Selasa, 31 Maret 2026


Keesokan paginya, Seungmin memutuskan untuk menyambangi kamar Jisung. Ada secercah rasa janggal yang mengusik benaknya; biasanya tepat pukul setengah enam Jisung sudah terjaga dan mengetuk pintu kamarnya, namun hingga jarum jam nyaris menyentuh angka enam, sosok itu tak kunjung memunculkan batang hidungnya.

Seungmin berdiri mematung di depan pintu kamar Jisung. Niat hati ingin mengetuk, namun entah dorongan apa yang membuatnya justru memutar kenop pintu. Sebuah kejutan kecil menyambutnya—pintu itu tidak terkunci.

Benar saja, firasatnya tak meleset. Jisung masih terlelap dalam dunianya sendiri, bahkan saat Seungmin melangkah masuk, alarm di ponsel Jisung sudah berbunyi nyaring seolah memohon untuk segera dimatikan.

​Seungmin pun mengguncang bahu Jisung perlahan. Tak butuh waktu lama bagi Jisung untuk mengerjap, berusaha mengumpulkan nyawa sembari menganalisis sekitar dengan tatapan kosong.

“Bangun, Ji. Kamu ngga kerja kah?” tegur Seungmin. ​ Seketika mata Jisung membelalak. Ia menoleh cepat ke arah nakas, menatap jam beker yang bertengger di sana. Pukul 06.50 pagi. Sontak ia terlonjak dan menyingkap selimutnya kasar.

Ia terduduk di tepian ranjang sembari mengucek mata dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya. Di saat yang sama, atensi Seungmin teralihkan oleh pemandangan yang tak biasa: Jisung tidur mengenakan kaus. Padahal, setahu Seungmin—baik saat mereka tidur bersama maupun tidak—Jisung selalu lebih nyaman bertelanjang dada, membiarkan kulitnya bersentuhan langsung dengan selimut yang dingin karena paparan AC. ​ “Aduh sayang, maaf banget. Aku ngantuk parah sampe lupa kalau hari ini kerja. Semalem baru sampe sini jam 12 lewat dikit soalnya,” jelas Jisung dengan suara serak. ​ “Ya udah sana mandi, mumpung belum telat-telat banget,” sahut Seungmin. ​ Bukannya segera beranjak, Jisung justru merengut dan merentangkan kedua tangannya—memberi kode kalau dia minta dipeluk sebentar.

Seungmin memutar bola matanya malas, namun tetap saja ia menyerah dan menyambut Jisung ke dalam pelukannya. Jisung menyusupkan wajahnya ke ceruk leher Seungmin, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang menenangkan itu sebelum mendaratkan satu kecupan kecil di sana. ​ “Wanginya yang udah mandi,” puji Jisung pelan. Ia sempat mengusap pipi Seungmin dan mengecup pucuk kepalanya lembut sebelum akhirnya beranjak ke kamar mandi. “Aku mandi dulu ya,” ucapnya berpamitan.

Seungmin hanya mengangguk sembari memerhatikan punggung Jisung yang menjauh.

​Sembari menunggu, Seungmin kembali ke kamarnya sebentar untuk mengambil tas dan perlengkapan lainnya, lalu kembali turun. Saat ia masuk kembali, ternyata Jisung sudah selesai mandi, namun ia masih mengenakan kaus tanpa lengan. Ketika Seungmin mendekat, matanya menangkap bercak kemerahan di dada Jisung. Jemarinya menunjuk ke arah sana secara spontan.

​”Kamu kenapa, Ji? Kok dadanya merah-merah gitu?” ​Seketika Jisung tampak gelagapan. Ia buru-buru memeriksa bagian yang dimaksud Seungmin. Meski raut wajahnya berusaha tetap tenang, ada gurat kecemasan yang tertangkap sekilas. “Oh, nggak apa-apa sayang. Tadi pas mandi aku garuknya kekencengan, bentar lagi juga hilang kok,” jawab Jisung cepat.

“Oh...” Seungmin menatap Jisung dengan tatapan skeptis. Ada secuil pikiran buruk yang sempat melintas, namun dengan segera ia menepisnya jauh-jauh. “Ya udah, cepetan. Udah siang ini, takutnya nanti malah terjebak macet,” sambung Seungmin kemudian.