Senin, 30 Maret 2026.

Pagi itu, ketukan beruntun di pintu kamar lantai tiga membuat Seungmin menoleh. Di balik kaca jendela, ia bisa melihat Jisung yang sedang mengintip dengan cengiran khasnya, memberi isyarat tangan supaya pintu segera dibuka.

​Seungmin menghela napas pendek, namun sudut bibirnya tak bisa menahan senyum. Ia terpaksa meninggalkan hairdryer-nya yang baru saja mau dinyalakan demi membukakan pintu untuk sang kekasih yang tinggal di lantai bawah itu.

​Begitu daun pintu terbuka, Seungmin langsung menyandarkan bahunya di pintu. “Kok kamu belum siap-siap? Katanya mau berangkat pagi sama Jeongin?” Jisung malah cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Aku udah mandi kok, emang belum ganti baju aja. Nanti aja pas abis kamu berangkat, kalo siap-siap dulu ga keburu takutnya. Soalnya aku tadi hampir bablas tidur lagi, kan aku janji mau pesenin Gojek buat kamu.”

​Sambil menutup pintu dan berjalan masuk, Seungmin menyahut, “Ji, please deh, aku tau cara pesen Gojek sendiri ya.”

“Ya biarin, kan aku udah janji. That's the point, balas Jisung santai.

​Mereka berdua berjalan beriringan menuju cermin di lemari yang letaknya sejajar dengan kasur. Atensi Jisung teralih sejenak ke arah meja kerja Seungmin, melihat sepiring nasi goreng yang sudah siap di sana. Saat Seungmin hendak meraih kembali hairdryer-nya, Jisung menahan tangan Seungmin.

“Ambil gih sarapannya, aku aja yang ngeringin rambut kamu,” kata Jisung sambil mendudukkan diri di tepi kasur, tangannya mulai merapikan kabel hairdryer yang sedikit kusut.

​Seungmin menurut. Ia mengambil piringnya lalu duduk di lantai—bersandar pada dipan agar Jisung lebih mudah menjangkau kepalanya. Sambil menyuap nasi goreng, Seungmin berucap, “Oh iya Ji, aku jujur lupa kalo hari ini kamu libur, jadi tadi aku bikinin kamu nasi goreng sekalian. Nanti dimakan, ya?”

“Iya sayang, makasih yaaa,” ucap Jisung lembut. Jemarinya mulai memainkan rambut Seungmin, mengarahkan angin panas dari pengering rambut itu agar menyebar rata dan cepat kering.

​Begitu semuanya siap, dengan gerakan cepat Jisung membuka aplikasi di ponselnya untuk memesankan ojek online.

“Ayo,” ajak Jisung sambil menggandeng tangan Seungmin menuju pintu.

Seungmin menyipitkan mata, menatap Jisung heran. “Kamu ngga usah ikut ke bawah, langsung ke kamar kamu aja terus siap-siap. Atau ngga, liatinnya dari atas sini aja.”

“Iya iya deh,” ucap Jisung setengah tak rela, langkahnya terhenti di depan pintu.

“Helmnya dipake ya, nanti kalo jam makan siang kasih tau aku. Dan kamu jangan skip makan siang, awas aja.”

“Okaaayyy, aman kok,” kata Seungmin meyakinkan. Ia kemudian memiringkan wajah, menyodorkan pipi kanannya—sebuah kode yang sudah sangat dihafal Jisung.

​Jisung tersenyum, ia memegang kepala Seungmin dengan kedua tangannya agar menatap lurus ke arahnya. Detik berikutnya, Jisung mendaratkan ciuman di pipi kanan, pipi kiri, kening, dan tak lupa juga di bibir.

“Sip, you're all set!