rigeleo


[ nara's apartment ]

apartemen milik nara jaraknya tidak terlalu jauh dari toko kue milik keluarga dirga. kebetulan saat itu dirga sedang berada di sana, sehingga nara meminta dirga untuk menghampirinya ke apartemen.

tentu, dirga bersedia.

sekarang ia berada di ambang pintu apartemen nara yang terbuka,

toktok

“dirga? masuk aja,” seakan tahu siapa yang datang, nara langsung persilahkan dirga untuk masuk.

“bagi minum dong,” pinta dirga setelah melepas sepatunya.

“ambil sendiri, kulkas gua tempatnya masih sama.”

“lu lagi sensi banget, kenapa lu?”

“sastra.”

“kenapa dia?”

nara menceritakan saat di mana dirinya dan papa sastra bertemu, tak lupa juga percakapannya dengan bian.

”– nah, abis bian bilang gitu, gua kepikiran sastra, ga. bian bilang begitu seakan akan mantannya sastra bakalan balik lagi, gua takut. gua sayang sama sastra, ga, sumpah.”

“lu stress mikirin itu? oke gua paham banget ra. tapi bisa aja masalahnya ini emang se-pribadi itu, who knows? entah lu nyadar atau ngga, lu maksa dia, ra. padahal dia udah bilang bakalan cerita, tapi nanti.”

“biasanya dia ga begitu, ga.”

“se-biasa apapun itu pasti ada saatnya seseorang butuh ruang buat dirinya sendiri, ra. lu harusnya paham.”

benar, dirga tidaklah salah. tapi apakah khawatir itu salah?

nara terdiam, ia menyenderkan tubuhnya di sofa, kemudian melamun.

“oh iya, di hari sastra pulang ke rumahnya, lu bilang kan kalo ada orang yang dateng ke asrama dan nyari sastra?” tanya dirga yang dibalas anggukan oleh nara.

“namanya?”

“sekala.”

seketika air wajah dirga berubah. ia mencoba untuk mengontrol ekspresi wajahnya yang terkejut, namun hal itu sudah lebih dulu disadari nara.

“kenapa? lo kenal?”

“ng-ngga,”

“jangan boong, ga. ekspresi lu ngga bisa boong, lu kaget pas gua nyebut namanya.”

sudah tertangkap basah, ingin mengelak pun dirga tidak bisa.

“i-itu...” ucap dirga terbata-bata.

“mantannya sastra, ra.” lanjutnya.

“lu bercanda?”

“gua serius, ra. gua ngga pernah liat orangnya, cuma beberapa kali bian pernah cerita ke gua.”

“ceritain apa yang lu tau, ga, please...”

“sorry, bi. aku ga maksud apa-apa.” ucap dirga pelan, seakan berbicara dengan bian.

“pasti lu udah tau kan kenapa mereka putus? iya, karena sekala selingkuh. jujur gua lupa detailnya. as far as i know, sastra belum sepenuhnya lupa sama sekala. tapi soal dia cinta sama lu, gausah diraguin lagi, ra. tapi emang kata bian sometimes dia masih mikirin sekala. gatau tuh dikasih pelet kali, ya?”

“fuck, why didn't anyone tell me?”

“masalah ini emang sensitif buat sastra, ra.”

“tapi gua pacarnya, ga. kalaupun se-sensitif itu kenapa dia masih mikirin sekala terus?”

“hati manusia ga ada yang tau, ra. gua rasa sastra juga masih bingung sama perasaannya. kaya, dia sakit hati, udah jelas. tapi dia juga kangen sekala dan itu hal yang ga bisa diprediksi kapan terjadinya.”

“gua mau ke rumah sastra.” nara langsung menyambar kuncinya yang ada di meja kemudian berlari keluar, mengabaikan dirga yang ada di sana.

“ra, bentar, ra!!”


[ cafe ]

sastra dan sekala kini duduk berhadap-hadapan tanpa ada yang memulai percakapan. sampai akhirnya sekala yang memulai,

“apa kabar?”

“better than when i'm with you.” jawab sastra yang membuat sekala sedikit tertohok.

“o-oke... do you miss me?” ucap sekala percaya diri.

“lo tuh ga mikir apa gimana, kal?”

“cuma make sure, kali aja kan???”

“never. now, better lo omongin apa yang mau lo omongin.”

“balik ke gua, sas. gua mau lu balik ke gua.”

“lo tau jawaban gue kan?”

“please?”

“kalo ga ada yang mau lo omongin lagi gue mau pulang.”

“fine, gua anterin.” sekala memilih menyerah untuk saat ini.


[ sastra's house ]

beruntung, sastra sudah mengirimkan alamat rumahnya beberapa hari yang lalu. jadi sekarang nara hanya perlu mengikuti petunjuk yang ada di maps.

-:-

sastra telah sampai di rumahnya.

sebelum sekala benar-benar pulang, mereka masih berbicara beberapa patah kata. walaupun sebetulnya sastra sudah muak.

“sas, tolong pertimbangin permintaan gua tadi.”

“what? lo bahkan ga pernah dengerin atau bahkan sekedar pertimbangin permintaan gue... lo tuh... ga pernah, kal. dulu gue minta lo buat stay sama gue, gue minta lo buat tinggalin selingkuhan lo. emang lo dengerin? ngga kan?”

“sorry sas, tapi gua janji.”

“terserah apa mau lo, mending lo pulang sekarang. gue masuk dulu, makasih tumpangannya.”

namun tangan sastra ditarik kemudian tubuhnya direngkuh secara tiba-tiba oleh sekala.

“sastra, i miss u, please come back to me...” entah sudah ke berapa kali sekala mengucapkan ini.

sekarang, tubuh sastra membeku dan air matanya turun. memorinya seakan memutar kejadian di masa lampau yang membuatnya sakit.

“maaf, maafin gua, sastra....” ucap sekala sambil mengusap pelan kepala belakang sastra yang tanpa sadar membuat wajah sastra tenggelam di ceruk leher sekala.

dari kejauhan, terlihat sebuah mobil hitam yang terparkir di sana sejak kedatangan mereka.

pemilik mobil tersebut tidak lain adalah nara.

benar, nara menyaksikan semua itu tepat di depan matanya.

tanpa pikir panjang nara memutar balik mobilnya dan mulai berkendara ke sembarang arah.

kemudian sastra melepas pelukannya dengan sekala yang seharusnya tidak terjadi.

“maaf kal, jawaban gue selalu 'ngga', kita bisa temenan tapi untuk itu gue ga bisa. gue udah punya nara. lo tau itu kan? gue harap lo bisa hargain keputusan gue. bye, kal.”

// hurt-comfort (?) , angst, bad past, happy ending.

ngga proofread, jadi, mohon maaf kalo ada typo ataupun ada bagian yang agak ngga nyambung :D

kalo tagsnya kurang, tolong kasih tau aku 🙏🏻


Suhu malam ini cukup dingin, namun, hal itu tidak mengurungkan niat Seungmin untuk pergi keluar— untuk sekedar berjalan-jalan sebentar.

Satu kebiasaan Seungmin yang hanya diketahui oleh Jeongin— Yaitu, jika Seungmin merasa sedih dan butuh waktu untuk sendiri, ia akan pergi berjalan-jalan di malam hari dan memutuskan untuk duduk sejenak di ayunan taman bermain yang menjadi langganan kunjungan para anak-anak di sekitar kota pada saat siang hari.

Malam.

Apa yang dipikirkan kebanyakan orang tentang malam?

Pasti keheningan, gelap, sepi, dan sebagainya. Begitu pula gambaran saat ini. Seungmin tetap melanjutkan perjalanannya tanpa takut akan hal-hal yang kebanyakan orang takutkan.

Sembari memikirkan sesuatu yang baru saja dirasakannnya.

Iya,

kembalinya Jeongin ke dalam hidupnya.

Entah itu untuk sekedar meminta maaf atau lainnya. Tetapi bagi Seungmin itu bukanlah hal yang mudah, mengingat sebab perpisahan mereka dua tahun lalu yang sangat konyol dan menyakitkan menurut Seungmin.

-:-

“Seung, aku mau ngomong sesuatu..”

“Hm? kenapa? gimana harinya? tadi kamu pemotretannya lancar kan?”

“Seungmin.”

“Je, kamu ngga serius, kan?”

“Maaf seung... kamu tau, kan? ini impian aku, ini cita-cita aku. Dan agensi punya peraturan.”

Seungmin tahu, Jeongin tidak pandai berbohong.

Seungmin tersenyum getir, “okay, let's break up.”

“Seung, aku minta maaf...”

Ahh... memori sialan itu terus saja berputar. Pikir Seungmin.

Seungmin menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk mengembalikan kesadarannya supaya tidak larut dalam kenangan masa lalunya tersebut.

Aneh memang. Ia enggan mengingat apapun tentang Jeongin. Namun, ia malah sering datang ke tempat yang dulu sering ia kunjungi bersama sang mantan kekasih.

-:-

Benar, taman bermain itu menjadi saksi segala tentang mereka.

Tawa mereka ketika bertukar cerita saat pulang sekolah,

Perasaan takut mereka yang bertemu diam-diam di sana, karena ayah Seungmin yang overprotective.

Tangis mereka saat mereka lolos perguruan tinggi negeri,

Tangis bahagia mereka saat mereka dinyatakan lolos dari perguruan tinggi,

dan masih banyak lagi tentunya.

Jujur, jika ditanya apakah Seungmin masih menginginkan Jeongin— jawaban satu-satunya adalah mungkin.

Hatinya tidak menarik kartu bertuliskan kata “iya” karena memang dirinya masih ragu.

Ia rindu Jeongin, rindu kenangan di dalamnya.

Tapi, di sisi lain ia membenci sosok laki-laki tersebut.

Seungmin masih berpikir bahwa ini tidak adil. Bagaimana bisa dirinya yang selalu ada untuk Jeongin, tiba-tiba putus dengan alasan yang Seungmin pikir— ia menjadi penghalang kesuksesan Jeongin.

Bukan tanpa alasan Seungmin berpikiran seperti itu. Kata-kata Jeongin sendiri-lah yang bermaksud ke sana.

Lalu dengan itu, Seungmin putuskan untuk melepas Jeongin. Jika Jeongin sudah berpikiran demikian, apalagi yang harus dipertahankan?

Seungmin dudukkan dirinya di ayunan yang biasa ia gunakan untuk duduk sembari bergantian menatap langit dan jalanan kosong.

Bohong jika Seungmin tidak merasa rindu Jeongin jika ia duduk di sini.

Seakan-akan di sini-lah pusat mesin waktu yang terus menerus memutar memori siapapun yang berada di sana.

Seungmin ingin Jeonginnya kembali, namun rasa takut itu terus bermunculan.

“Bagaimana jika jeongin pergi lagi?”

Ia benci dicampakkan.

Sekarang yang bisa ia lakukan untuk melampiaskan semuanya hanyalah tertunduk sambil menangis.

Di sela-sela tangisannya, Seungmin menyadari sesuatu.

Telinga Seungmin masih berfungsi dengan baik. Ia mendengar suara langkah kaki berjalan ke arahnya.

Seungmin memutuskan untuk tidak menghiraukannya.

Jika orang jahat, biarlah. Jika hantu, biarlah.

Pikirannya terlalu dipenuhi oleh Jeongin, sehingga rasa takut itu tidak ada apa-apanya.

Ia lanjut menangis tersedu-sedu— masih dengan posisi tertunduk.

Kemudian ia lihat sepatu berwarna cream berada tepat di depan kakinya. Lantas Seungmin langsung mendongak untuk memastikan.

Tidak,

tidak sekarang, Jeongin.

“Seungmin...”

Seungmin menyeka air matanya dan membuang wajahnya ke sembarang arah, asalkan tidak menatap Jeongin.

“What are u doing here?”

“Habis nangis?”

“None of ur business. Please go away.”

Jeongin tanpa ragu bersimpuh di hadapan Seungmin dengan penuh harap, semoga Seungmin tidak menolak permintaan maafnya kali ini.

“Je, please, jangan begini. Kita cuma masa lalu. Biarin gue hidup tenang tanpa lo, Je.”

“Seung, aku minta maaf...”

“Gue udah bilang, kan? gue maafin. So, go fucking away.”

“Seung, sebegitu bencinya kamu ke aku, ya?”

“Iya.”

Jeongin tertunduk menyesal.

Ia belum menyerah, ia bawa tangan Seungmin bertaut dengan tangannya.

“Seung, semuanya sia-sia karena ga ada kamu.”

“Sia-sia apanya? bukannya lo udah dapet semua yang lo mau? lo jadi model terkenal sekarang, lo punya banyak uang, lo punya koneksi di mana-mana.”

“But, it's nothing.”

“— Lo bahkan bisa dapetin pasangan yang setara sama lo, sama karir lo, sama pencapaian lo. Bohong besar, Je, kalo lo mau gue. Dari awal kita putus pun gue tau—” Seungmin berhenti sejenak untuk menarik dalam-dalam napasnya.

“— Gue tau kalo lo ngerasa gue adalah penghalang. Gue tau kalo lo sebetulnya nyari yang setara sama lo. Gue tau semua maksud yang tersirat dari kata-kata lo dua tahun lalu, Je.”

“No, ngga gitu, Seung.”

“Terus maksud lo balik ke gue apa? di awal lo bilang mau minta maaf aja, kan? oke gue maafin. Terus sekarang mau lo apalagi, Je? gue cape.”

Tanpa sadar Seungmin bersuara lantang dengan air mata mengalir di pipinya.

Jeongin mendekatkan tangan yang ia genggam ke dahinya.

“Maaf...” lirih Jeongin.

“Semua yang kamu omongin tentang apa yang aku punya itu emang bener, Seung. Aku punya apapun, aku bisa dapetin apa yang aku mau. Tapi demi Tuhan, semua itu ga ada apa-apanya. Di awal aku merasa oke aja tanpa kamu. Lama kelamaan aku sadar kalo selama ini aku denial. Aku mau kamu, hidup aku beneran kosong, Seung.”

“— Ini mungkin kedengeran konyol dan ga tau diri. Tapi, kalau kamu izinin, apa aku bisa dapet kesempatan ke dua? Aku janji aku ga akan ngulang kebodohan aku lagi. Aku ga akan ngelepas kamu demi ego aku lagi.”

“Je, lo itu cuma kesepian. Bukan beneran cinta sama gue.”

“Aku harus bilang kaya gimana lagi Seung biar kamu percaya?”

Seungmin tidak menanggapi dan memilih untuk bungkam dengan tangisnya.

Hati dan pikirannya seakan terbelah menjadi dua sisi berlawanan. Di satu sisi ia senang Jeongin memintanya kembali, dan berpikir untuk menerima Jeongin, lagi. Dan di sisi lain ketakutannya masih mengakar di sana.

Seungmin lepas genggamannya dari Jeongin. Kedua tangannya ia gunakan untuk menyeka air matanya. Namun, segera ditarik dan digantikan oleh tangan Jeongin.

Jeongin mengusap pipi Seungmin lembut, sembari menyeka air mata Seungmin yang terus menerus mengalir.

Jeongin bersumpah, ini akan menjadi yang terakhir. Jika Seungmin menolaknya lagi, maka ia akan benar-benar menyerah atas Seungmin dan melepas Seungmin dengan apa yang membuatnya bahagia.

“Maaf.. maaf..” Ia tak henti hentinya merapalkan kata maaf. Bedanya, kali ini ia beranikan diri lagi untuk membawa Seungmin ke dalam dekapannya.

“Maafin aku...”

“Lo jahat je,”

“Iya...”

“Jeongin brengsek,”

“— Lo gatau seberapa susahnya gue buat lupain lo selama ini. Bahkan saat lo beneran hilang dari kehidupan gue, itu ga cukup buat gue lupain lo, Je.”

“— Gue benci sama diri gue sendiri yang ngga bisa benci sama lo.”

“— Gue benci banget buat ngaku kalo gue ternyata bener-bener jatuh cinta sama lo sebegitu dalamnya.

Kenapa, Je? kenapa lo balik lagi? lo seneng? lo tau kelemahan gue yang selalu ngga bisa nolak lo? Je, jangan bikin gue bingung tentang apa mau lo, apa maksud lo, apa tujuan lo dateng lagi ke gue.

Jangan mainin perasaan gue, Je... tolong...”

Seungmin makin larut dalam tangisnya, dadanya sesak, tangisnya kian mengeras.

“Aku ga maksud, Seung... aku janji, ini terakhir kalinya aku minta kamu buat balik ke aku. Buat mulai semuanya dari awal.”

“Jahat... gue benci sama lo.” Ucap Seungmin pelan.

Pelukan Jeongin terbalaskan— tangan Seungmin perlahan-lahan melingkar pada pinggang Jeongin. Kepalanya ia sandarkan pada dada bidang lelaki di depannya.

Berharap Jeongin tahu maksudnya,

bahwa masih ada kesempatan kedua untuknya.

Tidak lebih.

Jeongin berbisik, “Aku janji...” kemudian melepas pelukan mereka.

Tangannya beralih untuk menangkup wajah Seungmin.

Menatap dalam-dalam wajah sosok di depannya.

Mata yang membengkak,

Hidung yang memerah,

Dan pipi yang masih basah akan air mata.

Masih cantik, pikir Jeongin.

-:-

Setelah puas menatap wajah Seungmin— Jeongin menahan tengkuk Seungmin.

Membawanya ke dalam ciuman yang lembut dan tidak terburu oleh nafsu.

Seungmin kaitkan tangannya pada leher Jeongin sembari perlahan-lahan membalas ciuman Jeongin.

Seungmin dapat merasakan bahwa Jeongin tengah tersenyum di sela-sela ciumannya.

Jeongin lepas sejenak tautan bibirnya, dan bertanya untuk memastikan, “So, yes?”

Seungmin mengangguk malu-malu, ia memilih cara tersendiri untuk menjawab pertanyaan Jeongin.

Dengan kembali melumat bibir Jeongin-nya.

Seungmin rindu ciuman ini. Ciuman yang dahulu selalu Jeongin berikan di sela-sela waktunya.

Candu.

Memabukkan. Bahkan alkohol pun kalah.

I miss u, Je. Tolong jangan pergi lagi.”

I will never.

— fin.

cw // harsh words


Sekarang adalah hari di mana classmeeting dilaksanakan. Para siswa siswi tentunya berlomba-lomba untuk menjadi juara— apalagi kalau bukan karena hadiah yang menggiurkan?

Sama halnya seperti yang lainnya. Adven, Nico dan temannya pun ikut meramaikan acara tersebut. Keduanya— tim basket dan voli sibuk untuk mempersiapkan permainan yang akan dilaksanakan kurang lebih satu jam lagi.

Adven sibuk berkutat dengan baju volinya yang sudah mulai ketat di tubuhnya dan Adven rasa ia harus mendapatkan satu yang baru. Sedangkan Nico sibuk dengan sepatunya. Ya, seperti itulah kira-kira persiapan mereka.

“EGYYYYYY!!” Suara Adven menggema di ruang ganti yang berisi puluhan loker yang juga milik tim basket. “Apa sih? b aja dong,” sahut Egy.

“Gue lupa bawa baju ganti, gimana dong?”

“Katanya pinjem gue?”

“Coba cek dulu di loker lo..” Egy pun membuka lokernya dan memilah-milah barangnya. Nihil. Egy tidak memiliki baju ganti cadangan di lokernya.

“Yahh ven, ga ada ternyata.”

“Lo kutangan aja, gue yang pake baju,” Alis Adven naik turun menggoda Egy.

“Udah gila, ya? coba pinjem danu kek faza kek, sama itu tuh bestot lu si Kio.”

“Wah penghinaan ni namanya— KIOOOO KIOOO!!”

Egy membekap mulut Adven dengan tangannya. “Diem anjrit, gua gamau diamuk Kio, kuping gua sakit.”

Adven mencebik kesal, “yaudahlah, gampang, topless aja gue.”

“Gih, nanti pada gini, aaaaa Ka Advennnnn, Ka Adven pacaran yukkk, Ka Adven ganteng banget.

“Dih siapa?”

Fanbase lu HAHAHAHA,”

Adven merinding juga ketika membayangkannya. Sebetulnya, menurut Adven, jadi terkenal tidak se-enak kelihatannya. Kadang tingkah mereka yang berlebihan cukup mengganggunya.

“Rese lo. Btw, bando gue mana?”

“Sama Kio tuh, anaknya di luar lagi pdkt sama Brian.”

“Brian, who?”

“Liat aja sendiri.” Kemudian Egy berlalu begitu saja.


Pertandingan voli berjalan dengan sengit, dengan skor 23-24. 24 dari tim Adven, yang artinya mereka butuh satu skor lagi untuk memenangkan pertandingan.

Namun tampaknya tidak semudah itu. Tim lawan baru saja mencetak satu gol yang mengharuskan tim Adven mencetak selisih sebanyak 2 skor lagi.

“Ah anjing dikit lagi,” umpat Adven.

“Bisa yuk, fokus.” Kata Faza serius.

Dari bangku penonton, Nico dan Brian mengamati pertandingan dengan serius, “Kalah ini mah kelas kita. Itu dia yang make bando cak— eh maksudnya jago banget anjir.” Ujar Nico.

Brian sontak menoleh, “Mau ngomong apa lu?”

“Keren,”

“Siapa?”

“Yang pake bando...”

“Adven?”

“Iya kayanya, yang marah marah waktu gua rusuh pas latihan anak voli. Dia punya pacar?”

“Ngga kayanya. Demen lu?”

“Dia cakep banget Bri...”

Balik ke pertandingan, kemudian satu skor didapat tim Adven dengan mudahnya, “Satu lagi, fokus fokus!” Ucap Danu.

Dan ya... tim Adven sanggup mencetak satu skor, Permainan berakhir dengan skor 24-26, dimenangkan oleh tim Adven.

“Hah menang anjing???” Sorak Egy.

Kio menghampiri yang lainnya di pinggir lapangan, “You did well guys!!

Adven reflek melepas bando yang ia pakai dan menyugar rambutnya ke belakang tanpa sadar bahwa ratusan pasang mata tertuju padanya. Perilaku Adven tersebut membuat sekitarnya bersorak sorak memuji parasnya yang mampu mencuri hati tiap orang di sana. Termasuk satu orang yang sudah terlebih dahulu mengagungkan parasnya— tak lain adalah Nico.

“Bangsat, gua deg-degan bri.”

“Gara-gara Adven mainin rambutnya? lemah lu.”

“Damagenya ke dalem-dalem kalo lu tau mah..”

“Adven ga suka troublemaker btw,”

“Lu kira Kio demen juga sama lu? dia kasian ege,”

“Mulut lu gua tabok pake parutan biar diem.”

“Nih,” Nico justru menantang Brian dengan memajukan bibirnya, kemudian ia berlari menuruni bangku penonton dan pergi ke ruang loker.


“Gua nyuci badan dulu dah ya di kamar mandi,” pamit Kio, Faza, Danu, dan Egy dengan serentak.

“Mau mandi bareng, ketauan.” Ucap Adven asal.

“Sembarangan lu. Btw mau join?” Kata Faza.

Kemudian suara tertawa menggelegar ke seluruh sudut ruangan.

“HAHAHA becanda anjrit,”

Seusai teman-temannya pamit, sekarang tinggal Adven seorang yang berada di ruang loker. Adven baru sadar bahwa ia melupakan sesuatu. Ia lupa bertanya pada temannya, apakah ada yang membawa baju lagi atau tidak.

Saat ini Adven kebingungan. Pasalnya, ia sudah terlanjur melepas baju atasnya, dan meninggalkan bajunya di tasnya— ah... tasnya pun dibawa oleh Kio.

“Woy pake baju kek!” teriak seseorang setelah pintu ditutup dari dalam. Kemudian Adven otomatis menoleh sambil menutupi tubuhnya, “Tutup mata dong!!”

“Eh lu yang tadi voli?”

“Aduh gue kira cewe... — iya.”

“Main lu jago,”

“Thanks.”

Nico berjalan ke lokernya dengan hati yang berdegup tak karuan.

Ia terus menerus membatin, 'Manis banget bangsat'

Sampai saat Nico selesai ganti baju, Adven belum juga keluar ruangan. Ia tahu karena tidak ada suara pintu terbuka.

“Lu kenapa masih di situ?” seru Nico dari lokernya.

Tak ada jawaban. Nico putuskan untuk menghampiri tempat Adven berdiri tadi.

“Ih lo ngapain ngintip?”

“Lu ga nyaut. Lagian sama-sama cowo.”

“Ya... kan kali aja lo belok. Ntar nafsu lagi liat gue.”

“Emang. Tapi gua ga berani ya macem-macem sama lu. Jangan salah paham.”

“Kan bener. Yaudah sana, ngapain di situ?” Kata Adven sambil menutupi tubuhnya dengan tas kosong milik Egy.

“Lu kenapa ga pake baju?”

“Lupa bawa.”

“Ohhh,”

Adven bermonolog sembari melihat Nico yang kembali ke lokernya, 'Ohh doang? aneh dasar.'

Nico kembali dengan hoodie berwarna hijau tua di tangannya. Wajah dan setengah badannya bersembunyi di balik loker— sedang tangannya menyerahkan hoodie tersebut.

“Eh ambil nih, gua ga ngintip.”

“Apaan?”

“Hoodie— Lu ga bakal keluar tanpa baju kan?”

“Y-ya ngga lah!” kemudian Adven menerima hoodie tersebut.

“— Gue pinjem dulu ya... makasih banyak. Gue duluan.”

Tinggal Nico seorang yang berada di dalam sana. Ia tengah kegirangan karena ia merasa mendapatkan kesempatan untuk mendekati Adven. Tentunya menggunakan hoodienya sebagai alasan.

cw // kissing


Malam ini, keduanya berjalan di bawah cahaya kuning-oranye lampu perkotaan, juga suasana yang mulai beranjak sepi. Bukankah masih jam 7 malam? seharusnya tidak begitu sepi, bukan?

Ya, memang.

'Seharusnya' kini hanyalah sebuah 'seharusnya' belaka. Karena, bukan Sastra namanya kalau tidak meleset dari jam yang sudah ditentukan.

Omong-omong, sekarang waktu menunjukkan pukul 9.30 malam.

Keduanya bergandengan tangan— seakan (memang) tidak ingin berpisah barang satu inci saja.

Tiba-tiba Sastra bergidik seperti orang kedinginan, “Huuuu seger banget ya,”

“Kamu kedinginan itu, bukan seger.”

“Biasa aja, malah enak kok udaranya. Soalnya abis hujan.” Sanggah Sastra.

Sastra naik ke sisi trotoar yang lebih tinggi dari sisi trotoar yang mereka— juga Nara— pijak sebelumnya.

“Nanti kalo kamu jatoh, aku tinggal lari, ya?”

“Ya makanya pegangin aku.”

“Kalo jatoh, aku gendong, ya?'

“Ngga mauuuuu. Lagian aku juga ga bakalan jatoh.” Sastra menjulurkan lidahnya keluar untuk meledek Nara. Bukannya kesal, Nara malah gemas sendiri.


“Sas, aku penasaran sama sesuatu deh,” Nara terdiam sejenak, “Boleh aku tanyain ke kamu ngga?”

Sastra menoleh kemudian mengangguk cepat, “iya...”

Sesungguhnya jantung Sastra saat itu berpacu sedikit lebih cepat dari sebelumnya. 'Akan seperti apa pertanyaannya?' Kira-kira begitulah kata-kata yang terlintas di otak Sastra.

Baru saja Sastra ingin memikirkan kata-kata yang lain, namun, Nara sudah terlebih dahulu berbicara.

“Kalo di mata dan pikiran manusia pada umumnya, pdkt secepat dan setiba-tiba itu tuh, kaya... ngga masuk akal, sas. Eh, bukan ngga masuk akal juga. Tapi, pasti banyak pertimbangan dong?” Nara memutus kalimatnya.

“Terus, kenapa kamu kaya yakin banget sama aku? —mmm.. sebelumnya ini aku pure nanya. Bukannya aku ragu sama kamu atau gimana ya...” lanjutnya.

“Hahaha oke —pertama, kamu bisa anggap aku 'bukan manusia pada umumnya' — kedua, jangan mikir kalo jatuh cinta itu beneran yang kaya butuh waktu se-lama itu. Ya, mungkin ada. Tapi ngga semua, contohnya aku. Aku ga butuh waktu se-lama itu buat jatuh cinta sama kamu.

Lagian, ya, menurut sains, ada loh sebuah meta analisis yang dilakukan oleh Syracuse University di bawah pimpinan Professor Stephanie Ortigue. Nah, yang ungkapin, kalo jatuh cinta hanya butuh waktu seperlima detik aja. Masuk akal ngga? — ya, mungkin emang ngga, kalo di pandangan beberapa orang. Tapi, penelitian sendiri buktinya.” (Sc : google) Jelas Sastra yang membuat Nara cukup terdiam dan melongo.

“Hahahaha,” Sastra tertawa, “Jadi, aku masih ngga ada apa-apanya dari mereka yang jatuh cinta dengan waktu seperlima detik aja, kan?”

“I-iya sih...” Jawab Nara sambil menggaruk tengkuknya.

“Tapi, itu jawaban panjangnya. Kalau jawaban pendeknya — ngga ada yang harus aku raguin dari kamu. Dari usaha kamu. Dari seberapa kamu nunggu aku.”

Langkah Nara terhenti, ia menghadap Sastra — mendongak menatap wajahnya — karena Sastra berada di atas trotoar yang lebih tinggi.

“Kamu???” Nara menatap sastra dengan tatapan tidak percaya. Bagaimana bisa Sastra tahu bahwa dirinya menyukai Sastra sejak lama?

Sastra seakan tahu maksud dari tatapan Nara, maka ia jawab, “Hehehe, ada lah yang cepu dikit-dikit.”

Jika biasanya wajah Sastra yang selalu memerah karena tersipu, sekarang wajah Nara-lah yang memerah — karena mengetahui fakta bahwa Sastra tahu satu dari beberapa hal yang 'seharusnya' hanya diketahui oleh dirinya dan beberapa temannya saja.

Kemudian Sastra berjongkok dari atas trotoar, mengisyaratkan pada Nara untuk menciumnya. Nara tersenyum melihat tingkah lucu yang dibuat Sastra.

Ia mendekat, kemudian mencium singkat bibir Sastra — kemudian pipi kanan dan kirinya — dan yang terakhir, belakang telinga, juga leher Sastra.

“Gendoooong!” pinta Sastra.

“Jatoh dulu, baru aku gendong.”

“Aku kan udah —”

“Iya-iya, naik sini.” Nara membalikkan badannya — memunggungi Sastra. Lalu Sastra naik dengan perlahan.


“Ka, kalo kamu gimana? gimana ceritanya bisa suka sama aku?” tanya Sastra.

“Aku to the point aja, waktu itu kamu lagi baca buku di taman kampus pas lagi nunggu Bian. Terus, kamu inget? ada kucing yang nyamperin kamu. Disitu kamu kegemesan sendiri sama kucingnya. Tanpa tau disitu aku juga sebetulnya lagi kegemesan juga liat kamu begitu hahahaha,”

“Inget! terus gimana?”

“Kamu lari ke minimarket depan buat beli makanan kucing, terus pas kamu balik, kucingnya ngga ada. Kamu cari-cari kucingnya, eh ternyata ada di atas pohon. Di situ aku ngeliat usaha kamu, yang kaya niat banget buat ngasih kucing itu makan. Aku perhatiin kamu dari jauh.

At that time i thought that you were a good person. You're always looking in all directions, to see if someone needs you or not. It's little things like that —that made me instantly fall in love with you.

Awalnya aku cuma kagum biasa, and i tried to get ur attention tapi ga berhasil. Aku kaya... ah ngga bisa kayanya. Tapi makin aku bilang ngga bisa, aku malah makin 'ditunjukin' sesuatu dari kamu yang selalu dan ga pernah gagal bikin aku kagum. Kamu pinter, kamu baik, kamu orang yang lembut, kamu ngga egois, kamu selalu taruh kepentingan orang lain diatas kepentingan kamu. Dan aku ngga tau tepatnya kapan aku mutusin buat nunggu kamu, yang jelas saat itu aku yakin kalo aku ambil jalan yang tepat, Sas.

Sampai pada akhirnya kita ketemu dengan cara yang sangat amat diluar ekspektasi aku, hahaha, lucu ya cara semesta. Selalu diluar kepala dan selalu berhasil bikin makhluk yang ada di bumi jadi kaget.”

Sastra tidak merespons, Nara kira Sastra tidak sengaja tertidur.

Nara merasakan baju yang dipakainya melembab, cenderung basah tepatnya.

Iya, Sastra menangis.

“Sastra?? kenapa nangis?”

Nara berhentikan langkahnya sejenak — mendudukkan Sastra pada sisi trotoar yang lebih tinggi — satu tangannya melingkar pada pinggang, untuk menopang tubuh laki-laki di depannya.

Ia singkirkan helaian rambut yang tutupi mata Sastra yang kian membengkak. Diusapnya pipi Sastra dengan lembut seraya membiarkan isaknya reda.

Hati Nara menghangat.

Ia tak salah kira jika pada awal pertemuannya dengan Sastra — Nara sudah menduga bahwa Sastra adalah orang yang lembut. Buktinya ada di depan matanya sekarang.

Sastra mudah tersentuh oleh hal-hal kecil. Iya, selembut itu hatinya.

Bahkan topik yang awalnya dengan ceria Sastra ajukan, sekarang malah menjadi penyebabnya menangis.

“Jangan liatin aku... jelek...”

“Cantik gini juga —

Lucu, kalo nangis hidung kamu kaya tomat, kalo malu pipi kamu kaya kepiting rebus.”

“Ka, aku ngga tau mau respons kaya gimana...”

“Kamu ngga bilang apa-apa pun aku tau maksud kamu, Sas. Kamu lucu kalo nangis, tapi bukan berarti aku suka liat kamu nangis.”

Sastra beranikan dirinya untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Nara. Ia kecup singkat bilah favoritnya itu. Nara tahan tengkuk Sastra untuk memperdalam ciumannya.

Nara selalu mengakhiri sesi ciumannya pada kening Sastra, seperti barusan.

Kali ini, ciumannya bukanlah ciuman dengan durasi lama seperti biasanya. Mengingat posisi mereka yang berada di sisi jalan. Ya, walaupun sepi, tetap saja.

Kemudian mereka berikan pelukan hangat untuk satu sama lain. Seraya mendekap tubuh Sastra, Nara berbisik, “Sastra, kamu mungkin bosen denger ini. Tapi aku ga akan bosen buat bisikin ini ke kamu, kalau aku selalu jatuh cinta sama kamu setiap harinya. Hari-hari itu pasti berganti, tapi, rasa aku ke kamu ngga akan, Sas.

Sastra, kalo rasa kamu udah mulai berubah ke aku, tolong bilang. Kalo pada akhirnya aku bukan pilihan yang kamu pilih, that's okay. Tolong bilang juga, ya?”

sejujurnya pas ray ngetik itu di reply twitter— dia ngga mikir kalau reno bakalan beneran datang buat ngomong langsung ke dia.

maklum, soalnya selama belasan tahun ray kenal sama reno, reno itu orangnya selalu bercanda. apa-apa dijadiin candaan sama dia. jadi, ray agak trust issue setiap reno ngegombal. termasuk juga yang barusan.

sekarang, keduanya lagi duduk di rumah pohon yang baru aja mereka cat beberapa hari yang lalu.

“ren, ini rumah pohonnya ngga bakal ambruk, kan?” tanya ray sambil mengetuk lantai kayu di sana.

“ngga, kan udah dibongkar, terus dipasang lagi. udah kuat ini.”

ray suka baca buku berulang-ulang kali walaupun udah tau endingnya. beda sama reno, dia punya banyak koleksi buku, tapi dia paling anti sama yang namanya baca ulang semua buku-buku itu.

jadi, sebelum naik, ray izin buat pinjam satu buku reno— yang padahal udah dia baca, kurang lebih 4 kali.

ray asik sendiri sama buku yang dibacanya. bahkan, reno kayanya ngga kelihatan di mata ray.

dari awal ray baca buku, reno sebenarnya udah kasih seluruh atensinya ke ray. cuma, balik lagi, ray cuek. dia cuma peduli sama buku di tangannya.

“ray, lo baca buku apa sih? kayanya seru banget, gue dari tadi dicuekin,”

ray ngga jawab.

“gue pajangan KALI YA.” nada bicara reno tiba-tiba meninggi.

“kenapa teriak sih?”

“gue nanya ga dijawab.”

“oh ngga ngeh,” ray taruh bukunya, terus dia topang dagunya sambil liatin reno.

“ng-ngga usah begitu juga liatnya!”

“lo nanya apa?”

“lo baca buku apa? tadi gue nanya itu.”

“ini,” ray pamerin cover bukunya— depan belakang. dengan maksud, suruh reno tebak isinya.

“ohh itu, gue agak lupa. tentang apa?”

“ini tentang dua orang yang sahabatan, terus pas mereka gede, mereka saling suka. tapi, mereka takut buat pacaran. katanya, takut kalau putus malah jadi musuh.”

“aneh, ya? padahal belom aja dicoba. terus juga kaya... optimis banget bakalan putus. kenapa ga baikan aja?”

“namanya juga fiksi ray, hahahaha,”

“ceritanya sama kaya kita. bedanya, kalau gue jadi salah satunya, gue ga akan takut buat macarin sahabat gue.”

“k-kita?”

mereka sama-sama terdiam karena canggung. sedangkan otak ray memutar pertanyaan yang sama, “apa reno baru aja confess?”

karena ngga mau makin canggung, jadinya ray mulai percakapan duluan.

“btw, bukunya lucu hahaha— gue udah berapa kali, ya, baca ini? 3? 4? kurang lebih.”

“gila sumpah, gue kalo jadi lo udah bosen BANGEEEET.”

“jangan bosenan jadi orang,” ledek ray.

“bosen ke buku doang, kalo ke lo ngga bakalan pernah bosen.”

“ray, ngomong-ngomong tentang bosen—

lo ngga bosen cuma temenan sama gue selama ini?”

ray masih terdiam.

”...maksud gue... ah oke, gini, kenapa bisa cuma gue doang yang suka sama lo selama ini? kenapa cuma gue yang ngerasa mau udahin semuanya dan confess sama lo, terus kita pacaran, kenapa—”

“ren, lo ngga sendirian...” sela ray.

raut wajah reno kaya membentuk tanda tanya. jadinya, ray tau kalau reno kebingungan,

terus, ray coba deketin bibirnya ke telinga reno buat bisikin sesuatu.

“gue juga suka sama lo, reno,”

ray sukses bikin pipi sampai telinga reno memerah.

kemudian ray cuma senyum pas lihat raut wajah reno yang ngga bisa ditebak itu.

“ray?”

“iya reno, gue serius,”

“lo nyadar ngga sih kalo selama ini semuanya lo jadiin candaan?

nah, itu yang bikin gue ragu sama lo. dan gue nganggep kalau lo flirting ke gue itu cuma boongan.” lanjut ray.

“gue alibi doang ray, gue malu kalau misalnya lo nganggep itu serius dan lo gamau.”

“gue mau, kok.”

“maaf deh, karena gue baru bisa realisasiin janji gue bertahun-tahun kemudian,”

“maksudnya?”


flashback

; beberapa tahun lalu – reno 10 tahun, ray 8 tahun.

“ray! sini naik. aku bantu kamu naik kalo kamu takut. sini, pegangan tangan aku.”

“sebentar renooo! jangan ditarik. kaki aku nyangkut di tangga.”

“ih kok bisa?” terus, reno kecil, turun dari tangga satu lagi, yang ada di sebelah kanan rumah pohonnya itu.

“kamu jangan gerak mulu, nanti jatoh, aku juga yang ketiban!”

“kaki aku sakit reno,” mata ray berkaca-kaca.

“jangan nangis, aku ngga marahin kamu, ray. tunggu dulu, ini aku bantuin, tapi kamu diem. kalo ngga diem, aku tinggal. biar tidur sama burung hantu diluar, mau?”

“ng-ngga...”

“nah udah, kamu naik coba, pelan-pelan. aku dibelakang kamu.”

lalu ray naik perlahan-lahan, dan akhirnya sukses sampai di rumah pohon mereka.

“makasih reno!”

“kamu tadi mau nangis ya? hahahah,” ledek reno.

“iya, kaki aku sakit. ini, liat, merah kan?”

“iya, merah. coba kamu tiup-tiup biar ngga merah.”

ray yang polos pun akhirnya ikutin instruksi dari reno yang sengaja bohongin ray.

“reno boong! ini merahnya ngga ilang,”

“hahaha kamu lagian percaya aja,”

“males sama reno!” ray memunggungi reno.

“ray, ray! — jangan marah, aku bercanda doang...”

“gamau, aku males sama kamu.”

“ray, mau sesuatu ngga?” mata ray tiba-tiba jadi berbinar, “nugget?” kata ray.

“bukan, lebih penting,”

“ngga ada yang lebih penting dari pada nugget. no no no.”

“aku suka sama kamu, ray. mau pacaran sama aku ngga?”

ray jelas kaget. walaupun ray masih kecil, ray itu paham sedikit tentang pacaran.

“ngga mau, kita itu masih kecil, renooo. kata bunda ngga boleh pacaran!”

“yaudah kita bikin janji aja,” usul reno.

“apa? — ah, tapi nanti kamu bohong lagi, aku males.”

“ngga ray, yang ini janji ngga bohong.”

“yaudah, apa?”

“nanti kalo kita udah gede, kaya abang kamu, kita pacaran ya?”

“kalo kamu lupa janji kamu gimana?”

“ngga bakal lupa, aku nanti ukir di pohon kalo, biat inget! gimana?”

“boleh! aku juga mau janji, kalo kamu inget, terus kamu bilang itu. aku mau!”

flashback end

“renoooo kok lo inget?”

reno ngga jawab, tapi reno tuntun tangan ray buat turun tangga.

“pelan-pelan turunnya, nanti kaki lo nyangkut.”

satu pukulan mendarat mulus di pundak reno.

“nih liat, gue beneran tulis di sini, ray!” reno tunjuk bagian yang jadi spot tempat reno tulis janjinya.

'ray, nanti kalo kamu udah SMA, kita harus pacaran.'

“hahahaha kok gitu tulisannya,”

“harus begitu biar inget.”

“gue kok ngga pernah liat, ya?”

“iya, kalo lo nyadar, ini tuh spot yang selalu gue tempel kertas, yang bacaannya, hati-hati kalau naik.”

“oh iya! bener bener. pantesan ngga keliatan.”

—:—

“ray, jadi gimana?”

“apa?”

“mau jadi pacar gue?”

ray diam, pura-pura lagi mikir jawabannya. padahal jawaban aslinya udah dia simpan diujung lisannya, dan siap buat dilontarin sekarang juga.

“ray, ini gue ngga lagi becanda,”

ray gigit bibirnya, terus dia jawab, “mau...”

ray majuin wajahnya sedikit, terus ray cium pipi kiri reno dan bilang, “makasih udah nepatin janji, ren.”

cw // kissing


“kenapa ngga dilanjut makannya? kamu kenyang?” tanya sastra begitu ia melihat nara yang mendadak terdiam.

nara beranjak dari sana untuk mencuci mukanya, tanpa menjawab pertanyaan sastra terlebih dahulu. rahangnya terlihat sangat tegas, pandangannya lurus ke depan, alisnya yang saling bertaut, serta wajah yang sedikit memerah.

nara marah sama gue? pikir sastra.

begitu nara kembali dari kamar mandi, sastra bertanya untuk memastikan, “taka, kamu marah?”

ia tidak menjawab. melainkan langsung berjalan ke kasur miliknya.

sastra menghampirinya sambil tetap mengulang pertanyaannya, “kamu kenapa, ka?”

“iya gapapa, ngga usah dihabisin, salah aku juga beli buat kamu tanpa bilang-bilang dulu sama kamu.” sambungnya.

hening

“taka, maaf...” ucap sastra sekali lagi.

“tidur.” suaranya serak.

“maaf...”

nara menyingkap selimutnya dan menghampiri sastra yang duduk di kasurnya— tertunduk, merasa bersalah.

ia mengangkat rahang sastra dengan jari telunjuknya, “aku ngga suka liat kamu cemberut gitu.”

sastra mendongak, “tapi kamu—” perkataan sastra terpotong seketika— bibirnya dibungkam oleh nara.

ciuman nara kali ini terasa terburu-buru dan sangat menuntut. sastra tidak bisa mengimbanginya.

hmmpphh—” sastra memukul-mukul dada nara. pasokan oksigennya habis.

benang saliva tercipta antara keduanya. mereka saling menatap dengan napas yang terengah-engah. sastra menyadari mata nara memerah, entah marah atau menangis.

nara kecup kecil setiap inci wajah sastra yang terlihat bingung— lucu, batinnya.

kecupannya mendarat lama pada leher jenjang sastra. nara cium leher sastra sambil sesekali gigit kecil kulit mulus sastra— yang padahal baru saja hilang bercak keunguannya. nara ciptakan beberapa tanda kepemilikan baru di sana.

haa— ahh” sastra jambak rambut nara ke belakang sambil sesekali mendesah.

close your pretty eyes, sas.” perintah nara terdengar mutlak. tanpa basa basi sastra menutup matanya.

ia kecup lagi bibir sastra sebagai pembuka. kemudian lidahnya membelit lidah sastra— sentuh langit-langit mulut sastra— mengabsen deretan gigi sastra. walau mustahil mengimbangi ciuman nara, tangan sastra tetap menahan tengkuk nara supaya ciumannya makin dalam. untuk mengakhiri— nara hisap lama bibir bawah sastra yang sudah membengkak.

ngghhh, taka..

nara istirahatkan kepalanya pada dahi sastra, “i love you...“ mata sastra yang semula terpejam pun akhirnya dibuka, “nothing can separate us.” imbuh nara.

sastra tidak menjawab, ia tenggelamkan wajahnya pada ceruk leher nara.

what's bothering you, taka? you can tell me...” batin sastra.

“kenapa ciumannya kasar?”

sorry... did i hurt you?” nara usap pipi sastra yang memerah, sambil memperhatikan— apakah ada yang terluka atau tidak.

almost.

sorry, aku—”

you can tell me when you're ready, jangan dipaksa, oke? inget, kamu punya aku buat cerita. jangan disimpen sendiri.”

cw // kissing lowercase ⊹ not-so-explicit, but still, minor dni.


seusai mengambil segelas air di dapur tentunya sastra langsung menyerahkannya pada nara.

“nih,” sastra menatap nara yang tengah tersenyum jahil, “apa? mau disuapin juga minumnya? yang ada aku guyur kamu.”

nara semakin terkekeh, “galak banget, kak sastra. hehehe makasihhh.” ketika sastra hendak berbalik— kembali ke kasur— tiba-tiba nara menahan tangannya.

“aku ga bisa belajar, pusing. tapi aku juga ga bisa tidur.” ucapnya.

“tiduran aja, ntar juga tidur sendiri. kamu ga belajar juga udah pinter, kok.”

“temenin bentar sini, aku lagi ngedit poster.” pinta nara yang dibalas anggukan. kemudian ketika sastra hendak mengambil bangku dari meja belajarnya sendiri, nara berucap, “aku ga nyuruh ambil bangku.” dengan nada yang tiba-tiba datar, dan suara yang sedikit serak.

“terus gimana? kamu pangku?” celetuk sastra asal.

“iya, sini.” nara menepuk pahanya, mengisyaratkan sastra untuk duduk.

sastra tidak ada pilihan lagi, tidak, sebetulnya ia tidak mau menolak. maka dari itu sastra naik ke pangkuan nara— menghadapnya.

sastra menyandarkan kepalanya pada pundak nara, memeluk nara, dan sesekali melayangkan ciuman singkat pada pipi nara.

“ka, kalo aku tidur, nanti gendong ke kasur, ya?”

“kamu minta gendong keliling kampus juga ayo.” timpal nara yang sedang sibuk— enta mengetik apa.

“aku serius ah,” rengek sastra.

nara tertawa kecil, “mana muka seriusnya? aku ga liat tuh,”

sastra enggan memalingkan pandangannya, ia tetap setia menatap punggung nara dari kaca di depannya.

tiba-tiba atmosfer di sekelilingnya menjadi dingin dan sunyi.

“sastra, liat aku.”

sastra menurut. dirinya menatap nara dengan wajah kebingungan serta bibir yang sedikit melengkung ke bawah.

nara tatap netra kekasihnya— terlihat sorot mata yang melunak. berbeda dengan nara. sorot matanya tajam dan mengintimidasi. hal itu cukup membuat sastra memilih untuk bungkam.

nara mengikis jarak wajah keduanya. perlahan-lahan bibir mereka bersentuhan. nara mencium sastra dengan mata terpejam, begitupun sastra. sastra jatuh ke dalam permainan nara. rasanya terlalu nikmat untuk ditolak— ciuman nara selalu memabukkan. bukan tipe yang terburu-buru dikejar nafsu, bukan. nara selalu melakukannya dengan lembut.

nara memutus ciumannya sejenak dan berbisik, “buka.” kemudian ia curi satu kecupan pada bilah delima kesukaannya itu.

dan benar saja, sastra langsung patuh.

ganti, sekarang sastra yang meraih bibir nara. berbeda dengan yang di awal— nara melumat bibir merah itu dengan nafas yang memburu dan mulai menuntut. jantung sastra berdegup kencang— mungkin nara mendengarnya. dirinya tak pandai mengimbangi permainan nara. ia cenderung menerima. namun kali ini sastra tak mau kalah, sastra juga membalas lumatan yang nara berikan.

tangan nara menjelajah ke dalam baju— mengusap punggung sastra— menahan pinggang ramping sastra. sampai membuat yang diberi sentuhan mengerang.

“ssshh hhh ra..”

sastra dapat merasakan nara yang tersenyum puas di sela-sela ciumannya. kemudian ciuman nara berpindah, ia mengecup setiap inci dari wajah sastra, yang kemudian berakhir pada perpotongan leher mulus lawan mainnya. bibir nara gencar menyusuri tiap jengkal leher kekasihnya.

benda lunak itu enggan berhenti, sampai terlihat tanda keunguan pada leher laki-laki di depannya. suara kecipak menggema di seluruh ruangan, lenguhan terdengar bersahut-sahutan.

“ngghhh raa... — ahh...”

nara melepas kembali ciumannya. ia menatap wajah sastra lamat-lamat, dilihatnya pipi yang merona kemerahan, mata yang sayu, juga bibir yang membengkak.

tangan nara kembali merengkuh sastra setelah sebelumnya menahan rahang yang lebih muda. sastra mengalungkan tangannya pada leher nara, dan kembali menyatukan bibir mereka.

tiba-tiba,

tok tok!

“sastraaa, bukain, ini bian!”


tiga hari setelah hari di ruang sinematografi— minho memutuskan untuk mengambil langkah terakhir. maksudnya, jika kali ini seungmin menolaknya lagi, maka minho akan berhenti.

sekarang, cuacanya lumayan sejuk karena hujan tadi sore. hanya menyisakan mendung yang entah akan dilanjut dengan turunnya hujan atau tidak.

minho melajukan kendaraan bermotornya sambil membawa paw, kucing sekolah yang diberi nama oleh seungmin.

sesampainya di sana, minho memanggil-manggil seungmin. namun, yang terdengar hanyalah suara musik yang kencang dari arah kamar seungmin— di atas.

minho mengirim pesan pun rasanya mustahil akan dibalas. jika minho menerobos masuk— ahh apalagi itu, justru ia akan diteriaki maling. maka, minho gunakan satu satunya cara.

minho lepas gelang manik miliknya dan memutus talinya. beruntung, jendela kamar seungmin belum ditutup, jadi ia bisa melemparkan manik tersebut ke dalamnya.

untungnya berhasil.

tak lama, seungmin mengintip dari jendela dengan ragu-ragu— terlihat dari wajahnya yang setengah takut.

“seung!” seru minho.

“kamu ngapain? pulang kak, mendung.”

“mau ngomong sebentar.”

lalu seungmin mengabaikan minho, ia tidak berniat untuk keluar dari kamarnya, barang selangkah pun.

namun minho bersikeras untuk tetap menunggu seungmin. sampai akhirnya rintik halus mulai turun.

“aduh, paw!” minho seketika tersadar.

“seung!” minho berseru lagi.

“kenapa?”

minho mengangkat tinggi tinggi tas kucing yang dibawanya.

“seengganya bawa paw masuk, seung.”

seungmin mengambil tongkat bantu jalannya untuk menuruni tangga.

sekarang ia berdiri di depan pintu, menatap minho yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum kecil.

minho menyerahkan paw ke dalam pelukan seungmin.

“halooo paw, udah sehat, ya?” seungmin menyapa hewan berbulu tersebut. kemudian dilanjut dengan membubuhi kucing tersebut dengan ciuman.

“oh iya, kamu bawa jas hujan?”

“ngga...”

“tunggu,” seungmin masuk membawa paw dan keluar dengan membawa jas hujan.

“dibawa aja, takutnya di jalan hujan. sekarang kamu pulang.” final seungmin. kemudian ia kembali masuk.

minho melihat bahwa seungmin masih peduli dengannya. maka dari itu ia belum menyerah.

ia melihat bayang bayang seungmin dari balik gorden— seungmin nampak kegirangan bermain dengan kucing yang ia bawa. minho tersenyum lega.

di dalam sana, seungmin merapalkan kalimat yang sama berulang kali. yaitu, “jangan hujan, nanti ino sakit.” tanpa sadar, seungmin sedikit lantang dalam mengucapkannya. sehingga terdengar samar-samar oleh minho.

“kalo masih peduli, jangan denial, seung.” minho bermonolog.

sampai pada akhirnya hujan mulai semakin lebat. seungmin iseng melihat ke luar jendela, ternyata masih ada minho yang baru akan memakai jas hujan yang seungmin beri— dengan kondisi baju yang sudah basah.

seungmin bergumam, “hujannya udah dari tadi, berarti ino di situ hujan-hujanan?”

seungmin berjalan perlahan menuruni tangga.

ia berdiri di ambang pintu, “kak! kenapa belum pulang?” ucapnya setengah berteriak.

lagi-lagi minho hanya menanggapi senyuman yang entah apa maksudnya.

“kalo ga jawab, aku yang kesana!”

“disitu aja, hujan.” kata minho.

“sini kak, nanti sakit!”

“mau pulang dulu. pintunya dikunci ya, seung.”

seungmin susah payah berlari menghampiri minho dan meraih tangannya.

“udah tau hujan, masih aja nyamperin. masuk, seung. badan lu basah semua,”

seungmin menatap minho dengan tatapan sedu. air matanya turun bercampur dengan hujan.

“kenapa nangis?” minho menunduk, sejajarkan wajahnya dengan seungmin.

seungmin menunduk, “ngomong kak, bilang apa yang kamu mau bilang.”

“liat gua dulu coba,” seungmin mendongak, “kenapa nangis?” tanya minho.

seungmin enggan menjawab. maka dari itu minho mendekap seungmin ke dalam pelukannya.

“gua ga bakalan sakit, seung. jangan nyuruh langitnya biar ga hujan, langitnya jangan dimarahin.”

“kamu denger?”

“siapa yang ga denger kalo lu ngomongnya sambil marah marah?”

“kamunya ga mau pulang.”

“abis ini gua balik. boleh ngomong dulu?”

“iya...”

“seung, gua tau banget pasti lu bosen dengernya. tapi gua minta maaf, bener-bener minta maaf. maaf udah bentak bentak lu, maaf karena ga mau cari tau dulu, maaf udah nuduh lu, dan maaf karena udah ngeraguin lu. gua bego banget ya, seung?”

“banget, kak.”

minho sesekali mengecup kepala seungmin, “maaf ya... jangan nangisin gua, ga pantes banget.”

baru saja minho berkata demikian. seungmin justru makin menguatkan tangisannya.

“dibilang jangan nangis. jelek. lu jelek banget kalo nangis.” kata minho sambil menepuk punggung seungmin.

“kak... jujur aku kecewa banget sama kamu... tapi... di sisi lain aku nyadar kalo aku cuma mau kamu...”

“seung, tolong suruh gua pergi sekali lagi. kalo sekali lagi lu suruh gua pergi, gua janji bakalan langsung pergi.”

seungmin mengeratkan pelukannya sembari menggelengkan kepalanya, “engga, jangan. aku ga mau. jangan pergi, aku mau kamu di sini aja, jangan kemana-mana.”

“kenapa tiba-tiba berubah pikiran? jangan merasa ga enak, seung. gapapa. jangan pernah ngerasa ga enakan sama hal yang bikin lu sedih.”

“tapi sama kamu lebih banyak senengnya, kak. i feel more more more comfortable when im with you, i feel better when you hug me.”

“kalo banyak senengnya, sekarang lu ga nangis...”

seungmin mengusap air matanya dengan kasar, “aku udah ngga nangis. tapi janji jangan pergi.”

“i can't handle this. too cute to be mine hahaha.”

“tadi katanya jelek.”

“banget,”

“kak, kita udah baikan?”

“if you kiss me,” pinta minho sambil menunjuk pipi kanannya.

seungmin dengan ragu ragu mencium pipi kanan minho, kemudian memeluknya kembali karena malu.

“yang dicium siapa, yang pipinya merah siapa,”

“kak, kenapa kita ngga pacaran aja?”

“mau emangnya?”

“mau. kalo ga mau, aku ngga bakal nungguin kamu sampai berbulan-bulan.”

“maaf ya, nunggunya kelamaan,”

“kamu jahat..”

“jadi pacar gua ya, seung.”

“ga mauuuuu,”

“itu pernyataan, bukan pertanyaan.”

“ubah jadi pertanyaan dulu,”

“seung, jadi pacar gua, ya?”

“maaaauuuuuu!!”


tiga hari setelah hari di ruang sinematografi— minho memutuskan untuk mengambil langkah terakhir. maksudnya, jika kali ini seungmin menolaknya lagi, maka minho akan berhenti.

sekarang, cuacanya lumayan sejuk karena hujan tadi sore. hanya menyisakan mendung yang entah akan dilanjut dengan turunnya hujan atau tidak.

minho melajukan kendaraan bermotornya sambil membawa paw, kucing sekolah yang diberi nama oleh seungmin.

sesampainya di sana, minho memanggil-manggil seungmin. namun, yang terdengar hanyalah suara musik yang kencang dari arah kamar seungmin— di atas.

minho mengirim pesan pun rasanya mustahil akan dibalas. jika minho menerobos masuk— ahh apalagi itu, justru ia akan diteriaki maling. maka, minho gunakan satu satunya cara.

minho lepas gelang manik miliknya dan memutus talinya. beruntung, jendela kamar seungmin belum ditutup, jadi ia bisa melemparkan manik tersebut ke dalamnya.

untungnya berhasil.

tak lama, seungmin mengintip dari jendela dengan ragu-ragu— terlihat dari wajahnya yang setengah takut.

“seung!” seru minho.

“kamu ngapain? pulang kak, mendung.”

“mau ngomong sebentar.”

lalu seungmin mengabaikan minho, ia tidak berniat untuk keluar dari kamarnya, barang selangkah pun.

namun minho bersikeras untuk tetap menunggu seungmin. sampai akhirnya rintik halus mulai turun.

“aduh, paw!” minho seketika tersadar.

“seung!” minho berseru lagi.

“kenapa?”

minho mengangkat tinggi tinggi tas kucing yang dibawanya.

“seengganya bawa paw masuk, seung.”

seungmin mengambil tongkat bantu jalannya untuk menuruni tangga.

sekarang ia berdiri di depan pintu, menatap minho yang berjalan ke arahnya sambil tersenyum kecil.

minho menyerahkan paw ke dalam pelukan seungmin.

“halooo paw, udah sehat, ya?” seungmin menyapa hewan berbulu tersebut. kemudian dilanjut dengan membubuhi kucing tersebut dengan ciuman.

“oh iya, kamu bawa jas hujan?”

“ngga...”

“tunggu,” seungmin masuk membawa paw dan keluar dengan membawa jas hujan.

“dibawa aja, takutnya di jalan hujan. sekarang kamu pulang.” final seungmin. kemudian ia kembali masuk.

minho melihat bahwa seungmin masih peduli dengannya. maka dari itu ia belum menyerah.

ia melihat bayang bayang seungmin dari balik gorden— seungmin nampak kegirangan bermain dengan kucing yang ia bawa. minho tersenyum lega.

di dalam sana, seungmin merapalkan kalimat yang sama berulang kali. yaitu, “jangan hujan, nanti ino sakit.” tanpa sadar, seungmin sedikit lantang dalam mengucapkannya. sehingga terdengar samar-samar oleh minho.

“kalo masih peduli, jangan denial, seung.” minho bermonolog.

sampai pada akhirnya hujan mulai semakin lebat. seungmin iseng melihat ke luar jendela, ternyata masih ada minho yang baru akan memakai jas hujan yang seungmin beri— dengan kondisi baju yang sudah basah.

seungmin bergumam, “hujannya udah dari tadi, berarti ino di situ hujan-hujanan?”

seungmin berjalan perlahan menuruni tangga.

ia berdiri di ambang pintu, “kak! kenapa belum pulang?” ucapnya setengah berteriak.

lagi-lagi minho hanya menanggapi senyuman yang entah apa maksudnya.

“kalo ga jawab, aku yang kesana!”

“disitu aja, hujan.” kata minho.

“sini kak, nanti sakit!”

“mau pulang dulu. pintunya dikunci ya, seung.”

seungmin susah payah berlari menghampiri minho dan meraih tangannya.

“udah tau hujan, masih aja nyamperin. masuk, seung. badan lu basah semua,”

seungmin menatap minho dengan tatapan sedu. air matanya turun bercampur dengan hujan.

“kenapa nangis?” minho menunduk, sejajarkan wajahnya dengan seungmin.

seungmin menunduk, “ngomong kak, bilang apa yang kamu mau bilang.”

“liat gua dulu coba,” seungmin mendongak, “kenapa nangis?” tanya minho.

seungmin enggan menjawab. maka dari itu minho mendekap seungmin ke dalam pelukannya.

“gua ga bakalan sakit, seung. jangan nyuruh langitnya biar ga hujan, langitnya jangan dimarahin.”

“kamu denger?”

“siapa yang ga denger kalo lu ngomongnya sambil marah marah?”

“kamunya ga mau pulang.”

“abis ini gua balik. boleh ngomong dulu?”

“iya...”

“seung, gua tau banget pasti lu bosen dengernya. tapi gua minta maaf, bener-bener minta maaf. maaf udah bentak bentak lu, maaf karena ga mau cari tau dulu, maaf udah nuduh lu, dan maaf karena udah ngeraguin lu. gua bego banget ya, seung?”

“banget, kak.”

minho sesekali mengecup kepala seungmin, “maaf ya... jangan nangisin gua, ga pantes banget.”

baru saja minho berkata demikian. seungmin justru makin menguatkan tangisannya.

“dibilang jangan nangis. jelek. lu jelek banget kalo nangis.” kata minho sambil menepuk punggung seungmin.

“kak... jujur aku kecewa banget sama kamu... tapi... di sisi lain aku nyadar kalo aku cuma mau kamu...”

“seung, tolong suruh gua pergi sekali lagi. kalo sekali lagi lu suruh gua pergi, gua janji gua bakalan pergi.”

seungmin mengeratkan pelukannya sembari menggelengkan kepalanya, “engga, jangan. aku ga mau. jangan pergi, aku mau kamu di sini aja, jangan kemana-mana.”

“kenapa tiba-tiba berubah pikiran? jangan merasa ga enak, seung. gapapa. jangan pernah ngerasa ga enakan sama hal yang bikin lu sedih.”

“tapi sama kamu lebih banyak senengnya, kak. i feel more more more comfortable when im with you, i feel better when you hug me.”

“kalo banyak senengnya, sekarang lu ga nangis...”

“aku udah ngga nangis. tapi janji jangan pergi.”

“i can't handle this. too cute too be mine hahaha.”

“tadi katanya jelek.”

“banget,”

“kak, kita udah baikan?”

“if you kiss me,” pinta minho sambil menunjuk pipi kanannya.

seungmin dengan ragu ragu mencium pipi kanan minho, kemudian memeluknya kembali karena malu.

“yang dicium siapa, yang pipinya merah siapa,”

“kak, kenapa kita ngga pacaran aja?”

“mau emangnya?”

“mau. kalo ga mau, aku ngga bakal nungguin kamu sampai berbulan-bulan.”

“maaf ya, nunggunya kelamaan,”

“kamu jahat..”

“jadi pacar gua ya, seung.”

“ga mauuuuu,”

“itu pernyataan, bukan pertanyaan.”

“ubah jadi pertanyaan dulu,”

“seung, jadi pacar gua, ya?”

“maaaauuuuuu!!”


tiga hari setelah hari di ruang sinematografi— minho memutuskan untuk mengambil langkah terakhir. maksudnya, jika kali ini seungmin menolaknya lagi, maka minho akan berhenti.

sekarang, cuacanya lumayan sejuk karena hujan tadi sore. hanya menyisakan mendung yang entah akan dilanjut dengan turunnya hujan atau tidak.

minho melajukan kendaraan bermotornya sambil membawa paw, kucing sekolah yang diberi nama oleh seungmin.

sesampainya di sana, minho memanggil-manggil seungmin. namun, yang terdengar hanyalah suara musik yang kencang dari arah kamar seungmin— di atas.