku belaka—”

“kaki lu naik pundak gua sini, cepetan, lu duluan,”

“gapapa kak? nanti kotor,”

“bisa nurut aja ngga? jangan kelamaan, nanti ada guru.”

seungmin mengangguk, kakinya ia naikkan ke pundak laki-laki itu dengan perlahan-lahan. tangannya pun berhasil meraih atas tembok— kemudian turun dengan hati-hati.

ia tak sadar bahwa kertas formulir pendaftaran ekskulnya terjatuh dari sakunya, “kertas siapa?” orang itu kemudian membuka lipatan kertas tersebut, “form ekskul? — kim seungmin, sinematografi.” laki-laki itu pun memasukkan lipatan kertas formulir ke dalam tasnya.

sedangkan seungmin berinisiatif untuk menunggu kakak kelasnya tersebut, “kak, ngga naik?” tanya seungmin memastikan.

“lu duluan aja ke kelas, jangan panggil gua, ada guru lagi jalan kesini!”

seungmin jadi merasa bersalah. orang tersebut membantunya, namun, malah terkena masalah karenanya.

sambil berjalan ke kelas, ia merogoh sakunya, “eh? eh? kok form gue gak ada? ahh padahal gue baru minta lagi. ntar gue dimarahin bang abin lagi gara-gara minta form terus,” ia mendengus kesal, “apa jangan-jangan gue ga dibolehin masuk sinem nih tandanya?” lanjutnya sambil mengedikkan bahu.

seakan tersadar, seungmin menepuk jidatnya, “tuh kan! mana gue ga tau nama kakaknya,”

sedangkan laki-laki tersebut dibawa ke ruangan osis oleh guru yang memergokinya— dan untungnya ia bertemu temannya yang juga osis, jadi, laki-laki itu bisa bernegosiasi mengenai hukumannya.

alih-alih mendapat hukuman, laki-laki itu malah memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruangan osis sambil memperhatikan kertas formulir milik adik kelasnya tadi.

“hobi fotografi, stargazing, kulineran... alasan masuk ekskul... kata abang, kalo saya masuk ekskul ini, terus ekskulnya rajin, bakal dibeliin kamera baru” laki-laki itu tertawa kecil, “terlalu jujur,” sambungnya.

“lu baca apaan, ho?” ucap temannya yang baru memasuki ruang osis, lagi.

“ini, ada form ekskul anak kelas satu, kebetulan jatoh. mana pas banget lagi, dia mau masuk ekskul sinem juga,” jawab minho yang masih setengah tersenyum.

“kok lu bisa ketemu dia? namanya siapa?”

“tadi, dia telat, gua telat, bin. terus gua bantuin dia manjat tembok samping, eh kertasnya jatoh,”

“bego hahaha, lu bantuin orang tapi lu sendiri yang ketangkep,”

“makanya anjir, tadi ada drama jatoh soalnya,”

“btw tadi gua nanya, namanya siapa?”

“kim seungmin, bin.”

“hah? itu adek gua, ho,” kata changbin.


[ to be continued ]

for seungjinweek day 5 – trope : fantasy lowercase ©rigeleo


hari ini cuaca sangat cerah, membuat sam enggan berburu mangsa. takut kalau kalau nanti pemburu masih berkeliaran di hutan, mengingat hari masih siang.

namun, rasa laparnya begitu luar biasa, dirinya tidak 'makan' sejak 2 hari yang lalu. tidak makan dalam artian tidak berburu binatang seperti rusa, kelinci, atau apapun itu. karena bagaimanapun juga, sam hidup di tengah-tengah manusia, dalam dirinya pun masih mengalir darah manusia— dari ibunya.

jika dirinya tidak mau dicurigai, maka dirinya harus berlaku selayaknya manusia, bukan?

sam pun pergi ke hutan dengan perasaan aneh— semacam gelisah dan sedikit takut. karena ini pertama kalinya ia berburu disiang hari.

di pertengahan jalan, ia bertemu seorang teman yang juga merupakan werewolf sepertinya.

“hey sam!” sapa chris.

“eh kak chris? mau kemana kak?” tanya sam.

“laper, sam, hahaha” jawab chris.

“lo... mau ke hutan juga?”

“iya nih, lo sendiri mau kemana?”

“gue.. gue laper juga anjir, kak,”

“lahh yaudah ayo barengan aja,”

“boleh deh, yuk.”

kemudian keduanya berjalan ke arah hutan. sekiranya sudah masuk kawasan hutan yang sepi, merekapun berubah wujud. warna bulu keduanya hitam legam— yang mana dianggap sempurna dan cocok dijadikan pemimpin kawanan mereka.

kelak, begitupun dengan sam dan chris, mereka akan memimpin para kawanannya. kalau sam memimpin bagian barat, sedangkan chris di bagian timur.

walaupun mereka berburu di hutan, disana tidak terlihat terlalu sepi dan mencekam— tentunya jika yang melihat hutan tersebut adalah makhluk fantasi yang dipercayai orang hanya sebagai mitos belaka. salah satunya adalah werewolf dan peri.

“sam, kita mau barengan atau mencar aja?” tanya chris.

“mencar boleh deh kak, nanti ketemu disini lagi. kalo kita barengan biasanya rusa tuh pada nyadar 'kan? hahaha ntar lebih lama lagi kita disini, tau sendiri sekarang masih siang.”

“bener juga, yaudah gue kesana ya, lo hati hati, sam.”

sam melangkah se-hening mungkin supaya tidak membangunkan kecurigaan rusa buruan-nya.

sam melompat. didapatlah satu rusa berbadan besar. lagi lagi ia melompat, namun kali ini kelinci lah yang ia incar— karena dalam peraturan, kawanan mereka hanya boleh berburu satu rusa dalam satu hari. supaya kawanan lain kedapatan juga.

saat hendak ke titik kumpul awal dirinya dan chris— sesungguhnya sam mendengar suara dari semak semak,

tiba-tiba

dor!

kakinya terkena peluru dari pemburu, sedangkan chris yang mendengar sam melolong, langsung berlari ke sumber suara.

untungnya peluru tersebut hanya 'menggesek' kaki sam— tidak sampai bersarang di dalamnya.

chris berlari membopong sam ke suatu sungai yang lumayan jauh dari tempat tadi.

“aduh, sakit banget, kak.”

“iya sabar, bentar, kita kabur dulu aja.”

sam pun menuruti kata chris. tidak lama— chris melolong lumayan panjang, seakan memanggil sesuatu.

“lo ngapain, kak?”

“minta tolong temen gue, tunggu,”

beberapa menit kemudian datanglah makhluk kecil yang memiliki sayap berkilau terbang ke arahnya.

sam mendadak berubah menjadi serigala dan menggeram. peri kecil tersebut lantas terkejut, ia ingin menghindari sam, tapi malah menabrak pohon dan terjatuh.

“heh, lo ngapain berubah lagi?”

sam pun kembali ke wujud manusianya, “reflek, kak, gue kira apaan itu tadi..”

sam pun mendekat ke arah peri kecil yang ketakutan itu dan mengulurkan tangannya, “sorry sorry, sini bangun,”

“jangan takut, sky, dia temen gue, kok.” ucap chris.

sky pun menerima uluran tangan sam, dan membersihkan tubuhnya dari tanah. lalu tubuh sky membesar— yang lama kelamaan berwujud manusia seperti chris dan sam.

“kenapa manggil aku?” tanya sky ketus.

“tuh, temen gue, ketembak pemburu tadi. lo bisa bantu gue, kan?”

“bisa sih, tapi kamu tau lah ya—”

“iya, iya, gue pergi, bye.” chris berubah ke wujud serigalanya dan berlari cepat ke selatan.

“lohhh? kak lo mau kemana?” teriak sam.

“di aturan kalangan peri memang gitu. kalau ada peri yang dimintai tolong buat sesuatu— yang minta tolong itu harus menjauh, ngga boleh ada yang liat cara kerja peri buat sembuhin sesuatu atau ngelakuin suatu hal.”

”...tapi kan, gue nanti liat juga?”

“ntar ingatan kamu bakalan aku hapus,”

sam terbelalak kaget, “hah? ngga ngga gue gamu, mending gue ke rumah sakit.”

sky memutar bola matanya malas, seraya membalikkan tubuhnya— dan naik ke pohon, “sana, toh masih ada pemburu.”

sekarang dirinya kebingungan, harus apa, harus bagaimana, dan harus menuruti yang mana— kata hatinya kah? tapi jika ia ke rumah sakit, sama saja cari mati. karena, jika seorang werewolf terluka, tubunya menjadi sensitif dan bisa saja reflek menjadi serigala secara tiba-tiba— seperti yang barusan.

“aku ngga hapus semua ingatan kamu. cuma ketika aku obatin kamu aja. ngga usah panik gitu.” jelas sky.

“o.. ohh bilang dong, yaudah, dimana?”

“mmm.. kalau kamu masuk rumahku, pasti kebesaran. jadi, di dalam pohon aja, ya? sini ikutin aku.”

“p-pohon? ngga akan muat juga kali,”

yang ditanya hanya mengabaikan gerutuan sam— dan sampailah mereka di depan sebuah pohon raksasa.

“masih bilang ngga muat?”

“ya.. kan.. lo ga bilang pohonnya kaya gimana,”

“terserah deh, sini masuk, ngga ada siapa-siapa. tempat ini emang punya aku.”

“kok kaya rumah manusia? ...kalau ini tempat punya lo, kok gede banget?”

“karena aku juga manusia,”

“LO? LO MANUSIA JUGA? MAKSUDNYA SETENGAH PERI GITU? KOK BISA?” seru sam.

“ayah aku manusia, sedangkan ibu aku peri.”

“AW!— kok bisa sih? biasanya kan makhluk kaya kita tuh ngga boleh menikah sama manusia,”

“kalau ngga boleh, terus kenapa wujud kamu serigala tapi manusia juga?”

“y-ya.. karena ayah gue serigala, ibu gue manusia— eh? iya ya.. kok bisa?”

“ck, dasar, kelamaan tinggal di dunia manusia ya? makanya lupa aturan dunia sendiri.”

“emang kenapa sama peraturannya?”

“jadi, kalau manusia, sama makhluk magical forest itu nikah— nantinya keduanya harus sepakat, hanya tinggal di salah satu dunia aja sampai anaknya dewasa. nah, anaknya nanti bisa ke magical forest, dan anaknya bisa pilih sendiri mau tinggal dimana. tapi enggak dengan orang tuanya. orang tuanya ttp tinggal di dunia yang disepakatin aja. kalau kasus kamu itu udah ketauan banget kalau orang tua kamu sepakat buat besarin kamu di dunia manusia. kalau aku, di dunia kita ini— di magical forest.

“o...oh gitu, ya? kalau anak hasil campuran manusia sama makhluk magical forest sama sama menikah gimana?”

“misal kaya kamu sama aku, gitu?”

sam melotot kaget, “maksudnya itu perumpamaan aja! kamu jangan mikir aneh.” jelas sky.

“i-iya gitu deh,”

“bisa, kok. justru kalau mereka menikah, bisa tinggal di dunia keduanya. karena mereka kan ngga punya darah asli dari salah satu dunia tsb, dengan kata lain mereka darah campuran. jadi ngga punya keterikatan sama salah satu dunia aja.”

“ohhh gitu! gue paham gue paham. — tapi jujur, pas awal gue tau kalau gue bukan seutuhnya manusia, gue kaget banget. walaupun disisi lain merasa keren, sih. terus lama kelamaan gue ngerti alasannya, terus juga gue diajak ayah gue kesini. diajarin gimana caranya berburu, caranya ini itu. kalau lo gimana?”

“aku.. aku juga kaget, pasti. kalau aku lebih ke... mikir. kenapa aku ngga jadi peri seutuhnya, kenapa harus setengah manusia?”

“emang kenapa? lo ngga suka, ya?”

“bukan gitu, ribet aja, karena kan kaya yang tadi aku bilang. orang tua aku mutusin buat tinggal di magical forest , yang artinya harus ikut peraturan sini. dan makhluk campuran kaya aku tuh paling banyak disuruh belajar tentang ini itu, capek juga lama-lama. kalau kamu kan tinggal di dunia manusia, disana aturannya ngga kaya disini.”

“ohh gitu, ya? terus lo ada niatan mau pindah ke dunia manusia ngga, nanti?”

“entah, liat kedepannya aja— nah udah nih, udah selesai, coba kaki kamu digerakin, masih sakit ngga?”

“eh udah ngga! keren lo, sumpah, kok bisa sih..”

“bisa lah, ini butuh belajar selama 3 tahun, tau?”

“hahaha, makasih banyak, sky! — oh ya, nama gue sam hudson, lo siapa?”

“skylark,” jawabannya singkat.

by the way, ini katanya ingatan gue mau dihilangin?”

“ngga usah, toh kamu ngga liat juga tadi, kalau kamu liat.. coba tadi aku ngapain aja?”

sam terdiam dan menyadari, bahwa benar, dirinya tidak tau apa apa saja yang dilakukan sky tadi, karena sibuk bercerita satu sama lain.

“hehehe, ngga inget..”

“bagus deh. yaudah sana pulang, ditungguin chris, arah selatan di atas bukit.”

“oke deh! oh ya, sky, sekali lagi makasih, ya! dan... gue mau bilang kalau lo cantik banget, sayap lo cantik, wajah lo apalagi, hahahaha. kalau berubah pikiran dan mau tinggal di dunia manusia, sama gue aja! gue pinter jagain orang, kok. kalau mau nikah sama gue, gue juga ga nolak hahaha, byeee!” ucap sam, yang kemudian berubah ke wujud serigalanya.

sky tersenyum kecil, “hhhh, dasar sam, aneh.”


satu tahun sejak hari itu, keduanya tidak pernah bertemu lagi satu sama lain. entah apa alasannya.

tiba-tiba, sky memikirkan kata-kata sam sebelum dirinya pergi— sebelum sky benar-benar tidak melihatnya sejak hari itu.

secara mendadak, terlintas sesuatu di pikirannya, “kalau diinget, kayanya aku belum pernah ke dunia manusia, ya? — mau coba deh. bilang ke ibu dulu kali, ya? toh juga ada hak aku kan buat nentuin mau tinggal dimana.”

diluar dugaan, ternyata orang tuanya tidak keberatan, karena mereka menyadari bahwa itu termasuk hal yang harus dipertimbangkan oleh sky untuk kelanjutan hidupnya.

sky pun terbang melewati pedesaan kemudian terbang ke arah perkotaan.

sesampainya diperkotaan, sky agak terkejut, “wah, ternyata makhluk campuran ngga se-sedikit itu, ya?”

sesama makhluk campuran dapat melihat dan merasakan makhluk campuran lain. meskipun berbeda jenis, mereka tetap berasa dari satu tempat yang sama, yaitu magical forest.

“ngga terlalu buruk, tapi aku gatau harus ngapain disini, kalau langsung pulang lagi, pasti bakalan terlalu malam. sedangkan kalau peri itu rawan untuk keluar malam, apalagi di wilayah hutan.”

akhirnya, sky menyusuri perkotaan sembari melihat-lihat. ratusan pasang mata tak henti memandang ke arah sky— bagaimanapun juga, paras sky tidak dapat diragukan lagi— parasnya membuat semua orang mabuk, baik laki laki maupun perempuan.

di tengah perjalanannya, sky kelelahan. sky baru tersadar, bahwa dirinya akan berubah ke wujud peri jika kelelahan.

“ahh sial, kenapa harus sekarang? sekarang aku mau bermalam dimana, coba?”

ia masuk ke gang kecil pada detik-detik berubah ke wujud peri.

tak disangka ternyata sedari tadi ada mengikutinya, “peri cantik, sedang apa?” kata orang itu.

sky sama sekali tidak mengenalnya, dan mengapa orang itu tau bahwa dirinya adalah peri? apakah dirinya juga berasak dari magical forest? namun tidak mungkin, jika ia bagian dari dunia tsb, maka sky juga bisa melihatnya.

sky melihat orang itu membawa semacam jaring, “berarti orang itu udah ikutin aku daritadi dong?” batinnya.

sekarang ia ketakutan setengah mati, mau tetap di wujud manusia, tetapi tidak bisa. mau berubah wujud pun tidak menutup kemungkinan bahwa dirinya akan ditangkap.

“jangan mendekat!”

“kenapa? peri cantik takut, ya?”

orang itu semakin mendekat hingga sky sampai pada sudut gang. dirinya tidak bisa kabur kemana-mana. pasrah. ia berpikir mungkin ini takdirnya, mati seperti ini.

bughh!

suara pukulan terus bersahutan, sky tidak berani membuka matanya. kemudian ada tangan yang menyentuh pundaknya, “aaaaaa pergi!”

“s-sky.. ini gue sam, sam hudson.”

sky perlahan membuka matanya dan memeluk sam, “tenang, tenang, udah aman. ada gue kok.”

“aku takut banget, sam,”

“lo kesini sendiri?”

sky mengangguk, “i-iya, aku mau coba kesini sendiri, kali aja ketemu kamu...”

“astaga, maaf gue ngga tau, jadi gue ngga bisa nemenin lo.”

“ngga masalah, kamu juga ngga pernah keliatan selama setahun belakangan,” ucap sky dengan nada sarkas.

“kalo itu, maaf juga, gue ga sempet nyamperin lo ke sana. lo tau? gue harus ngurus kawanan di perbatasan. awalnya ayah gue bilang, kalau cuma 3 bulan, tapi ternyata ngga segampang itu urusannya. jadi, ya...”

“sam, kalau aku mau tinggal disini gimana?”

“kok.. tiba-tiba banget?”

“aku mauuu,”

“mau apa?”

“aku inget kata kamu terakhir kali, aku mau tinggal disini, sama kamu.”

“k-kalo gue sendiri ngga masalah, justru gue seneng, kok. tapi lo udah bilang ke orang tua lo?”

“belum, temenin, ya?”

“kamu takut tapi sok berani, dasar.. hahaha,”

“gapapa, kan ada kamu,”

pipi sam memerah, apakah artinya ia sudah dipercaya sky?

“nikah aja sama gue sekalian, sky, gue udah kerja kok.”

“heh, enteng banget ngomongnya!”

“gue serius. love at first sight.”

“kamu.. ke aku?”

“iya lah, ke siapa lagi?”

“kok bisa,”

“ngga tau, charm lo kuat kali hahaha”

“enak aja! padahal tinggal bilang kalo aku cantik!”

“yang itu juga bener, kok, cantik banget, gue sampe suka pas baru pertama kali liat.”

“gatau deh, gombal banget dasar.”

“oh iya sam, kok kamu tau aku disini?” lanjutnya.

“wanginya dari jauh udah kecium, sky,”

“gitu, ya? aku bingung tadi dia itu siapa, dia bukan dari magical forest juga

“ngga semua yang dari magical forest itu baik, sky. ada beberapa dari mereka yang justru kerjasama sama manusia buat nangkepin kita.”

“tapi kenapa?”

“simple, bisnis. manusia otak kotor.”

“serem, ya..”

“gitu deh, makanya hati-hati. oh ya, lo berubah aja, capek kan? duduk di pundak gue aja. ga bakal keliatan orang, kok.”

“gapapa?”

“gapapa, orang lo ngga berat hahaha”

“jangan ngeledek!”

“lucu, gemes,”

“diem sammmm.”

“hahahah, ke apart gue, ya? tidur disana dulu, besok baru gue temenin balik.”

“okay, lets go wolf sam!”

— fin.

lowercase , ©rigeleo


“pangeran, bangun, di halaman istana sudah berjejer kereta kuda milik kerajaan lain.” ucap vincent.

“ayolah vin, hari ini aku tidak punya jadwal apa-apa, bukan?” jawab hyunjin.

vincent menghela nafas panjang, seakan-akan sudah menduga dari awal jawaban dari sahabatnya. ya, vincent merupakan sahabat hyunjin, dirinya anak dari panglima seo atau biasa disebut orang-orang dengan tangan kanan raja.

vincent juga diminta hyunjin untuk menjadi pengawal pribadinya. karena hyunjin tidak suka jika dirinya selalu diekori oleh prajurit lain.

“pangeran, kau lupa? hari ini hari apa?”

“hari penobatan— HAH?!” hyunjin terkesiap.

“vincent, kenapa kau tidak membangunkanku dari tadi?” gerutu hyunjin sembari memilih baju yang ada di lemarinya.

vincent menggelengkan kepalanya lagi— sudah biasa, batinnya. “kau mandi saja, biar aku yang menyiapkan bajumu, sana sana,”

“okay, terima kasih vin,”


tok tok!

vincent membuka pintu kamar hyunjin, lalu membungkukkan badannya, “yang mulia..”

“vincent, dimana anakku?”

“pangeran hyunjin sedang di ruang ganti, yang mulia,”

“ahh begitu, tolong sampaikan pada hyunjin, kalau dirinya harus bergegas, ya?” pinta sang raja.

“baik yang mulia,”

-

“pangerannnn!!! kau tidur di dalam kah?” tanya vincent dengan suara lantang.

“vin bantu aku pasang ini, masuk saja— ahh ini merepotkan vin.”

jika saja hyunjin bisa memilih, dirinya akan memilih menjadi rakyat biasa. atau setidaknya anak kedua— tapi apalah daya, dirinya bukan rakyat biasa, juga bukan pula anak kedua, melainkan anak tunggal. jadi, ya, mau tidak mau, dirinya harus menjadi penerus kerajaan dan berurusan dengan politik yang memuakkan.

“terima kasih vin!” cengir hyunjin.

“hmmm— pangeran, pangeran! kau tau? ku dengar, anak laki-laki dari kerajaan nettervolks juga ikut hadir,”

“huh? lalu kenapa? siapa dia? apa dia orang berpengaruh, vin?”

“ayahnya itu adalah raja kim, beliau itu sahabat dari ayahmu! kau lupa? kau dulu sering bepergian dengannya. bahkan, kau dulu tidak bisa jika sehari saja tidak bermain bersamanya.”

“aku tak ingat wajahnya, vin. yang aku ingat hanyalah namanya— seungmin kim. dia anak kedua 'kan?”

“kau benar! dia tampan, lho..”

“ahh apa katamu saja, vin,”

lalu mereka berdua pun turun. hyunjin meminta vincent jalan duluan.

“vin, banyak sekali orang, ya, ternyata...”

“kau kemana saja, pangeran,”

“pangeran hwang.” panggil sang raja.

“ah! ayah? — maksudku, maaf, aku sedikit terkejut.”

“kenapa kau sangat gugup? apa kau ada seseorang yang sedang kau tunggu? siapa dia? putri atau pangeran dari kerajaan mana?” ledek sang raja.

“ayah ini... aku tidak menunggu siapapun, tahu,”

“baik, baik, ayah percaya..”


upacara penobatan, pun berjalan dengan lancar. setelah selesai, hyunjin berkeliling untuk menyapa para tamu.

seusainya, ia menghampiri vincent lagi, “vinnnn?”

“ahhh pangeran, kau ini selalu saja mengikutiku kemanapun aku melangkah. cobalah untuk berbaur, pangeran. kau ini sudah 25 tahun.”

“vincent, ayolah,”

“tidak, pangeran, aku harus mengurus beberapa hal. sampai jumpa..”

hyunjin memelas. sekarang, dirinya bingung harus melakukan apa.

lalu ia memutuskan untuk duduk di meja di balik pilar untuk 'menghindar'.

namun, dirinya tidak pernah bisa menghindar dari sepasang mata yang sejak awal— sejak dirinya menuruni tangga— sudah memperhatikannya.

hyunjin sangat bosan, akhirnya dia beranjak untuk ke perpustakaan.

“ahh urusan kerajaan ini menyebalkan, juga, sangat membosankan. bagaimana bisa mereka berlomba-lomba saling menjatuhkan hanya untuk dibuat pening oleh urusan kerajaan?” gerutu hyunjin sambil menyenderkan tubuhnya dibalik rak.

tuk! sebuah buku jatuh menimpa nya.

“atau sekarang, hantu juga sama menyebalkannya?” gumam hyunjin.

“a-aku bukan hantu!”

“ya tuhan! kau siapa? maksudku, kenapa kau disini? tiba-tiba? mengagetkan saja.”

“kau.. kau lupa aku?”

“memang kau siapa?”

“seungmin kim!” ucap pemuda itu dengan sumringah.

“hmm... katanya, kau itu teman kecilku? tapi aku lupa. agak tidak yakin juga, sih,”

“bagaimana bisa kau lupa...”

“dan bagaimana bisa kau masih ingat aku?”

“karena kau punya janji, pangeran,”

“aduh, apalagi itu.. aku tidak ingat. pikiranku hanya dipenuhii pelajaran mengenai kerajaan. tapi aku penasaran, janji apakah itu?”

“kapan kapan kuberi tahu.”

“kau marah?”

“iya! karena kau benar-benar tidak mengingatku.”

“tidak, tidak separah itu juga ingatanku, kim. aku tau namamu, hanya saja aku lupa wajahmu, jadi aku sedikit ragu.”

“benarkah?” senyum seungmin kembali.

“mhm— bagaimana kalau kita keliling kerajaan, maukah?”

“boleh?”

“tentu saja! kau kan tamuku, kau temanku juga!”

“ayo!”


“pangeran hwang, sekarang, aku yang mengajakmu ke suatu tempat. tenang saja, masih di lingkungan istana, kok.” ajak seungmin.

“dimana? memang ada tempat yang kita lewatkan?”

“ada, beberapa,”

mereka bergandengan tangan menuju belakang istana— yang mana hyunjin jarang menapakkan kakinya disana.

“disini?” tanya hyunjin.

“iya, sini, lihat—” seungmin menunjukkan sebuah pohon— disana terukir nama mereka berdua, tak lupa juga hiasan berbentuk hati dipinggirnya.

“serius? ini.. ini kita yang membuatnya?”

seungmin mengangguk, “kau yang mengukirnya,”

“sungguh? lalu apalagi yang kita lakukan dahulu?”

seungmin berjalan ke arah prajurit untuk meminta sekop.

“kenapa kau meninta sekop?”

seungmin tidak menjawab, dirinya mulai menggali tanah yang tepat berada di bawah pohon, sejajar dengan ukiran di pohon.

ting! suara sekop menabrak benda kaca.

“ketemu!” seungmin mengangkat tinggi tinggi botol kaca yang berisikan gulungan surat.

“apa itu? peta harta karun?”

“bukan, ini peta kita

hyunjin kebingungan, sedangkan seungmin membuka penutup botol tersebut, “kau saja yang baca,”

“apa isinya?” tanya hyunjin

“janjimu.”

“hari ini, tanggal 22 september tahun 1733, dihari ulang tahun pangeran kim— aku, hwang hyunjin berjanji kepada pangeran kim, untuk menikahinya di umurku yang ke 25 tahun.” hyunjin tersipu malu,

“katamu sendiri, jika kita memasukkan kertas berisi janji atau keinginan kita— pada sebuah botol dan menguburnya— janji itu akan mempertemukan kita lagi, dan keinginan itu akan menjadi nyata, pangeran.” jelas seungmin.

“kau benar, mungkin ini adalah takdir sang langit— kita bertemu lagi di umurku yang ke 25,”

“karena kau bilang, bahwa kau tidak akan menikahiku jika kau belum naik tahta. entah apa alasannya, kau tidak memberitahuku.”

“kim, mulai saat ini, ayo kita buat lebih banyak kenangan. tapi sebelum itu, kapan kita memberitahu ini pada keluarga kerajaan?”

“beritahu saja, aku yakin ayahmu juga ayahku langsung menyetujuinya. kau tau, pangeran? sebetulnya kita mau dijodohkan, jadi sebelum pengumuman perjodohan, mari kita kejutkan mereka!”

“kau ini usil, ya kim? hahaha perlahan saja ya, aku tidak kemana-mana, kok.”

“aku yang kemana-mana, pangeran.”

“maksudmu?”

“aku dengar-dengar pangeran lee akan mengajukan perjodohan, jika dalam kurun waktu beberapa bulan aku belum memberi kejelasan, kerajaannya akan menyatakan perang pada kerjaanku.”

“sungguh? kenapa? ini jatuhnya memaksa. tapi tenang, kim. aku akan urus semuanya secepatnya.”

seungmin mengangguk lemah.

“jangan sedih, kim. aku berjanji.”

“aku takut..”

“ada aku, kim. jangan takut.”

hyunjin menatap dalam dalam wajah seungmin dari samping, “kau cantik, kim. matamu sangat indah, rasanya seperti memegang kendali atasku.”

“k-kenapa begitu?”

“entah, matamu membuatku lemah, sungguh.” hyunjin menepuk kepala seungmin pelan.

“kita baru bertemu kembali, kau baru bersamaku selama beberapa jam, bagaimana bisa?”

“karena aku menjumpai takdirku, kim. jadi, tidak butuh waktu lama untuk jatuh cinta kembali. pun, aku tidak keberatan jika harus jatuh cinta padamu disetiap waktu.”


beberapa bulan berlalu setelah pertemuan seungmin dan hyunjin. namun, hyunjin belum menunjukkan kejelasan akan perkataannya.

hal itu membuat seungmin khawatir, ditambah, kerajaannya sudah 'ditagih' mengenai perjodohan dengan pangeran lee.

“tuan kim, tuan kim,” seru jayden.

“ada apa, jay?”

“buruk tuan, kim, sangat buruk. kerajaan pangeran lee memajukan tanggalnya, dia minta untuk segera diberi kejelasan sampai minggu depan, jika tidak, hanya ada dua pilihan. kau menikah paksa dengan pangeran lee atau kerajaan kita diserang.” jelas jay.

“ah.. itu.. baiklah, akan aku pikirkan. tolong biarkan aku menyendiri sejenak, ya.”

satu hari penuh seungmin habiskan untuk menangis dan merenungkan keputusan apa yang harus ia ambil.

“apakah pangeran hwang lupa? atau ia tidak hanya main-main saja?” pertanyaan semacam itu terus saja melintas pada pikiran seungmin.

2 hari kemudian, seungmin mengambil keputusan,

“ayah..”

“ya, nak? ada apa?”

“ayah, a-aku mau menerima perjodohan pangeran lee...”

“kenapa? bukankah kau mencintai pangeran hwang?”

“memang benar, ayah, tapi aku lebih tidak rela jika kerajaan kita harus berperang. aku tidak suka itu.”

“tidak apa-apa, nak. ayah akan lakukan apapun untukmu, jika salah satu jalannya adalah dengan berperang, maka akan ayah lakukan.”

“aku baik-baik saja, ayah. toh, juga pangeran hwang belum ada kejelasan sejak hari itu,”

“dia sedang mengurus keperluan kerajaan, nak, tolong bersabar sebentar, ya?”

“tidak perlu, ayah. kau bisa mengirim surat persetujuan itu besok. aku sudah memikirkan ini matang-matang. dan aku mohon, jangan pernah merasa bersalah padaku, karena ini adalah keputusanku.”

seungmin menghabiskan sisa waktu sore harinya di taman kerajaan, sendirian— dengan merenung, lagi.

“permisi, pangeran, ada yang ingin bertemu dengan pangeran.” ucap salah satu prajurit.

“tolong bawa saja orang itu kesini, aku sedang tidak ingin pergi dari sini.”

“baik, pangeran.”

“apa kau sedang menungguku, pangeran?”

seungmin menoleh, kemudian dirinya dikejutkan setengah mati.

“kita berjumpa lagi, aku merindukanmu, tau?”

“pangeran hwang? kau sungguh jahat. demi tuhan kau sangat jahat!”

“maafkan aku, kim. maaf karena aku tidak memberi dalam waktu yang lumayan lama. aku sedang mempersiapkan segala urusan kerajaan supaya kedepannya aku bisa fokus pada pernikahan kita.”

“a-aku takut, aku takut pada akhirnya takdir tidak berpihak pada kita.”

“aku tidak akan membiarkan itu, kim. aku sudah berjanji padamu sejak awal, aku tidak bisa begitu saja lari dari janji itu. terlepas dari janji, aku sudah jatuh cinta padamu. orang mana yang akan membiarkan cintanya menikah dengan orang lain?”

“kau hampir membiarkanku menikah dengan orang lain, pangeran..”

“hahaha, tidak lagi.”

seungmin nemeluk hyunjin erat, “jangan seperti itu lagi, hwang. aku serius jika aku mengatakan takut kehilanganmu.”

“aku juga serius jika aku mengatakan aku akan menepati janjiku, kim.”

—fin.

tags! lowercase, kissing, selfless, mention of suicide

pukul satu lewat dua puluh lima menit— bintang tengah melajukan kendaraan roda empat kesayangannya menuju langitnya.

memang... terlalu berisiko untuk melajukan kendaraan pada dini hari. tapi, apalah arti risiko jika rasa sedih yang tengah langitnya rasakan lebih besar daripada risiko itu sendiri.

bintang.

orang bernama bintang itu selalu saja ingin hadir di samping langitnya.

'kenapa?'

“entah” — pasti bintang akan berkata demikian. karena, bintang pun tidak butuh alasan mendetail untuk selalu berada di samping langitnya.

bintang hanya ingin. katanya.

iya.

ingin menjadi sandaran ketika langitnya mendung, ingin langitnya tidak merasa bahwa ia sendirian, ingin selalu melihat langitnya, dalam keadaan apapun. dan masih banyak ingin-ingin yang lainnya— yang bintang rasa tidak perlu dijelaskan. karena, apa guna penjelasan kalau tidak disertai pembuktian? — ah! benar, untuk kalimat penenang, tentu saja.

“untuk apa kalimat penenang, jika suatu saat kalimat penenang itu justru akan menjadi sumber keraguan orang yang diberi kalimat penenang. itu sama saja kau kerja dua kali.” kira kira begitu kata bintang jika ia mendengarnya.

itulah prinsip bintang. hmm.. yang ini juga masih katanya. tapi, mari kita coba untuk percaya bahwa ini memang benar prinsipnya. semoga.

kurang lebih 20 menit perjalanan sudah bintang tempuh. kini, ia berada di halaman rumah yang dituju, ia keluar dari mobil untuk menyambut langitnya dengan pelukan.

“hei love, u okay? ahhhh u are not. i know it.” kata bintang sambil memeluk langitnya.

“ish! kebiasaan, suka nyimpulin sendiri.”

“no denial, langit.”

“okay okay, i admit it. so.. can we just.. go? please?”

“hahaha iya ayo.”

sepanjang perjalanan, bintang melihat kegelisahan langitnya. dapat dilihat dari kakinya yang tidak bisa diam, nafas yang ditarik dalam dalam, dan jari yang digigit.

ya, itu kebiasaan langit saat gelisah. bintang selalu tau hal apapun mengenai langitnya. sebut saja sudah di luar kepala.

tentu, tangan kirinya tak tinggal diam— hanya butuh waktu kurang dari satu menit untuk menggenggam erat tangan langit. tentu disertai dengan kalimat tanya untuk memastikan.

“sky..”

jangan tanya kenapa bintang memanggil langit dengan nama yang berbeda-beda seperti langit, love, dan sky. nama-nama tersebut hanyalah sebagian kecil nama yang telah bintang lontarkan ke langitnya. karena sesungguhnya bintang mempunyai sejuta nama panggilan untuk membuat langitnya merasa senang.

“sky... kamu kenapa? kenapa keliatan gelisah? ada sesuatu? mind to tell me? hm?”

“it's nothing, babe. aku cuna kepikiran mimpi buruk aku belakangan ini.”

“love, coba tebak, kalau aku punya kesempatan untuk dikasih superpowers, aku bakal pilih apa?” tanya bintang seperti mengalihkan.

“terbang! waktu itu kamu bilang kalau kamu mau jelajahin angkasa sama aku. katanya kamu mau bawa aku liat bintang.”

“betul! tapi, sekarang udah ganti..”

“yahhhh kenapa? kamu udah ga mau ke angkasa sama aku, ya?” ucap langit memelas.

“untuk sekarang aku lebih mau ngerasain apa yang kamu rasain, a-atau seengganya aku mau baca pikiran kamu. aku ngga mau kamu timbun semuanya sendiri. soalnya kamu orangnya susah kalau disuruh cerita, nyebelin kamu tuh.” sahut bintang sambil mengecup ringan bibir langit.

ditatapnya mata langit, dilanjut dengan kecupan kedua yang kelamaan menjadi lumatan ringan.

tenang, itu tidak berlangsung lama, mengingat posisi bintang yang sedang berkendara.

“tiba-tiba banget?” tanya langit.

“itu mantra, biar nanti bibir kamu mau terbuka untuk cerita ke aku.”

“bisa aja, bilang aja kalau kamu kangen.”

“ya itu juga sih..”

mereka melanjutkan perjalanan menuju bukit— dengan percakapan ringan yang bintang buat untuk mengalihkan kegelisahan langitnya.


“yeay sampai!!” ucap langit bersemangat.

tiba-tiba bintang mengambil posisi seperti mengikat tali sepatu dengan lutut sebelah kanan sebagai tumpuan.

“naik sini, aku gendong sampai atas.”

“ngga mau ah, kamunya kasian, capek. ayo jalan aja.”

bukan bintang namanya kalau tidak memaksa. bintang ambil paksa tangan langit supaya berpegangan pada pundaknya. bukan, bukan gendong ala ala tas anak sekolahan yang berada dipunggung. melainkan gendongan koala yang saling bertatapan.

“hahaha tuh kan! udah aku tebak pasti kamu maksa— oke karena aku udah terlanjur naik, jadi, tolong ya pak bintang, kalau udah capek gendong langit, langitnya diturunin aja.” kata langit sambil tertawa kecil.

“siap, pak langit! laksanakan!”

keduanya menuju atas bukit dengan gelak tawa— yang lagi lagi bintang buat.

alasannya? ahh kau pasti sudah tau.

“udah, yuk turun.”

“terimakasih pak bintang!” seru langit sambil membungkuk.

“sama-sama, sayang.”

“nih, minum dulu— aku berat ya? hahaha.” ucap langit sambil menyodorkan botol minum.

bintang mengambil botol berisi air yang disodorkan langit, “lebih berat kemarin ngga ketemu kamu seminggu, sih.. sejujurnya.”

“gombalnya lancar ya sayang..”

mereka menggelar kain untuk duduk, juga untuk merebahkan diri dibawah gemerlap bintang-bintang, tak lupa angin malam yang menyegarkan juga ikut ambil bagian dalam 'perjalanan' yang akan ditempuh keduanya. setidaknya untuk beberapa jam kedepan.

“kepala kamu taruh paha aku, kamu tiduran aja, kalau ngantuk tidur, gapapa. aku bawa selimut.”

“kaya mau nginep aja kamu.”

“aku soalnya bawa bayi”

“bintang!”

cup

“ini bibirnya udah mau cerita belum?”

“belum, kayanya kalau dicium lagi bakal—”

bibir bintang mendarat tepat diatas bibir langit— memotong kalimat yang ingin langit ucapkan walau sudah tertebak.

bintang tahan tengkuk yang lebih muda untuk memperdalam ciumannya. ciuman dengan tempo perlahan yang sengaja dibuat tanpa nafsu untuk menyalurkan rasa sayang keduanya.

langit memutus ciuman itu terlebih dulu karena ketersediaan oksigennya menipis.

“aku sayang kamu.” ungkap langit.

“i love u more.”


setelah perbincangan ringan antara keduanya, atau sebut saja basa basi untuk membuka perbincangan utama— akhirnya langit pun bersuara.

“bintang, am i deserved to be loved this much?”

“oh c'mon babe, why are you asking that? of course you are deserve to be loved. that much. you really deserve it.”

“then why do they keep saying that i don't deserve you?”

“who's that?”

“minggu lalu aku ke kantor kamu, kamu inget 'kan? terus sebelum aku pulang, aku ke toilet sebentar. aku denger seseorang— entah itu atasan kamu, bawahan kamu, temen kamu, aku ngga kenal— tapi yang jelas mereka bilang kenapa kamu mau sama aku, padahal banyak cewe atau cowo yang ofc lebih baik dari aku. then, masalah kerjaan. akhir akhir ini banyak tekanan di kantor, itu yang bikin aku mikir jauh belakangan ini. tolong jangan marah, aku minta maaf.” jelas langit dengan air mata yang perlahan turun ke pipinya.

“love, no u don't even need to say sorry. aku ngerti, ngerti banget kalau hal itu bikin kepikiran, dan itu wajar. karena kalaupun aku di posisi kamu, aku bakalan pikirin hal yang sama. aku ngga tau spesifik gimana pemikiran kamu tentang itu sejauh apa, tapi apa kamu sampai mikir kalau kamu mau putus sama aku? kalau iya, aku minta maaf atas nama rekan kerjaku, aku minta maaf kalau aku belum bisa kasih yang terbaik buat kamu, aku minta maaf kalau aku terkesan maksa, aku minta maaf kalau aku belum cukup meyakinkan kamu. aku minta maaf untuk apapun itu, tapi tolong buang jauh-jauh kalau ada pemikiran tentang putus sama aku. a-aku gatau, langit. sebut aja aku berlebihan, lebay, atau apapun itu. tapi aku beneran ngga bisa bayangin kalau aku jauh dari kamu, apalagi ngga ada kamu.”

langit merubah posisinya dari yang semula rebahan menjadi duduk— perlahan ia dekatkan tubuhnya, ia bawa bintang kedalam pelukannya.

“bintang, maaf, maafin aku. aku ngga maksud untuk bikin kamu merasa kaya gitu. jujur, memang sebelumnya aku ada pemikiran kaya gitu, tapi aku ngga mikir sejauh itu untuk merealisasikan pemikiran bodoh aku. akupun sama takutnya sama kamu. aku ngga ninggalin kamu karena aku percaya sama kamu. maaf kalau aku bikin kamu merasa ngga dipercaya, tapi, demi apapun aku taruh 100% kepercayaan sama kamu. tapi entah kenapa belakangan ini aku terlalu takut untuk cerita ke kamu, bintang. bukan takut ngga didengar, tapi aku takut nyakitin kamu.”

“aku bakalan lebih sakit kalau aku tau kamu simpen semuanya sendiri, langit.” bintang menghela nafasnya sembari menepuk pelan kepala langitnya.

“aku ngga tau harus kaya gimana lagi. akhir akhir ini aku ngerasa kalau apapun yang aku lakuin selalu salah, aku takut memperburuk sekitar, aku ngga bisa apa-apa, aku lupa caranya percaya diri lagi, bintang.”

“mulai dari awal. mulai pelan-pelan. believe in yourself disetiap langkah yang bakalan kamu ambil, just do it, disukain atau ngga belakangan. asal kamu udah ngelakuin itu dengan baik, aku yakin kedepannya banyak hal baik juga yang bakalan kamu terima.”

“aku juga takut, bintang. rasa takutku rasanya kaya berkembang, bahkan ke hal yang ngga relate sama pemikiranku sebelumnya.”

“dilawan juga secara perlahan, ngga semua hal bisa diatasi dengan buru-buru. beberapa hal emang perlu pakai langkah hati-hati. be gentle of yourself, ya, langit? aku bakal terus bantu kamu.”

“aku takut kamu ninggalin aku..”

“w-what?! i mean... kenapa kamu mikir begitu?”

“aku selalu nyusahin kamu, bahkan untuk menghandle diri aku sendiri aja aku ngga bisa. aku terlalu bergantung sama kamu, a-aku..” ucapan langit menggantung, tergantikan dengan suara isak tangis yang begitu saja keluar dari dirinya.

kembali, bintang peluk erat tubuh itu, berharap jiwa yang tengah bersusah payah berdamai dengan dirinya sendiri itu melihat betapa seriusnya perkataan bintang kala itu. “itu gunanya aku, aku disamping kamu untuk temenin kamu, bukan untuk ngebiarin kamu sendirian hadapin semuanya. langit, its okay to feel sad, its okay kalau kamu butuh seseorang sama kamu, itu wajar.”

“tapi, bintang... aku bukan tanggung jawab kamu. bukan tanggung jawab kamu untuk selalu pastiin bahagiaku.”

“memang bukan, seengganya untuk sekarang. nanti pun kamu bakalan jadi tanggung jawab aku, lagipula aku udah janji. aku janji sama diri aku sendiri sejak hari itu untuk selalu ada buat kamu meskipun kamu ngga minta.”

“s-sejak itu? when?”

“kamu inget? when i felt bad for myself, when i want to give up, when i want to end it all. di jembatan itu, waktu aku capek sama semuanya aku mutusin buat bunuh diri, tapi tiba-tiba kamu dateng dengan sejuta kata-kata yang bikin aku mau bertahan, yang bikin aku nyoba buat survive. kamu balikin semua rasa yang padahal waktu itu semuanya udah hilang. percaya diri, semangat, merasa dicintai, merasa berharga, merasa pantas untuk hidup— rasa yang seperti itu udah hilang, tapi kamu berhasil bawa kembali semuanya ke aku.”

“— dan.. aku cuma mau ngelakuin hal yang sama ke kamu. jangan pikir kalau aku ngelakuin ini hanya untuk balas budi. aku akui, awalnya memang iya kalau aku ngelakuin ini untuk balas budi, tapi ngga berlangsung lama. nyatanya aku malah berakhir jatuh cinta sama kamu, sejak itu aku ngelakuin semuanya tulus buat kamu, aku ngga nyesel jatuh cinta sama kamu saat itu. aku cuma nyesel kenapa aku ngga bisa buat kamu ngerasain hal yang sama—yang kamu buat untuk aku.”

“b-bintang...”

“m-maaf, maafin aku.”

“bintang, aku minta maaf, aku minta maaf kalau aku terkesan ngga hargain kamu, aku minta maaf karena aku, kamu jadi ngerasain itu semua, aku minta maaf, bintang. aku sayang sama kamu, tolong jangan berpikiran kaya gitu, tolong juga jangan nyerah sama aku, kamu bisa cerita ke aku kapanpun kamu butuh. aku juga mau jadi tempat kamu pulang, tempat kamu bersandar.”

“aku ga akan pernah nyerah sama kamu. dari awal kamu udah jadi tempatku pulang. kamu jangan khawatirin itu, aku janji sama kamu, sama diri aku sendiri.”

perbincangan berat itu pun berakhir pada pukul empat.

semua penyebab langitnya sedih, sudah bintang ketahui. semua hal yang langitnya takutkan sudah bintang dengar. untuk selanjutnya, bintang sudah tau apa yang harus ia lakukan nanti, kalau hal yang dirasakan langitnya kembali muncul.

karena sejatinya kunci dari itu semua hanya saling percaya dan tetap menjaga arus komunikasi satu sama lain.

disaat langit tengah terlelap— bintang tetap terjaga.

“pikiran kamu akhir akhir ini ternyata seberat itu, ya? harusnya kamu bagi beratnya ke aku dari awal. dengan itu 'pundak' kamu ngga akan kesakitan nanggung semuanya sendirian. langit, aku mau kamu tau, kalau kamu, aku, dan siapapun itu berhak untuk ngerasain yang namanya bahagia. juga, tolong lebih cintai diri kamu sendiri, karena— mau berjuta juta rasa cinta yang aku kasih ke kamu— kalau kamu ngga cinta sama diri kamu sendiri, semua ngga ada artinya. dan terimakasih juga karena udah bertahan sejauh ini sama aku. “ bisik bintang ditengah lelapnya langit— sambil menatap wajahnya dalam-dalam.

— fin. ©rigeleo