rigeleo

cw // kissing


Suara bel rumah Nala menyebar ke ruang tengah. Dengan mudahnya Nala menebak bahwa itu adalah Hazel. Ia pun dengan sigap berdiri untuk pamit lalu menghampiri Hazel.

“Mam, Hazel udah di depan. Aku berangkat, ya?”

“Iya, tapi itu Hazel ngga diajak masuk dulu?”

“Ngga mam, aku mau langsung aja.”

“Oke kalo gitu, hati-hati.”

Nala melangkahkan tungkainya dengan sedikit terburu. Setelah menutup pagar, ia melihat Hazel yang sedang menunggunya di dalam mobil sambil tersenyum.

“Hazel!!” Nala langsung melayangkan pelukan erat pada Hazel—yang dibalas sama eratnya. Sekilas, Hazel menoleh untuk mencium leher Nala sekilas.

Setelah pelukan terlepas, Nala kecup bibir Hazel. Hazel pun membalasnya dengan menghadiahkan banyak kecupan singkat pada pipi, juga dahi Nala.

“Kangennn,” tutur Nala. “Kamu makin cantik, makin lucu.” balas Hazel.

Nala menanggapinya dengan senyuman—tak lama, Hazel pun melajukan mobilnya.

“Kamu mau beli sesuatu dulu ngga?”

“Aku mau ngemil zel, tapi ga tau beli apa. Kamu mau apa?”

“Macaroon mau? sama beli bubble milk tea gitu. Atau yang lain juga gapapa.”

“Mauuu! di all pink aja, ya?” usul Nala.

“Boleh. Habis itu langsung aja? kamu ngga mau ke mana dulu gitu?”

Nope, cuz i miss my boyfie, i wanna spend my time with him.

Hazel mengangguk paham, kemudian mengusak rambut Nala. “Sure, anything for my Nala.


Setelah membeli beberapa camilan, mereka langsung menuju apartemen Hazel. Sesampainya di sana, keduanya berjalan beriringan—tangan kiri Hazel memegang plastik berisi belanjaan, sedang tangan kanannya melingkar pada pinggang Nala.

Di depan pintu apartemen, Hazel mencekal tangan Nala, “Sebentar, sini plastiknya.” Hazel menyambar plastik belanjaan yang juga dipegang Nala. Nala yang kebingungan hanya dapat menurut. “Itu, masukin aja pinnya.” perintah Hazel.

Nala pun memasukkan pin tersebut. Ia masuk terlebih dulu dan langsung mencari tombol lampu. Setelah lampu menyala, mata Nala langsung terarahkan ke sudut ruangan—tepatnya di samping kanan ranjang Hazel, bersebelahan dengan meja belajar.

Raut wajah Nala seperti membentuk tanda tanya, “Zel???”

Hazel mengangkat bahunya sekilas, lalu pergi ke dapur untuk menaruh plastik belanjaan. Sementara itu Nala menghampiri sudut ruangan itu dan memperhatikannya dengan antusias.

Terdapat single chair berwarna biru yang berpasangan dengan sebuah meja kecil berbentuk lingkaran. Tepat di atas kursi, terdapat papan mading berukuran sedang. Pada papan mading itu, banyak menggantung foto-foto mereka yang dijepit menggunakan jepitan khusus foto dengan bentuk menarik, juga tali rami berwarna cokelat.

Foto yang dimaksud adalah foto mereka berdua—walaupun kebanyakan berisi foto Nala—yang sedang tertawa, tersenyum, cemberut, bahkan foto saat Nala sedang tertidur pun ada. Nala pandangi foto tersebut satu persatu dengan senyum yang tak kunjung luntur dari wajahnya.

“Zel, aku kemarin ngga liat ini loh? tell me kalo emang ini baru ada? atau.. atau aku yang ngga nyadar, ya?”

Hazel menghampiri Nala yang menatap matanya intens dari kejauhan. “Kemarin tuh kemarin kapan, Nala? kamu aja ke sini baru hari ini.”

“Berarti baru?”

“Ngga juga, kok. Aku mulai bikin sekitar 4 hari lalu. Terus baru jadi tadi, soalnya dari tokonya ada keterlambatan pengiriman gitu. Makanya aku ngga bolehin kamu dateng lebih awal. Bukannya aku ngga kangen, Aku mah mau banget cepet-cepet ketemu, cuma ini nanggung. Jadi aku selesaiin dulu.”

“Zel???”

Hazel menangkup pipi Nala gemas, “Aku bikin ini soalnya kangen kamu, hahahaha—biar nanti kalo sewaktu-waktu aku atau kamu lagi sibuk dan ngga bisa ketemu, aku bisa liatin kamu dari sini. Terus kenapa di samping meja belajar aku? jawabannya, biar kalo aku pusing aku bisa ngeliat ke kamu.”

Nala langsung memeluk Hazel tanpa berbicara sepatah katapun.

“Di samping itu juga, aku dari dulu emang pengen banget bikin satu spot di mana isinya itu kamu sama aku. Tapi isinya ttp harus banyakan kamu.” jelas Hazel lagi.

“Thank you zel, aku sayang kamuuu. Banget.”

I love you more than ever.” bisik Hazel.


Setelahnya, mereka menggeser sofa menghadap balkon. Nala merebahkan dirinya, dengan Hazel yang berada di atas sambil memeluk pinggangnya.

Mereka menghabiskan sore hari bersama, sambil memperhatikan semburat berwarna jingga itu pudar dan digantikan oleh malam.


“Hemaaa, jadi bareng ngga?”

“Iyaa, lagi pake sepatu, bentar.”

Itu suara mereka yang bersahut-sahutan—Dewata menunggu Hema yang sedang memakai sepatu. Dan Hema meminta Dewata untuk menunggu dirinya—karena mereka akan pergi ke gor bersama.

“Siap siap kalah ya dew, hahahaha,”

“Sombong. Kalo gua yang menang awas aja. Gua peres tuh dompet lu.”

“Try me then.”


Sesampainya di sana, ternyata kubu dari masing-masing sekolah sudah memenuhi gor. Padahal ini bukanlah turnamen, ini hanyalah bermain santai. Maka dari itu keduanya terkejut, “Buset, rame banget, mau tawuran apa gimana?” celetuk Dewata.

“Nervous gua dew,”

“Itu tandanya mau kalah.”

Di sana, ternyata penyewa sebelum mereka masih menggunakan lapangan, dan masih tersisa sekitar 15 menit lagi.

“Hem, beli minum dulu yuk? jalan bentar ke depan.”

“Yaudah ayo, masih lumayan juga tuh yang main.”

Gor tersebut terletak di tepi jalan yang tidak terlalu besar. Namun cukup ramai, apalagi ketika sore hari. Sambil menunggu menit demi menit berlalu—seusai membeli minum—mereka duduk sebentar di bangku permanen yang ada di atas trotoar.

Di sampingnya terdapat tanaman maupun bunga liar yang tumbuh dengan baik meskipun sedikit tertutup debu. Salah satunya adalah bunga Aster.

Dewa memetik bunga tersebut dan membentuk tangkainya menjadi lingkaran kecil—bak cincin yang ia buat semasa kecil dulu.

“Hem,”

Hema menoleh. Matanya langsung tertuju pada jemari Dewa yang masih sibuk melilit batang bunga aster tersebut.

“Pake deh,” Dewa meraih jari manis Hema dan melingkarkan cincin yang ia buat barusan.

“Ini dulu kita sering banget bikin ini ngga sih? hahaha, terus juga kok bisa ya bunganya tumbuh di pinggir jalan gini?”

“Kalo pagi atau sore ada kakek kakek yang biasa nyapu jalanan, Hem. Dia yang nyiram ini.”

“Serius?”

“Iya. Waktu pagi jam 8-an, gua kan pelajaran olahraga, ya. Terus kan sekolahan gua di depan, tuh, jadi kalo olahraga sering ke sini. Dan ngga jarang juga gua liat kakeknya lagi nyapu, atau duduk sambil nyiram bunga.”

“Ih kalo gitu ngapain diambil bunganya?! berarti ini ada yang melihara dong.”

“Gapapa, udah izin, kok.”

“Izin? izin gimana?”

“Waktu itu gua izin, gini, 'Permisi, kek, kakek yang nyiram bunganya ya?' terus kakeknya jawab iya. Gua ngomong gini, 'Kalo sewaktu-waktu, tapi gatau kapan, saya minta bunganya satu buat pacar saya boleh ngga kek?' Terus kakeknya senyum, katanya boleh.”

“Bisa banget ya lu,” Hema tertunduk malu.

“Suka ngga?”

Hema mengangguk pelan, “Ada filosofinya?”

“Jangan ditanya apa filosofinya, Hem. Soalnya versi filosofinya ada banyak. Nanti cari aja di google, terus pilih filosofi mana yang mau lu percaya.”

“Bilang aja ngga tau, dew. Ngga gua ketawain kok.” Hema tersenyum lebar.


Mereka kembali ke lapangan.

Pertandingan pun berjalan lancar, tanpa ada kekerasa antar penonton dan sebagainya.

Berjalan lancar yang dimaksud adalah berjalan lancar pada umumnya. Namun tidak bagi Hema.

Timnya kalah dengan skor tipis. Harusnya tadi gema mencetak gol— setidaknya untuk membuat skor imbang. Namun ternyata tidak semudah itu.

Hema tidak sedih. Ia hanya sedikit kesal. Pasti Dewata dan mulut besarnya itu akan enggan untuk berhenti mengoceh, meledek, dan menggodanya.

“Yaaaahhh kalah, hem.” Belum 5 menit Hema membatin. Benar saja apa kata Hema.

“Hmm, mau apa?”

“Buru-buru amat. Nanti aja lah, sekalian balik.”


Keduanya pun meninggalkan tempat—namun sebelum itu mereka memilih untuk memutar jalan, supaya tidak langsung sampai ke rumah. Sehingga mereka bisa berbincang sejenak.

“Hem, kan lu kalah nih,”

“Iyaaa, ga usah di ulang-ulang! mau apa?”

“Kan yang kalah harus nurutin maunya yang menang, ya?”

“Iya dewata, iya, gua ngga lupa kok.”

“Gua mau minta sesuatu deh,”

“Iya sebut aja,”

“Jadi pacar gua, ” kata Dewata. “Ini bukan pertanyaan ya, ini udah punya jawaban mutlaknya.”

“Kok???”

“Mau kan? harus mau sih.”

Walaupun terkesan memaksa, Dewata tidak serius dengan perkataannya. Ia pun akan tetap menerima jika Hema menolaknya.

Hema masih belum berkomentar. Sampai akhirnya mereka sampai rumah.

Hema pun turun dari motor Dewata, “Hem,” Dewata menggenggam pergelangan tangan Hema dengan tiba-tiba.

“Gua ngga kabur kok.” ucap Dewata yang kemudian memajukan wajahnya.

Bibirnya menempel sempurna di atas bibir Dewata dan melumatnya sekilas.

Ia pun melepas tautan bibir mereka, “Iya, mau. Ayo pacaran sama gua, dew.”

Dewa tertegun, matanya menatap lurus ke depan, seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.

Anyway, we're 18 now, right?” kata Hema.

Gantian, sekarang Dewata-lah yang meraih tengkuk Hema untuk menyatukan kembali bilah delima mereka.

Keduanya tersenyum di sela-sela ciuman, “Love you, Hem.” bisik Dewata.

— fin.

cw // kissing

Saat ini kedua murid tahun ketiga ini sedang saling terdiam, ragu, canggung, dan enggan untuk memulai percakapan.

Tercetak jelas bahwa sebetulnya mereka masih canggung akibat kejadian satu hari yang lalu.

“Mau mulai kapan?” tanya Hyunjin.

“Eh.. ayo, sekarang?”

“Bentar ya, gue nyiapin bahan bahannya dulu,”

“Okay then, gue yang nyiapin peralatannya.”

“Oiya, mau minum ngga?” tawar Hyunjin.

“Boleh deh, apa aja yang manis.”

Hyunjin membuat minuman bukannya tanpa maksud, melainkan sembari mencampur minuman tersebut dengan love potion yang ia buat.

Seungmin pun tidak bodoh, Seungmin termasuk golongan murid pintar. Ia dapat mengenali berbagai aroma potion hanya dengan mengandalkan indra penciumannya. Begitupun sekarang, ia sadar bahwa Hyunjin pasti sedang membuka sebuah botol potion, karena aromanya menyeruak dengan jelas.

Seungmin menghampiri Hyunjin dengan sekali jentikan jari, supaya langkahnya tidak terdengar.

Ah... love potion? you must have put in too much rose powder. The smell is so clear, Hwang.

Hyunjin terlonjak kaget, ia menoleh, mendapati Seungmin yang menatapnya.

You don't have to make a love potion to make me loves you. because i already.

“Ngga Seung, ini bukan buat lu,”

“There's my name.”

Hyunjin terdiam. Ia takut Seungmin akan membencinya.

“Don't you hear me?”

“Hah? excuse me?”

“I said You don't have to make a love potion to make me loves you, because i already. Stupid.”

Seungmin mendekat, membuat Hyunjin perlahan mundur.

Kedua tangannya, ia letakkan pada pundak Hyunjin. Wajahnya mendekat, hendak cium bibir sang kasih.

Hyunjin biarkan Seungmin ambil first move terlebih dulu.

Gerakan Seungmin pelan dan perlahan namun memabukkan bagi Hyunjin.

Why do you look so desperate? kaya bukan Hyunjin gue. Kenapa sampe harus bikin love potion?

I couldn't take in any longer.

“Ngga sabaran.”

Let me be yours,

Of course you can.

I love you, babe, my love, cuties.

Love you more, Mr. Celo.

cw // kissing

Sesuai rencana, mereka pergi menggunakan sapu terbang untuk mencari bahan untuk membuat ramuan.

Awalnya mereka pergi menggunakan sapu terbang milik masing-masing, namun nampaknya sang pemilik bahan-bahan tersebut enggan memberikannya secara cuma-cuma, jadi keduanya menyerahkan sapu terbang milik mereka. Beruntungnya, mereka punya cadangan sapu terbang di asrama, jadi mereka tidak perlu terlalu khawatir.

“Gila ya, mintanya ga nanggung nanggung,” cibir Seungmin.

“Hahaha semuanya ngga selamanya gratis, seung.”

“Ya tau, tapi kan sapu terbang mahal. Dikira belinya pake pasir?”

“Yaudah lah, yang penting bahan-bahannya sekarang udah lengkap. Kita bisa cepet cepet ngerjain.”

“Ngerjain mah belakangan aja. Yang harus lo pikirin tuh kita pulangnya gimana?”

Hyunjin bersiul, nadanya familiar di pendengaran Seungmin.

Benar saja, tak lama datanglah Gerald—naga milik Changbin.

“Seriously, Hwang Hyunjin?”

“Nanti gua bilangin biar terbangnya ngga terlalu tinggi kok—yaudah, ayo naik.”

Kemudian, kaki Seungmin bertumpu pada telapak tangan Hyunjin, lalu sedikit mendorong badannya naik supaya ia dapat langsung mencapai punggung si naga—yang kemudian disusul Hyunjin.

Mereka menempuh perjalanan selama 45 menit.

45 menit berlalu—Setelah itu mereka turun di halaman belakang dan berpamitan pada satu sama lain.

“Thanks ya, Hyun. Oh iya! besok mau dipake buat istirahat dulu atau langsung aja? soalnya rentang waktunya masih cukup kalo sehari diambil buat istirahat dulu.”

“Istirahat dulu, ya? gapapa, kan?”

Seungmin mengangguk perlahan, “Iya gapapa. Yaudah kalo gitu, gue masuk ya.”

Seungmin baru berjalan beberapa langkah menjauh, namun langkahnya terhenti. Seungmin memutuskan untuk berbalik menghampiri Hyunjin dan memeluknya.

“Makasih banyak, Hyun. You never stop taking care of me.

Tubuh Hyunjin menegang—kaget dengan apa yang baru saja terjadi padanya.

Karena Hyunjin lambat merespon, Seungmin eratkan lagi pelukannya, berharap bahwa Hyunjin akan mengatakan sesuatu padanya.

Benar saja, Hyunjin pun kemudian balas memeluk Seungmin. Tangannya menahan tubuh Seungmin untuk tidak buru-buru melepas pelukannya.

Dirasa cukup, mereka melepaskan pelukan mereka, dan begitu pelukan terlepas, Hyunjin mendekatkan wajahnya dengan Seungmin.

Seungmin sepertinya tahu maksud dari tingkah Hyunjin yang satu ini—Seungmin pun perlahan memejamkan matanya.

cup

Sebuah ciuman mendarat di pipi kiri Seungmin.

“Prettiest,” Bisik Hyunjin sambil memegang bibir Seungmin dengan jempolnya.

Air muka Seungmin berubah, ia tidak menyangka bahwa Hyunjin hanya menciumnya di pipi.

Bukannya Seungmin memaksa, namun ia kepalang malu karena memejamkan matanya. Ia takut Hyunjin akan meledeknya lagi.

“Ini mukanya merah karena malu atau marah?” Tanya Hyunjin sambil menyinggungkan senyum.

“Ngga tau, ah, udah. Gue mau balik.” Ia menghentakkan kakinya lalu berbalik.

Baru saja berbalik, tangannya sudah ditarik kembali oleh Hyunjin.

“Sorry,” Hyunjin langsung menyambar bibir Seungmin yang membuat Seungmin tersentak.

Tengkuknya ditahan supaya ciuman tidak terlepas, pinggangnya dipeluk erat supaya tidak menjauh.

Seungmin memejamkan matanya, dan mulai pasrah dengan tempo yang dimainkan Hyunjin. Tangan Seungmin pun mulai mengalung sempurna di leher Hyunjin.

“Love you, Seungmin.”

cw // neck kisses not proofread.


Derasnya hujan pada sore hari membuat jalanan ibu kota basah di tiap incinya. Namun tak membuat para warganya enggan untuk tetap beraktivitas. Ya.. walaupun terselip sedikit rasa malas, sebetulnya.

Begitupun Nala.

Kali ini Nala pergi ke kampusnya menggunakan transportasi umum—bis. Sepanjang bis melaju, Nala melihat ratusan orang berlalu lalang tanpa peduli dingin, basah, juga kotor.

'Lagi dikejar deadline atau ada urusan penting, mungkin.' Batin Nala saat itu.

Tidak, sampai saat Nala melihat beberapa pasangan yang berjalan di trotoar ibu kota dengan sebuah payung yang digenggam kuat-kuat supaya tidak diterpa angin dan berujung terbang entah ke mana.

Walaupun terlihat sesak berjalan di bawah sebuah payung—berdua—namun tidak dapat dipungkiri bahwa secara tidak langsung mereka sedang berbagi kehangatan untuk satu sama lain.

Setelahnya, Nala terkekeh saat melihat sebuah pasangan yang berlarian membelah jalanan penuh genangan tanpa khawatir akan ini dan itu.

'Satu kemungkinan lagi. Mereka ngga peduli dingin, basah, kotor, itu karena selama mereka bareng, mereka ngga perlu khawatirin apapun, kan?' Batinnya sekali lagi.

Jalanan yang sedikit melengang pun menjadi alasan mengapa Nala sampai di kampusnya sedikit lebih cepat. Nala langsung pergi ke toilet sejenak untuk membersihkan sepatunya yang terkena percikan air.

Sekitar 5 menit kemudian, ponsel Nala berdering menunjukkan panggilan masuk dari Tere.

“Halo, Re? kenapa?” “Nalaaaa, lo di mana? udah sampe belum?” “Udah, baru aja nyampe. Lagi di toilet.” “Gue di kantin ya. Ntar lo ke sini aja. Aman kok ga ada si rese,” “Ohh iya iya, bentar lagi gue ke sana.” “Oke dehh byeeee.”

Ia melangkahkan tungkainya dengan santai seraya melihat ponselnya yang kering kerontang karena tidak mendapat notif dari kekasihnya setelah gelembung pesan terakhir yang ia kirim.

Terbesit rasa bersalah di benaknya. Nala tidak dapat berbohong jika terkadang ia merasa responnya kemarin terlalu berlebihan. Namun di sisi lain ia juga sangat tidak menyukai hal tersebut.

Dari kejauhan, Tere melambaikan tangannya, menandakan bahwa Nala harus berjalan sedikit lagi ke arahnya.

“Dari tadi, Re?”

“Baru bangettt, kirain gue lo ngga ngampus hahaha,”

“Gue mahasiswa teladan, for your information.” Nala menyombongkan dirinya diiringi gelak tawa Tere setelahnya.

“Gimana tuh, udah baikan?”

Nala menggelengkan kepalanya yang dengan mudah ditangkap maksudnya oleh Tere.

“Ga tau deh, males gue, Re.”

“Hahahaha tapi kalo kangen, langsung baikan aja. Gue tau banget lo tuh sebenarnya ngga bisa marahan sama Hazel atau cuekin Hazel walaupun cuma sehari.”

Nala cemberut, “Sebenarnya iya, tapi ya gitu deh...”

“Hmm tap— eh, bentar dah, cek grup La, coba.”

Nala buru-buru membuka ponselnya dengan alis tertaut—bingung.

“Anjing,” Umpat Tere.

“Hah, kok???” Nala pun sama kagetnya. Ia masih sibuk menggulir pesan grupnya untuk mencari kemungkinan bahwa kelas akan tetap dilaksanakan.

“Dosennya ngga masuk, astaga, kenapa ga bilang dari tadi si? sumpah mana ujan.”

“Sumpah, Re, ini yang infoin dia beneran lupa atau emang sengaja ga ngasih tau sih? nyebelin amat.”

“Ya kan??? gue takutnya dia nyimpen ini info sendiri terus baru dikasih tau pas udah mepet, bangke.”

Nala menghela nafasnya dalam-dalam guna menahan emosinya, “Jadi, kita balik lagi? ke rumah? anjir males banget.”

“Iya, mau ga mau. Orang hari ini cuma ada kelas ini doang.”

“Oke, ayo balik terus tidur aja ampe. malem.”

Mereka pun berjalan beriringan menyusuri lorong yang nyaris kosong.

“Sepi dah, ini dosennya pada berencana ngga masuk apa gimana, ya? ahahaha,” Celetuk Tere.

“Bilang aja lo takut kalo jalan di lorong sendirian. Ya, kan?”

“Jangan diomongin, ntar dateng beneran aja.”

“Kalo... dateng beneran gue lari!!” Ucap Nala kemudian berlari sekencang-kencangnya.

Tere ikut berlari mengejar Nala, “Nala, jangan rese lo!”

Pada belokan lorong terakhir sebelum mereka menuju parkiran—dengan Nala yang masih setengah berlari—tubuhnya tiba-tiba tersentak dan seketika laju larinya terhenti ketika Nala dengan tidak sengaja menabrak seorang pria di depannya.

Ia jatuh terduduk lalu mendongak,

“Zel?”

“Jangan lari-lari, kebiasaan. Ngga ada hantu, ngga ada.” Ucap Hazel sambil meraih kedua tangan Nala untuk membantunya bangun.

Nala memang suka berlarian di lorong ketika lorong sepi. Dengan alibi 'takut ada hantu', padahal memang dirinya saja yang ingin berlarian. Hazel sudah hafal itu diluar kepala.

“Nalaaaaaa!” terdengar suara Tere yang tertinggal jauh di belakangnya.

Tere menghentikan langkah kakinya tepat di samping Nala yang celingukan.

“Re, ada Davi tuh di depan, ditungguin.”

“Yang bener? aaaa thank you zel. Nala, gue duluan yaaaa, byeee.” Pamit Tere kegirangan saat mengetahui Davi sedang menunggunya.

Kemudian Nala berjalan—hendak membuntuti Tere—namun pergelangan tangannya dicekal oleh Hazel.

“Nala,”

“Aku mau pulang.”

“Yaudah, ayo, aku anterin.”

Nala enggan menanggapi, ia terus berjalan, sedangkan Hazel mengekor dibelakangnya.

“Yah ujan,” Nala menggumam pelan secara spontan.

Hazel melepas jaket levisnya—meletakkan jaket tersebut di kepala. Nala—terakhir, ia rangkul Nala untuk mengajaknya berlari kecil ke mobil.

Di dalam mobil, Nala justru menunjukkan raut khawatir sambil menatap Hazel yang sibuk memasangkan sabuk pengaman untuknya.

“Kenapa ngga nunggu redaan dikit, sih?”

“Hujannya awet.”

“Minjem payung atau apa gitu,”

“Tadi ngga ada orang, Nala, sepi.”

Memang semua yang dikatakan Hazel benar. Nala hanya sedikit khawatir, karena sepanjang ingatan yang ia punya, Hazel mudah sakit.

Nala kira, Hazel akan langsung melajukan mobilnya untuk menerjang hujan—nyatanya, mereka hanya terdiam canggung.

“Nala...”

Nala menoleh, namun kepalanya tertunduk—pandangannya ia lempar ke sembarang sisi.

Tangan dingin Hazel meraih kedua tangan Nala yang juga sama dinginnya. Ia genggam tangan Nala, tak lupa membubuhinya dengan kecupan-kecupan ringan, tak jarang juga Hazel letakkan tangan Nala pada pipinya yang hangat.

“Nala—”

“Aku bakalan ngalah kalo kamu dari awal bilang. Aku ga masalah mau jalan kapanpun, asal apa? kamu tau kan?”

“Asal aku bilang.”

“Itu kamu tau. Aku ga pernah ngerasa saingan sama temen kamu, aku ga pernah mau debat tentang kamu yang dahuluin hal yang lain dari pada aku. Aku ga masalah sama itu semua asalkan kamu bilang. Di sini kamu udah janji, Zel. Pertama kamu bilang agak telat, aku oke-in karena kamu bilang sama aku. Kedua, kamu bilang kalo dateng jam 7, tapi kamu baru bales jam 10. Paham kan?”

“Iya aku tau, aku paham. Aku minta maaf. Aku ga bakalan bela diri aku, karena aku emang salah. Aku bener-bener lupa, sampe pas Jere mention nama kamu, katanya 'Oh iya, Zel, katanya lu mau jalan sama Nala, ngga jadi?' walaupun aku kemarin agak pusing karena minum, aku masih denger apa yang Jere omongin. Makanya aku baru mau chat kamu waktu di jam segitu.”

“Terus kamu pulang jam berapa?”

“Aku pamit saat itu juga. Aku ngechat kamu pas di mobil, siapa tau kamu masih mau. Pas kamu ternyata marah, yaudah aku pulang.”

“Kamu nyetir pas mabok-mabok, gitu?”

“Aku ngga mabok banget, Sayang. Aku masih sadar.”

“Ngerti bahaya ngga?”

“Iya tau, kan aku—”

“Kecuali kamu pergi sama aku, sama Jere atau sama Tere. Jadi ada yang nyetirin kamu, kalo begini kan ngga aman, Zel. Walaupun kamu bilang pusingnya cuma dikit.”

“Iya. maaf maaf,”

Nala mengangguk pelan, “Zel, aku juga minta maaf...”

“Sini, duduk sini.” Hazel menepuk pahanya, mengisyaratkan pada Nala untuk duduk dipangkuannya.

Nala pun dengan susah payah memposisikan dirinya dengan nyaman. Tangannya ia kalungkan—kepalanya ia sandarkan pada pundak Hazel.

“Zel, capek ngga sih ngadepin aku yang banyak mau, ambekan gara-gara hal sepele gini?”

“Ngomong apa si?”

“Serius, jawab aku.”

“Ngga.”

“Ngga doang?”

“Ya iya, lagian juga kamu ngambek ngga setiap hari. Kalo soal banyak maunya, ya bisa diatur. Toh, aku seneng aja nurutin mau kamu.”

“Tapi kesannya aku kaya egois, Zel.”

“Egois gimana? ngga tuh. Aku rasa juga ngga kamu doang yang bakal marah kalo aku ngga nepatin janji. Tapi aku juga, atau bahkan mayoritas orang juga begitu, kan. Jadi, sebab kamu marah itu sebenarnya juga masih 'biasa'. Ngga berlebihan.”

Hazel tiba-tiba mencium leher Nala sekilas. Nala pun mengusap-usap rambut Hazel dengan lembut.

“Zel, aku minta maaf.”

“Maaf kenapa? bukannya aku?”

“Aku nyuekin kamu, terus juga sewot gitu.”

“Gapapa, aku juga paham.”

;

Nala paling senang jika Hazel membubuhi ciuman pada perpotongan lehernya dan beruntungnya, Hazel tau itu.

“Hihii, geli, Zel.”

“Katanya suka?”

Nala mengangguk antusias sebelum wajahnya mendekat untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Hazel.

Biarlah keduanya seperti itu sampai hujan sedikit mereda.

cw // neck kisses not proofread.


Derasnya hujan pada sore hari membuat jalanan ibu kota basah di tiap incinya. Namun tak membuat para warganya enggan untuk tetap beraktivitas. Ya.. walaupun terselip sedikit rasa malas, sebetulnya.

Begitupun Nala.

Kali ini Nala pergi ke kampusnya menggunakan transportasi umum—bis. Sepanjang bis melaju, Nala melihat ratusan orang berlalu lalang tanpa peduli dingin, basah, juga kotor.

'Lagi dikejar deadline atau ada urusan penting, mungkin.' Batin Nala saat itu.

Tidak, sampai saat Nala melihat beberapa pasangan yang berjalan di trotoar ibu kota dengan sebuah payung yang digenggam kuat-kuat supaya tidak diterpa angin dan berujung terbang entah ke mana.

Walaupun terlihat sesak berjalan di bawah sebuah payung—berdua—namun tidak dapat dipungkiri bahwa secara tidak langsung mereka sedang berbagi kehangatan untuk satu sama lain.

Setelahnya, Nala terkekeh saat melihat sebuah pasangan yang berlarian membelah jalanan penuh genangan tanpa khawatir akan ini dan itu.

'Satu kemungkinan lagi. Mereka ngga peduli dingin, basah, kotor, itu karena selama mereka bareng, mereka ngga perlu khawatirin apapun, kan?' Batinnya sekali lagi.

Jalanan yang sedikit melengang pun menjadi alasan mengapa Nala sampai di kampusnya sedikit lebih cepat. Nala langsung pergi ke toilet sejenak untuk membersihkan sepatunya yang terkena percikan air.

Sekitar 5 menit kemudian, ponsel Nala berdering menunjukkan panggilan masuk dari Tere.

“Halo, Re? kenapa?” “Nalaaaa, lo di mana? udah sampe belum?” “Udah, baru aja nyampe. Lagi di toilet.” “Gue di kantin ya. Ntar lo ke sini aja. Aman kok ga ada si rese,” “Ohh iya iya, bentar lagi gue ke sana.” “Oke dehh byeeee.”

Ia melangkahkan tungkainya dengan santai seraya melihat ponselnya yang kering kerontang karena tidak mendapat notif dari kekasihnya setelah gelembung pesan terakhir yang ia kirim.

Terbesit rasa bersalah di benaknya. Nala tidak dapat berbohong jika terkadang ia merasa responnya kemarin terlalu berlebihan. Namun di sisi lain ia juga sangat tidak menyukai hal tersebut.

Dari kejauhan, Tere melambaikan tangannya, menandakan bahwa Nala harus berjalan sedikit lagi ke arahnya.

“Dari tadi, Re?”

“Baru bangettt, kirain gue lo ngga ngampus hahaha,”

“Gue mahasiswa teladan, for your information.” Nala menyombongkan dirinya diiringi gelak tawa Tere setelahnya.

“Gimana tuh, udah baikan?”

Nala menggelengkan kepalanya yang dengan mudah ditangkap maksudnya oleh Tere.

“Ga tau deh, males gue, Re.”

“Hahahaha tapi kalo kangen, langsung baikan aja. Gue tau banget lo tuh sebenarnya ngga bisa marahan sama Hazel atau cuekin Hazel walaupun cuma sehari.”

Nala cemberut, “Sebenarnya iya, tapi ya gitu deh...”

“Hmm tap— eh, bentar dah, cek grup La, coba.”

Nala buru-buru membuka ponselnya dengan alis tertaut—bingung.

“Anjing,” Umpat Tere.

“Hah, kok???” Nala pun sama kagetnya. Ia masih sibuk menggulir pesan grupnya untuk mencari kemungkinan bahwa kelas akan tetap dilaksanakan.

“Dosennya ngga masuk, astaga, kenapa ga bilang dari tadi si? sumpah mana ujan.”

“Sumpah, Re, ini yang infoin dia beneran lupa atau emang sengaja ga ngasih tau sih? nyebelin amat.”

“Ya kan??? gue takutnya dia nyimpen ini info sendiri terus baru dikasih tau pas udah mepet, bangke.”

Nala menghela nafasnya dalam-dalam guna menahan emosinya, “Jadi, kita balik lagi? ke rumah? anjir males banget.”

“Iya, mau ga mau. Orang hari ini cuma ada kelas ini doang.”

“Oke, ayo balik terus tidur aja ampe. malem.”

Mereka pun berjalan beriringan menyusuri lorong yang nyaris kosong.

“Sepi dah, ini dosennya pada berencana ngga masuk apa gimana, ya? ahahaha,” Celetuk Tere.

“Bilang aja lo takut kalo jalan di lorong sendirian. Ya, kan?”

“Jangan diomongin, ntar dateng beneran aja.”

“Kalo... dateng beneran gue lari!!” Ucap Nala kemudian berlari sekencang-kencangnya.

Tere ikut berlari mengejar Nala, “Nala, jangan rese lo!”

Pada belokan lorong terakhir sebelum mereka menuju parkiran—dengan Nala yang masih setengah berlari—tubuhnya tiba-tiba tersentak dan seketika laju larinya terhenti ketika Nala dengan tidak sengaja menabrak seorang pria di depannya.

Ia jatuh terduduk lalu mendongak,

“Zel?”

“Jangan lari-lari, kebiasaan. Ngga ada hantu, ngga ada.” Ucap Hazel sambil meraih kedua tangan Nala untuk membantunya bangun.

Nala memang suka berlarian di lorong ketika lorong sepi. Dengan alibi 'takut ada hantu', padahal memang dirinya saja yang ingin berlarian. Hazel sudah hafal itu diluar kepala.

“Nalaaaaaa!” terdengar suara Tere yang tertinggal jauh di belakangnya.

Tere menghentikan langkah kakinya tepat di samping Nala yang celingukan.

“Re, ada Davi tuh di depan, ditungguin.”

“Yang bener? aaaa thank you zel. Nala, gue duluan yaaaa, byeee.” Pamit Tere kegirangan saat mengetahui Davi sedang menunggunya.

Kemudian Nala berjalan—hendak membuntuti Tere—namun pergelangan tangannya dicekal oleh Hazel.

“Nala,”

“Aku mau pulang.”

“Yaudah, ayo, aku anterin.”

Nala enggan menanggapi, ia terus berjalan, sedangkan Hazel mengekor dibelakangnya.

“Yah ujan,” Nala menggumam pelan secara spontan.

Hazel melepas jaket levisnya—meletakkan jaket tersebut di kepala. Nala—terakhir, ia rangkul Nala untuk mengajaknya berlari kecil ke mobil.

Di dalam mobil, Nala justru menunjukkan raut khawatir sambil menatap Hazel yang sibuk memasangkan sabuk pengaman untuknya.

“Kenapa ngga nunggu redaan dikit, sih?”

“Hujannya awet.”

“Minjem payung atau apa gitu,”

“Tadi ngga ada orang, Nala, sepi.”

Memang semua yang dikatakan Hazel benar. Nala hanya sedikit khawatir, karena sepanjang ingatan yang ia punya, Hazel mudah sakit.

Nala kira, Hazel akan langsung melajukan mobilnya untuk menerjang hujan—nyatanya, mereka hanya terdiam canggung.

“Nala...”

Nala menoleh, namun kepalanya tertunduk—pandangannya ia lempar ke sembarang sisi.

Tangan dingin Hazel meraih kedua tangan Nala yang juga sama dinginnya. Ia genggam tangan Nala, tak lupa membubuhinya dengan kecupan-kecupan ringan, tak jarang juga Hazel letakkan tangan Nala pada pipinya yang hangat.

“Nala—”

“Aku bakalan ngalah kalo kamu dari awal bilang. Aku ga masalah mau jalan kapanpun, asal apa? kamu tau kan?”

“Asal aku bilang.”

“Itu kamu tau. Aku ga pernah ngerasa saingan sama temen kamu, aku ga pernah mau debat tentang kamu yang dahuluin hal yang lain dari pada aku. Aku ga masalah sama itu semua asalkan kamu bilang. Di sini kamu udah janji, Zel. Pertama kamu bilang agak telat, aku oke-in karena kamu bilang sama aku. Kedua, kamu bilang kalo dateng jam 7, tapi kamu baru bales jam 10. Paham kan?”

“Iya aku tau, aku paham. Aku minta maaf. Aku ga bakalan bela diri aku, karena aku emang salah. Aku bener-bener lupa, sampe pas Jere mention nama kamu, katanya 'Oh iya, Zel, katanya lu mau jalan sama Nala, ngga jadi?' walaupun aku kemarin agak pusing karena minum, aku masih denger apa yang Jere omongin. Makanya aku baru mau chat kamu waktu di jam segitu.”

“Terus kamu pulang jam berapa?”

“Aku pamit saat itu juga. Aku ngechat kamu pas di mobil, siapa tau kamu masih mau. Pas kamu ternyata marah, yaudah aku pulang.”

“Kamu nyetir pas mabok-mabok, gitu?”

“Aku ngga mabok banget, Sayang. Aku masih sadar.”

“Ngerti bahaya ngga?”

“Iya tau, kan aku—”

“Kecuali kamu pergi sama aku, sama Jere atau sama Tere. Jadi ada yang nyetirin kamu, kalo begini kan ngga aman, Zel. Walaupun kamu bilang pusingnya cuma dikit.”

“Iya. maaf maaf,”

Nala mengangguk pelan, “Zel, aku juga minta maaf...”

“Sini, duduk sini.” Hazel menepuk pahanya, mengisyaratkan pada Nala untuk duduk dipangkuannya.

Nala pun dengan susah payah memposisikan dirinya dengan nyaman. Tangannya ia kalungkan—kepalanya ia sandarkan pada pundak Hazel.

“Zel, capek ngga sih ngadepin aku yang banyak mau, ambekan gara-gara hal sepele gini?”

“Ngomong apa si?”

“Serius, jawab aku.”

“Ngga.”

“Ngga doang?”

“Ya iya, lagian juga kamu ngambek ngga setiap hari. Kalo soal banyak maunya, ya bisa diatur. Toh, aku seneng aja nurutin mau kamu.”

“Tapi kesannya aku kaya egois, Zel.”

“Egois gimana? ngga tuh. Aku rasa juga ngga kamu doang yang bakal marah kalo aku ngga nepatin janji. Tapi aku juga, atau bahkan mayoritas orang juga begitu, kan. Jadi, sebab kamu marah itu sebenarnya juga masih 'biasa'. Ngga berlebihan.”

Hazel tiba-tiba mencium leher Nala sekilas. Nala pun mengusap-usap rambut Hazel dengan lembut.

“Zel, aku minta maaf.”

“Maaf kenapa? bukannya aku?”

“Aku nyuekin kamu, terus juga sewot gitu.”

“Gapapa, aku juga paham.”

Nala paling senang jika Hazel membubuhi ciuman pada perpotongan lehernya dan beruntungnya, Hazel tau itu.

“Hihii, geli, Zel.”

“Katanya suka?”

Nala mengangguk antusias sebelum wajahnya mendekat untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Hazel.

cw // harsh word, hit, bruises, mention of wounds, mention of blood, kissing

Hazel kini sedang menunggu pesanan kopi titipan nala siap untuk ia bawa. Sembari itu, ia merenung, menyesali keputusannya yang terlalu tiba-tiba.

;

Selepas Tere menceritakan segala hal yang terjadi pada siang hari tadi, seketika emosi Hazel memuncak. Otomatis, Hazel langsung bergegas ke kampus dan mencari sang pelaku yang telah membuatnya naik darah—Rendy.

Selama ini, Hazel menahan segala amarah yang mengendap di dalam dirinya hanya karena Nala. Ia menghormati Nala yang selalu berusaha menahannya setengah mati untuk tidak adu fisik dengan kakak tingkat yang paling dibencinya itu.

Karena, bagaimanapun juga, Nala-lah yang berhak memutuskan untuk membalas Rendy atau tidak. Namun, sekarang tidak lagi. Hazel anggap keputusannya adalah keputusan Nala juga. Walaupun ia tau ini salah.

Berbekal info dan dengan ditemani temannya—Jeremy—Hazel pergi mencari Rendy di parkiran belakang kampus yang biasa digunakan mahasiswa lain berkumpul setelah jam kuliah selesai.

Walaupun Rendy bersama banyak teman, hal itu tidak membuat Hazel takut. Hazel menghampiri Rendy dan berdiri tepat di hadapannya.

Ketika Rendy bangun dari duduknya, Hazel langsung menghantam pipi kiri Rendy tanpa didahului sepatah kata pun.

Rendy memegang pipinya sekilas lalu membalas pukulan Hazel. Pukulan tersebut melayang tepat pada bibir sebelah kanan bawah Hazel.

Rendy berseru, “Lu kenapa anjing?!”

“Lu yang kenapa, tolol. Ga usah belaga bego. Gua nahan-nahan biar ga berantemin lu gara-gara Nala, ya. Tapi lu didiemin makin ngelunjak bangsat.”

Rendy menyunggingkan senyumnya sambil menatap remeh Hazel, “Oh, ngadu?”

Hazel tidak menggubris, ia justru membalas pertanyaan Rendy dengan pukulan lagi. Mereka bertengkar di sana, entah seberapa lama. Yang jelas, tubuh Hazel menampilkan beberapa luka lebam yang terlihat jelas.

;

'Harusnya gua ga berantemin sekarang. Gua lupa kalo mau ketemu Nala nanti.' Gumam Hazel.

Hazel tau jika Nala tidak suka dengan seseorang yang dengan mudahnya membatalkan janji. Maka dari itu, Hazel tetap bersikeras ingin menemui Nala—walaupun ia tau, beberapa jam ke depan, pertemuannya akan dihiasi dengan ocehan, omelan, serta nasehat tanpa jeda dari Nala.

;

Ketika Hazel sampai di depan pagar rumah Nala yang terbuka lebar—ia melihat Nala yang sedang duduk manis di teras sembari celingukan memastikan siapa yang lewat di halaman rumahnya.

“Hazel!”

Hazel yang biasa menyibak poninya supaya tidak menutupi dahi—kini membenahi poninya untuk menutupi dahinya yang terluka akibat perkelahian tadi.

“Wangi banget, mau ke mana?” Ledek Hazel begitu Nala memeluknya.

“Aku baru selesai mandi, kan mau ketemu kamu.”

Ketika Nala hendak melepas pelukannya, Hazel menahan pinggang Nala—yang menyebabkan Nala mendongak menatap Hazel.

Nala tersenyum, tangannya ia arahkan untuk memainkan rambut Hazel, seperti biasa.

Hazel lupa, ia terlalu terlena dengan senyuman manis Nala. Sehingga ketika Nala menyibak poninya, Hazel tidak sempat menghindar. Sehingga luka di dahinya terpampang dengan jelas.

“Zel?”

Sadar akan nada bicara Nala yang terdengar khawatir, Hazel menanggapinya dengan kalimat yang (semoga) meyakinkan.

“Ini, aku belum potong kuku, terus pas lagi buru-buru sambil benerin rambut, jadi kecakar.”

Entah alasannya yang bodoh, atau Nala yang pintar.

Tangan Nala langsung menyambar kedua tangan Hazel.

“Kuku kamu pendek, garis kukunya juga ngga keliatan kaya baru dipotong. Aku ngga bego, ya, Zel. Luka kamu juga bukan luka yang sekedar kegores kuku. Robek, Zel, robek.”

Nada bicara Nala mulai tidak teratur, sedikit terengah juga terselip rasa khawatir di sela-selanya.

“Jawab. Kamu kenapa? abis ngapain?”

Sebelum Hazel menjawab, Nala membuka mulutnya dengan ekspresi terkejut, seperti menyadari sesuatu.

“Jangan bilang kamu berantem sana Rendy? — jawab!”

“Sorry,”

Kemudian Nala langsung melepas masker yang Hazel pakai. Betapa terkejutnya Nala karena dugaannya benar—bahwa pipi, juga bibir Hazel penuh dengan luka lebam.

Nala menarik napasnya panjang dan menarik Hazel untuk masuk ke dalam rumahnya. Nala berlari kecil untuk mengambil kotak obatnya yang berada di dekat dapur.

“Nala, sorry...” Ucap Hazel lirih, ketika Nala sibuk mengeluarkan isi kotak obatnya.

“Nala,”

“Kamu diem.”

Nala membersihkan luka lebam tersebut dengan telaten, walaupun tadi di rumah, Hazel sudah membersihkannya.

Sebelum memberinya salep, Nala menekan pelan luka lebam tersebut. Yang membuat Hazel sedikit meringis kesakitan.

“Sakit, kan?” tanya Nala.

“Perih doang dikit.”

“Kamu berantemin dia sendiri? kan temen dia banyak, Zel. Nanti kalo kamu dikeroyok gimana?”

“Aku sama Jeremy, kok. Jeremy juga ga suka kalo Tere digituin, makanya dia mau mau aja nemenin aku. Mendingan kan daripada sendiri?”

“Mendingan dari mananya? kamu berdua aja masih kurang. Ngga liat temennya dia segerombolan?”

Hazel tertawa kecil, “Jadi aku bawa pasukan, nih?”

“Ngga gitu!”

“Aku ga suka kamu digodain dia mulu, Nal. Apalagi tadi dia maksa-maksa kamu, narik-narik kamu. Itu kan udah keterlaluan.”

“Ya tapi jangan berantem gini, Zel. Sekarang aku tanya, kamu kesel ngga kalo aku digodain Rendy?”

“Kesel, ngga suka. Makanya aku berantemin.”

“Sama, aku juga gitu. Aku ngga suka liat kamu berantem, apalagi sampe luka-luka gini.”

“Jadi, kalo berantem jangan sampe luka, gitu, ya?”

“Kamu berantem duluan sini sama aku.”

“Ngga deh, ngga sanggup. Kayanya bakalan langsung kalah telak.”

“Masih aja ya bisa bercanda.”

“Biar kamu tau, kalo aku tuh gapapa.”

Hening pun seketika menyelimuti mereka.

“Di mana letak gapapanya? sini?” Tanya Nala sambil menekan luka Hazel, “Atau sini?” lanjutnya.

“Aw, sakit sakit, masih ngilu, sumpah.”

“Katanya gapapa?”

“Ya emang gapapa. Nih, ya—” Hazel menunjuk luka di sudut bibirnya.

“Kalo ini dicium, aku yakin bakal langsung 'gapapa', langsung sembuh.”

“Tau ah!” Nala mencebik kesal dan mencoba bangun untuk mengembalikan kotak obat.

Namun tangannya buru-buru ditarik Hazel untuk kembali duduk. Lalu Hazel memajukan bibirnya—memberi isyarat.

Sedangkan Nala memutar bola matanya malas.

Diciumnya bibir Hazel sekilas, yang mengundang protes dari sang pemilik.

“Lagi,” pinta

Sekarang, Nala justru tersenyum. Menurutnya, Hazel menjelma menjadi makhluk paling lucu saat meminta ciuman. Apalagi dengan bibirnya yang sengaja cemberut untuk mengundang empati Nala.

Nala menciumnya sekali lagi,

tapi, tangan Hazel menahan tengkuknya sambil melumat bibir Nala dengan lembut.

Tercetak senyuman keduanya pada sesi ciuman mereka.

Setelahnya, Hazel menatap Nala, “Nala, maaf ya.”

“Kalo kamu ngga gini lagi, aku maafin.”

Hazel mengangguk cepat, mengiyakan perkataan Nala—yang padahal dirinya tidak menjamin akan menepatinya atau tidak.

“Please, don't get hurt, Zel. Aku juga sakit liatnya.”

Hazel mengangguk sekali lagi dan meraih rambut Nala untuk ia usap, sambil membubuhinya ciuman.

cw // kiss

Yang namanya hubungan pasti tak luput dengan lika-liku, begitu pun dengan Jeongin dan Seungmin.

Mereka melalui gunung dan lembah dalam 'perjalanan' mereka selama kurang lebih tiga tahun.

Beruntungnya, mereka dapat saling mengerti satu sama lain. Jika terjadi salah paham, salah satunya akan menjelaskan. Jika salah satunya dirundung amarah, satu lainnya akan mengalah.

;

Bagi Jeongin, tidak ada kata sibuk untuk Seungmin. Maka dari itu, Jeongin tidak pernah absen memberi kabar untuk kekasihnya.

Hari ini adalah anniversary mereka yang ke-tiga tahun. Bukanlah waktu yang sebentar, bukan?

Karena hari ini terbilang sangat spesial, maka, Jeongin ingin merayakannya dengan maksimal. Ia akan melakukan apapun supaya Seungmin merasa senang dan dicintai— walaupun kata Seungmin,

“Kamu biasa-biasa aja juga aku udah ngerasa kalo kamu cinta sama aku, Jeku.”

Namun, Jeongin tetaplah Jeongin—yang selalu memegang teguh komitmennya. Jika dari awal ia sudah bertekad untuk memberikan sesuatu yang maksimal, maka seterusnya akan selalu begitu.

;

Matahari masih menampakkan sinarnya dengan terik, pertanda masih siang— Hari masih terlalu dini untuk melihat bintang. Namun, Jeongin sudah dalam perjalanan menuju rumahnya.

Meskipun dalam benaknya, Seungmin masih bertanya-tanya, ia tetap meng-iya-kan keputusan Jeongin.

Begitu Jeongin sampai, Seungmin berniat untuk berceloteh panjang lebar, mempertanyakan alasan Jeongin, dan sebagainya.

Seungmin berjalan ke arah Jeongin, “Jekuuuuuu,”

Sedangkan Jeongin yang tadinya bersandar pada pintu mobil—pun langsung berdiri dan merentangkan tangannya untuk menyambut Seungmin.

“Halo, sayang— cantik banget.”

“Aku kangen deh,”

“Hahaha aku juga, kok.”

Seungmin makin mengeratkan pelukannya pada Jeongin. Tangan Jeongin pun tak tinggal diam, ia arahkan tangan kanannya untuk mengusap kepala Seungmin.

“Je, kita jadi stargazing?”

“Jadi, kok, kenapa emangnya?”

“Kamu tau maksud aku, kan, Je?” Seungmin memasang wajah seperti 'Come on, Jeongin.'

“Hahaha berarti tunggu malem nanti. Kalo sekarang sama aku dulu, emangnya kamu ga mau ketemu aku?”

“Mauuu, cuma tadinya di bayangan aku tuh kayak... kita langsung, gitu.”

“Yaudah, ayo deh sekarang. Biar kamu ga makin penasaran. Liat aja tuh, muka kamu kalo lagi bingung lucu banget, hahahaha ga bisa aku.”

“Nyebelin banget kamu.” Cibir Seungmin.

Selagi Seungmin memajukan bibirnya, Jeongin curi satu ciuman di sana—yang mengundang protes dari yang lebih tua.


Mata Seungmin berbinar saat melihat tempat yang dijadikan tujuan oleh Jeongin.

“Je?”

“Stargazing, sayang.”

“Je, kamu bercanda?”

“Ngapain aku ke sini kalo bercanda?”

Ternyata, tempat yang dituju Jeongin adalah lokasi konser. Konser yang selama ini Seungmin tunggu tunggu. Jadi, wajar Seungmin se-kaget ini. Ia bahkan tidak memperkirakan bahwa Jeongin mempersiapkan semua ini untuknya.

“Je, tapi kan—”

“Gapapa, aku beneran ngga keberatan, Seung. Aku tau kalo kamu pengen banget dateng, tapi harinya barengan sama anniv kita. Jadi, kamu bisa anggap ini hadiah, oke? dan hadiah ga boleh ditolak.”

Seungmin yang sedari tadi menahan air matanya untuk tidak menetes—akhirnya menyerah.

“Hahaha kenapa kamu nangis? seneng dong harusnya,”

“Aku seneng. Seneng banget, Je. Emangnya ini ga berlebihan? kamu tuh, ya—”

Sebelum Seungmin menyelesaikan kalimatnya, Jeongin buru-buru memeluknya.

“Ssstt sssttt, nanti aku dimarahin, soalnya bawa bayi ke konser.”

“Je...”

Bukannya menenangkan, Jeongin justru meledek Seungmin berkali-kali. Menurutnya, Seungmin paling lucu saat menangis—tapi tentu saja menangis dalam artian lain.

“Makan dulu, yuk?” ajak Jeongin.

Seungmin tidak menjawab, ia justru menarik leher Jeongin untuk menciumnya. Sedangkan Jeongin dengan senang hati menerimanya.


Saat konser berlangsung, mereka berdiri berdampingan.

Sudah hal biasa ketika sang bintang pergi ke pinggir panggung untuk menyapa, atau bahkan mengambil ponsel penggemar untuk mengambil foto atau video.

Begitu juga dengan Seungmin kini. Idola nya tepat berada di depannya—tangan kanan Seungmin sudah siap untuk memberikan ponselnya —dengan posisi kamera yang menyala.

Namun sayang, yang ingin diambil justru ponsel Jeongin.

Kemudian Jeongin buru-buru menyambar ponsel Seungmin lalu menyodorkannya kepada sang idola.

Seungmin tersenyum sumringah, kemudian memerintahkan pada Jeongin untuk sedikit menunduk.

Tanpa ragu, Seungmin kecup pipi Jeongin lalu berkata, “Thank you, Jekuuu.”

“Anything to make you happy, cupcake.” Jeongin pun ikut tersenyum.

;

Di sela-sela konser, Jeongin bernyanyi sebisanya—bermodalkan ingatan saat Seungmin memutar lagu dari idolanya di mobil Jeongin.

“Seung, love you,” Jeongin menatap Seungmin.

“Love you more more more, Jeku— with or without concert ticket, hahahaha.”

cw // kiss

Yang namanya hubungan pasti tak luput dengan lika-liku, begitu pun dengan Jeongin dan Seungmin.

Mereka melalui gunung dan lembah dalam 'perjalanan' mereka selama kurang lebih tiga tahun.

Beruntungnya, mereka dapat saling mengerti satu sama lain. Jika terjadi salah paham, salah satunya akan menjelaskan. Jika salah satunya dirundung amarah, satu lainnya akan mengalah.

;

Bagi Jeongin, tidak ada kata sibuk untuk Seungmin. Maka dari itu, Jeongin tidak pernah absen memberi kabar untuk kekasihnya.

Hari ini adalah anniversary mereka yang ke-tiga tahun. Bukanlah waktu yang sebentar, bukan?

Karena hari ini terbilang sangat spesial, maka, Jeongin ingin merayakannya dengan maksimal. Ia akan melakukan apapun supaya Seungmin merasa senang dan dicintai— walaupun kata Seungmin,

“Kamu biasa-biasa aja juga aku udah ngerasa kalo kamu cinta sama aku, Jeku.”

Namun, Jeongin tetaplah Jeongin—yang selalu memegang teguh komitmennya. Jika dari awal ia sudah bertekad untuk memberikan sesuatu yang maksimal, maka seterusnya akan selalu begitu.

;

Matahari masih menampakkan sinarnya dengan terik, pertanda masih siang— Hari masih terlalu dini untuk melihat bintang. Namun, Jeongin sudah dalam perjalanan menuju rumahnya.

Meskipun dalam benaknya, Seungmin masih bertanya-tanya , ia tetap meng-iya-kan keputusan Jeongin.

Begitu Jeongin sampai, ia berniat untuk berceloteh panjang lebar, mempertanyakan alasan Jeongin.

Seungmin berjalan ke arah Jeongin, “Jekuuuuuu,”

Sedangkan Jeongin yang tadinya bersandar pada pintu mobil—pun langsung berdiri dan merentangkan tangannya untuk menyambut Seungmin.

“Halo, sayang— cantik banget.”

“Aku kangen deh,”

“Hahaha aku juga, kok.”

Seungmin makin mengeratkan pelukannya pada Jeongin. Tangan Jeongin pun tak tinggal diam, ia arahkan tangan kanannya untuk mengusap kepala Seungmin.

“Je, kita jadi stargazing?”

“Jadi, kok, kenapa emangnya?”

“Kamu tau maksud aku, kan, Je?” Seungmin memasang wajah seperti 'Come on, Jeongin.'

“Hahaha berarti tunggu malem. Emangnya kamu ga mau cepet-cepet ketemu aku?”

“Mauuu, cuma tadinya di bayangan aku tuh kayak... kita langsung, gitu.”

“Yaudah, ayo deh sekarang. Biar kamu ga makin penasaran. Liat aja tuh, muka kamu kalo lagi bingung lucu banget, hahahaha ga bisa aku.”

“Nyebelin banget kamu.” Cibir Seungmin.

Selagi Seungmin memajukan bibirnya, Jeongin curi satu ciuman di sana—yang mengundang protes dari yang lebih tua.


Mata Seungmin berbinar saat melihat tempat yang dijadikan tujuan oleh Jeongin.

“Je?”

“Stargazing, sayang.”

“Je, kamu bercanda?”

“Ngapain aku ke sini kalo bercanda?”

Ternyata, tempat yang dituju Jeongin adalah lokasi konser. Konser yang selama ini Seungmin tunggu tunggu. Jadi, wajar Seungmin se-kaget ini. Ia bahkan tidak memperkirakan bahwa Jeongin mempersiapkan semua ini untuknya.

“Je, tapi kan—”

“Gapapa, aku beneran ngga keberatan, Seung. Aku tau kalo kamu pengen banget dateng, tapi harinya barengan sama anniv kita. Jadi, kamu bisa anggap ini hadiah, oke? dan hadiah ga boleh ditolak.”

Seungmin yang sedari tadi menahan air matanya untuk tidak menetes—akhirnya menyerah.

“Hahaha kenapa kamu nangis? seneng dong harusnya,”

“Aku seneng. Seneng banget, Je. Emangnya ini ga berlebihan? kamu tuh, ya—”

Sebelum Seungmin menyelesaikan kalimatnya, Jeongin buru-buru memeluknya.

“Ssstt sssttt, nanti aku dimarahin, soalnya bawa bayi ke konser.”

“Je...”

Bukannya menenangkan, Jeongin justru meledek Seungmin berkali-kali. Menurutnya, Seungmin paling lucu saat menangis—tapi tentu saja menangis dalam artian lain.

“Makan dulu, yuk?” ajak Jeongin.

Seungmin tidak menjawab, ia justru menarik leher Jeongin untuk menciumnya. Sedangkan Jeongin dengan senang hati menerimanya.


Saat konser berlangsung, mereka berdiri berdampingan.

Sudah hal biasa ketika sang bintang pergi ke pinggir panggung untuk menyapa, atau bahkan mengambil ponsel penggemar untuk mengambil foto atau video.

Begitu juga dengan Seungmin kini. Idola nya tepat berada di depannya—tangan kanan Seungmin sudah siap untuk memberikan ponselnya —dengan posisi kamera yang menyala.

Namun sayang, yang ingin diambil justru ponsel Jeongin.

Kemudian Jeongin buru-buru menyambar ponsel Seungmin lalu menyodorkannya kepada sang idola.

Seungmin tersenyum sumringah, kemudian memerintahkan pada Jeongin untuk sedikit menunduk.

Tanpa ragu, Seungmin kecup pipi Jeongin lalu berkata, “Thank you, Jekuuu.”

“Anything to make you happy, cupcake.” Jeongin pun ikut tersenyum.

#— where there's jeku, there's love.

cw // kiss

Yang namanya hubungan pasti tak luput dengan lika-liku, begitu pun dengan Jeongin dan Seungmin.

Mereka melalui gunung dan lembah dalam 'perjalanan' mereka selama kurang lebih tiga tahun.

Beruntungnya, mereka dapat saling mengerti satu sama lain. Jika terjadi salah paham, salah satunya akan menjelaskan. Jika salah satunya dirundung amarah, satu lainnya akan mengalah.

;

Bagi Jeongin, tidak ada kata sibuk untuk Seungmin. Maka dari itu, Jeongin tidak pernah absen memberi kabar untuk kekasihnya.

Hari ini adalah anniversary mereka yang ke-tiga tahun. Bukanlah waktu yang sebentar, bukan?

Karena hari ini terbilang sangat spesial, maka, Jeongin ingin merayakannya dengan maksimal. Ia akan melakukan apapun supaya Seungmin merasa senang dan dicintai— walaupun kata Seungmin,

“Kamu biasa-biasa aja juga aku udah ngerasa kalo kamu cinta sama aku, Jeku.”

Namun, Jeongin tetaplah Jeongin—yang selalu memegang teguh komitmennya. Jika dari awal ia sudah bertekad untuk memberikan sesuatu yang maksimal, maka seterusnya akan selalu begitu.

;

Matahari masih menampakkan sinarnya dengan terik, pertanda masih siang— Hari masih terlalu dini untuk melihat bintang. Namun, Jeongin sudah dalam perjalanan menuju rumahnya.

Meskipun dalam benaknya, Seungmin masih bertanya-tanya , ia tetap meng-iya-kan keputusan Jeongin.

Begitu Jeongin sampai, ia berniat untuk berceloteh panjang lebar, mempertanyakan alasan Jeongin.

Seungmin berjalan ke arah Jeongin, “Jekuuuuuu,”

Sedangkan Jeongin yang tadinya bersandar pada pintu mobil—pun langsung berdiri dan merentangkan tangannya untuk menyambut Seungmin.

“Halo, sayang— cantik banget.”

“Aku kangen deh,”

“Hahaha aku juga, kok.”

Seungmin makin mengeratkan pelukannya pada Jeongin. Tangan Jeongin pun tak tinggal diam, ia arahkan tangan kanannya untuk mengusap kepala Seungmin.

“Je, kita jadi stargazing?”

“Jadi, kok, kenapa emangnya?”

“Kamu tau maksud aku, kan, Je?” Seungmin memasang wajah seperti 'Come on, Jeongin.'

“Hahaha berarti tunggu malem. Emangnya kamu ga mau cepet-cepet ketemu aku?”

“Mauuu, cuma tadinya di bayangan aku tuh kayak... kita langsung, gitu.”

“Yaudah, ayo deh sekarang. Biar kamu ga makin penasaran. Liat aja tuh, muka kamu kalo lagi bingung lucu banget, hahahaha ga bisa aku.”

“Nyebelin banget kamu.” Cibir Seungmin.

Selagi Seungmin memajukan bibirnya, Jeongin curi satu ciuman di sana—yang mengundang protes dari yang lebih tua.


Mata Seungmin berbinar saat melihat tempat yang dijadikan tujuan oleh Jeongin.

“Je?”

“Stargazing, sayang.”

“Je, kamu bercanda?”

“Ngapain aku ke sini kalo bercanda?”

Ternyata, tempat yang dituju Jeongin adalah lokasi konser. Konser yang selama ini Seungmin tunggu tunggu. Jadi, wajar Seungmin se-kaget ini. Ia bahkan tidak memperkirakan bahwa Jeongin mempersiapkan semua ini untuknya.

“Je, tapi kan—”

“Gapapa, aku beneran ngga keberatan, Seung. Aku tau kalo kamu pengen banget dateng, tapi harinya barengan sama anniv kita. Jadi, kamu bisa anggap ini hadiah, oke? dan hadiah ga boleh ditolak.”

Seungmin yang sedari tadi menahan air matanya untuk tidak menetes—akhirnya menyerah.

“Hahaha kenapa kamu nangis? seneng dong harusnya,”

“Aku seneng. Seneng banget, Je. Emangnya ini ga berlebihan? kamu tuh, ya—”

Sebelum Seungmin menyelesaikan kalimatnya, Jeongin buru-buru memeluknya.

“Ssstt sssttt, nanti aku dimarahin, soalnya bawa bayi ke konser.”

“Je...”

Bukannya menenangkan, Jeongin justru meledek Seungmin berkali-kali. Menurutnya, Seungmin paling lucu saat menangis—tapi tentu saja menangis dalam artian lain.

“Makan dulu, yuk?” ajak Jeongin.

Seungmin tidak menjawab, ia justru menarik leher Jeongin untuk menciumnya. Sedangkan Jeongin dengan senang hati menerimanya.


Saat konser berlangsung, mereka berdiri berdampingan.

Sudah hal biasa ketika sang bintang pergi ke pinggir panggung untuk menyapa, atau bahkan mengambil ponsel penggemar untuk mengambil foto atau video.

Begitu juga dengan Seungmin kini. Idola nya tepat berada di depannya—tangan kanan Seungmin sudah siap untuk memberikan ponselnya —dengan posisi kamera yang menyala.

Namun sayang, yang ingin diambil justru ponsel Jeongin.

Kemudian Jeongin buru-buru menyambar ponsel Seungmin lalu menyodorkannya kepada sang idola.

Seungmin tersenyum sumringah, kemudian memerintahkan pada Jeongin untuk sedikit menunduk.

Tanpa ragu, Seungmin kecup pipi Jeongin lalu berkata, “Thank you, Jekuuu.”

“Anything to make you happy, cupcake.” Jeongin pun ikut tersenyum.