rigeleo

TW // Mention of Cheating, Past Trauma, High Anxiety. CW // Miscommunication, Overthinking, Body Modification (Tattoo), Fluff & Teasing.


Jarum jam menunjukkan sekitar pukul empat sore, saatnya Seungmin menyudahi rutinitas kantornya. Namun, sebuah pesan singkat dari Jisung masuk ke ponselnya; kekasihnya itu mengabarkan bahwa ia baru akan tiba sekitar jam setengah lima atau bahkan jam lima karena jalanan sedang berada di puncak kemacetan. Alhasil, Seungmin memutuskan untuk menunggu di toko kopi langganannya yang terletak tak jauh dari kantor.

Lonceng pintu berdenting nyaring saat Seungmin melangkah masuk. Aroma biji kopi panggang yang familier langsung menyapa indranya, disusul sapaan hangat dari barista di balik konter bernama Junseok.

“Eh, Kak Seungmin! Tumben belum dijemput. Kak Jisung ke mana?” tanya Junseok semangat.

“Iya nih, tadi dia bilang agak macet. Terus berangkatnya agak telat dari kantor, soalnya ada yang kelupaan dikerjain,” jawab Seungmin sembari menghampiri meja kasir.

Sambil menunggu kopinya siap, Seungmin terhanyut dalam lamunannya. Junseok bukan sekadar barista bagi mereka, melainkan sosok adik yang ingin mereka lindungi. Itulah alasan mengapa sekarang ia dan Jisung sepakat untuk menanggung biaya kuliah Junseok. Bagi mereka, melihat Junseok bisa tetap belajar tanpa harus memusingkan biaya adalah kebahagiaan tersendiri—sebuah janji yang mereka pegang teguh.

Begitu pesanan siap, Junseok menarik kursi dan duduk di hadapan Seungmin. “Gimana Kak kerjanya? Aman ngga? Lu kepikiran apa? Ada masalah?”

Seungmin terdiam sejenak sebelum akhirnya berujar lirih, “Sebenarnya ya, Jun, gue tuh ngga ada masalah sama Jisung. Cuma ada hal yang ganjel di hati gue. Gue kayak curiga dia lagi nyembunyiin sesuatu...”

“Eum... Lu curiga Kak Ji selingkuh?” tebak Junseok langsung.

Seungmin langsung gelagapan. “E-enggak juga sih. Maksud gue tuh curiganya karena takut dia ngelakuin sesuatu yang bodoh gitu. Tapi pikiran gue ngga bisa berhenti.”

“Iya sih, tapi gue yakin lu curiganya perihal takut Kak Ji selingkuh. Tapi, first of all, gue rasa dia bukan orang yang kayak gitu deh, Kak.”

“Sama, Jun. Gue juga mikir kayak gitu. Tapi pikiran gue ngga bisa berhenti.”

“Coba aja lu obrolin dulu Kak, jelasin alasan yang mendasarinya tuh apa. Ibaratnya kayak bukti konkrit yang lu punya lah,” saran Junseok bijak.

Seungmin mengangguk sekilas. “Iya, bener juga, Jun. Kejadian yang bikin gue curiga tuh dari semalam sampai tadi pagi, jadi gue kayak... bingung harus apa. Makasih banyak ya sarannya, nanti gue coba. Gue jadi malu deh, otak gue rasanya ngga jalan, gue malah nanya ke orang yang bahkan belum pernah pacaran!”

“Dih, gue gini-gini bisa jadi konsultan cinta, Kak! Don't underestimate me! balas Junseok bercanda. Tak lama kemudian, lonceng pintu berbunyi lagi. Sosok Jisung tampak melangkah masuk dengan semangat, menyapa Junseok dan memeluknya akrab. Setelah berbincang singkat, pasangan itu pun pamit untuk pulang.

Sekitar sepuluh menit berkendara, Jisung menghentikan mobilnya di depan sebuah toko es krim. Ia turun sebentar dan kembali dengan dua cup es krim di tangannya.

“Habis ini kan kita beli makanan, kamu mau dine in atau take away? Kalo take away, kita makan di kost aja, atau gimana?” tanya Jisung pelan.

Seungmin menyahut, “Aku pengen rebahan, pegel-pegel gitu badanku rasanya. Jadi, di kost aja ya, Ji?”

Jisung pun mengiyakan tanpa bantahan. Ia kembali melajukan mobilnya, mengunjungi satu persatu pertokoan yang tadi sudah ia janjikan pada Seungmin—mulai dari makanan ringan hingga makanan berat, semuanya ia beli sesuai keinginan kekasihnya itu.

Namun, di balik tumpukan kantung makanan di kursi belakang, suasana di dalam mobil malam itu rasanya—entah mengapa—terasa jauh lebih canggung dari biasanya. Seungmin mendadak banyak diam, matanya lebih sering tertuju ke luar jendela memandangi lampu jalanan yang berkelebat. Di sisi lain, Jisung tampak beberapa kali melirik ke arah Seungmin, seolah ragu untuk memulai percakapan yang lebih dalam.

Meskipun demikian, kedekatan mereka seakan tak terpengaruh; Jisung yang seakan menawarkan pundaknya untuk disandarkan, dan Seungmin yang dengan senang hati menerimanya, membuat mereka berdua berpikir bahwa mereka akan baik-baik saja. Kecanggungan ini hanyalah satu kejadian langka dari ribuan jam yang telah mereka habiskan bersama.

Dirasa perbekalan mereka sudah cukup, Jisung langsung mengarahkan mobil menuju kost. Mobil yang melaju dengan kecepatan konstan itu akhirnya sampai di tujuan dalam waktu tempuh sekitar satu jam. Sesampainya di sana, Seungmin pamit untuk mandi di kamarnya terlebih dahulu. Jisung pun mengiyakan, karena memang sudah menjadi kebiasaan mereka untuk membersihkan diri di kamar masing-masing. Mereka ingin saat berkumpul nanti, tubuh mereka sudah dalam keadaan segar, sehingga lebih nyaman untuk mengobrol.

Sekitar empat puluh menit berlalu, Seungmin pun turun menuju kamar Jisung yang berada satu lantai di bawahnya. Ia memutar knop pintu perlahan, dan netranya langsung menangkap sosok Jisung yang tengah sibuk mengenakan bajunya.

Lagi-lagi, pemandangan itu mengusik pikiran Seungmin. Rasanya ada yang salah. Biasanya, jika mereka sudah berada di dalam kamar kost, Jisung adalah tipe orang yang paling anti memakai baju karena tidak tahan dengan udara kamar yang seringkali terasa gerah baginya. Namun sekarang, Jisung justru terlihat terburu-buru mengenakan baju seolah ada sesuatu yang harus segera ia tutupi. Hal-hal kecil yang janggal itu kembali menumpuk di kepala Seungmin, membuat rasa herannya kini mencapai puncak tepat saat Jisung menoleh ke arahnya.

“Eh, sayangku,” sapa Jisung. Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, seolah ada nada lega sekaligus ragu yang bercampur jadi satu.

Jisung melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka sebelum akhirnya menarik Seungmin ke dalam pelukan manja. Ia menyandarkan dagunya di bahu Seungmin, memeluknya erat-erat seolah sedang mencari pegangan. Seungmin sempat terdiam sejenak, merasakan detak jantung Jisung yang sedikit tidak beraturan, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membalas pelukan itu.

Seungmin menumpu dagunya di pundak Jisung, membiarkan keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Ia bisa merasakan napas Jisung yang terasa berat di ceruk lehernya.

“Kenapa, Ji? Kok dari tadi kayaknya gelisah banget?” tanya Seungmin akhirnya, suaranya pelan, hampir menyerupai bisikan. Ia mengusap punggung Jisung pelan. “Kamu kalau mau cerita atau ngomong sesuatu... bilang aja ke aku. Aku di sini.”

Jisung menghela napas panjang dan melepaskannya dengan kasar. “Kalau boleh jujur, aku rasanya kurang puas sama jawaban kamu tadi perihal kamu masih marah atau ngga. Kita kayak jadi canggung banget, Seung. Aku merasanya kamu kayak ada yang disembunyiin, ada hal yang ganggu pikiran kamu, tapi kamu nggak bisa bilangnya.”

Jisung melepaskan pelukannya sedikit, menyisakan tangannya yang masih melingkar protektif di pinggang Seungmin. “Iya, emang. Kamu jelek banget kalau nutup-nutupin sesuatu. Mending kamu bilang ke aku sekarang, kamu kenapa. Aku minta maaf kalau semisal aku ada kesalahan yang aku ngga sadarin, karena jujur aku clueless banget, sayang.”

Seungmin menatap mata Jisung sejenak, lalu ia memegang lembut tangan kekasihnya itu dan menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang. Setelah mereka duduk berhadapan, Seungmin menghela napas panjang untuk mengumpulkan keberanian.

“Iya Ji, sebenarnya ada hal yang ganggu banget di aku. Awalnya aku pikir... mikir kayak gini tuh salah banget, soalnya apa yang aku dapetin dari kamu tuh justru kebalikannya,” ucap Seungmin memulai.

Jisung mengernyitkan dahi bingung. “Maksudnya kebalikannya gimana, Seung? Aku beneran nggak nangkep arah omongan kamu.”

Seungmin menarik napas dalam, meremas jemarinya pelan sebelum melanjutkan. “Aku kasih analogi ya, biar kamu paham maksudku. Bayangin kamu lagi kehilangan barang, dan kamu curiga sama satu orang. Tapi, orang yang kamu curigain ini justru nunjukin sikap yang 'anti-maling' banget. Dia yang paling semangat bantuin kamu nyari barang itu, dia yang paling sibuk jagain kamu, bahkan dia yang paling depan buat nangkep pelakunya.”

Seungmin menjeda sebentar, menatap mata Jisung yang tampak mulai serius menyimak.

“Otomatis pikiran kamu bakal terdistraksi, kan? Kamu bakal mikir, 'Nggak mungkin dia orangnya, lihat aja dia baik banget dan bantuin aku segininya'. Tapi di sisi lain, jauh di lubuk hati kamu, kamu juga tahu kalau ngebantu nangkep maling itu bukan bukti otomatis kalau dia bukan pelakunya—selama maling aslinya belum ketemu. Dia bisa aja cuma lagi bikin skenario buat nutupin jejaknya sendiri.”

Seungmin menghela napas panjang. “Pikiranku muter-muter di situ aja, Ji. Pas aku mau curiga, kamu baik banget ke aku, jadi pikiranku positif lagi. Tapi pas ada hal aneh muncul, aku balik negatif lagi. Dan siklus itu jujur... bener-bener ngeganggu dan capek banget di aku.”

“Oke, aku paham analoginya,” potong Jisung pelan. “Sekarang aku mau minta kamu langsung to the point. Apa yang bikin kamu mikir kayak gitu? Apa dan siapa?” Tanya Jisung. Ia berusaha memverifikasi kembali, benarkah yang Seungmin maksud itu adalah dirinya.

Seungmin menjawab singkat namun telak, “Kamu.”

Jisung tampak tersentak, namun ia memberikan ruang bagi Seungmin untuk mengurai semuanya. Seungmin pun mulai membedah kejanggalan yang ia rasakan: mulai dari sikap Jisung yang “terlalu baik” hingga ia merasa terbebani, kejadian semalam saat Jisung menghilang tanpa kabar, hingga kebiasaan tidur yang berubah drastis pagi tadi.

“Nih, aku bahas satu-satu ya Ji. Jujur, awalnya aku ngerasa sikap kamu akhir-akhir ini tuh baiknya beda. Oke, kamu biasanya memang baik, jajanin aku, kasih apa yang aku mau. Tapi kali ini tuh rasanya kayak ada yang ngeganjel, kayak kamu ngelakuin itu buat menutupi sesuatu. Demi apa pun, aku baru mikir kayak gini kali ini aja, Ji. Awalnya aku pikir ini cuma perasaan ngga enak karena aku terus-terusan kamu kasih sesuatu. You spend a lot for me, apalagi kita mau anniv. Aku stres mikir harus kasih kado apa yang setara karena kamu udah beneran all-in. Aku nggak mau hubungan kita berat sebelah. Awalnya aku pikir cuma sebatas itu.”

“Tapi lama-kelamaan, gerak-gerik kamu makin mencurigakan. Kamu ngga biasanya slow respon selama itu, bahkan ngga balas chat sampai malam. Aku beneran hilang arah, Ji. Aku sempat telepon via pulsa karena takut WA kamu di-silent, tapi kamu tetep ngga jawab. Padahal biasanya kamu selalu sigap kalo aku udah pake jalur pribadi kayak gitu.”

“Besokannya pas aku bangunin kamu, aku makin bingung. Kok kamu tumben tidurnya pakai baju lengkap dan selimut? Padahal aku hafal banget kebiasaan kamu yang ngga tahan gerah. Bahkan sampai barusan, kamu masih pakai baju di kamar. Padahal biasanya kalau udah di kost, kamu kayak ngga kenal baju. Puncaknya tadi pas aku lihat ada bercak kemerahan di dada kamu dan kamu panik buat nutup-nutupin itu... Coba kalau kamu jadi aku, kamu bakal mikir aneh-aneh ngga?”

Jisung menghela napas panjang, tampak lega. Ia membelai rambut Seungmin perlahan. “Seung, kamu ingat nggak waktu aku tanya soal My Body, My Choice? Di situ tuh aku... aku merasa butuh sesuatu yang baru dalam diriku. Dan kalau kamu mau tau...”

Jisung menjeda kalimatnya, lalu perlahan ia membuka kaosnya. Seungmin tersentak hebat. Di sana, di permukaan kulit dada Jisung, kini terukir sebuah tato permanen yang indah namun masih tampak kemerahan dan meradang.

“Ini konyol sih,” Jisung terkekeh ngeledek melihat reaksi Seungmin. “Maksud pertanyaanku waktu itu, aku mau tahu pendapat kamu gimana. Aku berencana bikin tato ini buat surprise pas anniversary nanti, makanya aku tanya secara terselubung.”

Jisung menggenggam tangan Seungmin erat. “Ternyata hal yang aku anggap simpel itu belum tentu diterima sesimpel itu di kamu. Buktinya kamu mikirnya sampai ke mana-mana. Harusnya aku jujur dari awal bukannya nutupin. Aku tahu arah pikiranmu ke mana, Seung... tapi aku janji, aku ngga bakal pernah ngecewain kamu. Aku ngga bakal ngulangin apa yang mantan kamu dulu lakuin. Maaf kalau aku udah bikin kamu overthinking dan gelisah. Tolong percaya sama aku, aku ngga pernah ada niat untuk ke arah (perselingkuhan) itu sama sekali.”

Seungmin mematung, menatap tato itu sebelum emosinya meledak. “Are you kidding me, Ji?!” seru Seungmin dengan suara naik satu oktav. Ia memukul pelan bahu Jisung berkali-kali. Istg, you really are an idiot! Kamu bikin aku gila semalaman cuma gara-gara ini?!”

Air mata Seungmin tumpah karena rasa lega yang luar biasa konyol. “Kamu tau ngga? Aku udah nyiapin mental kalau kamu bakal mutusin aku atau ada orang lain! Aku sampai ngabsen kebiasaan tidur kamu, aku ngerasa disogok sama kebaikan kamu... dan ternyata alasannya cuma karena tato?! Kenapa harus disembunyiin kayak gini?!”

Jisung justru terkekeh pelan ngeledek. “Aduh, aduh... pelan-pelan mukulnya, sayang. Ini pasien tato baru, lho. Jadi... kamu beneran mikir aku selingkuh? Wah, Seung, kreatif banget ya jalan pikiran kamu semalaman. Sampai segitunya kamu merhatiin aku, hm?”

Seungmin mendengus keras, tapi jemarinya mengusap pinggiran tato itu dengan hati-hati. Ia mendongak, menatap Jisung dengan senyum tipis yang mulai muncul.

“Tapi jujur ya, Ji... surprise-nya berhasil sih. Aku beneran kaget setengah mati. Dan tatonya... it actually looks really hot on you,” bisik Seungmin. Jisung menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan pujian tiba-tiba itu. “Oh ya? Tadi katanya aku idiot?”

“Ya emang idiot! Tapi ya emang bagus tatonya,” balas Seungmin cepat sambil mencubit pelan pinggang Jisung, membuat pria itu mengaduh kecil. Seungmin kemudian mendekatkan wajahnya, menatap tato itu dengan intensitas yang membuat Jisung mendadak salah tingkah.

“Pantesan kamu tiba-tiba banget nanya soal My Body My Choice. Ternyata mau pamer ginian toh? Kamu sengaja ya pilih penempatan di sini biar aku susah fokus kalau kamu lagi ngga pakai baju? Bilang aja kamu emang mau bikin aku makin nempel sama kamu, kan?”

Jisung berdehem, rona merah tipis muncul di telinganya. “E-eh? Mana ada pikiran ke sana...”

“Halah, bohong banget,” Seungmin tertawa kecil, merasa menang. Ia menepuk pelan dada Jisung. “Makasih ya, Ji. Aku apresiasi banget niat kamu—meskipun caranya bikin jantungan. Tatonya bagus banget, it suits you perfectly.

Jisung tertawa renyah, menarik Seungmin ke pelukannya lagi. “Oke, poin buat kamu. Tapi serius, makasih udah mau terima kejutan konyol ini. Nanti pas masa recovery-nya, kamu mungkin bakal agak merinding liatnya karena bakal gatal dan mengelupas. Tapi aku janji, kalau udah sembuh, hasilnya bakal jauh lebih cakep.”

Seungmin menyandarkan kepalanya di dada Jisung. “Iya, iya. Nanti aku bantuin kasih salep. Tapi inget, stay honest with me. Jangan pernah hilang kabar lagi cuma demi kejutan. Aku lebih milih kamu jujur mau tato seluruh badan daripada harus ngerasain takut kehilangan kamu kayak tadi.”

Jisung mencium puncak kepala Seungmin erat. “Iya, sayang. Janji. Sekarang kita makan ya? Keburu dingin tuh makanannya. Habis ini aku pamerin detail tatonya lebih jelas lagi, mumpung kamu lagi mode muji-muji begini.”

“Dih, mulai deh kepedeannya!” seru Seungmin sambil tertawa, akhirnya suasana tegang itu benar-benar mencair sempurna.


Keesokan paginya, Seungmin memutuskan untuk menyambangi kamar Jisung. Ada secercah rasa janggal yang mengusik benaknya; biasanya tepat pukul setengah enam Jisung sudah terjaga dan mengetuk pintu kamarnya, namun hingga jarum jam nyaris menyentuh angka enam, sosok itu tak kunjung memunculkan batang hidungnya.

Seungmin berdiri mematung di depan pintu kamar Jisung. Niat hati ingin mengetuk, namun entah dorongan apa yang membuatnya justru memutar kenop pintu. Sebuah kejutan kecil menyambutnya—pintu itu tidak terkunci.

Benar saja, firasatnya tak meleset. Jisung masih terlelap dalam dunianya sendiri, bahkan saat Seungmin melangkah masuk, alarm di ponsel Jisung sudah berbunyi nyaring seolah memohon untuk segera dimatikan.

​Seungmin pun mengguncang bahu Jisung perlahan. Tak butuh waktu lama bagi Jisung untuk mengerjap, berusaha mengumpulkan nyawa sembari menganalisis sekitar dengan tatapan kosong.

“Bangun, Ji. Kamu ngga kerja kah?” tegur Seungmin. ​ Seketika mata Jisung membelalak. Ia menoleh cepat ke arah nakas, menatap jam beker yang bertengger di sana. Pukul 06.50 pagi. Sontak ia terlonjak dan menyingkap selimutnya kasar.

Ia terduduk di tepian ranjang sembari mengucek mata dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Di saat yang sama, atensi Seungmin teralihkan oleh pemandangan yang tak biasa: Jisung tidur mengenakan kaus. Padahal, setahu Seungmin—baik saat mereka tidur bersama maupun tidak—Jisung selalu lebih nyaman bertelanjang dada, membiarkan kulitnya bersentuhan langsung dengan selimut yang dingin karena paparan AC. ​ “Aduh sayang, maaf banget. Aku ngantuk parah sampe lupa kalau hari ini kerja. Semalem baru sampe sini jam 12 lewat dikit soalnya,” jelas Jisung dengan suara serak. ​ “Ya udah sana mandi, mumpung belum telat-telat banget,” sahut Seungmin. ​ Bukannya segera beranjak, Jisung justru merengut dan merentangkan kedua tangannya—memberi kode kalau dia minta dipeluk sebentar.

Seungmin memutar bola matanya malas, namun tetap saja ia menyerah dan menyambut Jisung ke dalam pelukannya. Jisung menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Seungmin, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang menenangkan itu sebelum mendaratkan satu kecupan kecil di sana. ​ “Wanginya yang udah mandi,” puji Jisung pelan. Ia sempat mengusap pipi Seungmin dan mengecup pucuk kepalanya lembut sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi. “Aku mandi dulu ya,” ucapnya berpamitan.

Seungmin hanya mengangguk sembari memerhatikan punggung Jisung yang menjauh.

​Sembari menunggu, Seungmin kembali ke kamarnya sebentar untuk mengambil tas dan perlengkapan lainnya, lalu kembali turun. Saat ia masuk kembali, ternyata Jisung sudah selesai mandi, namun ia masih mengenakan kaus tanpa lengan. Ketika Seungmin mendekat, matanya menangkap bercak kemerahan di dada Jisung. Jemarinya menunjuk ke arah sana secara spontan.

​”Kamu kenapa, Ji? Kok dadanya merah-merah gitu?” ​Seketika Jisung tampak gelagapan. Ia buru-buru memeriksa bagian yang dimaksud Seungmin. Meski raut wajahnya berusaha tetap tenang, ada gurat kecemasan yang tertangkap sekilas. “Oh, nggak apa-apa sayang. Tadi pas mandi aku garuknya kekencengan, bentar lagi juga hilang kok,” jawab Jisung cepat.

“Oh...” Seungmin menatap Jisung dengan tatapan skeptis. Ada secuil pikiran buruk yang sempat melintas, namun dengan segera ia menepisnya jauh-jauh. “Ya udah, cepetan. Udah siang ini, takutnya nanti malah terjebak macet,” sambung Seungmin kemudian.

Pagi itu, ketukan beruntun di pintu kamar lantai tiga membuat Seungmin menoleh. Di balik kaca jendela, ia bisa melihat Jisung yang sedang mengintip dengan cengiran khasnya, memberi isyarat tangan supaya pintu segera dibuka.

​Seungmin menghela napas pendek, namun sudut bibirnya tak bisa menahan senyum. Ia terpaksa meninggalkan hairdryer-nya yang baru saja mau dinyalakan demi membukakan pintu untuk sang kekasih yang tinggal di lantai bawah itu.

​Begitu daun pintu terbuka, Seungmin langsung menyandarkan bahunya di pintu. “Kok kamu belum siap-siap? Katanya mau berangkat pagi sama Jeongin?” Jisung malah cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aku udah mandi kok, emang belum ganti baju aja. Nanti aja pas abis kamu berangkat, kalo siap-siap dulu ga keburu takutnya. Soalnya aku tadi hampir bablas tidur lagi, kan aku janji mau pesenin Gojek buat kamu.”

​Sambil menutup pintu dan berjalan masuk, Seungmin menyahut, “Ji, please deh, aku tau cara pesen Gojek sendiri ya.”

“Ya biarin, kan aku udah janji. That's the point, balas Jisung santai.

​Mereka berdua berjalan beriringan menuju cermin di lemari yang letaknya sejajar dengan kasur. Atensi Jisung teralih sejenak ke arah meja kerja Seungmin, melihat sepiring nasi goreng yang sudah siap di sana. Saat Seungmin hendak meraih kembali hairdryer-nya, Jisung menahan tangan Seungmin.

“Ambil gih sarapannya, aku aja yang ngeringin rambut kamu,” kata Jisung sambil mendudukkan diri di tepi kasur, tangannya mulai merapikan kabel hairdryer yang sedikit kusut.

​Seungmin menurut. Ia mengambil piringnya lalu duduk di lantai—bersandar pada dipan agar Jisung lebih mudah menjangkau kepalanya. Sambil menyuap nasi goreng, Seungmin berucap, “Oh iya Ji, aku jujur lupa kalo hari ini kamu libur, jadi tadi aku bikinin kamu nasi goreng sekalian. Nanti dimakan, ya?”

“Iya sayang, makasih yaaa,” ucap Jisung lembut. Jemarinya mulai memainkan rambut Seungmin, mengarahkan angin panas dari pengering rambut itu agar menyebar rata dan cepat kering.

​Begitu semuanya siap, dengan gerakan cepat Jisung membuka aplikasi di ponselnya untuk memesankan ojek online.

“Ayo,” ajak Jisung sambil menggandeng tangan Seungmin menuju pintu.

Seungmin menyipitkan mata, menatap Jisung heran. “Kamu ngga usah ikut ke bawah, langsung ke kamar kamu aja terus siap-siap. Atau ngga, liatinnya dari atas sini aja.”

“Iya iya deh,” ucap Jisung setengah tak rela, langkahnya terhenti di depan pintu.

“Helmnya dipake ya, nanti kalo jam makan siang kasih tau aku. Dan kamu jangan skip makan siang, awas aja.”

“Okaaayyy, aman kok,” kata Seungmin meyakinkan. Ia kemudian memiringkan wajah, menyodorkan pipi kanannya—sebuah kode yang sudah sangat dihafal Jisung.

​Jisung tersenyum, ia memegang kepala Seungmin dengan kedua tangannya agar menatap lurus ke arahnya. Detik berikutnya, Jisung mendaratkan ciuman di pipi kanan, pipi kiri, kening, dan tak lupa juga di bibir.

“Sip, you're all set!

— “I love you since day one, Var.”

tags: cigarettes, smoking, overthinking, family issues, mention of screaming, mention of cheating, cheating, broken home, mention of divorce, divorce, despair, trauma, mental issue/mental illness, mention of sex, mention of drunk, harsh words, mention of degradation kink, mention of kiss, kissing, make out, slight of moan, implied sex/reference to sex (?), trust issue, hurt/comfort


Sekarang, waktu menunjukkan pukul 1 dini hari. Berbekal senandung kecil untuk menemani malamnya, Raja melajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota. Walaupun konon katanya ibu kota tak pernah beristirahat, tapi malam ini yang Raja rasakan hanyalah kesunyian panjang. Terpaan angin yang merambah masuk lewat celah kaca yang sengaja ia buka itu secara tak karuan mengenai wajahnya, meniup helai demi helai surai hitam milik pria tersebut. Namun hal itu nampaknya bukanlah masalah besar bagi Raja—ia justru menyukainya.

Pria yang tengah mengemudi itu menurunkan laju mobilnya dan mulai menjamah bangku penumpang guna mencari ponsel yang ia letakkan dengan sembarang sebelumnya. Tindakannya itu menyebabkan mobilnya sedikit oleng, yang tak lama memicu sopir truk di belakangnya untuk membunyikan klakson. Sontak saja Raja langsung kembali ke posisi awal dan mulai menepi sejenak.

Jemarinya itu meraih ponsel yang posisinya sudah hampir jatuh dari bangku, kemudian memasukkan pin angka yang diketahui merupakan tanggal ulang tahun temannya; Alvaro. Ia menatap layar ponselnya selama sepersekian detik, dengan layar yang menunjukkan room chatnya dengan Alvaro. Dapat ditebak bahwa Raja tengah ragu, ingin sekali rasanya ia menekan tombol panggilan tersebut.

Namun alih-alih menekan tombol tersebut, Raja justru mengetuk ikon profil milik Alvaro—menampilkan sebuah foto seseorang dengan senyum manis yang akan mengundang siapapun yang melihatnya. Begitu juga Raja. Bak menemukan oasis di padang pasir, ia hanya bisa tersenyum lebar dan mulai bergegas untuk meraihnya, walaupun ia tau ini tidaklah benar.

Untuk mengusir tanya dan ragunya, Raja menyalakan pemantik guna membakar batang tembakau di sela jemarinya itu. Berharap supaya ragunya ikut terhempas bersama asap yang mengepul.

“Var, gua tau hubungan kita selama ini bukan hubungan yang wajar antar teman, dan gua tau ini ngelanggar janji kita. Tapi di sisi lain gua juga tau kalau perasaan gua buat lu kali ini ngga salah. I love you since day one, Var.” Gumam Raja dalam hati. Kemudian ia menginjak pedal gas dan mulai kembali melajukan kuda besi kesayangannya.


Di dalam apartemen yang hangat, di atas ranjang empuknya, Varo merebahkan diri. Dalam usahanya memikirkan tingkah Raja yang tadi tiba-tiba saja berubah menjadi serius, ia biarkan pikirannya berlarian kesana kemari— memutar kembali memori bagaimana awal pertemuan dirinya dengan Raja; hingga membawa ingatan tentang bagaimana hubungan ini bermula.

Lima tahun yang lalu, Varo merupakan sosok yang periang dan hangat. Anak itu bahkan mendapatkan banyak julukan—cenderung pujian; atas kepribadiannya yang baik. Namun, Varo tiga tahun yang lalu tidaklah sama dengan Varo dua tahun yang lalu. Tidak; sampai saat di mana ia dihadapkan dengan suara bentakan dan teriakan yang bersahut-sahutan di lantai bawah—di ruang tamu rumahnya.

Hanya dalam kurun waktu satu tahun, ia melihat keluarganya perlahan-lahan hancur. Dalam kurun waktu satu tahun keadaan itu mengubah sifatnya, senyumnya, bahkan segalanya. Ia dipaksa untuk tau alasan dibalik itu semua.

Sakit.

Sesak.

Semua hal yang Varo kira baik-baik saja, ternyata tidak. Semua permasalahan yang orang tuanya sembunyikan itu bak bom waktu yang siap meledak kapan saja.

Selama ini, sosok ayah yang selalu ia puja-puja itu ternyata tidak sepatutnya ia puja. Ayahnya berkhianat. Kejadian yang tidak pernah Varo bayangkan akan menikam keluarganya ini pada akhirnya terjadi. Ia kira hanya sampai di sana, ternyata ada fakta lain; ibunya pun sama-sama berkhianat.

Dada Varo seakan dihantam secara berturut-turut kala mengetahuinya. Walaupun pada waktu yang sama, ibunya menjelaskan bahwa ia melakukan itu karena ayahnya yang lebih dahulu melakukannya, tetapi bagi Varo semuanya terlihat sama. Toh, pada intinya mereka berkhianat, tak peduli siapa yang memulai.

Puncaknya adalah pada saat semua orang sudah pergi menuju lelap mereka setelah menghadapi hiruk pikuk hari itu. Sementara, saat Varo berusaha jemput lelapnya pula, tiba-tiba terdengar suara bentakan itu lagi; masih samar karena memang baru permulaan.

Varo bahkan menyaksikan bagaimana suara yang bersahut-sahutan kian lama kian menggelegar bak petir yang menyambar. Tidaklah Varo hiraukan, karena topiknya setiap hari masih kurang lebih sama. Namun usaha tak acuhnya itu seketika runtuh kala rangkaian kalimat terucap dari bilah bibir ayahnya.

“Besok saya urus surat cerainya, biar kamu ngga berisik.”

Pertahanan Varo seketika hancur. Rasa optimis dan banyaknya harapan yang ia taruh di setiap doa paginya itu runtuh dalam sesaat. Walaupun dalam hatinya, ia sudah memikirkan kemungkinan terburuk, tetapi Varo masih enggan percaya.

Malam itu juga, di bawah bayang-bayang kekalutan; secara utuh ia berubah.

Siapakah Varo si anak periang dan hangat itu?

Yang ada kini hanyalah Varo yang ketus dan dingin. Varo yang haus akan rasa kuat, Varo yang enggan dianggap hancur, dan Varo-Varo lain yang bukan semestinya.

Dengan jantung yang riang bergemuruh, ia pergi untuk daratkan tapak kakinya di tempat lain; di tempat yang ia harap-harap dapat memutus memori yang ada.

Diparkirkannya mobil dengan cat legam yang mengilap akibat pantulan lampu itu. Dibukanya kaca mobil itu—dihirupnya dalam-dalam udara kebebasan yang perlahan masuk. Kemudian ia salurkan hasratnya untuk menyesap batang nikotin yang selama ini enggan ia sentuh jika tidak dalam situasi 'darurat.'

Dua batang hangus sudah; menjadi abu yang kini terbang bersama sang angin. Varo iri; ia harap dirinya bisa menjadi layaknya abu dan ikut menari bersama tuan angin—atau haruskah ia menjadi abu yang sesungguhnya?

Saat ia biarkan pikirannya lepas, tiba-tiba saja seseorang mengetuk kaca mobil yang ia sisakan separuh itu. Varo pun menurunkan kaca mobilnya; membiarkan tatap mereka bertemu.

Laki-laki yang berada di luar mobil itu tidak bisa dibuat lebih terpukau daripada ini—ketika sepasang mata masing-masing mulai beradu. Rasa kagumnya meledak sempurna. Gairahnya untuk serukan kata “cantik” tak tertahankan. Perpaduan wajah lugu disertai pipi dan hidung yang memerah akibat udara dingin, ditambah lagi mata yang sembab; membuat laki-laki asing itu ingin gaungkan banyak pujian.

Belum sempat ia berseru, Varo mulai menginterupsi tatapannya dengan lambaian tangan. Lamunannya seketika pecah; digantikan dengan sebuah perkataan konyol.

“Oh, glad then. Gua kira, lu abis mabok terus lagi—”

“Apa? Lu kira gua ngewe di parkiran?” Kata Varo tegas. Hal itu mengundang tawa sekilas dari lawan bicaranya.

Laki-laki itupun mengangguk; menyetujui perkataan Varo barusan, “Ya... gitu dah. Soalnya kadang—eh engga, sering! Ada yang begitu. Padahal di dalem juga ada room,” ucapnya sebelum akhirnya menyodorkan tangannya untuk berjabat dengan Varo. Secara natural, milik Varo tergerak untuk raih tangan dingin laki-laki di depannya.

“Gua Rajendra, biasanya dipanggil Raja. Oh iya, berhubung lu di sini, pasti mau minum, kan?—Eh, apa udah minum? Tapi kayanya belum, sih. Ngga kaya orang mabok soalnya,” Laki-laki itu bermonolog; membiarkan Varo terdiam kebingungan karena belum sempat menguraikan jawaban yang sudah di ujung lidah itu, “Mata lu sembab banget, lu lagi sedih, ya? Ada masalah? Gua asumsiin kalo lu ke sini mau mabok, kan? Kalo iya, abis ini masuk aja. Kebetulan lagi shift gua, kali aja lu butuh temen cerita, nanti cari gua aja di dalem—dan... oh iya! Hari ini ada diskon.” Lanjut pria yang barusan. Pria itu kemudian melengang masuk, meninggalkan Varo dengan sejumlah kata yang tercekat di tenggorokan.

Memang, sih, tujuannya datang ke bar malam ini tak lain adalah untuk minum-minum. Dengan harapan, semoga saja setelah ini masalahnya dapat terlupakan sejenak.

Satu batang lagi sebelum ia memutuskan untuk masuk. Di sela asap yang berhembus dari mulutnya, samar-samar ia lihat notifikasi tiada henti di layar ponselnya. Ia pilih untuk abaikan belasan notifikasi yang muncul secara bergantian itu. Alasannya sudah dapat ditebak.

Kendati kedua orang tuanya memohon supaya ia pulang, Varo tetap bulat pada pilihannya. Pikirnya, untuk apa ia pulang, jika isinya saja sudah tak lagi sama? Untuk apa ia kembali, jika yang ia rasakan hanyalah kekosongan belaka?

Di lain sisi, beruntungnya ia terlahir dengan sendok emas di tangan. Ia tak perlu khawatir perihal di mana ia akan tidur malam ini jika ia kabur dari rumah; akan makan apa esok jika ia menjauhi kediamannya?

Di perjalanan menuju bar, semua telah Varo pikirkan matang-matang. Ia berencana untuk bermalam—bahkan pindah; ke apartemen yang merupakan hadiah dari sang ayah di hari ulang tahunnya yang ke-22. Saat itu ia tak berpikir banyak, ia hanya menerimanya tanpa ada niat untuk menghuninya. Toh, ia punya rumah yang hangat, dan semua yang ia perlukan—orang tuanya—ada di sana.

Namun, siapa sangka? Kini ia baru mengerti maksud sang ayah memberikan tempat tinggal baru untuknya.

Singkatnya, itulah awal pertemuan dirinya dengan Rajendra.

Sedangkan, awal yang sesungguhnya ada di sini. Saat keduanya berada di suatu ruangan berpencahayaan minim; ditemani suara denting botol dan gelas kaca yang beradu.

Terhitung sudah satu setengah tahun—sejak pertama kali bertemu—mereka mengenal satu sama lain. Oleh sebab itu, sekarang mereka bisa makan bersama; walaupun hal ini sudah lumrah mereka lakukan sedari lama.

Raja memang sering diminta untuk menemani Varo—dalam artian yang sebetulnya—di apartemennya. Bahkan ketika tidak diminta, ia tetap rutin menyambangi kediaman Varo. Mengingat bahwa ia tau, kalau kondisi mental Varo belum stabil pasca kejadian hari itu.

Oh, dan benar—Raja sudah mengetahui cerita Varo tepat di hari mereka bertemu, setelah Varo memutuskan untuk memijakkan kaki di bar tempat Raja bekerja. Maka dari itu, ia sudah paham betul bagaimana menyikapi Varo dan segala hal yang berkaitan dengannya.

“Gimana, Var, hasilnya? Sorry banget ya, tadi ngga bisa nemenin.” Ucap Raja di sela-sela kegiatan.

Di seberang sana, Varo merasa bingung kenapa laki-laki di depannya itu meminta maaf. Walaupun meminta maaf terdengar wajar, mungkin ini salah satu bagian dari perubahan dalam diri Varo.

“Kenapa minta maaf dah? Kan gua juga ngga minta temenin. Kecuali kalo gua minta temenin, terus lu nya lupa, atau bahkan ngga mau. Baru lu minta maaf.” Jawaban dari Varo masih terdengar membatu seperti biasanya.

Alih-alih menjelaskan maksud perkataan maafnya, Raja memilih untuk mengedikkan bahunya, dan berkata, “Well, just in case.” Sambungnya singkat. Raja memilih bungkam dan menyimpan saja penjelasannya itu, karena mau bagaimanapun ia menjelaskan, Varo akan tetap teguh pada perkataannya.

Padahal, maksud yang ingin Raja sampaikan adalah; ia meminta maaf karena sebagai teman, ia tidak bisa hadir di sana bersama Varo. Tentu saja itu menjadi beban tersendiri bagi Raja, sekalipun Varo bersikeras meminta Raja untuk bersikap biasa saja.

Raja bukan tak sadar jika itu merupakan efek samping dari kejadian yang menimpa keluarga kecil temannya itu; jadi Raja tidak banyak menuntut akan sikap Varo yang seringkali ketus dan dingin.

Bahkan, ia memperlakukan Varo serupa kapas; walaupun sebagian orang menganggap bahwa batu tidak perlu diperlakukan layaknya kapas—karena sejatinya ia sudah kokoh. Padahal nyatanya, menurut Raja; batu yang kokoh sekalipun jika terus menerus diperlakukan kasar, pada akhirnya akan hancur pula.

Namun ada satu malam di mana Raja berpikir keras akan hal itu—akan perlakuannya pada Varo yang bisa saja memantik munculnya rasa-rasa ingin memiliki. Tetapi yang ia maksud bukanlah muncul pada Varo, melainkan pada dirinya sendiri. Ia takut suatu saat nanti, ia tidak bisa menahan perasaannya untuk jatuh cinta.

Maka sekarang, ia coba layangkan tanya ke yang lebih muda, “Var, how do you think about love?” Tanya Raja.

Ada sepersekian detik yang terbuang sia-sia. Hening merayap di antara mereka. Sebenarnya Varo pun bingung, apa jawaban yang paling tepat untuk ini; apa alasan yang paling lazim untuk mempercayai cinta? Pikirnya.

“Ya, gitu deh, intinya gua udah mendingan banget dari yang terakhir kontrol. Jadi ngga usah terlalu dipikirin juga buat lu-nya. Gua gapapa.” Ucapnya.

Sejenak ditatapnya si lawan bicara, Varo terlihat meninjau kembali jawabannya; apakah salah? Sehingga tidak mengundang respon dari yang lebih tua. Ya, walaupun ia tau jelas itu bukanlah jawaban yang diinginkan Raja.

Raja berdiri sambil menenteng botol miras kosong dengan tangan kirinya, sedang tangan yang bebas menyentil dahi Varo. “Gua ngga nanya itu, bego.” Saat Varo sibuk mengaduh, Raja langkahkan tungkainya menuju rak tempat mereka menyimpan persediaan minuman keras itu; mengambilnya satu, kemudian kembali duduk.

Varo kemudian sumringah, tangannya hendak meraih botol berisikan wine favoritnya. “Jawab dulu,” kata Raja, yang kemudian langsung menjauhkan botol itu dari hadap muka si laki-laki dingin.

Varo berdecak kesal, matanya tatap Raja penuh dendam, “Ya, lu mau gua jawab apa, sih?”

“Bego, bego.”

“Katain aja terus,” kata Varo geram. Lumrahnya, orang akan marah jika disebut demikian. Namun Varo hanya menunjukkan raut tak senang, tanpa adanya protes lebih lanjut.

“Degradation kink ceritanya?” Begitu mulut Raja terkatup, tiba-tiba Varo mendorongnya ke belakang; hingga Raja jatuh terduduk di atas sofa. Kendati posisi mereka lumayan canggung, namun Varo belum menyadarinya; hingga Raja tarik-dudukkan Varo dalam pangkuannya, “Gitu doang kesel. Dasar bocah.”

“Ya lagi mulut lu brengsek banget,” decihnya.

Sadar akan atmosfer yang canggung, Varo usap tengkuknya yang merinding; setelahnya ia turunkan sebelah kakinya. Namun belum sempat menapak lantai, kakinya sudah kembali diposisikan ke tempat semula oleh Raja.

Anehnya, tidak keluar satupun kalimat protes dari mulut Varo. Matanya justru tatap Raja polos, seolah menyamarkan maksud tertentu di baliknya.

“Ngga usah jawab yang itu, gapapa. Tapi jawab yang ini, Var.” Varo hanya celingukan sembari tatap penuh ke arah Raja. Perlahan tangan Raja merayap menyentuh bilah bibir Varo yang sedikit membuka. Have you ever kissed someone?

Tatap keduanya bertemu. Debar jantung Varo semakin memburu; bak tau apa yang akan terjadi di antara mereka pada menit selanjutnya. Kemudian dengan cepat ia menggeleng pelan.

“How about we kiss?” Tanya Raja.

Wajah Varo yang sendu nan lugu kala tatap Raja dalam-dalam ini membawa Raja pada memori di mana pertama kali mereka bertukar tatap. Rasanya masih sama berdebarnya; dan payahnya, kali ini Raja tak dapat membendung semua ini kala gelap pada matanya semakin masuk ke dalam tatap si manik kecoklatan di hadapannya.

Meskipun rasanya sudah mustahil ditahan, Raja tetap menunggu jawaban dari Varo. Sayangnya, Varo tidak menjawabnya dengan kalimat persetujuan—melainkan kedua tangannya yang meraih wajah Raja dengan lembut. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Raja. Deru nafas hangat itu menerpa satu sama lain seiring bibir mereka mendekat.

Gerakan itu kian merapat; bibir yang satu meraup bibir yang lain dengan lembut dan tak terburu-buru. Raja menyesap bilah lembut itu—menikmatinya perlahan; seakan takut habis jika dinikmati dengan tergesa. Rasanya ada sengatan listrik yang menjalar di sekujur tubuh, yang membuat Varo perlahan memejamkan mata.

Ciuman itu kian lama kian menuntut, terlihat dari gerak bibir Varo yang terburu dan tak beraturan. Namun hebatnya, Raja dapat menetralkan ritme permainan itu. Disusupkannya lidah itu perlahan; meskipun Raja sudah berhati-hati, Varo tetap saja kaget dan nampak kesulitan menyeimbangkan gerak Raja.

Tangan Varo yang semula hinggap di tengkuk Raja, kini dialihkan supaya mengalung pada leher yang lebih tua. Peran berganti, kini tangan Raja-lah yang menahan tengkuk Varo. Jari-jarinya sementara bergerak menelusup masuk ke punggung Varo; menyapa kulit dingin yang tidak berbalut apapun selain kaus lengan pendek yang sekarang dikenakan.

Setelah beberapa kali berhenti 'tuk raup oksigen, ciuman itu kian intens. Menyebabkan gerak tubuh Varo tak beraturan; pinggulnya yang maju mundur itu secara tak sadar membangunkan sesuatu di bawah sana. Saat miliknya dan Raja beradu, Varo terperanjat. Ia secara perlahan memutuskan untuk melepas ciuman itu, namun seakan tau maksud Varo; Raja tarik pelan tengkuk itu supaya tidak terlepas. Kali ini temponya sengaja ia percepat, yang menyebabkan lenguhan pertama keluar dari bibir mulut Varo.

“Mmmhh...” Suara itu rasanya memabukkan Raja, telinganya memerah begitu mendengar lenguhan pertama itu disusul dengan lenguhan lain.

Untuk kali ini, Raja-lah yang memutuskan ciuman itu. Membiarkan Varo mengisi stok dalam kantung udaranya yang kian menipis. Selagi menetralkan nafas, Raja tatap wajah Varo yang memerah; mata yang sayup disertai bibir yang membengkak itu nampak apik dipadukan dengan wajah lugu itu.

Tangan Varo merambat dari pundak menuju dada pria di depannya. Merabanya pelan seakan mengisyaratkan sesuatu. Kemudian tangan itu Raja raih pelan; meletakkannya di pipi seraya mengelusnya.

“Ja, lu... mau?”

It's up, sayang.”

“Tapi maaf, Ja. Gua ngga bisa janjiin kalo setelah ini kita bisa punya hubungan layaknya orang pacaran. Lu... paham, kan, kenapa gua belum bisa? Tapi kalo mau sampai sini aja, ngga ap—”

“Ngga masalah, tapi janji sama gua kalo setelah ini kita anggap semuanya kaya biasa. Gua ngga mau jauhan sama lu, Var.” Dengan anggukan sebagai jawaban, dimulailah perjanjian ini; perjanjian yang dibuat Raja pada akhirnya hanya untuk diingkari; perjanjian yang pada akhirnya menjebak dua insan tersebut ke dalam perasaan yang lebih serius.


Sayup terdengar suara pin ditekan, membuat Varo yang semula termenung sedikit kaget. Buru-buru ia posisikan diri layaknya orang yang tengah terlelap, ia tarik selimut tebal itu tutupi setengah wajahnya. Ia lakukan aktingnya itu dengan harapan ia bisa menunda pembicaraan ini, setidaknya sampai esok hari. Namun jantungnya berdegup riang, buat nafasnya sedikit tersengal, ia harap lagi supaya Raja tak menyadarinya.

Begitu masuk, Raja mendapati Varo yang terlelap. Lantas ia melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Ia melanjutkan tapak kakinya ke arah dapur; mencuci tangannya, kemudian berdiri di samping ranjang seraya memperhatikan Varo tidur.

Matanya mengamati wajah cantik di hadapnya, dengan saksama ia perhatikan sepasang mata yang terpejam sempurna; juga bibir merah muda yang terkatup erat. Sekilas cahaya rembulan itu membias menerobos masuk lewat permukaan kaca yang tidak tertutup kain itu. Ia tarik gorden berwarna coklat muda itu hingga tertutup sempurna.

Tak lupa, ia betulkan selimut yang tak membalut sempurna tubuh yang selama ini memikul banyak pilu tersebut. Diusapnya surai lembut itu barang sejenak; tangannya menyingkirkan anak rambut yang tutupi dahinya; ia kecup sekali dahi itu dan membiarkan anak rambut itu kembali menutupinya.

Ia dudukkan dirinya pada sofa yang berada persis di kaki ranjang. Nafasnya berhembus kasar; Varo yang sejatinya tidak betul-betul terlelap itu langsung dapat menebak, bahwa Raja tengah dilanda kegelisahan.

Sesekali Raja sesap rokok elektrik di tangannya itu, kemudian ia pijat-pijat pelipisnya. Setelah banyak menimbang, Varo akhirnya mengalah. Ia berpura-pura terbangun dan mengelukan nama pria yang tengah gusar itu.

“Ja?” Mendengar suara itu, lantas Raja bangun dan menghampiri Varo. Ia berjongkok di samping ranjang; menyejajarkan wajahnya dengan wajah Varo.

“Sorry, Var, pasti kebangun gara-gara gua, ya?” Varo menyunggingkan sedikit senyumnya. “Padahal udah gua bilang, gua ngga suka kalo lu minta maaf terus.” Varo angkat tubuhnya untuk duduk, sekilas ia pandangi wajah Raja yang tak nampak seperti biasanya.

“Lu nangis, Ja?”

“Ngaco,” ucapnya sambil mengusap matanya beberapa kali. Terlihat raut kecewa yang dibuat-buat dari wajah Varo, “Yah, kecewa gua. Kirain nangisin gua, gitu...” kata Varo hendak mencairkan suasana. Karena ia benci atmosfer canggung di antara mereka.

Rasa menahan diri itu kian terkikis dengan rasa segera. Jadi Raja putuskan untuk bangkit dari tempatnya dan duduk di depan Varo. Dengan cepat tangannya menyambar tangan kanan Varo; menggenggamnya dengan kedua tangan, seolah tak ingin lepas. Sementara Varo hanya membiarkan Raja berlaku semuanya; ia ingin tau, apa yang berani Raja ungkapkan dari mulutnya.

“Gua emang ngga bisa nepatin janji gua buat anggap semuanya kaya biasa, karena nyatanya perasaan gua ke lu makin lama makin jelas, Var. Tapi ada satu janji yang ngga bakal gua langgar—gua ngga bakalan maksa lu buat nerima gua. Gua cuma butuh jawaban lu sekali aja, Var. Gua sayang sama lu, demi apapun. Bukan karena kita udah pernah main, bukan karena gua gila nafsu, bukan karena gua takut ngga bakalan itu lagi kalo suatu saat kita jauhan. Gua beneran sayang sama lu, Var. Sayang banget; sampai rasanya gua mau gila kalo liat lu sedih karena hal itu, dan gua... gua di situ ngga bisa berlaku banyak. Tolong, Var, gua bakalan terima apapun jawaban lu setelah ini. Juga... terserah kalo setelah ini lu mau pilih buat asing ke satu sama lain. Gua terima.” Jelas Raja; tangannya masih menggenggam erat tangan Varo. Ditempelkannya tangan itu pada dahinya seolah memohon.

Rangkaian kalimat itu sudah Varo perkirakan sebelumnya—sejak Raja mengungkapkan yang 1% itu lewat sebuah pesan. Tak dapat dipungkiri juga, bahwa selama ini Varo pun rasakan yang sama. Kutub es yang bersarang di hatinya kian mencair; tak lain karena ada campur tangan Raja di sana.

Raja terus menyiraminya dengan percikan kehangatan. Es tebal itu pada awalnya tak membuat hatinya bergeming barang sepersen pun. Tetapi hatinya seakan pasrah kala terima banyaknya afeksi yang raja berikan terus menerus. Padahal ia tau, kelamaan afeksi yang ia terima rasanya agak berbeda dari biasanya.

Namun memberontak pun tak sanggup ia lakukan. Jauh di lubuk hatinya, ada rasa-rasa ingin terus dicintai oleh Raja. Maka tidaklah Varo hiraukan ketakutannya itu; ia coba melawan sekuat yang ia bisa.

Sampai pada akhirnya, ia berada di ujung jalan; bergandeng tangan bersama sosok yang tak pernah rela melepas genggam tangannya,

“Ja, lu selalu ada buat sejak hari itu. Gimana bisa lu bilang kalo lu ngga berlaku banyak? Dengan lu nemenin gua aja udah lebih dari cukup. Karena kalo ngga ada lu, entah kapan gua bakalan sembuh, entah sampai kapan gua bakalan mendem semuanya dan entah kapan kesepian itu bakalan hilang,” ucapnya.

Ia usap kedua pipi Raja dengan lembut seraya mendekatkan tubuhnya untuk peluk tubuh kokoh di hadapannya. “Ja, makasih udah bantuin gua buat sembuh. Makasih juga, karena lu gua pelan-pelan bisa percaya lagi; kalau sebenarnya love's still exist. Gua tau kalo trauma gua bukan tanggung jawab lu buat ngejaga, tapi tolong jangan bikin gua mikir kalo lu sama aja kaya ayah gua.”

Raja menggeleng ribut, berusaha untuk membuat Varo paham kalau dirinya tidak akan bertindak demikian. “Ngga, Var, ngga bakalan. Mulai sekarang biarin itu jadi tanggung jawab gua juga, ya?”

Meskipun Raja tak dapat melihat raut wajah Varo, tapi ia dapat rasakan anggukan kecil yang Varo lakukan. “Now, I'm all yours, Ja.”

Di balik sana, Raja sumringah tak karuan. Sangat terasa bahwa pelukannya makin erat mendekap Varo; sesekali ia selipkan kecup pada leher Varo itu. Banyak terima kasih dan pujian ia gemakan di telinga Varo. Terima kasih karena sudah percaya, katanya.

“Alvaro, you're mine, Var! You're mine! I love you. Makasih banyak, Var, makasih banyak.”

— Fin!

With love, R ⟡.·

cw // kiss

Saat pintu kembali dibuka oleh sang pemilik kamar, seketika raut kecewa menghiasi wajah Jisung. “Yah... kok ganti baju?” Ucapnya sambil memperjelas lekukan kerucut pada bibirnya.

“Ngga apa-apa, kalo dipikir-pikir agak over juga. Udah ah jangan nanya terus, ini mau masuk apa ngga?” Jelas Seungmin yang sepersekian detik kemudian membuat Jisung langsung melengang masuk.

Lagi-lagi mulut Jisung enggan terkatup, seakan takjub bahwa kekasihnya mempersiapkan semuanya sedemikian rupa. Kamarnya rapi dan wangi, bahkan rasa-rasanya tak ada jejak debu sedikitpun di seluruh penjuru ruangan. Tak lupa juga benda-benda khas band kesayangan kekasihnya itu turut menghiasi latar—yang Jisung duga akan menjadi background Seungmin saat melakukan fancall nantinya.

“Wah, gila... kamu dekor ini sendiri?”

“Sama siapa lagi emangnya?” Kata Seungmin sembari berkaca.

“Kok ngga minta bantuin aku juga?” Balasnya cepat sebelum melanjutkan room tour nya.

Seungmin betulkan sedikit riasan tipis pada wajahnya—masih enggan menjawab pertanyaan Jisung di seberang sana. Jisung yang tersadar bahwa tak ada jawaban dari Seungmin pun memulai protesnya, “eh jawab aku!”

Seungmin hela napasnya dan melirik ke arah kekasihnya lewat pantulan cermin, kemudian menggeleng sekilas.

“Ya soalnya kamu pasti misuh-misuh, terus ntar ada aja lah nanya, 'kamu lebih sayang aku apa dia? Kamu suka sama dia berapa persen? Kamu sayang aku ngga? Kamu ngga sayang aku ya?' Pasti begitu dah, kaya waktu itu aku nontonin live concert mereka.” Jelas Seungmin, meniru nada Jisung.

Alis Jisung seketika saja terpaut, hendak melihat Seungmin sebagai makhluk paling menyebalkan. Walaupun memang.

Namun, baru saja ia berpaling dari rak di depannya, tiba-tiba saja bola matanya membulat sempurna kala menangkap pantulan wajah Seungmin lewat cermin yang berada 1 meter di depannya.

Sepengetahuan Jisung, Seungmin bukanlah orang yang gemar berias diri sedemikian rupa. Jisung kira, Seungmin dengan rambut rapi tersisir, pakaian yang bersih nan licin dengan wangi semerbak yang menyertainya di setiap langkah merupakan tingkat maksimal Seungmin dalam berias.

Nyatanya itu bukan apa-apa.

Seungmin yang di depannya kini merupakan versi lain yang jarang tertangkap mata. Terakhir Jisung ingat, Seungmin berdandan seperti ini pada saat anniversary pertama mereka.

Di tengah lamunannya, Jisung tersadar oleh jentikan jari Seungmin di depan wajahnya. “Oi, diliatin mulu gua. Cakep, ya?” Ledek Seungmin sambil mengangkat kedua alisnya.

Andai saja tidak mustahil, mesti kedua bola mata Jisung sudah memancarkan kelip merah muda dengan bentuk hati untuk ekspresikan perasaannya.

“Ngga ah, b aja. Lagian lu dandan buat ketemu PACAR lu itu, bukan gua. Jadi tetep jelek.” Nada bicara Jisung seketika ketus. Namun hanya dibalas dengan tawa ringan oleh Seungmin.

Kekasih Seungmin itu tak berkata apapun lagi, melainkan hanya menghamburkan tubuhnya di kasur dan menenggelamkan wajahnya di sebuah bantal.

“Dih jelek banget lu, ngambekan.”

“Pengen banget diambelin kali,” kalimatnya masih terdengar kesal.

Seungmin pun mau tak mau ikut mendudukkan diri di kasurnya. Perlahan ia balik tubuh Jisung dan menoyornya tepat di dahi. “Ngga usah ngambek-ngambek lu, jelek banget, jelek.”

“Emang itu teleponannya ngga bisa diwakilin? Emang ngga bisa dijual aja hasil undiannya?”

“Gila aja lu diwakilin, orang gua yang pengen ketemu. Lagian ge ini hoki bro, ngga bisa kalo dijual tuh ngga bisa, ini hoki ga ada harga yang seimbang!!” Mendengarnya, Jisung kembali tertunduk lesu.

Seungmin acuh, ia pun berdiri dari duduknya. Namun tiba-tiba jisung berucap, “Tapi kalo aku liat juga boleh?” Sambil menatap punggung Seungmin penuh harap.

Seungmin hanya tersenyum kecil. Jawabannya masih tercekat di tenggorokan. Jemarinya meraih sebuah lipstik berwarna merah pekat yang ia beli via online kala itu. Sebenarnya, ini bukanlah kehendaknya untuk membeli lipstik berwarna merah menyala. Toh juga ia tidak akan memakainya.

Waktu itu ia membelinya untuk diberikan kepada Yunjin—temannya—sebagai kado ulang tahun. Sayangnya, warna yang datang tidak sesuai, dan Seungmin paham bahwa lipstik dengan warna menyala sama sekali bukanlah tipe Yunjin. Maka Seungmin putuskan untuk menyimpannya saja.

Namun siapa sangka, akan ada hari di mana Seungmin akan memakainya. Bukan untuk dipakai dalam fancall nya nanti, bukan untuk dipamerkan kepada orang lain pula.

Seungmin memoleskan lipstik yang bahkan ujungnya masih lancip itu ke bibirnya sembari tertawa kecil—sangat kecil hingga Jisung tak dapat mendengarnya.

Kemudian ia berjalan ke arah Jisung dengan cepat, hingga mata Jisung tak mampu menangkap apa yang ada di depannya beberapa detik lalu. Dengan cepat Seungmin tempelkan bibirnya pada dua titik di wajah kekasihnya—bibir dan pipinya.

“Boleh, tapi jangan berisik.” Bisik Seungmin. Lalu ia kembali ke depan cermin dan meraih dua helai tisu untuk menghapus lipstik yang menempel di bibirnya.

Jisung terperangah, matanya melotot kaget. Ia berlari ke samping Seungmin dan melihat dirinya di cermin. Dua buah cap bibir kini menempel sempurna di wajahnya.

Seungmin di sebelahnya masih cekikikan melihat Jisung yang bingung.

Masih dengan usahanya menghapus torehan merah di bibirnya, tiba-tiba Seungmin terperanjat kala Jisung meraih wajahnya dan menempelkan bibirnya dengan milik Seungmin.

I love you. Aku ngga akan mandi dan cuci muka sampe besok, biar ngga ilang!!” Ucapnya semangat.

“Ish jorok lu.” Mendengarnya, Jisung hanya cengar-cengir dan menatap Seungmin dari samping.


“Mulainya kapan sih? Aku ngantuk,” tanyanya singkat sebelum akhirnya menguap, “apa aku bikin kopi aja, ya?”

“Bentar lagi sih, kalo mau bikin ya bikin, tidur ya tidur. Bebas.”

“Ngga! Mau liat aja. Aku mau bikin kopi dulu.” Kata Jisung sambil turun dari kasur dan berlari kecil ke dapur.

Sembari menunggu air mendidih, mata Jisung masih asyik melihat Seungmin dari kejauhan. Riasan tipis itu nampak sangat cocok dipadukan dengan paras Seungmin yang memang sudah rupawan.

Saat pikirannya tengah menyelam, tiba-tiba saja Seungmin berkata—sedikit berteriak, “Ji! Udah mau aku angkat, nih. Kalo mau liat ke sini aja, ya? Tapi jangan berisik.”

Jisung buru-buru mematikan kompor, mengambil gelas, dan lain sebagainya. Ia bahkan lupa untuk menyiapkan segalanya saking ia terlarut pada pemandangan di depannya tadi.

Satu sampai dua menit kemudian Jisung datang sambil membawa kopi dan senyum di wajahnya. Ia meletakkan kopi tak jauh dari tempat Seungmin duduk. Terheran karena melihat Seungmin tak berbicara apapun, Jisung pun bertanya, “Mana orangnya? Kok kamu ngomongnya berenti?”

“Udah selesai, Sayang. Kan cuma 1 sampai 2 menit aja.” Kata Seungmin sembari melihat tangkapan layar yang tadi ia ambil.

“HAAAAHHHHH?!”

Apa yang terpikirkan di benak kalian saat mendengar kalimat 5 tahun? Pasti pikiran kebanyakan orang langsung tertuju pada kata 'lama', bukan?

Sama halnya dengan Seungmin dan Minho. Keduanya telah menjalin hubungan selama 5 tahun, yang mana bukanlah waktu yang singkat bagi keduanya untuk mempertahankan hubungan yang tengah terjalin. Suka dan duka rasa-rasanya sudah menjadi partisipan yang tak pernah absen menyambangi hari-hari mereka. Mulai dari pertengkaran kecil, hingga pertengkaran hebat telah mereka rasakan. Begitupun dengan bahagia—bahagia akan hal yang sederhana, hingga hal yang luar biasa pun telah mereka jumpai.

Namun, 5 tahun bersama bukanlah apa-apa dibandingkan harus seumur hidup bersama. Setidaknya, itulah yang terlintas di pikiran Seungmin sebelum ia merayakan hari-hari penuh rindu. Setidaknya, itulah yang Seungmin rasakan sebelum ia merayakan kehilangan.

Semuanya sia-sia.

Lama hubungan mereka itu tak menjamin bahwa suatu saat—di ujung perjalanan—mereka akan berlabuh pada sebuah pulau indah.

Alih-alih berakhir indah, mereka justru berlabuh pada sebuah pulau tak berpenghuni yang penuh kehampaan.

Semua itu berawal dari Minho yang kian sibuk, hari demi hari. Membiarkan hati Seungmin kian lama kian terbiasa dengan kehampaan.

“Kak, di mana? Katanya lagi otw, kok ngga nyampe-nyampe?”

“Maaf lupa ngabarin, tiba-tiba disuruh lembur.”

Perkara yang umum dijumpai, namun sulit untuk dihindari, bukan?

Begitulah mereka.

Minho dengan segudang egonya, melawan Seungmin yang berbekal sejuta keinginan untuk mempertahankan. Sudah jelas bukan siapa pemenangnya?


September, 2020.

Kala itu hujan turun dengan ramai, membawa beban sang awan untuk kembali ke tempatnya.

Di ujung jalan, di bawah halte bus usang, berdirilah Seungmin dengan payung biru muda yang selalu mendampinginya—menunggu sang pujaan untuk datang menjemput. Namun sayang, sudah satu setengah jam berlalu, hujan tak kunjung usai, dan yang ditunggu tak pernah datang.

Seungmin pulang—tentunya—dengan perasaan tak karuan, dihiasi dengan wajah murung yang nampaknya akan abadi di sana hingga beberapa hari ke depan.

Secercah cahaya ponsel tiba-tiba menerangi sudut kamar Seungmin. Seakan memanggil si pemilik untuk segera menghampiri, dan benar saja, Seungmin terbangun dari duduknya dan dengan segera melihat layar ponselnya.

**“Seungmin maaf, tadi depan kantor banjir gara-gara hujannya lama. Terus jadi macet, dan aku juga kena macetnya.

Bohong.

Seungmin sengaja memilih rute yang sedikit memutar, melewati kantor tempat Minho bekerja. Padahal, di sana jelas terlihat bahwa tidak ada sisa-sisa genangan yang menyebabkan kemacetan. Jika benar, seharusnya ada, bukan?

Ditambah lagi, Seungmin bertanya kepada sang sopir bus, “Pak, tadi di sini banjir, ya?”

“Eh, ngga kok, Mas. Ngga banjir, soalnya waktu itu—sekitar 4 bulan yang lalu—kan salurannya udah dibenerin atau apalah itu saya ngga paham. Jadi, sekarang kalau hujan lama, di sini sudah ngga banjir dan ngga macet.” Mendengarnya, hati Seungmin tiba-tiba saja mencelos.

Sebenarnya ada apa dengan Minho belakangan ini?

Kemudian Seungmin pun memberanikan diri untuk mengirim pesan singkat pada Minho, guna memperjelas semuanya.

“Kamu bohong lagi?

“Bohong gimana, sayang?”

Sial.

Hati Seungmin kembali melunak akibat satu kata sialan itu.

**“Ngga jadi, no. Aku mau tidur dulu, capek. Kamu juga bersih bersih sama makan sana.


Desember, 2020

“Seung, maaf, aku hari ini ternyata ngga bisa. Mau diganti lain hari?”

“Ngga usah kak, lagian ini juga udah ke 3 kalinya kita reschedule. Selesaiin aja urusan kamu, aku belakangan aja.”

**“Seung, maksudku ngga gitu.”

“Aku ngga ngomongin maksud apa-apa, kenapa kamu kayanya defensif banget? Berarti bener, ya? Kita beneran udah ngga bisa, ya?

“Sayang...”

“Gapapa no, jujur aja. Aku malahan bakal marah kalo kamu ngga jujur.

“Sebenarnya akhir-akhir ini aku lost feeling ke kamu. Maaf. Aku ngga mau bilang, karena aku pikir ini cuma bosen sementara, terus nanti makin lama bakalan makin membaik. Tapi beberapa bulan ini ngga ada yang berubah, rasanya aku ke kamu udah hampa, udah kosong, udah ngga ada perasaan yang spesial kaya dulu, Seung.

Dengan ini, Seungmin rasa semuanya telah jelas. Saat itu juga, ia mengakhiri semuanya.

“Kita putus aja ya, kak? Tolong jangan ditunda-tunda lagi. Yang ada kita sama-sama sakit nantinya, jadi, ayo udahan. Makasih banyak udah jujur, setelah ini kita bisa kaya biasa aja, kita bisa temenan kaya sebelumnya. Itupun kalo kamu mau.


Dua tahun telah berlalu berlalu,

keduanya menjalani hidup masing-masing dengan memikul jutaan memori. Memori itu masih terekam sangat jelas, terutama pada ingatan Minho.

Tentang bagaimana lucunya Seungmin yang kerap kali merajuk, tentang bagaimana senyum itu terukir indah pada wajah teduhnya, dan tentang bagaimana usaha-usaha Seungmin yang mati-matian mempertahankan hubungan mereka. Semua itu baru Minho sadari sekarang—saat semuanya telah usai, saat semuanya telah sirna.

Meskipun keduanya memutuskan untuk tetap menjalin hubungan baik sebagai teman, nyatanya hal tersebut tidaklah berjalan mulus.

Menjelang akhir tahun pertama setelah mereka usai, Minho mulai merasakan kehampaan menguasai dirinya. Biasanya, Seungmin yang energinya selalu penuh itu akan selalu memecah kehampaan yang terkadang Minho rasakan. Sekarang tak lagi ada Seungmin si berisik yang akan mengganggu Minho lagi. Seungminnya telah menjauh.


Oktober, 2023.

Minho yang hampir gila akibat pekerjaannya akhir-akhir ini pun memutuskan untuk pergi ke pusat kota untuk sekedar melepas penatnya sejenak. Hari ini cuaca terik dan tidak ada hambatan. Tidak, sampai tiba-tiba matanya menangkap punggung yang familiar di pikirannya.

Itu Seungmin.

Baru saja Minho hendak mendekat, tiba-tiba tangan laki-laki asing hinggap pada pundak Seungmin—merangkulnya.

Ekspresi Seungmin saat itu begitu sumringah. Senyum yang kala itu selalu ditujukan pada Minho, kini tidak lagi. Kini senyum manis itu tak lagi ragu untuk Seungmin berikan pada orang lain—yang Minho rasa—telah menggantikan dirinya.

Dahulu, ketika Seungmin tertawa, kesenangan Minho akan naik berkali-kali lipat. Namun, kini sebaliknya. Saat melihat Seungmin tertawa, rasanya hati Minho berubah menjadi serpihan kaca yang hancur berantakan.

... Seungmin tertawa karena pria lain.

Ketika Minho tengah berada dalam lamunannya, tiba-tiba suara Seungmin memecah fokusnya. Suara itu datang dari arah belakang, suara itu masih terdengar manis nan syahdu—bagi telinga Minho, suara Seungmin adalah nada yang terus mengalun indah, kemudian berputar-putar pada pikirannya.

“Kak Minho!” sapaan itu terdengar ceria, namun nampaknya si pemilik nama tidak berkenan untuk dipanggil demikian. Batin Minho bergulat, seharusnya tidak seperti ini!

Kemudian, dengan terpaksa Minho menoleh pelan sembari susah payah mengukir senyum palsu. Netranya menatap Seungmin dan kekasihnya secara bergantian.

“Kak Minho, kok Whatsapp nya ceklis satu? Kak Minho ganti hp, ya? Terus juga imessku ngga dibales-bales.

“Oh.. iya, Seung, ganti hp. Ganti nomor juga, soalnya banyak nomor nyasar ngga jelas gitu. Maaf, ya, dan... emangnya ada apa?”

Seungmin dengan wajah polosnya hanya mengangguk paham, kemudian tiba-tiba ia menarik tangan kekasihnya untuk menjabat tangan Minho. *“Kak, kenalin, ini Hyunjin. Tunangan aku,” “

Gila. Benar-benar gila.

Rasanya sakit bukan main. Hati Minho rasanya kembali hancur, bahkan lebih parah dari yang barusan.

“Hai, saya Hyunjin. Masnya kalo ngga salah mantannya Seungmin, ya?” ucap Hyunjin sembari menjabat tangan Minho.

Mimho mengangguk ragu, bibirnya tersenyum tipis mendengarnya. “Halo, iya, bener. Gue Minho.”

“Jadi gini, Kak. Aku sebenarnya mau ngabarin kakak, kalo bulan November nanti, aku sama Hyunjin mau menikah. Aku mau antar undangannya, tapi aku ngga tau sekarang kakak tinggal di mana.”

Sial, sial, sial.

Minho bersumpah serapah dalam benaknya, berulang-ulang kali hingga Seungmin kembali menegur dirinya yang melamun, lagi.

“Gimana, kak? Kira-kira bisa dateng ngga, ya? Aku lupa bawa undangannya, tapi ada undangan online nya juga k—”

Omongan Seungmin terputus, digantikan dengan Minho yang secara tiba-tiba menjabat tangan Seungmin sembari tersenyum lebar. “Kalo gitu, undangannya nanti kirim online aja ke ig aku, Seung. Masih anda kok ig-nya, nanti aku login lagi. Makasih banyak ya undangannya. By the way, maaf ngga bisa ngobrol lama-lama, udah ditungguin soalnya,” ucap Minho dengan tempo napas terdengar yang naik dan turun dengan cepat.

Belum sempat mendengar jawaban dari Seungmin, tiba-tiba saja Minho melengang tanpa mau menunggu si lawan bicara mengatakan sepatah kata. Seungmin dan Hyunjin hanya berdiri kebingungan melihat Minho yang kian menjauh.

Walaupun mengatakannya dengan senyuman lebar, ternyata sedari tadi Minho tengah mengumpulkan air mata pada pelupuk matanya. Kini air mata itu sedikit demi sedikit telah jatuh membasahi pipi Minho.


Sesal itu akan selalu ada, setidaknya begitulah yang Minho pelajari belakangan ini.

Seharusnya, hanya Minho yang dapat melihat senyum secerah matahari itu. Seharusnya, Minho-lah yang menggenggam tangan itu.

Jika saja ia mau bertahan sedikit lagi, jika saja tidak ada yang namanya hilang rasa, dapat Minho pastikan bahwa dirinya-lah yang kini berdampingan dengan Seungmin. Bukan orang lain.

— fin.

kini, hanan rengkuh tubuh ringkih di hadapannya. kendati tubuh kekasihnya itu kian melemah, namun hanan yakin, bahwa jiwa kuat itu ada di dalam tubuh kekasihnya—jiwa kuat itu bernama faza. nama yang selalu ia puja-puja setiap kali ia mengingatnya.

“jelek apanya, za? cantik loh ini, masih seratus persen cakep! aku jamin, za.”

meskipun sudah berpuluh-puluh kata hanan bisikkan, faza tetap berlarut dalam tangisnya, dan tubuhnya masih setia berada dalam dekapan hanan sejak beberapa saat lalu.

“hanan, maaf...”

“kenapa minta maaf, za? minta maaf perihal apa?”

“karena—” belum faza lontarkan sepatah kata, namun nampaknya hanan sudah terlebih dulu membaca pikirannya.

“masih cantik, masih sama. aku bakalan terus ngeliat kamu kaya waktu pertama kali kita ketemu, za. masih dengan mata yang ngga mau lepas kalo udah ngeliat kamu, masih dengan mulut yang selalu takjub setiap kali aku ngeliat kamu. aku janji, za, ngga akan ada yang berubah. aku janji.”

drunk, kissing


di luar toilet, suara musik menggema begitu keras. hingga suara seungmin terdengar tak jelas adanya. “ayo pulang, inooo...” rengek seungmin sambil menarik-narik ujung kemeja yang minho kenakan.

bukannya langsung bertindak, minho justru kewalahan mengatur detak jantungnya akibat tingkah seungmin yang demikian.

“cuci muka dulu dikit, biar agak sadar,” minho bawa tangannya untuk meraih tangan seungmin ke arah keran. namun uluran tangan minho segera ditepis oleh seungmin. lantas minho tatap seungmin yang di kelopak matanya tiba-tiba telah berlinang air mata.

benar saja, tiba-tiba seungmin menangis. walaupun minho tau bahwa ini adalah sebagian kecil efek dari alkohol, tetap saja minho rasakan panik menjalar ke seluruh tubuhnya.

“jahat! lo... lo ngga liat, hah?!” seungmin menyeka air matanya sekilas, “gue udah dandan—ino, liat gue!” kedua tangan seungmin menangkup pipi minho untuk terus berpaku pada parasnya.

“kok ngga bilang apa-apa?” seungmin kembali menangis, kali ini ia hanya sesegukan. “jelek, ya? kalo lo ngga jawab, berarti gue jelek. ya, kan?” baru saja minho rasa tangisan itu sedikit mereda, tiba-tiba seungmin kencangkan lagi tangisnya setelah kalimat terakhirnya diucapkan.

kemudian minho angkat tubuh seungmin untuk didudukkan di wastafel. setelahnya, minho buru-buru peluk seungmin sembari mengusap punggungnya.

“ngga jelek, seungmin. lu paling cantik di sini. tapi, emang kalo boleh tau kenapa lu dandan? kayanya itu ada maksud tertentu, ya? hahaha...”

i hate you, ino. tapi anehnya gue ngga tau... gue ngga tau kenapa gue mau repot repot dandan, dengan pikiran bakalan ketemu sama lo. makanya harus bagus, harus cakep, harus cantik, harus semua-semuanya.”

minho sedikit terkejut dengan pengakuan tiba-tiba seungmin. karena minho kira, hanya dirinya lah yang tengah memperjuangkan kembali mereka. minho pikir, seungmin membencinya karena memberi ide untuk putus secara baik-baik 2 tahun lalu. minho pikir, seungmin telah berpaling jauh darinya.

do you still love me?

silly,

hahaha.. that's fine. maaf, gua kira—”

stupid! of course... of course i still love you. kita ini belum selesai! gue... gue sebenarnya ngga mau kita selesai...”

seungmin tertunduk lesu setelah mengucapkan kalimat tersebut. seakan menyesal, tetapi di lain sisi seungmin pun merasa lega. setidaknya minho tau perasaannya, bukan?

can i kiss you? satu kalimat tiba-tiba saja dilantunkan minho tanpa pikir panjang.

seungmin mengangguk pelan, ia mulai mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah minho. perlahan tapi pasti, bibir mereka pun bertautan. melumat milik satu sama lain secara bergantian, dengan lembut dan tanpa tergesa.

jemari seungmin tertaut di leher minho, membuat tangannya seperti aksesori yang mengalung indah di leher si pemilik. sedang minho letakkan tangannya pada pinggang seungmin, menariknya perlahan, membuat batas antar keduanya benar-benar sirna.

mereka bercumbu dengan khidmat, mereka tau bahwa tak ada siapapun yang dapat menginterupsi mereka. maka dari itu mereka jadikan ini seperti dunia milik berdua. benar-benar berdua. hanya minho dan seungmin yang ada di dalamnya.

saat mereka melepas cumbuan, minho berucap, umm.. do.. do you want to... start over with me?

there's no reason to say 'no' right?


jengkel? sudah pasti. ibaratnya, sudah ribuan cemburu seungmin rasakan, namun yang ini rasanya berkali-kali lipat lebih berbekas. pasalnya, ini bukan lagi berkaitan tentang siapa yang menaruh perasaan dan siapa yang tak bisa membalas perasaan tersebut. tetapi, ini tentang dua orang yang pernah berbagi perasaan yang sama, walaupun akhirnya kandas, namun... siapa yang tau?

kendati demikian, seungmin percayakan seluruhnya pada han jisung—kekasihnya. ia percaya, bahwa selalu ada alasan dibalik suatu tindakan. walaupun terkadang tidak masuk akal—apapun tentang jisung—ia akan coba percaya.

gemuruh suara motor milik jisung menjalar ke dalam rungu seungmin—buat dirinya bersiap diri untuk menyambut sang kekasih dengan ratusan pertanyaan yang siap menghujam.

suara hembusan angin yang keluar masuk jendela kamar seungmin ikut mengiringi deru nafas dan langkah jisung yang kian jelas.

ketukan yang jisung layangkan sebanyak 3 kali itu menggema di seluruh ruangan. kemudian, begitu pintu dibuka, jisung rasakan hawa yang membuat bulu kuduknya naik. rasa-rasanya, ia seperti memasuki ruang penyiksaan.

“stop, berhenti di situ. jangan deket-deket sebelum jawab pertanyaan aku!” perintah seungmin begitu jisung maju selangkah melewati ambang pintu.

tangan jisung dikepalkan bertautan, jarinya bergerak gelisah, dan matanya menjelajah ke sembarang arah.

“duduk aja kalo capek,”

begitu jisung hendak melangkah ke sofa, tindakannya segera diinterupsi oleh suara seungmin. “siapa bilang boleh duduk di sofa? duduk di situ aja.” tanpa menjawab, jisung pun langsung duduk bersimpuh, dan kepalanya tertunduk lesu.

“you'd better not lie, ji.”

demi apapun, jika momen mereka dapat dirangkum, baru kali inilah mulut jisung dapat tertutup rapat saat bersama seungmin.

“coba cerita, cerita mantan kamu boleh, cerita tadi di tempat makrab juga boleh. go ahead!

jisung menarik napasnya panjang, kemudian menghembuskannya—dengan harapan, semoga sisa-sisa kebodohannya akan ikut terhembus secara bersamaan.

“okay, jadi... aku pacaran sama dia tuh waktu kelas 10 sampe kelas 11 awal kalo ngga salah. kita putusnya ngga baik, entah karena waktu itu aku yang baru pertama kali pacaran, makanya masih bingung harus ngapain, akhirnya berantem terus. atau emang seharusnya pacaran ngga kaya gitu. aku ngga bisa ngomong banyak tentang dia, selain karena aku ngga mau, aku udah ngga minat lagi buat bahas dia. sumpah, ini ngga bohong.”

seungmin yang duduk di pinggir kasur hanya menatap ke arah jisung, sembari mengangguk paham. kemudian, ia mengisyaratkan jisung untuk melanjutkannya.

“kalo tadi, aduh... sumpah sayang, aku ngga lirik-lirik ke dia, ngga salaman juga ke dia, pokoknya ngga ada kontak apa-apa sama dia. aku pure cuma nyampur sama sunwoo, jeno, hyunjae, yoshi, karin, giselle, sama echan doang. ya pokoknya sirkelanku aja, kalo ngga percaya tanya aja karin, dia ngga pernah bohong anaknya. sumpah.”

“terus kenapa bohong? kenapa ngga bilang kalo ada mantan kamu?”

“ya karena... aku pikir kan selagi aku udah ngga punya ikatan atau kontakan apapun sama dia, ngga ada masalah kalopun ngga bilang ke kamu. aku udah mau cerita ini dari lama, cuma kalo dipikir kayak... ngga penting juga, sayang. maksudnya bukan kamu yang ngga penting, tapi ya emang aku sama dia tuh kayak udah aja gitu loh, paham 'kan?”

seungmin kembali memijat pelipisnya yang sedari tadi berdenyut nyeri. “gimana bisa sih, ji, kamu bilang itu ngga penting?”

“iya... maaf, maaf. kamu boleh marah kok, kalo mau...”

“yaudah, bangun gih, bersih-bersih sana. terus tidur. aku mau tidur duluan.” seungmin pun berbalik dan menutupi dirinya dengan selimut tebal.

jisung pun tersenyum, menampakkan cengiran terbaiknya. yaa... walaupun kini seungmin tengah berpaling. kemudian ia berlari kecil, dan seperti biasa, ia menyingkap selimut tersebut, kemudian dengan sengaja menindih seungmin dengan tubuhnya.

“ji... ahhh beraaaaat!”

“aku minta maaf, ayo maafin aku dulu. janji ngga bakal gini lagi, janji bakalan bilang apapun ke kamu, even itu hal kecil,” ucap jisung sembari menggelitik leher dan pinggang seungmin.

“ah! hahahaha stop, jangan curang! kamu ngga bisa pake cara ini—aaaa jisung, geli! tolooong tolooong, ada orgil!”

“bilang dulu,”

“iya iya dimaafin, plis stop gelitikin aku, aku capek ketawa!” akhirnya jisung pun berhenti. kini, ia membalik tubuh seungmin untuk tatap dirinya sejenak sebelum akhirnya kembali berpelukan. jisung posisikan wajahnya pada perpotongan leher jenjang kekasihnya—menghirupnya dalam-dalam, kemudian tak lupa ia meninggalkan beberapa kecupan di sana.

“i hate you, ji. i really do.”

“hate me all you want, babe. but i know you love me the most.”


hari ini merupakan hari yang cukup panjang untuk dilalui keduanya. pulang dari sekolah sebelum malam menjelang adalah dambaan mereka hari ini, dan beruntungnya hal itu dapat terwujud.

... dan di sinilah mereka berada, duduk bersama beralaskan karpet bulu sembari menyalakan televisi—yang sesungguhnya tak mendapat atensi.

aww... pelan-pelan plis, jangan digesek. di-tap tap aja, seung.” suara protes yang bersahutan dengan erangan yang keluar dari mulut hyunjin ini tak berhenti sejak tadi. tepatnya, sejak seungmin mulai mengoleskan obat merah pada luka di tubuh hyunjin akibat kejadian tadi.

seungmin membalasnya dengan decakan kesal sambil sesekali melempari hyunjin dengan tatapan sinis. “bisa diem aja ngga? tadi kayanya pas lagi pukul-pukulan ngga ada tuh ngomong aduh aw aw, giliran diobatin gini aja ngeluh terus,” kata seungmin sembari menekan kapas itu lebih keras.

“aaa.. pelan! sshh perih. terus atuh itumah beda, kan tadi mah ngga berasa. kalo udah kena air, terus kena betadine tuh rasanya nyawa udah di ubun-ubun, tau ngga?” balas hyunjin dengan argumen yang menurut seungmin sangat tidak rasional.

“ya mikir aja, emang kalo berantem kaya tadi nyawa lo tuh ngga di ubun-ubun juga?”

“itu cuma majas hiperbola!”

“giliran dibilangin aja, bisaan aja ngelesnya, segala majas majas dibawa.”

“siap, salah!”

kira-kira begitulah percakapan antar keduanya berlangsung. tak usah berharap banyak, karena isinya hanyalah argumen yang asalnya dari kepala yang secara harfiah berbeda 180 derajat.

dirasa cukup, keduanya beralih untuk makan. karena rasa-rasanya, khusus hari ini energi mereka lebih terkuras dibanding biasanya.

selesai mengonsumsi makanan masing-masing, mereka pun memilih untuk bersantai sejenak. seungmin menyandarkan kepalanya di pundak hyunjin, matanya ia pejamkan dengan nyaman, dan tangan mereka tertaut mesra. hyunjin tatap wajah seungmin dari pantulan kaca televisi yang sudah dimatikan sejak 10 menit yang lalu.

“seung,” panggil hyunjin pelan.

“um?”

“maaf, karena tadi ngga mikir dulu.”

seungmin mengangguk pelan, “walaupun gue ngga suka sama tindakan lo tadi, seengganya gue tau... gue ini siapa sih buat lo. eh! tapi maksud gue, ya... gue ngga minta pembuktian dengan cara ini. tapi berhubung ini semua terjadi di luar kendali, seengganya gue bisa ambil sesuatu dari sana. jadi, gue yang harusnya bilang maaf dan makasih. so... makasih banyak, ya, hyunjin!

“i love you, seung. just so you know, i love you... that much.”