rigeleo


“Hi, love. I'm home.” sapa Minho sesaat setelah membuka pintu apartemen mereka.

Minho langsung menuangkan beberapa tetes hand sanitizer ke telapak tangannya.

“Agak cepet ya nyampenya. Ngga macet, ya, kak?”

“Macet, kaya biasa. Untung tadi aku keluar dari kantor lebih cepet, jadi bisa cepet nyampe juga.”

“Sorry, ya, kalo aku tiba-tiba ngechat kamu begitu. Kamu kepikiran, ya?”

“Iya, sedikit. Takut kamu nangis lagi, soalnya aku lupa nyetok permen,”

“Nyebelin,”

Minho duduk sejenak di sofa untuk meluruskan punggungnya, sedangkan Seungmin membuatkan Minho teh melati, seperti biasa.

“Kak, serius, aku udah biasa aja. Tapi kenapa tadi aku kaget gitu, ya?”

“Kamu ngga ketemu dia udah satu, hampir dua tahun. Itu pun ngga ketemu karena hal buruk, jadi, wajar kamu kaget pas tiba-tiba ketemu dia.”

“Kak, kalo misal aku ketemuan sama Hyunjin gimana? aku pengen selesain ini semua. Maksudnya... iya, udah selesai. Tapi ada satu yang kurang, kamu tau maksudnya, kan?”

“Tau, sayang. Aku paham. Gapapa, ketemu aja, aku seneng karena kamu udah berani ambil keputusan yang sebenarnya ga gampang buat kamu.”

Seungmin menghampiri Minho—ikut duduk di sebelahnya. Sedang Minho menyambut Seungmin dengan rangkulannya.

“You did well, you did well. My Seungmin did very well.” ucap Minho kegemasan saat Seungmin tiba-tiba memeluknya dan menenggelamkan wajahnya pada leher Minho—sambil membubuhi kepalanya dengan ciuman.

Seungmin tersenyum lebar, “Nanti kamu ikut, ya? aku ngga mau dateng sendirian.”

“Nanti kita omongin lagi kalo soal itu. Emangnya kamu mau ketemu Hyunjin kapan?”

“Tanggal 8.”

“Ohh okay, abis dari sana kita ada janji loh, jangan lupa.”

“Hampir lupa heheheh,”

Minho melihat tangan Seungmin—tak nampak ada sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya.

“Cincin kamu ke mana? kok ngga dipake?”

Seungmin seketika tersadar, “Eh, iya, di mana ya kak? tadi aku taro sini deh,” jelas Seungmin sambil meraba-raba meja di depannya.

“Aku tuh tadi habis bersihin ikan, terus cincinnya aku lepas, aku taro sini dulu— sebentar deh aku cari di kamar.” Seungmin hendak berdiri, namun tangannya buru-buru ditarik kembali oleh Minho.

“Ini apa?” Minho menunjukkan cincin yang terselip di jari telunjuk dan jempolnya.

“Sorry kak,”

“Hahahah kenapa tiba-tiba murung gitu?”

“Abisnya..”

“Cium. Nanti aku kasih cincinnya.”

Seungmin menurut, ia mengecup sekilas bibir Minho.

“Di sini juga,” Minho menunjuk pipi kanan dan kirinya.

Seungmin lagi-lagi dengan senang hati menuruti permintaan Minho.

“Satu lagi di sini, terakhir terakhir,”

Minho menunjuk bibirnya, lagi.

“Kak!”

Seungmin mencium bibir Minho—ketika ia ingin menjauhkan wajahnya, Minho justru tarik tengkuk Seungmin untuk menahan ciuman mereka.

“I love youuu 100 juta,” ucap Minho.

“Kalo aku, i love you to the moon, and saturn, bolak balik 7 kali, kak!”

— ;

seungjin ft. 2min cw // angst, break up, cheating, bad memories


Januari, 2022.

Bulan Januari tahun ini—seperti biasa—selalu di guyur hujan hampir setiap harinya. Menurut yang Seungmin pelajari saat di bangku sekolah dulu, penyebabnya adalah ; pertama, kehendak Tuhan ; kedua, memang musimnya.

Ada beberapa tipe suasana hati manusia saat dihadapkan dengan hujan. Seperti senang, kesal, bahkan sedih. Kalau Seungmin pribadi merupakan gabungan dari ketiga tipe tersebut, walaupun sebenarnya cenderung sedih, ia bersikeras untuk menyangkalnya.

Hujan—terlebih lagi pada bulan Januari memberi Seungmin perspektif berbeda, tepat sejak dua tahun yang lalu.

Hubungan yang ia jalin dengan Hyunjin—mantan kekasihnya—kandas pada bulan satu, dua tahun lalu—Saat hujan sedang turun dengan derasnya

Kala itu, Seungmin berusaha mempertahankan hubungan mereka yang sebetulnya sudah terlanjur mustahil untuk dipertahankan.


Januari, 2020.

Selama beberapa hari belakangan, Hyunjin selalu sibuk. Jadi, ia tidak dapat bertemu Seungmin barang sebentar saja.

Sebagai kekasih yang sudah kepalang rindu, ditambah kekhawatiran Seungmin—yang takut jika Hyunjin akan mementingkan pekerjaannya daripada dirinya—membuat Seungmin sekarang sudah berdiri tepat di depan pintu apartemen Hyunjin.

Ia masukkan pin apartemen Hyunjin yang sudah diluar kepala sembari menaruh harap, semoga setengah jiwanya dalam keadaan baik.

Sesaat setelah Seungmin membuka pintu, ia dapat langsung menyimpulkan bahwa Hyunjin sedang dalam keadaan baik. Sangat baik.

Meskipun seisi ruangan tersebut dipenuhi oleh alunan musik, bukan berarti Seungmin tidak dapat mendengar suara lenguhan bersahut-sahutan, mendengar nama kekasihnya dielu-elukan entah oleh siapa, yang jelas bukan dirinya.

Seungmin langsung berbalik arah untuk kembali ke mobilnya dengan tubuh yang bergetar, air matanya sudah tertampung penuh di pelupuk mata—siap untuk jatuh membasahi pipinya. Saat ia mendudukkan dirinya, saat itu pula ia menangis sejadi-jadinya.

;

“Hyunjin, aku mau kita ketemu. Aku ngga peduli kamu sibuk atau ngga. Aku cuma mau ngomong sebentar, ngga sampai satu jam. Alamat rumahku masih sama, kalo kamu lupa.” Pesan Seungmin pada pagi keesokan harinya.

Setelah beberapa kesepakatan, akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu pada malam harinya.

“Kamu akhir-akhir ini sibuk banget, ya?”

“As you see, Seung.”

“Aku bisa nyamperin kamu ke apart kok kalo kamu ngga sempet ninggalin apart buat ketemu aku. Tapi kenapa selalu ngga boleh?”

“Takut ganggu kerjaanku,”

“Aku ganggu, ya? padahal aku cuma mau liat kamu sebentar. Aku ngga minta kamu buat peluk aku atau semacamnya, loh.”

“Seung, kalo kamu cuma mau ribut, aku pulang sekarang.”

“Go on, someone is waiting for you to do a hot session, right?”

“Apa? apalagi sekarang mau kamu? mau nuduh aku?”

“Faktanya gitu, kok. Aku dateng ke apartemen kamu kemarin.”

Hyunjin memasang ekspresi terkejut. Seungmin pikir Hyunjin akan membujuk Seungmin atau setidaknya mengaku kemudian meminta maaf.

Namun, tidak seperti itu adanya.

“Kamu... udah tau? — I won't defend myself. It's not wrong at all, that.. i already have someone new.”

Seungmin kehabisan kata-kata untuk sekedar menanggapi Hyunjin.

“Sekarang kamu udah tau semuanya, jadi, maunya gimana?”

“Kamu putusin dia.”

“If i have to break up, then it's with you, Seung. Jujur selama 3 bulan belakangan aku udah ngga ngerasa kalo aku masih cinta sama kamu. Aku pengen bilang ini, tapi kamu selalu nunjukin kalo kamu masih cinta banget sama aku, dan itu bikin aku ngga tega.”

“Ngga tega kata kamu? you actually hurt me more by doing all this shit.”

“Aku bingung, this choice... is... too difficult for me.”

“Then what's easy for you? selingkuh?”

“Kamu jangan bilang seakan-akan aku selalu selingkuh, ya.”

“Kamu tersinggung? berarti bener?”

“Terserah, aku ngga mau debat lama-lama. Kalo mau putus, putus aja.”

“You— really? after everything?”

“Stop it, okay? aku anggap kamu setuju, dan kita. Udah. Putus. Ngga ada yang perlu dibicarain lagi, aku pamit.”

Seiring langkah Hyunjin menjauh, semakin keras pula tangisan Seungmin pada malam berhujan tersebut.

Sejak saat itu ia membenci semua yang ada pada saat itu. Bulan Januari, Hujan pada bulan Januari, juga kenangan pada bulan Januari.


Agustus, 2020.

Perlahan-lahan, seiring berjalannya waktu, juga atas kehadiran Minho di sampingnya—Seungmin mulai mencoba menerima semuanya.

Minho dan Seungmin merupakan teman lama. Teman SMP, kalau tidak salah.

Namun, mereka baru bertemu kembali saat Seungmin pindah perusahaan tempatnya bekerja.

Berkat Minho, Seungmin merasa kembali dicintai dan merasa pantas untuk dicintai— karena sejak saat itu—saat ia putus denga Hyunjin—ia selalu meragukan dirinya, selalu berata jika ia tak pantas untuk siapapun.

Pernah, pada suatu waktu, Minho berkata,

“Jangan salahin diri kamu saat kamu tau siapa yang sebenarnya salah di sini,”

“Salah aku. Aku banyak kurangnya, kak. Karena.. kalo aku ngga kurang apapun, kaya apa kata kamu. Aku ngga bakal diselingkuhin, kak.”

“Mau sesempurna apapun kamu, kalo Hyunjin niatnya selingkuh, ya dia bakalan ngelakuin itu, Seung. Kamu harus tau kalo selingkuh itu ngga ada dasar yang jelas selain karena orang itu sendiri yang mau.”

Mungkin Seungmin muak mendengar itu semua dan menolak percaya pada awalnya. Namun, Minho selalu punya caranya tersendiri.

Jika kata-kata tak mampu mengetuk hati Seungmin untuk kembali percaya, maka Minho buktikan dengan perbuatan.

Tak pernah ada kisah di mana Minho meninggalkan Seungmin—yang lama kelamaan membuat Seungmin terbiasa akan kehadiran Minho dan mulai paham, bahwa semua yang Minho katakan adalah benar.


Oktober, 2020.

Pada bulan Oktober ini, Seungmin mulai membangun kembali semuanya bersama Minho.

“Thank you for always being by my side when i need a place to lean on, thank you for waiting for me, kak. From now on, ayo jadi bahu buat satu sama lain.”

Mereka pun menjadi sepasang kekasih saat Seungmin yakin bahwa sudah tidak ada bayang-bayang Hyunjin lagi dalam benaknya—yang ada hanya Minho dan sejuta rasa cintanya.


Januari, 2022 ; sekarang.

Hujan pertama di tahun 2022 turun pada tanggal 8 bulan Januari. Tidak terasa bahwa Seungmin sudah melalui semuanya bersama Minho.

Sekarang, Seungmin memutuskan untuk sepenuhnya berdamai dengan masa lalunya.

“Di luar hujan, Seung. Ketemu Hyunjinnya mau di hari lain aja?” tanya Minho dengan hati-hati.

“Ngga, kak. Aku mau sekarang,”

“Tapi—”

“Kak, aku punya kamu. Aku pun udah ngga ambil pusing sama semua yang ada di masa lalu. Asal aku sama kamu, aku gapapa. Kamu mau, kan, nemenin aku?”

Minho tersenyum teduh, “Iya, nanti aku temenin. Tapi aku tunggu mobil, karena aku tau kamu butuh ruang buat ngomongin semuanya sama Hyunjin.”

“Tapi, kak... aku ta—”

“Aku percaya sama kamu.”

Ganti, sekarang Seungmin tersenyum dan berjalan ke arah Minho untuk memeluknya erat, “Makasih banyak, kak.”

;

Beberapa hari sebelumnya, Seungmin sudah membuat janji dengan Hyunjin untuk bertemu.

Jadi, sekarang ia sudah berada di depan apartemen Hyunjin.

Tidak, ini bukanlah apartemen yang sama. Hyunjin sudah pindah dari apartemen lamanya.

“H-hai, Hyun... apa kabar? long time no see, ya?”

“Seung... gue baik,” Hyunjin berbohong.

“Glad to hear that,” Seungmin tersenyum, “Masih sama yang waktu itu?”

“Umm.. nope.”

“Ah.. sorry,”

“Its fine. — Seung, gue mau minta maaf buat semuanya, maaf karena—”

“Nooo, gue masih inget, kok. Jangan diceritain lagi, ya? gue udah maafin lo, kok.”

Mereka berbincang sejenak, walaupun isi dari perbincangan mereka kebanyakan hanya permintaan maaf dari Hyunjin.

“Seung, lo mau mulai—”

“Seungmin!”

Ucapan Hyunjin terputus saat Minho keluar dari mobil—memanggil—lalu menghampiri Seungmin.

“Sorry kalo aku ganggu, kita ada janji buat ketemu orang WO,”

“Oh, iya! hampir lupa.” kata Seungmin.

Seungmin pun mengeluarkan sebuah undangan berwarna rose gold yang berhiaskan glitter—tak lupa bahwa di sana tertulis nama Seungmin dan Minho.

“Hyunjin, gue cuma mau kasih ini. Gue bakalan seneng banget kalau lo mau dateng— Oh ya, sebelumnya, ini kak Minho.”

Hyunjin dan Minho pun saling berjabat tangan.

“A..ahh.. i'm happy for you two. Semoga lancar, ya?”

“Iya, makasih, Hyun. Gue pamit dulu, ya?”

Hyunjin mengangguk, mereka berpelukan sekilas, lalu langkah Seungmin mulai menjauh.

Tampak sekali bahwa sudah tidak ada celah bagi Hyunjin untuk masuk, Hyunjin sadar akan hal itu.

Biarlah ia belajar dari kesalahannya, biarlah Hyunjin juga merasakan bagaimana rasanya ikhlas itu—sama seperti Seungmin dahulu.

;

Sekarang, bulan Januari, Hujan, dan segala apa yang ada di dalamnya bukanlah apa-apa bagi Seungmin.


“Udah? Yuk.”

“Udah, sebentar. Rambutku berantakan ngga?” Tanya Sastra sambil mendongak menatap Nara. Kemudian Nara membenahi rambut Sastra yang sebetulnya tidak terlalu berantakan.

“Nah, udah,” Lalu ia genggam tangan Sastra sembari melangkahkan tungkainya keluar café

Mereka berada di café selama kurang lebih setengah jam, selepasnya mereka memutuskan untuk late night drive sebelum kembali ke apartemen Nara.

Ngomong-ngomong tentang apartemen, kali ini Sastra memutuskan untuk menginap di apartemen Nara. Mengingat bahwa orang tuanya sedang melakukan perjalanan luar kota, jadi, Sastra enggan untuk berdiam di rumah sendirian. Padahal, bisa saja ia yang mengajak Nara ke rumahnya. Namun, ia berpikir masih ada lain waktu.

Mereka pun menyusuri jalanan ibu kota yang sudah mulai nampak sepi. Dengan suara musik yang menyeruak memenuhi pendengaran, jendela mobil yang dibuka sehingga angin dapat masuk dan menerpa wajah mereka, juga tangan yang saling bertaut. Tidak ada momen sederhana yang lebih sempurna daripada itu.

Perjalanan malam yang barusan itu memiliki efek luar biasa bagi keduanya. Pikiran mereka jadi lebih tenang. Disamping itu, selama perjalanan mereka tidak ragu untuk bercerita satu sama lain. Waktu kian berlalu, membuat keduanya terpaksa untuk mengakhiri sesi perjalanan malam mereka kali ini. Keduanya pun melaju menuju apartemen untuk beristirahat.

Sastra merasa ia butuh mandi setelah ini. Maka setelah Nara memarkirkan mobilnya dengan sempurna, ia lari meninggalkan Nara.

“Ka, aku lari, ya! Aku mau mandi duluan!”

Di belakang, Nara hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gemas kekasihnya itu. Padahal, tidak apa juga jika Sastra ingin mandi duluan. Pasti Nara akan mengizinkannya, toh, Nara juga terbiasa untuk merebahkan dirinya terlebih dahulu, barulah ia akan pergi mandi.

Nara memasuki lift dengan harapan kekasihnya itu sudah sampai di depan unitnya, tapi setelah pintu lift terbuka di lantai 8, ia agak kaget melihat Sastra yang menunggunya di depan lift seperti anak anjing yang polos.

“Loh? Kenapa nunggu aku? Tadi katanya mau mandi duluan.”

“Ih! Kan aku ngga tau passwordnya, Ka.”

“Oh, hahaha makanya jangan sotau,”

Sastra berjalan mundur dengan posisi dirinya yang menghadap Nara. Mereka berjalan di koridor dengan mulut Sastra yang tidak berhenti berceloteh, sedangkan Nara hanya memperhatikan tingkah Sastra sambil sesekali merespon dengan tertawa kecil.

Nara menekan tombol angka pada pintunya sambil menyuruh Sastra untuk memperhatikan passwordnya. Pintu pun terbuka, secepat kilat Sastra langsung masuk kamar mandi. Lagi-lagi Nara hanya tersenyum.

“Ka, aku pinjem bajunya!” Serunya dari dalam kamar mandi.

“Iya, nanti aku ambilin. Pake bathrobe aja dulu, di situ ada dua, kan?”

“Iya,”

Selang 10 menit, Sastra pun keluar kamar mandi.

Wangi pun menyebar di penjuru ruangan, “Aku jadi wangi kamuuuu,” Ucap Sastra yang sedang sibuk dengan tali bathrobe nya. Tau jika Sastra kesulitan, Nara hampiri Sastra untuk membantunya mengikat tali bathrobe tersebut.

“Nanti kamu ke kamar aja, pilih baju sendiri, sambil dicoba mana yang pas, ya?”

“Okay! Tapi aku pengen ngemil, ada roti ngga?”

“Ada deh kayanya, di meja, aku baru beli kemarin. Dimakan aja.”

“Aku bikin roti panggang, ya? Kamu mau?”

“Boleh, satu aja.”

“Yaudah, mandi sana.”

Selesai memanggang roti, Sastra memilih untuk mencuci teflon terlebih dahulu, baru ia akan makan rotinya dengan Nara.

Dikarenakan suara air yang mengalir, Sastra tidak tau menau bahwa Nara sudah selesai mandi, dan sekarang tangan Nara sudah melingkar sempurna di pinggangnya, dengan dagu yang disandarkan pada bahunya sambil sesekali mencuri-curi ciuman pada pipi juga leher Sastra secara bergantian.

“Geli, Ka!”

Nara tidak berniat untuk mengungkung Sastra, namun karena perilaku Sastra yang tiba-tiba membalik badannya, jadilah demikian.

Akhirnya jarak antara mereka hanya bersisa beberapa senti saja. Sastra yang sadar pun ingin mencoba keluar dari situasi canggung tersebut.

Tapi, gerak gerik Sastra sepertinya terbaca, sehingga Nara buru-buru menarik pinggang Nara untuk lebih mendekat dengan tangan kiri yang masih digunakan untuk menahan tubuhnya.

Nara tatap lekat-lekat kedua manik hazel milik Sastra, “Cantik, mata kamu beneran secantik itu.”

Sastra merasakan pipinya yang menghangat sesaat setelah Nara melontarkan kalimat pujian tersebut. Beruntung, lampu dapur tidak menyala seluruhnya, hanya menyisakan lampu lampu kecil berwarna kuning yang cahaya nya tidak seterang lampu-lampu pada umunya.

Karena, bisa-bisa Sastra makin malu jikalau Nara tau bahwa pipinya sedang memerah sekarang.

“Aku boleh confess lagi ngga, sih?”

Sastra menampakkan cengirannya sambil memainkan rambut Nara, “Boleh, coba aku mau denger.”

“Waktu pertama kali aku liat kamu, kamu itu pake masker, jadi yang pertama kali aku liat itu mata kamu. At that time, I thought your eyes had magic. Buktinya aku langsung cinta sama kamu.”

Ughh cheesy,” ledek Sastra.

Tidak peduli akan ejekan Sastra, Nara melanjutkan kalimatnya, “Padahal waktu itu aku liatnya dari jauh, loh. Gimana dari deket? – tapi, aku udah ngga penasaran gimana rasanya natap mata kamu dari deket. Karena sekarang aku ngerasain itu.”

Ah, really? Rasanya gimana?”

Unbelievable – melebihi ekspektasi aku.”

Sastra menyembunyikan wajahnya dalam dekapan Nara, karena ucapan Nara sukses membuatnya benar-benar tersipu sekarang. Tidak terima jika wajah yang ditatapnya hilang dari tatapannya, maka, Nara bawa lagi wajah Sastra untuk mendongak menatapnya.

“Sejak itu, aku ngga bisa liat kamu dengan cara yang biasa aja – dengan cara orang-orang pada umumnya. Aku bersyukur banget bisa liat mata kamu dengan jarak sedeket ini, setiap harinya. You’re gonna live forever in me, sas.

“Kayanya kamu berlebihan, Ka, I don’t really deserve that.

“Ngga, ngga berlebihan sama sekali. Justru kamu lebih dari itu, Sas.”

Nara tidak dapat menahan lebih lama lagi untuk mencumbu kekasihnya itu. Ia menaikkan Sastra untuk duduk di pinggir wastafel, kemudian menarik dagunya untuk mendekat. Bibir keduanya pun bertemu, secara reflek mereka menyapu bibir satu sama lain.

Ternyata, selain mata, bagian favorit dari Sastra yang Nara kagumi adalah bibirnya. Terasa seperti permen kenyal dan tak jarang juga ketika Nara melumatnya terdapat rasa manis strawberry.

Hal itu dikarenakan kebiasaan Sastra yang tidak pernah absen untuk mengaplikasikan lip balm rasa strawberry kesukaannya.

Sesapan demi sesapan mereka berikan untuk satu sama lain, sebelum Nara gigit pelan bibir Sastra yang menyebabkan Sastra melenguh dan membuka bibirnya untuk mengizinkan lidah Nara ikut serta dalam ciuman panas mereka.

Mmhh,” lenguhan Sastra tertahan. Dirinya mulai mengalungkan kedua tangannya pada leher Nara.

Ciuman Nara pun lama kelamaan turun ke perpotongan leher Sastra. Sastra mencoba sekuat tenaga untuk menahan lenguhannya, namun usahanya seketika gagal ketika Nara mulai menyesap sambil sesekali menggigit pelan lehernya.

Ahhh, Ka–”

Usai meninggalkan jejak keunguan di sana, ciumannya mulai berpindah lagi. Nara sedikit menyibak bathrob yang Sastra gunakan untuk menampakkan bagian atas Sastra.

Ah, itu.. lain kali tolong ingatkan Sastra untuk segera memakai pakaiannya.

Nara mengusap collarbone milik Sastra yang terpampang jelas di hadapannya,

Prettiest,” Bisik Nara sebelum akhirnya melayangkan kecupan kecupan kecil di sana.

Dirasa cukup, Nara mencium kembali bibir Sastra. Sekarang tangan Nara mulai menjelajah di punggung Sastra. Usapannya perlahan, tidak terburu-buru, namun cukup membuat tubuh Sastra menegang.

Sesekali Nara remas bokong Sastra dengan jahil, tujuannya untuk mengundang erangan Sastra yang tertahan. Benar saja,

Mmmhh,

Sastra mengunci tubuh Nara menggunakan kedua kakinya yang saling terkait di pinggang Nara. Otomatis jarak keduanya sudah sepenuhnya lenyap, yang menghasilkan gesekan-gesekan pada bagian privasi mereka.

Nara lepas ciuman mereka, kedua tangannya ia taruh kembali pada bokong Sastra, kemudian mengangkatnya untuk menahan tubuh Sastra yang hendak ia bawa ke kamarnya.

Sebelum itu, Nara bertanya pada Sastra untuk memastikan, “I will stop, sas, kalo kamu ngga mau lanjut.”

Go ahead.” pintanya.

Are you sure? Aku beneran ngga mau maksa kamu..” tanya Nara sekali lagi yang kemudian dijawab dengan anggukan oleh Sastra.

Selanjutnya tanpa pikir panjang Nara membawa Sastra ke kamarnya dengan cara menggendongnya seperti koala.

Nara menyenderkan tubuhnya pada headboard nya, “Come, sit on my lap.” suara Nara memberat.

Sastra menurut, ia langsung duduk di pangkuan Nara. Kali ini Sastra-lah yang memagut bibir Nara terlebih dulu.

Sedang tangan Nara tidak tinggal diam – tangannya perlahan mulai melepas ikatan tali pada bathrob yang dipakai Nara.

Tak mau kalah, Sastra juga melepas kaos putih yang dipakai Nara. Jemarinya menyusuri tiap jengkal dada bidang milik Nara dan berhenti pada tengkuk yang lebih tua.

Keduanya kini saling beradu tatap,

“Cantik, Sastra cantik,” bisiknya sambil menyingkirkan rambut yang menutupi dahi Sastra.

Sastra hanya tersenyum, tatapannya pada Nara jadi tidak konsisten karena pujian yang diberikan Nara, entah untuk yang ke berapa kali.

Kulit tubuh Sastra begitu halus, Nara tidak dapat menahan hasratnya untuk menjamah apa yang ada di depan matanya. Sasaran pertamanya adalah nipple milik Sastra.

Diusapnya bagian tersebut menggunakan ibu jarinya sambil sesekali meremasnya pelan. Sentuhan yang Nara berikan sungguh nikmat, padahal ini baru permulaan.

Mata Sastra memejam sambil mendesis keenakan.

Ahhh, Ka…

“Aku ngga bohong kalo aku bilang kamu beneran seindah itu, Sas, cantik banget.” Entah mengapa pujian ini membakar libidonya. Membuat bagian privasi milik Sastra makin mengeras bersamaan dengan gesekan yang otomatis terjadi karena pergerakan dari keduanya.

Nara julurkan lidahnya lalu menghisap lembut dua buah noktah kecoklatan di depannya secara bergantian. Tangan Sastra pun memegang kepala Nara untuk memberikan rangsangan lebih.

Uhhh–

Sementara bibir Nara masih sibuk di sana, tangan Sastra justru terburu-buru melepaskan celana yang dikenakan Nara.

Isapan Nara pada nipple nya makin menguat, membuat Sastra mendesah lebih panjang,

Hhhng… Taka– Mmmhh..” respon Sastra justru membuat Nara makin liar.

Ia meremat pinggang Sastra, hasratnya tidak dapat ditahan lebih lama lagi. Sastra pun begitu, ia mulai menggoda Nara dengan menekan pinggul dan menggesekkan bokongnya pada penis yang lebih tua. Hal itu menyebabkan Nara sesekali menggeram.

Tanpa aba-aba, Sastra turun dari pangkuan Nara dan tangannya meraba milik Nara yang mulai mengeras.

Ahh… Sas–

Sastra tersenyum jahil, “Mau.. boleh?”

Mmhh– take it, sayang…

Setelah mendapat persetujuan, Sastra menggenggam kejantanan Nara yang tampak kebesaran di tangannya. Ia mulai mengulum sambil sesekali memompanya secara berulang kali.

Tangan Nara mengusap kepala Sastra, sesekali juga ia meremas bokong Sastra yang membuat empunya sedikit terlonjak kaget.

It feels– Ahhh..” Kalimat Nara terpotong ketika penisnya menyentuh tenggorokan Sastra.

Di sisi lain Sastra nampak menggairahkan dengan mulut yang penuh akan kejantanan Nara. Matanya pun terlihat sedikit berlinang air mata karena tindakannya sendiri.

Tangannya lanjut mengurut batang milik yang lebih dua dengan gerakan naik dan turun.

Sastra menyadari bahwa penis Nara semakin tegang dan berkedut, tak lama,

Mmhhh.. Ahhh– Sas, I’m close–

“Gapapa keluarin aja,” kata Sastra sambil terus mengulum penis Nara dengan tempo yang lebih cepat daripada sebelumnya.

Yang lebih muda mengarahkan penis sang dominan tepat di wajahnya,

“Ahh… sastra, sayang– Hngghh” nafasnya terengah-engah setelah pelepasan pertamanya.

Tak ingin mengulur waktu, Nara kembali menautkan bibirnya. Ia sesekali menggoda Sastra dengan menusuk lubang Sastra dengan jari tengahnya. Mulut Nara kembali menyambar kedua noktah coklat milik Sastra yang menyebabkan tubuh Sastra lagi-lagi meremang dengan hebat, seperti ada aliran listrik di dalamnya.

“Gantian sini, aku–”

“M-mau langsung aja…” Pinta Sastra.

“Prep dulu, ya?”

Nara mengambil lube pada laci meja samping kasurnya. Kemudian menuangkannya pada tangannya juga sedikit pada lubang Sastra.

Mereka akhirnya bertukar posisi, dengan Sastra yang berada dibawah Nara sambil membuka lebar-lebar kakinya.

Nara membuat gerakan memutar pada permukaan lubang Sastra. Jarinya sesekali masuk kemudian keluar lagi. Nara ingin melihat Sastra yang tampak putus asa di depannya.

“Ka, please, please...

“Hahaha, iya, sabar.”

Akhirnya Nara mengarahkan jari tengahnya keluar masuk lubang Sastra yang sudah berkedut sedari tadi. Lelaki dibawahnya itu mendesis tak karuan sambil memejamkan matanya.

“Ketat banget, Sas..” Nara menambah satu jari lagi untuk masuk, “Aku tambah, ya, biar cepet.”

Ahhhh… Ka, Shhh– more please,

“Mmm, apanya?”

“Cepetin lagi sedikit,”

Nara menuruti permintaan kekasihnya itu. Selagi ia sibuk di bawah sana, tak sengaja jarinya menekan sweetspot yang membuat Sastra terbelalak kaget,

Mmhhh, right there– Ka.. – AHHH” Jari Nara dengan sengaja menekan lagi titik nikmat sang submisif, yang menyebabkan Sastra mendesah sedikit lebih keras.

Lalu Nara mulai memeluk Sastra sambil berbisik, “Pretty pretty Sastra. You look super cute,” kemudian mencium belakang telinga Sastra yang lumayan sensitif.

Shhh.. stophh teasing me!” Penis Sastra semakin menegang, siap untuk pelepasan.

“Dikeluarin aja dulu, Sas.” Himbau Nara. Benar saja , Sastra menembakkan cairan putihnya setelahnya.

Nara membuat gerakan menggunting sebagai akhiran, lalu berpesan, “Aku masuk, tahan sebentar, ya, sayang.”

Ia memasukkan penisnya perlahan-lahan. Baru setengah, tapi lubang Sastra terasa sesak karena penis Nara yang berukuran besar itu. Gurat wajah Sastra seperti menggambarkan rasa sakit, Nara sadar akan hal itu, “Sorry, sakit, ya?” Sastra mengangguk lemah sebagai jawaban.

Nara langsung mencium Sastra sebagai distraksi sambil mendorong penisnya masuk. Saat penisnya masuk dengan sempurna, ciuman mereka terputus.

Shhhh– Aw.. Mmhhh.. Taka–” “Tell me when youre ready, okay..

Selagi Sastra biarkan lubangnya beradaptasi sejenak, ia menarik tengkuk Nara untuk menciumnya lagi. Lidahnya berhasil melesak untuk mengabsen deretan gigi sang dominan.

M-move… please..

Mendapat aba-aba, Nara langsung memompa kejantanannya keluar masuk lubang Sastra,

Ahhh– sempit banget, Sas.. Mmmhh..” racau Nara saat penisnya dijepit kuat oleh lubang sang submisif.

Nara memaju mundurkan kejantanannya sambil terus mengurut milik Sastra yang mulai menegang kembali. Tangannya yang lain ia gunakan untuk mengusap peluh di dahi Sastra– kemudian meraih tangan Sastra untuk mengunci jemari mereka bersamaan.

Lidah yang lebih tua kembali menyapu leher jenjang milik Sastra yang sudah terdapat beberapa bercak keunguan akibat ulahnya tadi.

Ia lepas kuncian jemari mereka dan beranjak untuk memilin nipple Sastra.

Ahh… ahhh, Narantaka.. Mmmhhh– faster please..

Mendengar namanya disebut di sela desahan, libido Nara semakin melonjak. Ia percepat tempo hantaman di lubang Sastra.

Lenguhan keduanya tak tertahankan, saling bersahut-sahutan dengan nyaring di dalam ruangan. Bibirnya kembali menyesap nipple Sastra. Sastra merasa dimanjakan dari segala sisi, kepalanya mendongak ke atas, matanya mengerjap berulang kali. Jiwanya seperti diterbangkan ke langit ke tujuh.

Batang milik Nara berhasil menekan prostat Sastra. Sontak, tubuh Sastra mengejang, tangannya meremat bahu yang lebih tua, berusaha mati-matian menahan terjangan luar biasa yang didapatnya.

Ngghh, enak banget, Sas… AHHHH

Mmhhh… Ka, bentar lagi¬– aku keluar..

Lantas Nara mempercepat tempo tusukannya sembari ikut memompa milik Sastra supaya dapat keluar bersamaan.

“Aku keluar di dalem, ya?”

Sastra mengangguk ribut. Setelah beberapa kali tusukan telak pada prostatnya, akhirnya Sastra menumpahkan putihnya yang mengenai perut serta dadanya.

Taka– Ahhhh..

Tak lama, Nara pun menyusul putihnya. Ia keluarkan semuanya di dalam lubang Sastra. Putihnya memenuhi lubang lelakinya, ketika kejantanannya dicabut, spermanya membanjiri paha Sastra.

Napas keduanya terengah-engah setelah pergulatan hebat mereka. Nara jatuhkan badannya di samping yang lebih muda dan mengisyaratkan Sastra untuk mendekat padanya.

Ia mengusap-usap wajah Sastra yang berpeluh sambil sesekali mengecup bibirnya. Dilihatnya kondisi Sastra yang super duper berantakan, dengan mata sayu dan tubuh dipenuhi kissmark.

Ia layangkan kecupan di dahi Sastra dengan penuh cinta, “Masih cantik. Malah tambah cantik hahaha,” Sastra tidak menjawab, ia hanya menyunggingkan senyum sambil menetralkan napasnya.

“Sebentar, ya?” Nara keluar kamar sejenak, lalu kembali dengan membawa handuk kering. Ia mulai mengusap wajah Sastra dengan lembut dan perlahan-lahan. Lalu lanjut ke sekujur tubuh Sastra, terutama paha bagian dalam.

“Mau mandi?” tawar Nara.

“Nanti dulu, capek..”

Setelah dirasa cukup, Nara kembali naik ke kasur untuk mendekap Sastra. Sastra pun menerimanya dengan senang hati.

“Makasih banyak, sayang,” Sejujurnya Sastra masih agak malu, karena sudah lama ia tidak berhubungan badan dengan Nara sejak terakhir kali mereka melakukannya di asrama.

Jadi, Sastra hanya merespon dengan mengusakkan wajahnya pada dada Nara. Nara menyadari tingkah Sastra dan hanya membalasnya dengan usapan usapan lembut pada kepala Sastra.

“Kamu ngga boleh pergi,”

“Kamu juga, jangan jauh-jauh, ya?”

Mereka pun makin mengeratkan pelukannya dan tertidur sejenak.

Dua hari dari rencana yang dibuatnya—sekarang, Sastra akan menemui Nara. Tanpa sepengetahuannya, tentu saja.

Ia mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sembari menetralkan degup jantung, juga emosinya. Takut-takut jika nanti dirinya tidak dapat menahan diri untuk menangis ketika akhirnya—setelah sekian lama—kembali ke dalam dekapan Nara.

Selama sekitar 10 menit berkendara, Sastra akhirnya sampai pada tempat yang dituju, yaitu cafe Summer Vibe tempat Nara biasa kerja paruh waktu.

Tidak mungkin, kan, jika Sastra datang hanya untuk menanyakan tentang Nara? maka dari itu ia sekaligus memesan beberapa makanan dan minuman.

“Halo, kak. Mari saya bantu untuk pesanannya— eh, kakak yang waktu itu, ya?” Nampaknya staff toko tersebut masih mengenali Sastra yang datang tempo hari.

“Hehehe iya, mas. Masih inget aja.”

“Gampang buat ngenalinnya, kak, hahaha,”

Kemudian Sastra menyebutkan daftar pesanannya. Ia menunggu pesanannya di meja dekat kasir, jadi, sekarang ia menunggu sambil berbincang dengan staff yang dirasanya ramah tersebut.

“Oh, iya, mas. Saya boleh tanya sesuatu?”

“Boleh kak, kalo bisa saya jawab, ya, saya jawab.”

“Nara... ke mana, ya? soalnya setau saya dia sekarang shift siang. Terus juga sekarang bukan jam istirahat, kok saya ngga liat dia, ya?”

“Iya, kak. Waktu kakaknya dateng ke sini, kan siang, ya? dia pulang sore, sekalian pamit, izin gitu. Izin buat ngga masuk selama beberapa hari, karena lagi kurang fit. Katanya sih gitu.”

“Sakit, mas?”

“Iya, kak, mungkin. Soalnya beberapa hari sebelum dia izin ngga masuk juga kaya lesu banget, kecapean juga kayanya, terus sering bengong juga. Tapi saya salut sih, walaupun dia cape gitu, tapi kinerjanya masih bagus.”

“Astaga...”

“Pacarnya, ya, kak?”

“Eh.. iya, mas.”

“Oalah, pantesan, — Nah, ini dia pesanannya, udah jadi, kak.”

“Makasih banyak ya mas.” Kemudian Sastra langsung melenggang pergi tanpa pikir panjang— ia menuju apartemen Nara yang alamatnya sudah ia kantongi dari Dirga. Kalaupun tidak ada di sana, ia akan pergi ke rumah bunda-nya.


Ia memarkirkan mobilnya di halaman parkir secepat yang ia bisa, sesudahnya, ia berlari kecil menuju lift.

Sastra menekan bel berulang kali, namun nihil, tidak ada tanda-tanda pintu akan dibuka. Tanpa pikir panjang, ia pun kembali ke parkiran untuk mengendarai mobilnya lagi. Dengan harapan akan menemukan Nara di tempat lain—rumah bunda-nya.

Ternyata waktu yang ditempuh sedikit lebih lama, dikarenakan jaraknya yang lumayan jauh. Ditambah macet. Jadi, Sastra berkendara kurang lebih satu jam setengah.

Sesampainya di sana, Sastra mengamati sekitar. Dilihatnya mobil yang biasa Nara gunakan. Semoga dugaannya tidak salah.

'Tok Tok Tok'

Tidak butuh waktu lama, pintu pun terbuka. Memperlihatkan separuh wajah Nara yang terlihat pucat.

“Sastra?” Mata Nara terbelalak kaget karena melihat siapa yang datang.

Tangan Nara tergerak untuk menangkup pipi kiri Sastra, “— Kamu tau dari mana aku di sini?”

“Kamu sakit?”

“Ngga juga, kok. Sini masuk dulu,”

“— Ah, untung rumahnya udah aku beresin.” Kata Nara sambil melihat sekeliling.

“Ka, kamu ngga mau peluk aku?” Ucapan tidak terduga keluar dari mulut Sastra.

Mau, tentu Nara mau.

Sejak Sastra berdiri di ambang pintu, rasanya Nara ingin melebur ke pelukan Sastra saat itu juga. Tapi, Nara takut jika Sastra akan merespon sebaliknya.

Seakan tau apa alasan dibaliknya, Sastra menampiknya terlebih dahulu, “Aku ngga bakalan marah, Ka.”

Dirasa mendapat lampu hijau, Nara segera menarik tangan Sastra untuk membawanya ke dalam dekapan.

Hening pun menyelimuti masing-masing dari mereka yang sedang sibuk melepas rindu kepada satu sama lain.

“Aku kangen banget sama kamu, Sas. Kamu makan-nya ngga bolong-bolong, kan?”

“Ngga. Tapi aku rasa kamu yang bolong-bolong, entah itu makan atau istirahat.”

“Aku cuma kecapean aja, Sas. Bentar lagi juga enakan— emangnya kamu tau dari siapa?”

“Ada lah pokoknya, — kamu makan dulu, ya? aku suapin.”

“Sas, soal itu—”

“Makan dulu.” Nara pun memilih untuk patuh.


“Sas, ayo, diomongin. Kamu dateng ke sini pasti sekalian mau ngomong itu, kan?”

“Aku minta maaf, Ka—”

“Aku yang harusnya minta maaf sama kamu, Sastra..”

“— Aku terima semua keputusan kamu. Sekarang, coba diperjelas.”

“Aku ngga mau putus, Ka.” Jawaban yang diberikan Sastra tidak seperti yang Nara pikirkan.

“Ka, aku sadar kalo di sini bukan sepenuhnya salah kamu. Tapi aku juga salah. Maaf kalo aku nempatin kamu dalam posisi seakan-akan semua salah kamu.”

“Aku—”

“Aku masih bisa dapet kesempatan itu ngga, Ka?” tanya Sastra dengan nada lemah.

“Harusnya aku yang ngomong gitu, kan? apa aku bisa dapet kesempatan lagi?”

“Kamu selalu bisa dapet kesempatan dari aku, Ka...”

Sadar akan tatapan keduanya yang saling meminta untuk didekap, maka mereka kikis jarak yang ada untuk kembali berpelukan. Kali ini, disertai tangisan.

Keduanya menangis, namun, tangisan Sastra-lah yang lebih mendominasi.

Sedangkan Nara hanya menitikkan air matanya beberapa kali sambil merapalkan terima kasih secara berulang kali dalam hatinya. Ia merasa beruntung karena memiliki Sastra di sampingnya.

Sastra yang tidak memiliki kurang sedikitpun di matanya.

Menurut Nara, Sastra merupakan seseorang yang memiliki perasaan yang terlewat lembut. Mata Sastra selalu dapat menjelaskan seberapa dalam perasaannya pada Nara. Untuk itu Nara bersyukur.

tw // major character death cw // angst, hallucination, delusional


Seperti permintaan, Hyunjin akhirnya datang ke apartemen Seungmin dengan berat hati.

Cklek

Terlihat bahwa pintu apartemen tersebut sengaja tidak dikunci oleh sang pemilik. Seakan tahu bahwa akan ada tamu yang datang.

Hal yang pertama kali Hyunjin sadari adalah wangi. Saat ia membuka pintu, tercium wangi khas dari sang kekasih yang biasanya tidak bosan untuk ia hirup sekalipun pemiliknya berulang kali protes karena rasa menggelitik yang dibuat oleh yang lebih tua.

Hal kedua adalah foto. Terpampang jelas foto keduanya pada bingkai berwarna putih tulang yang berukuran 40 kali 60 ketika Hyunjin memasuki ruangan.

Hal ketiga adalah Seungmin. Ia melihat Seungmin yang menghadap ke arahnya dengan tatapan resah dan bersalah.

Hyunjin putuskan untuk mendekat— untuk memastikan, sekaligus berbicara.

“A-apa kabar, kak?”

“Kamu pasti selalu tau jawabannya.”

“Maaf..”

“Kamu sendiri gimana? selama dua bulan kamu ngga ketemu atau bahkan kasih kabar.”

“Baik, mungkin?”

“Kenapa ngga yakin gitu?”

“Kamu pasti sedih,”

“Iya.”

“Sekarang kamu tau jawabannya.”

“Kamu sedih juga?”

Yang lebih muda pun mengangguk lemah.

“Kalo sedih, kenapa kamu tiba-tiba minta putus?”

“Aku takut kamu makin sedih.”

“You did it.”

“Jangan sedih terus, kak. Kamu bisa cari yang lain, banyak di luar sana yang lebih baik daripada aku, kan?”

“Yang lebih baik itu banyak. Tapi yang kaya kamu itu ngga ada, Seung.”

“Felix...”

“Aku cuma mau kamu.”

“Ngga bisa, kak.”

“Kamu rencananya mau ke mana habis ini?” Tanya Hyunjin mengalihkan.

“Balik lagi, kak. Ngga boleh lama-lama soalnya.”

“Aku... boleh ikut ngga, sih?”

“Jangan, nanti ada yang marah. Kamu di sini aja.”

“Siapa yang marah? Jeongin, ya?”

“Iya, Jeongin bakalan marah sama kamu kalo kamu begini.”

“Terus sekarang aku harus apa?”

“Damai, kak. Terima semuanya.”

“Terlalu banyak pertanyaan yang ngumpul di otak aku.”

“Oh... maaf kalo ninggalin banyak pertanyaan. Kamu pasti pusing, ya, mikirnya? — umm.. coba kamu ambil surat di atas meja, samping kasur aku, di dalam kamar.”

Hyunjin menuruti perintah Seungmin. Ia mulai berjalan ke arah nakas—mengambil surat—lalu duduk di pinggiran ranjang.

'Kak Hyunjin!'

Tercetak jelas bagaimana gambaran nada, juga raut wajah Seungmin yang biasa memanggilnya dengan sangat bersemangat.

'Kamu masih sibuk kerja? kalo jawabannya iya, maaf soalnya udah maksa kamu buat dateng ke sini cuma buat baca surat ini.'

'Pertama. Kak, aku sama sekali ngga masalah kamu mau kerja di mana, sama siapa, dan gajinya berapa. Aku juga ngga masalah kalo kamu ngga punya banyak waktu buat aku, aku paham itu. Tapi, tolong, seengganya kamu sisihin sedikit aja waktu yang kamu punya buat diri kamu. Istirahat, makan yang teratur, jangan begadang terus. Aku takut kamu bakalan sakit kalo aku ngga bisa ngingetin kamu lagi. Walaupun aku tau kalo temen kamu itu baik-baik semua dan pasti bakalan ngingetin kamu ini itu.'

“Maaf, Seung. Harusnya aku punya lebih banyak waktu buat kamu.”

'Selain itu, maaf juga karena udah bohong. Tolong jangan marah sama Jeongin, karena Jeongin pun awalnya ngga setuju, tapi aku maksa dia, hahahah tolong bilangin ke Jeongin kalo aku minta maaf dan terima kasih udah minjemin namanya buat hal yang ngga baik.'

'Aku minta maaf, karena udah bohong ke kamu tentang perasaan aku. Kak Hyunjin, perlu kamu tau, kalo aku ngga pernah bisa bosen sama kamu. Aku ngga pernah ngga cinta sama kamu. Aku ngga pernah kepikiran buat putus, pisah, ataupun pergi dari kamu. Semuanya bohong.

Aku bohong.'

“Aku tau, pasti berat, ya, bilangnya?”

'Kak, jujur aku bingung, sebenarnya semesta baik atau jahat, ya, sama aku? Aku bersyukur karena semesta udah ambil semua rasa sakit yang ada di tubuh aku. Tapi aku ngga suka, aku sedih pas tau kalo ternyata sebagai gantinya aku harus tinggalin kamu. Kalo begini, berarti aku egois, ya?'

“Iya, kamu manusia paling egois.”

'Jangan nangis, kak. Aku bakalan jaga diri aku, kok. Inget! aku bisa ngawasin kakak dari atas, loh!'

“Kenapa harus bohong?”

'Jujur aku ngga tau mau pakai alasan apa lagi biar kamu mau ngelepas aku. Aku cuma ngga mau kamu bergantung sama aku, bahkan pas aku udah ngga ada. Aku mau kamu terbiasa tanpa aku, kak. Maaf kalau caranya salah.'

“Kenapa kamu ngga jujur tentang penyakit kamu?”

'Aku ngga berani jujur, kak. Aku ngga mau kamu sedih juga. Walaupun kata kak abin nanti kamu bakalan lebih sedih—tapi waktu itu aku ngga percaya. Emang iya? kalo sekarang kamu lebih sedih?

“Lebih. Lebih dari sedih.”

'Kalo iya, maaf. Sekali lagi aku minta maaf karena udah egois. Kamu tau kan kalo aku ngga pinter bikin rencana dan sebagainya? hahaha kamu pasti inget kalo aku kadang lupa kalo mau jalan sama kamu, atau... aku ngajak jalan kamu di tanggal yang kamu ngga bisa, padahal kamu udah pernah bilang.

Itu... bawaan sakitnya, kak. Aku ngga tau juga gimana caranya biar aku ngga lupa terus. Aku udah cari alternatif dengan cara catat semua yang kamu omongin ke aku, tapi habis itu, aku yang lupa di mana taruh kertasnya. Emang dasar ngga becus hahahaha.'

“Kamu lucu, aku kangen liat kamu kaget pas tau kalo ternyata hari itu kamu ada janji buat jalan sama aku. Habis itu, kamu loncat dari kasur buat cepet cepet mandi.”

'Kak, kamu pasti marah banget, ya?'

“Banget.”

'Hehehe ketebak! Sebenarnya, sebulan setelah itu, aku berusaha buat hubungin kamu lagi. Tapi, kamu blokir aku di semua sosial media, jadi yaudah. Aku juga bingung mau sedih atau lega. Aku sedih karena untuk pertama kalinya kamu marah besar sama aku, tapi aku lega karena aku pikir kamu udah terbiasa tanpa aku.'

“Ngga akan. Gimana caranya aku terbiasa tanpa kamu?”

'Kamu kan hebat. Kamu keren! kamu pacar aku yang paling pengertian, yang selalu dahuluin apa mau aku, selalu ngalah, ngga pernah kasar. Kamu tuh lebih dari sekedar hebat, kak! jadi, kamu pasti bisa lanjutin hidup kamu tanpa aku.'

“Aku bisa sehebat dan sekeren itu karena kamu ada di samping aku. Kalo sekarang, aku udah ngga hebat, udah ngga keren karena udah ngga ada kamu di samping aku.”

'Kamu itu tetep keren. Dengan, atau tanpa aku.'

'Kak, hidup sebaik mungkin, ya? demi aku. Maaf aku pergi duluan, maaf udah bohong, maaf ngga bisa temenin kamu dalam waktu yang lama, tapi aku janji, aku selalu jagain kamu dari sini.

Maaf kalo perginya aku bikin kamu sedih,

kak, i love you..

Aku sayang banget sama kamu, jadi, kamu harus sayang sama diri kamu juga, ya?

Aku pamit.

Semoga kita nanti ketemu lagi.'

Seiring surat tersebut habis dibaca, semakin keras pula tangisannya.

Dadanya sakit bukan main.

Sesak.

Ia merasa bodoh karena tidak tahu apapun tentang keadaan separuh jiwanya.

Merasa bodoh karena meng-iya-kan ajakan pisah dari cintanya. Ia pikir, setidaknya (harusnya) ia bisa menemani sisa hidup Seungmin walau sebentar.

Kalimat terakhir,

'Oh, ya! satu lagi. Tolong, jangan salahin diri kamu atas apa yang terjadi.'

Tidak, tidak.

Hyunjin tidak sekuat itu untuk menerima kenyataan.

Ia pun bukannya baru menerima kabar tersebut, melainkan kabar tersebut sudah beredar di telinganya sejak satu bulan yang lalu.

Maafkan Hyunjin yang baru berani mendatangi apartemen Seungmin sekarang. Ia hanya belum siap.

Tak lama, suara pintu terbuka,

“Hyunjin, udah?” Tanya Changbin.

“Kalo udah, ayo, sekarang gantian. Kita ke makamnya.”

Hyunjin meremat kertas tersebut sambil pula meremat dadanya yang kepalang sesak.

“Bin..”

“Ikhlas, Hyun. Seungmin mau lu ikhlas.”

Dengan begitu, perjalanan baru bagi Hyunjin pun dimulai,

bukan untuk melupakan,

juga bukan untuk untuk berlarut-larut dalam kesedihan,

melainkan ikhlas.

— fin.

tw // major character death cw // angst, hallucination, delusional


Seperti permintaan, Hyunjin akhirnya datang ke apartemen Seungmin dengan berat hati.

Cklek

Terlihat bahwa pintu apartemen tersebut sengaja tidak dikunci oleh sang pemilik. Seakan tahu bahwa akan ada tamu yang datang.

Hal yang pertama kali Hyunjin sadari adalah wangi. Saat ia membuka pintu, tercium wangi khas dari sang kekasih yang biasanya tidak bosan untuk ia hirup sekalipun pemiliknya berulang kali protes karena rasa menggelitik yang dibuat oleh yang lebih tua.

Hal kedua adalah foto. Terpampang jelas foto keduanya pada bingkai berwarna putih tulang yang berukuran 40 kali 60 ketika Hyunjin memasuki ruangan.

Hal ketiga adalah Seungmin. Ia melihat Seungmin yang menghadap ke arahnya dengan tatapan resah dan bersalah.

Hyunjin putuskan untuk mendekat— untuk memastikan, sekaligus berbicara.

“A-apa kabar, kak?”

“Kamu pasti selalu tau jawabannya.”

“Maaf..”

“Kamu sendiri gimana? selama dua bulan kamu ngga ketemu atau bahkan kasih kabar.”

“Baik, mungkin?”

“Kenapa ngga yakin gitu?”

“Kamu pasti sedih,”

“Iya.”

“Sekarang kamu tau jawabannya.”

“Kamu sedih juga?”

Yang lebih muda pun mengangguk lemah.

“Kalo sedih, kenapa kamu tiba-tiba minta putus?”

“Aku takut kamu makin sedih”

“You did it.”

“Jangan sedih terus, kak. Kamu bisa cari yang lain, banyak di luar sana yang lebih baik daripada aku, kan?”

“Yang lebih baik itu banyak. Tapi yang kaya kamu itu ngga ada, Seung.”

“Felix...”

“Aku cuma mau kamu.”

“Ngga bisa, kak.”

“Kamu rencananya mau ke mana habis ini?” Tanya Hyunjin mengalihkan.

“Balik lagi, kak. Ngga boleh lama-lama soalnya.”

“Aku... boleh ikut ngga, sih?”

“Jangan, nanti ada yang marah. Kamu di sini aja.”

“Siapa yang marah? Jeongin, ya?”

“Iya, Jeongin bakalan marah sama kamu kalo kamu begini.”

“Terus sekarang aku harus apa?”

“Damai, kak. Terima semuanya.”

“Terlalu banyak pertanyaan yang ngumpul di otak aku.”

“Oh... maaf kalo ninggalin banyak pertanyaan. Kamu pasti pusing, ya, mikirnya? — umm.. coba kamu ambil surat di atas meja, samping kasur aku, di dalam kamar.”

Hyunjin menuruti perintah Seungmin. Ia mulai berjalan ke arah nakas—mengambil surat—lalu duduk di pinggiran ranjang.

'Kak Hyunjin!'

Tercetak jelas bagaimana gambaran nada, juga raut wajah Seungmin yang biasa memanggilnya dengan sangat bersemangat.

'Kamu masih sibuk kerja? kalo jawabannya iya, maaf soalnya udah maksa kamu buat dateng ke sini cuma buat baca surat ini.'

'Kak, aku sama sekali ngga masalah kamu mau kerja di mana, sama siapa, dan gajinya berapa. Aku juga ngga masalah kalo kamu ngga punya banyak waktu buat aku, aku paham itu. Tapi, tolong, seengganya kamu sisihin sedikit aja waktu yang kamu punya buat diri kamu. Istirahat, makan yang teratur, jangan begadang terus. Aku takut kamu bakalan sakit kalo aku ngga bisa ngingetin kamu lagi. Walaupun aku tau kalo temen kamu itu baik-baik semua dan pasti bakalan ngingetin kamu ini itu.'

“Maaf, Seung. Harusnya aku punya lebih banyak waktu buat kamu.”

'Selain itu, maaf juga karena udah bohong. Tolong jangan marah sama Jeongin, karena Jeongin pun awalnya ngga setuju, tapi aku maksa dia, hahahah tolong bilangin ke Jeongin kalo aku minta maaf dan terima kasih udah minjemin namanya buat hal yang ngga baik.'

'Aku minta maaf, karena udah bohong ke kamu tentang perasaan aku. Kak Hyunjin, perlu kamu tau, kalo aku ngga pernah bisa bosen sama kamu. Aku ngga pernah ngga cinta sama kamu. Aku ngga pernah kepikiran buat putus, pisah, ataupun pergi dari kamu. Semuanya bohong.

Aku bohong.'

“Aku tau, pasti berat, ya, bilangnya?”

'Kak, jujur aku bingung, sebenarnya semesta baik atau jahat, ya, sama aku? Aku bersyukur karena semesta udah ambil semua rasa sakit yang ada di tubuh aku. Tapi aku ngga suka, aku sedih pas tau kalo ternyata sebagai gantinya aku harus tinggalin kamu. Kalo begini, berarti aku egois, ya?'

“Iya, kamu manusia paling egois.”

'Jangan nangis, kak. Aku bakalan jaga diri aku, kok. Inget! aku bisa ngawasin kakak dari atas, loh!'

“Kenapa harus bohong?”

'Jujur aku ngga tau mau pakai alasan apa lagi biar kamu mau ngelepas aku. Aku cuma ngga mau kamu bergantung sama aku, bahkan pas aku udah ngga ada. Aku mau kamu terbiasa tanpa aku, kak. Maaf kalau caranya salah.'

“Kenapa kamu ngga jujur tentang penyakit kamu?”

'Aku ngga berani jujur, kak. Aku ngga mau kanu sedih juga. Walaupun kata kak abin nanti kamu bakalan lebih sedih—tapi waktu itu aku ngga percaya. Emang iya? kalo sekarang kamu lebih sedih?

“Lebih dari sedih.”

Kalo iya, maaf. Sekali lagi aku minta maaf karena udah egois. Kamu tau kan kalo aku ngga pinter bikin rencana dan sebagainya? hahaha kamu pasti inget kalo aku kadang lupa kalo mau jalan sama kamu, atau... aku ngajak jalan kamu di tanggal yang kamu ngga bisa, padahal kamu udah pernah bilang.

Itu... bawaan sakitnya, kak. Aku ngga tau juga gimana caranya biar aku ngga lupa terus. Aku udah cari alternatif dengan cara catat semua yang kamu omongin ke aku, tapi habis itu, aku yang lupa di mana taruh kertasnya. Emang dasar ngga becus hahahaha.'

“Kamu lucu, aku kangen liat kamu kaget pas tau kalo ternyata hari itu kamu ada janji buat jalan sama aku. Habis itu, kamu loncat dari kasur buat cepet cepet mandi.”

'Kak, kamu pasti marah banget, ya?'

“Banget.”

'Hehehe ketebak! Sebenarnya, sebulan setelah itu, aku berusaha buat hubungin kamu lagi. Tapi, kamu blokir aku di semua sosial media, jadi yaudah. Aku juga bingung mau sedih atau lega. Aku sedih karena untuk pertama kalinya kamu marah besar sama aku, tapi aku lega karena aku pikir kamu udah terbiasa tanpa aku.'

“Ngga akan. Gimana caranya aku terbiasa tanpa kamu?”

'Kamu kan hebat. Kamu keren! kamu pacar aku yang paling pengertian, yang selalu dahuluin apa mau aku, selalu ngalah, ngga pernah kasar. Kamu tuh lebih dari sekedar hebat, kak! jadi, kamu pasti bisa lanjutin hidup kamu tanpa aku.'

“Aku bisa sehebat dan sekeren itu karena kamu ada di samping aku. Kalo sekarang, aku udah ngga hebat, udah ngga keren karena udah ngga ada kamu di samping aku.”

'Kamu itu tetep keren. Dengan, atau tanpa aku.'

'Kak, hidup sebaik mungkin, ya? demi aku. Maaf aku pergi duluan, maaf udah bohong, maaf ngga bisa temenin kamu dalam waktu yang lama, tapi aku janji, aku selalu jagain kamu dari sini.

Maaf kalo perginya aku bikin kamu sedih,

**kak, i love you.. **

Aku sayang banget sama kamu, jadi, kamu harus sayang sama diri kamu juga, ya?

Aku pamit.

Semoga kita nanti ketemu lagi.'

Seiring surat tersebut habis dibaca, semakin keras pula tangisannya.

Dadanya sakit bukan main.

Sesak.

Ia merasa bodoh karena tidak tahu apapun tentang keadaan separuh jiwanya.

Merasa bodoh karena meng-iya-kan ajakan pisah dari cintanya. Ia pikir, setidaknya (harusnya) ia bisa menemani sisa hidup Seungmin walau sebentar.

Kalimat terakhir,

'Oh, ya! satu lagi. Tolong, jangan salahin diri kamu atas apa yang terjadi.'

Tidak, tidak.

Hyunjin tidak sekuat itu untuk menerima kenyataan.

Ia pun bukannya baru menerima kabar tersebut, melainkan kabar tersebut sudah beredar di telinganya sejak satu bulan yang lalu.

Maafkan Hyunjin yang baru berani mendatangi apartemen Seungmin sekarang. Ia hanya belum siap.

Tak lama, suara pintu terbuka,

“Hyunjin, udah?” Tanya Changbin.

“Kalo udah, ayo, sekarang gantian. Kita ke makamnya.”

Hyunjin meremat kertas tersebut sambil pula meremat dadanya yang kepalang sesak.

“Bin..”

“Ikhlas, Hyun. Seungmin mau lu ikhlas.”

Dengan begitu, perjalanan baru bagi Hyunjin pun dimulai,

bukan untuk melupakan,

juga bukan untuk untuk berlarut-larut dalam kesedihan,

melainkan ikhlas.

— fin.

tw // major character death cw // angst, hallucination, delusional


Seperti permintaan, Hyunjin akhirnya datang ke apartemen Seungmin dengan berat hati.

Cklek

Terlihat bahwa pintu apartemen tersebut sengaja tidak dikunci oleh sang pemilik. Seakan tahu bahwa akan ada tamu yang datang.

Hal yang pertama kali Hyunjin sadari adalah wangi. Saat ia membuka pintu, tercium wangi khas dari sang kekasih yang biasanya tidak bosan untuk ia hirup sekalipun pemiliknya berulang kali protes karena rasa menggelitik yang dibuat oleh yang lebih tua.

Hal kedua adalah foto. Terpampang jelas foto keduanya pada bingkai berwarna putih tulang yang berukuran 40 kali 60 ketika Hyunjin memasuki ruangan.

Hal ketiga adalah Seungmin. Ia melihat Seungmin yang menghadap ke arahnya dengan tatapan resah dan bersalah.

Hyunjin putuskan untuk mendekat— untuk memastikan, sekaligus berbicara.

“A-apa kabar, kak?”

“Kamu pasti selalu tau jawabannya.”

“Maaf..”

“Kamu sendiri gimana? selama dua bulan kamu ngga ketemu atau bahkan kasih kabar.”

“Baik, mungkin?”

“Kenapa ngga yakin gitu?”

“Kamu pasti sedih,”

“Iya.”

“Sekarang kamu tau jawabannya.”

“Kamu sedih juga?”

Yang lebih muda pun mengangguk lemah.

“Kalo sedih, kenapa kamu tiba-tiba minta putus?”

“Aku takut kamu makin sedih”

“U did it.”

“Jangan sedih terus, kak. Kamu bisa cari yang lain, banyak di luar sana yang lebih baik daripada aku, kan?”

“Yang lebih baik itu banyak. Tapi yang kaya kamu itu ngga ada, Seung.”

“Felix...”

“Aku cuma mau kamu.”

“Ngga bisa, kak.”

“Kamu rencananya mau ke mana habis ini?” Tanya Hyunjin mengalihkan.

“Balik lagi, kak. Ngga boleh lama-lama soalnya.”

“Aku... boleh ikut ngga, sih?”

“Jangan, nanti ada yang marah. Kamu di sini aja.”

“Siapa yang marah? Jeongin, ya?”

“Iya, Jeongin bakalan marah sama kamu kalo kamu begini.”

“Terus sekarang aku harus apa?”

“Damai, kak. Terima semuanya.”

“Terlalu banyak pertanyaan yang ngumpul di otak aku.”

“Oh... maaf kalo ninggalin banyak pertanyaan. Kamu pasti pusing, ya, mikirnya? — umm.. coba kamu ambil surat di atas meja, samping kasur aku, di dalam kamar.”

Hyunjin menuruti perintah Seungmin. Ia mulai berjalan ke arah nakas—mengambil surat—lalu duduk di pinggiran ranjang.

'Kak Hyunjin!'

Tercetak jelas bagaimana gambaran nada, juga raut wajah Seungmin yang biasa memanggilnya dengan sangat bersemangat.

'Kamu masih sibuk kerja? kalo jawabannya iya, maaf soalnya udah maksa kamu buat dateng ke sini cuma buat baca surat ini.'

'Kak, aku sama sekali ngga masalah kamu mau kerja di mana, sama siapa, dan gajinya berapa. Aku juga ngga masalah kalo kamu ngga punya banyak waktu buat aku, aku paham itu. Tapi, tolong, seengganya kamu sisihin sedikit aja waktu yang kamu punya buat diri kamu. Istirahat, makan yang teratur, jangan begadang terus. Aku takut kamu bakalan sakit kalo aku ngga bisa ngingetin kamu lagi. Walaupun aku tau kalo temen kamu itu baik-baik semua dan pasti bakalan ngingetin kamu ini itu.'

'Selain itu, maaf juga karena udah bohong. Tolong jangan marah sama Jeongin, karena Jeongin pun awalnya ngga setuju, tapi aku maksa dia, hahahah tolong bilangin ke Jeongin kalo aku minta maaf dan terima kasih udah minjemin namanya buat hal yang ngga baik.'

'Aku minta maaf, karena udah bohong ke kamu tentang perasaan aku. Kak Hyunjin, perlu kamu tau, kalo aku ngga pernah bisa bosen sama kamu. Aku ngga pernah ngga cinta sama kamu. Aku ngga pernah kepikiran buat putus, pisah, ataupun pergi dari kamu. Semuanya bohong.

Aku, bohong.'

'Kak, jujur aku bingung, sebenarnya semesta baik atau jahat, ya, sama aku? Aku bersyukur karena semesta udah ambil semua rasa sakit yang ada di tubuh aku. Tapi aku ngga suka, aku sedih pas tau kalo ternyata sebagai gantinya aku harus tinggalin kamu. Kalo begini, berarti aku egois, ya?'

“Iya, kamu manusia paling egois.”

'Jangan nangis, kak. Aku bakalan jaga diri aku. Inget! aku bisa ngawasin kakak dari atas, loh!'

“Kenapa harus bohong?”

'Jujur aku ngga tau mau pakai alasan apa lagi biar kamu mau ngelepas aku. Aku cuma ngga mau kamu bergantung sama aku, bahkan pas aku udah ngga ada. Aku mau kamu terbiasa tanpa aku, kak. Maaf kalau caranya salah.'

“Kenapa kamu ngga jujur tentang penyakit kamu?”

'Aku ngga berani jujur, kak. Aku ngga mau kanu sedih juga. Walaupun kata kak abin nanti kamu bakalan lebih sedih—tapi waktu itu aku ngga percaya. Emang iya? kalo sekarang kamu lebih sedih?

Kalo iya, maaf. Sekali lagi aku minta maaf karena udah egois. Kamu tau kan kalo aku ngga pinter buat prediksi rencana, bikin rencana dan sebagainya? hahaha kamu pasti inget kalo aku kadang lupa kalo mau jalan sama kamu, atau... aku ngajak jalan kamu di tanggal yang kamu ngga bisa, padahal kamu udah pernah bilang.*

Itu... bawaan sakitnya, kak. Aku ngga tau juga gimana caranya biar aku ngga lupa terus. Aku udah cari alternatif dengan cara catat semua yang kamu omongin ke aku, tapi habis itu, aku yang lupa di mana taruh kertasnya. Emang dasar ngga becus hahahaha.'

'Kak, kamu pasti marah banget, ya?'

“Banget.”

'Hehehe ketebak! Sebenarnya, sebulan setelah itu, aku berusaha buat hubungin kamu lagi. Tapi, kamu blokir aku di semua sosial media, jadi yaudah. Aku juga bingung mau sedih atau lega. Aku sedih karena untuk pertama kalinya kamu marah besar sama aku, tapi aku lega karena aku pikir kamu udah terbiasa tanpa aku.'

“Ngga akan. Gimana caranya aku bisa tanpa kamu?”

'Kamu kan hebat. Kamu keren! kamu pacar yang aku paling pengertian, yang selalu dahuluin apa mau aku, selalu ngalah, ngga pernah kasar. Kamu tuh lebih dari sekedar hebat, kak! jadi, kamu pasti bisa lanjutin hidup kamu tanpa aku.'

“Aku bisa sehebat dan sekeren itu karena kamu ada di samping aku. Kalo sekarang, aku udah ngga hebat, udah ngga keren karena udah ngga ada kamu di samping aku.”

'Kamu itu tetep keren, selamat dengan, atau tanpa aku.'

'Kak, hidup sebaik mungkin, ya? demi aku. Maaf aku pergi duluan, maaf udah bohong, maaf ngga bisa temenin kamu dalam waktu yang lama, tapi aku janji, aku selalu jagain kamu dari sini.

Maaf kalo perginya aku bikin kamu sedih,

*kak, i love you.. *

Aku sayang banget sama kamu, jadi, kamu harus sayang sama diri kamu juga, ya?

Aku pamit.

Semoga kita nanti ketemu lagi.'

Seiring surat tersebut habis dibaca, semakin keras tangisannya.

Dadanya sakit bukan main.

Sakit.

Ia merasa bodoh karena tidak tahu apapun tentang keadaan separuh jiwanya.

Merasa bodoh karena meng-iya-kan ajakan pisah dari cintanya. Ia pikir, setidaknya (harusnya) ia bisa menemani sisa hidup Seungmin walau sebentar.

Kalimat terakhir,

'Oh, ya! satu lagi. Tolong, jangan salahin diri kamu atas apa yang terjadi.'

Tidak, tidak.

Hyunjin tidak sekuat itu untuk menerima kenyataan.

Ia pun bukannya baru menerima kabar tersebut, melainkan kabar tersebut sudah beredar di telinganya sejak satu bulan yang lalu.

Maafkan Hyunjin yang baru berani mendatangi apartemen Seungmin sekarang. Ia hanya belum siap.

Tak lama, suara pintu utama terbuka,

“Hyunjin, udah?” Tanya Changbin.

“Kalo udah, ayo, sekarang gantian kita ke makamnya.”

Hyunjin meremat kertas tersebut sambil pula meremat dadanya yang kepalang sesak.

“Bin..”

“Ikhlas, Hyun. Seungmin mau lu ikhlas.”

Dengan begitu, perjalanan baru bagi Hyunjin pun dimulai,

bukan untuk melupakan,

juga bukan untuk untuk berlarut-larut dalam kesedihan,

melainkan ikhlas.

— fin.

tw // major character death cw // angst, hallucination, delusional


Seperti permintaan, Hyunjin akhirnya datang ke apartemen Seungmin dengan berat hati.

Cklek

Terlihat bahwa pintu apartemen tersebut sengaja tidak dikunci oleh sang pemilik. Seakan tahu bahwa akan ada tamu yang datang.

Hal yang pertama kali Hyunjin sadari adalah wangi. Saat ia membuka pintu, tercium wangi khas dari sang kekasih yang biasanya tidak bosan untuk ia hirup sekalipun pemiliknya berulang kali protes karena rasa menggelitik yang dibuat oleh yang lebih tua.

Hal kedua adalah foto. Terpampang jelas foto keduanya pada bingkai berwarna putih tulang yang berukuran 40 kali 60 ketika Hyunjin memasuki ruangan.

Hal ketiga adalah Seungmin. Ia melihat Seungmin yang menghadap ke arahnya dengan tatapan resah dan bersalah.

Hyunjin putuskan untuk mendekat— untuk memastikan, sekaligus berbicara.

“A-apa kabar, kak?”

“Kamu pasti selalu tau jawabannya.”

“Maaf..”

“Kamu sendiri gimana? selama dua bulan kamu ngga ketemu atau bahkan kasih kabar.”

“Baik, mungkin?”

“Kenapa ngga yakin gitu?”

“Kamu pasti sedih,”

“Iya.”

“Sekarang kamu tau jawabannya.”

“Kamu sedih juga?”

Yang lebih muda pun mengangguk lemah.

“Kalo sedih, kenapa kamu tiba-tiba minta putus?”

“Aku takut kamu makin sedih”

“U did it.”

“Jangan sedih terus, kak. Kamu bisa cari yang lain, banyak di luar sana yang lebih baik daripada aku, kan?”

“Yang lebih baik itu banyak. Tapi yang kaya kamu itu ngga ada, Seung.”

“Felix...”

“Aku cuma mau kamu.”

“Ngga bisa, kak.”

“Kamu rencananya mau ke mana habis ini?” Tanya Hyunjin mengalihkan.

“Balik lagi, kak. Ngga boleh lama-lama soalnya.”

“Aku... boleh ikut ngga, sih?”

“Jangan, nanti ada yang marah. Kamu di sini aja.”

“Siapa yang marah? Jeongin, ya?”

“Iya, Jeongin bakalan marah sama kamu kalo kamu begini.”

“Terus sekarang aku harus apa?”

“Damai, kak. Terima semuanya.”

“Terlalu banyak pertanyaan yang ngumpul di otak aku.”

“Oh... maaf kalo ninggalin banyak pertanyaan. Kamu pasti pusing, ya, mikirnya? — umm.. coba kamu ambil surat di atas meja, samping kasur aku, di dalam kamar.”

Hyunjin menuruti perintah Seungmin. Ia mulai berjalan ke arah nakas—mengambil surat—lalu duduk di pinggiran ranjang.

'Kak, Hyunjin!'

Tercetak jelas bagaimana gambaran nada, juga raut wajah Seungmin yang biasa memanggilnya dengan sangat bersemangat.

'Kamu masih sibuk kerja? kalo jawabannya iya, maaf soalnya udah maksa kamu buat dateng ke sini cuma buat baca surat ini.'

'Kak, aku sama sekali ngga masalah kamu mau kerja di mana, sama siapa, dan gajinya berapa. Aku juga ngga masalah kalo kamu ngga punya banyak waktu buat aku, aku paham itu. Tapi, tolong, seengganya kamu sisihin sedikit aja waktu yang kamu punya buat diri kamu. Istirahat, makan yang teratur, jangan begadang terus. Aku takut kamu bakalan sakit kalo aku ngga bisa ngingetin kamu lagi. Walaupun aku tau kalo temen kamu itu baik-baik semua dan pasti bakalan ngingetin kamu ini itu.'

'Selain itu, maaf juga karena udah bohong. Tolong jangan marah sama Jeongin, karena Jeongin pun awalnya ngga setuju, tapi aku maksa dia, hahahah tolong bilangin ke Jeongin kalo aku minta maaf dan terima kasih udah minjemin namanya buat hal yang ngga baik.'

'Aku minta maaf, karena udah bohong ke kamu tentang perasaan aku. Kak Hyunjin, perlu kamu tau, kalo aku ngga pernah bisa bosen sama kamu. Aku ngga pernah ngga cinta sama kamu. Aku ngga pernah kepikiran buat putus, pisah, ataupun pergi dari kamu. Semuanya bohong.

Aku, bohong.'

'Kak, jujur aku bingung, sebenarnya semesta baik atau jahat, ya, sama aku? Aku bersyukur karena semesta udah ambil semua rasa sakit yang ada di tubuh aku. Tapi aku ngga suka, aku sedih pas tau kalo ternyata sebagai gantinya aku harus tinggalin kamu. Kalo begini, berarti aku egois, ya?'

“Iya, kamu manusia paling egois.”

'Jangan nangis, kak. Aku bakalan jaga diri aku. Inget! aku bisa ngawasin kakak dari atas, loh!'

“Kenapa harus bohong?”

'Jujur aku ngga tau mau pakai alasan apa lagi biar kamu mau ngelepas aku. Aku cuma ngga mau kamu bergantung sama aku, bahkan pas aku udah ngga ada. Aku mau kamu terbiasa tanpa aku, kak. Maaf kalau caranya salah.'

“Kenapa kamu ngga jujur tentang penyakit kamu?”

'Aku ngga berani jujur, kak. Aku ngga mau kanu sedih juga. Walaupun kata kak abin nanti kamu bakalan lebih sedih—tapi waktu itu aku ngga percaya. Emang iya? kalo sekarang kamu lebih sedih?

Kalo iya, maaf. Sekali lagi aku minta maaf karena udah egois. Kamu tau kan kalo aku ngga pinter buat prediksi rencana, bikin rencana dan sebagainya? hahaha kamu pasti inget kalo aku kadang lupa kalo mau jalan sama kamu, atau... aku ngajak jalan kamu di tanggal yang kamu ngga bisa, padahal kamu udah pernah bilang.*

Itu... bawaan sakitnya, kak. Aku ngga tau juga gimana caranya biar aku ngga lupa terus. Aku udah cari alternatif dengan cara catat semua yang kamu omongin ke aku, tapi habis itu, aku yang lupa di mana taruh kertasnya. Emang dasar ngga becus hahahaha.'

'Kak, kamu pasti marah banget, ya?'

“Banget.”

'Hehehe ketebak! Sebenarnya, sebulan setelah itu, aku berusaha buat hubungin kamu lagi. Tapi, kamu blokir aku di semua sosial media, jadi yaudah. Aku juga bingung mau sedih atau lega. Aku sedih karena untuk pertama kalinya kamu marah besar sama aku, tapi aku lega karena aku pikir kamu udah terbiasa tanpa aku.'

“Ngga akan. Gimana caranya aku bisa tanpa kamu?”

'Kamu kan hebat. Kamu keren! kamu pacar yang aku paling pengertian, yang selalu dahuluin apa mau aku, selalu ngalah, ngga pernah kasar. Kamu tuh lebih dari sekedar hebat, kak! jadi, kamu pasti bisa lanjutin hidup kamu tanpa aku.'

“Aku bisa sehebat dan sekeren itu karena kamu ada di samping aku. Kalo sekarang, aku udah ngga hebat, udah ngga keren karena udah ngga ada kamu di samping aku.”

'Kamu itu tetep keren, selamat dengan, atau tanpa aku.'

'Kak, hidup sebaik mungkin, ya? demi aku. Maaf aku pergi duluan, maaf udah bohong, maaf ngga bisa temenin kamu dalam waktu yang lama, tapi aku janji, aku selalu jagain kamu dari sini.

Maaf kalo perginya aku bikin kamu sedih,

*kak, i love you.. *

Aku sayang banget sama kamu, jadi, kamu harus sayang sama diri kamu juga, ya?

Aku pamit.

Semoga kita nanti ketemu lagi.'

Seiring surat tersebut habis dibaca, semakin keras tangisannya.

Dadanya sakit bukan main.

Sakit.

Ia merasa bodoh karena tidak tahu apapun tentang keadaan separuh jiwanya.

Merasa bodoh karena meng-iya-kan ajakan pisah dari cintanya. Ia pikir, setidaknya (harusnya) ia bisa menemani sisa hidup Seungmin walau sebentar.

Kalimat terakhir,

'Oh, ya! satu lagi. Tolong, jangan salahin diri kamu atas apa yang terjadi.'

Tidak, tidak.

Hyunjin tidak sekuat itu untuk menerima kenyataan.

Ia pun bukannya baru menerima kabar tersebut, melainkan kabar tersebut sudah beredar di telinganya sejak satu bulan yang lalu.

Maafkan Hyunjin yang baru berani mendatangi apartemen Seungmin sekarang. Ia hanya belum siap.

Tak lama, suara pintu utama terbuka,

“Hyunjin, udah?” Tanya Changbin.

“Kalo udah, ayo, sekarang gantian kita ke makamnya.”

Hyunjin meremat kertas tersebut sambil pula meremat dadanya yang kepalang sesak.

“Bin..”

“Ikhlas, Hyun. Seungmin mau lu ikhlas.”

Dengan begitu, perjalanan baru bagi Hyunjin pun dimulai,

bukan untuk melupakan,

juga bukan untuk untuk berlarut-larut dalam kesedihan,

melainkan ikhlas.

— fin.


Sekala sampai terlebih dahulu di tempat yang sudah ditentukan.

Sekala mengamati mata Sastra yang sembab— tak lain disebabkan oleh menangis, pastinya.

“Habis nangis?” tanya Sekala.

“Mau ngomong apa?”

“Sas, kali ini gua seriusan ga minta lu buat balik ke gua. Karena gua nyadar mau segimanapun gua usaha, ga bakal bisa, di hati lu bakalan terus ada Nara dan ga mungkin bisa digeser sama apapun. Gua minta maaf, Sas, karena gua udah bikin berantakan semuanya. Termasuk hubungan lu sama Nara.”

“Gue udah maafin lo dari lama, kal. Gue cuma ga mau berurusan sama lo karena semua yang berhubungan sama lo selalu bikin gue sakit.”

“Maaf, Sas. Gua yakin kalo Nara bakalan perjelas dan selesain semuanya. Sekali lagi gua minta maaf, gua bakalan bantu sebisa gua.

Gua pamit.”

# — Break.

cw tw // cheating, mention of cheating, mention of kissing


Benar saja, malam itu Nara datang ke kediaman Sastra. Berharap semuanya akan lebih baik.

Ia tak henti-hentinya membunyikan bel rumah Sastra. Tak lama sang empunya pun keluar dengan wajah yang membengkak karena menangis semalaman.

Saat tahu bahwa yang membunyikan bel adalah Nara, Sastra terduduk lemas. Karena khawatir, Nara membuka pagar Sastra tanpa izin dan menghampirinya.

“Sas? kamu kenapa?” Ucap Nara sambil meraba pundak dan wajah Sastra.

Stop it.

— kamu ngapain ke sini?”

“Sas... maaf...”

“Aku ini apa sih buat kamu?”

“Maaf..”

Just answer!

Everything.

“Kamu bilang itu setelah kamu cium perempuan itu? how can you come to me and say that after you cheated on me?

“Aku ga selingkuh, sas.”

“Kenapa juga aku harus percaya, WHEN YOU DON'T EVEN WANT TO LISTEN TO MY EXPLANATION AT ALL.

I swear to God, Sas. Aku ngga niat begitu.”

“Oke kalo menurut kamu selingkuh itu tentang kamu pacaran sama orang lain disaat kamu pacaran sama aku. Tapi aku ngga! kamu cium perempuan itu, kamu tidur sama dia. Menurut aku kamu selingkuh, Ra.”

“Sastra aku minta maaf,” Nara bersimpuh di depan Sastra yang kembali menangis.

“Aku emang salah, Ra. Aku juga wajar kamu marah sama aku kaya semalem, aku gapapa kamu ngomong kasar sama aku. Tapi ngga dengan kaya gini, Ra.”

“Aku ngga bisa mikir jernih belakangan ini, Sas. Aku takut. Aku takut kamu balik ke mantan kamu.”

“Cewe itu siapa?”

“Mantan aku...”

“Liat, kan? kamu bisa liat sendiri siapa yang sebenarnya balik ke masa lalunya.”

“But—”

“Kamu taunya kalo aku pelukan sama Sekala, kan? kamu cuma tau itu. Kamu ga tau sebanyak apa aku nolak Sekala buat kamu. Aku ga mau cerita ke kamu karena aku rasa ini masalah masa lalu aku. Aku mutusin buat iyain ajakan Sekala pun buat negesin ke dia buat yang terakhir kali kalo aku ngga bisa balik ke dia KARENA AKU PUNYA KAMU, RA. AKU SELALU BILANG KE SEKALA KALO AKU UDAH PUNYA NARANTAKA SADEWA— ORANG YANG JAUH LEBIH BAIK DARIPADA DIA.” Jelas Sastra dengan suara lantang, penuh penekanan, juga air mata yang masih mengalir.

Sedangkan Nara hanya tertunduk diam, merasa malu sekaligus bersalah.

“Ra...”

“Taka... panggil aku taka....”

Nara, should we break up?

No... please Sastra... one more chance. Aku minta maaf, please...”

“Terus mau kamu apa? aku bahkan gatau kamu nantinya bakal kaya Sekala atau ngga. Aku tau, Ra, kalo kamu tau tentang Sekala. Tepatnya tentang masa lalu aku sama dia. Tapi kenapa? kenapa kamu ngelakuin hal yang sama kaya waktu Sekala selingkuh?”

“Aku semalem mabok, Sas... aku ngga tau kenapa tiba-tiba kepikiran buat ke apart Keira.”

“Dari sini aja udah keliatan, Ra, kalo aku bukan tempat kamu pulang. Kamu lebih milih buat pergi ke mantan kamu dibanding aku. Keliatan kok, aku juga paham.”

“Bukan begitu, Sastra—”

“Ra, ayo putus...”

“Ngga, aku ngga mau... please Sastra, please..

Fine.”

Really? — thank u, Sas. Sumpah aku ga bakal bertindak bodoh lagi.”

“Aku mau kita break dulu.”

“Sastra? kamu bercanda?”

“Mending kamu pulang, udah malem. Ga baik nyetir malem-malem, bahaya.”

Tanpa melirik ke belakang, Sastra meninggalkan Nara yang masih bersimpuh.

Nara tidak ingin protes lebih lanjut, karena tidak jadi putu saja... dirinya sudah bersyukur. Yang harus ia lakukan sekarang adalah membuktikan dan berusaha lebih keras untuk membangun kepercayaan Sastra.