The Unspoken Truth

TW // Mention of Cheating, Past Trauma, High Anxiety. CW // Miscommunication, Overthinking, Body Modification (Tattoo), Fluff & Teasing.


Jarum jam menunjukkan sekitar pukul empat sore, saatnya Seungmin menyudahi rutinitas kantornya. Namun, sebuah pesan singkat dari Jisung masuk ke ponselnya; kekasihnya itu mengabarkan bahwa ia baru akan tiba sekitar jam setengah lima atau bahkan jam lima karena jalanan sedang berada di puncak kemacetan. Alhasil, Seungmin memutuskan untuk menunggu di toko kopi langganannya yang terletak tak jauh dari kantor.

Lonceng pintu berdenting nyaring saat Seungmin melangkah masuk. Aroma biji kopi panggang yang familier langsung menyapa indranya, disusul sapaan hangat dari barista di balik konter bernama Junseok.

“Eh, Kak Seungmin! Tumben belum dijemput. Kak Jisung ke mana?” tanya Junseok semangat.

“Iya nih, tadi dia bilang agak macet. Terus berangkatnya agak telat dari kantor, soalnya ada yang kelupaan dikerjain,” jawab Seungmin sembari menghampiri meja kasir.

Sambil menunggu kopinya siap, Seungmin terhanyut dalam lamunannya. Junseok bukan sekadar barista bagi mereka, melainkan sosok adik yang ingin mereka lindungi. Itulah alasan mengapa sekarang ia dan Jisung sepakat untuk menanggung biaya kuliah Junseok. Bagi mereka, melihat Junseok bisa tetap belajar tanpa harus memusingkan biaya adalah kebahagiaan tersendiri—sebuah janji yang mereka pegang teguh.

Begitu pesanan siap, Junseok menarik kursi dan duduk di hadapan Seungmin. “Gimana Kak kerjanya? Aman ngga? Lu kepikiran apa? Ada masalah?”

Seungmin terdiam sejenak sebelum akhirnya berujar lirih, “Sebenarnya ya, Jun, gue tuh ngga ada masalah sama Jisung. Cuma ada hal yang ganjel di hati gue. Gue kayak curiga dia lagi nyembunyiin sesuatu...”

“Eum... Lu curiga Kak Ji selingkuh?” tebak Junseok langsung.

Seungmin langsung gelagapan. “E-enggak juga sih. Maksud gue tuh curiganya karena takut dia ngelakuin sesuatu yang bodoh gitu. Tapi pikiran gue ngga bisa berhenti.”

“Iya sih, tapi gue yakin lu curiganya perihal takut Kak Ji selingkuh. Tapi, first of all, gue rasa dia bukan orang yang kayak gitu deh, Kak.”

“Sama, Jun. Gue juga mikir kayak gitu. Tapi pikiran gue ngga bisa berhenti.”

“Coba aja lu obrolin dulu Kak, jelasin alasan yang mendasarinya tuh apa. Ibaratnya kayak bukti konkrit yang lu punya lah,” saran Junseok bijak.

Seungmin mengangguk sekilas. “Iya, bener juga, Jun. Kejadian yang bikin gue curiga tuh dari semalam sampai tadi pagi, jadi gue kayak... bingung harus apa. Makasih banyak ya sarannya, nanti gue coba. Gue jadi malu deh, otak gue rasanya ngga jalan, gue malah nanya ke orang yang bahkan belum pernah pacaran!”

“Dih, gue gini-gini bisa jadi konsultan cinta, Kak! Don't underestimate me! balas Junseok bercanda. Tak lama kemudian, lonceng pintu berbunyi lagi. Sosok Jisung tampak melangkah masuk dengan semangat, menyapa Junseok dan memeluknya akrab. Setelah berbincang singkat, pasangan itu pun pamit untuk pulang.

Sekitar sepuluh menit berkendara, Jisung menghentikan mobilnya di depan sebuah toko es krim. Ia turun sebentar dan kembali dengan dua cup es krim di tangannya.

“Habis ini kan kita beli makanan, kamu mau dine in atau take away? Kalo take away, kita makan di kost aja, atau gimana?” tanya Jisung pelan.

Seungmin menyahut, “Aku pengen rebahan, pegel-pegel gitu badanku rasanya. Jadi, di kost aja ya, Ji?”

Jisung pun mengiyakan tanpa bantahan. Ia kembali melajukan mobilnya, mengunjungi satu persatu pertokoan yang tadi sudah ia janjikan pada Seungmin—mulai dari makanan ringan hingga makanan berat, semuanya ia beli sesuai keinginan kekasihnya itu.

Namun, di balik tumpukan kantung makanan di kursi belakang, suasana di dalam mobil malam itu rasanya—entah mengapa—terasa jauh lebih canggung dari biasanya. Seungmin mendadak banyak diam, matanya lebih sering tertuju ke luar jendela memandangi lampu jalanan yang berkelebat. Di sisi lain, Jisung tampak beberapa kali melirik ke arah Seungmin, seolah ragu untuk memulai percakapan yang lebih dalam.

Meskipun demikian, kedekatan mereka seakan tak terpengaruh; Jisung yang seakan menawarkan pundaknya untuk disandarkan, dan Seungmin yang dengan senang hati menerimanya, membuat mereka berdua berpikir bahwa mereka akan baik-baik saja. Kecanggungan ini hanyalah satu kejadian langka dari ribuan jam yang telah mereka habiskan bersama.

Dirasa perbekalan mereka sudah cukup, Jisung langsung mengarahkan mobil menuju kost. Mobil yang melaju dengan kecepatan konstan itu akhirnya sampai di tujuan dalam waktu tempuh sekitar satu jam. Sesampainya di sana, Seungmin pamit untuk mandi di kamarnya terlebih dahulu. Jisung pun mengiyakan, karena memang sudah menjadi kebiasaan mereka untuk membersihkan diri di kamar masing-masing. Mereka ingin saat berkumpul nanti, tubuh mereka sudah dalam keadaan segar, sehingga lebih nyaman untuk mengobrol.

Sekitar empat puluh menit berlalu, Seungmin pun turun menuju kamar Jisung yang berada satu lantai di bawahnya. Ia memutar knop pintu perlahan, dan netranya langsung menangkap sosok Jisung yang tengah sibuk mengenakan bajunya.

Lagi-lagi, pemandangan itu mengusik pikiran Seungmin. Rasanya ada yang salah. Biasanya, jika mereka sudah berada di dalam kamar kost, Jisung adalah tipe orang yang paling anti memakai baju karena tidak tahan dengan udara kamar yang seringkali terasa gerah baginya. Namun sekarang, Jisung justru terlihat terburu-buru mengenakan baju seolah ada sesuatu yang harus segera ia tutupi. Hal-hal kecil yang janggal itu kembali menumpuk di kepala Seungmin, membuat rasa herannya kini mencapai puncak tepat saat Jisung menoleh ke arahnya.

“Eh, sayangku,” sapa Jisung. Suaranya terdengar lebih lembut dari biasanya, seolah ada nada lega sekaligus ragu yang bercampur jadi satu.

Jisung melangkah mendekat, memangkas jarak di antara mereka sebelum akhirnya menarik Seungmin ke dalam pelukan manja. Ia menyandarkan dagunya di bahu Seungmin, memeluknya erat-erat seolah sedang mencari pegangan. Seungmin sempat terdiam sejenak, merasakan detak jantung Jisung yang sedikit tidak beraturan, sebelum akhirnya ia memutuskan untuk membalas pelukan itu.

Seungmin menumpu dagunya di pundak Jisung, membiarkan keheningan menyelimuti mereka selama beberapa saat. Ia bisa merasakan napas Jisung yang terasa berat di ceruk lehernya.

“Kenapa, Ji? Kok dari tadi kayaknya gelisah banget?” tanya Seungmin akhirnya, suaranya pelan, hampir menyerupai bisikan. Ia mengusap punggung Jisung pelan. “Kamu kalau mau cerita atau ngomong sesuatu... bilang aja ke aku. Aku di sini.”

Jisung menghela napas panjang dan melepaskannya dengan kasar. “Kalau boleh jujur, aku rasanya kurang puas sama jawaban kamu tadi perihal kamu masih marah atau ngga. Kita kayak jadi canggung banget, Seung. Aku merasanya kamu kayak ada yang disembunyiin, ada hal yang ganggu pikiran kamu, tapi kamu nggak bisa bilangnya.”

Jisung melepaskan pelukannya sedikit, menyisakan tangannya yang masih melingkar protektif di pinggang Seungmin. “Iya, emang. Kamu jelek banget kalau nutup-nutupin sesuatu. Mending kamu bilang ke aku sekarang, kamu kenapa. Aku minta maaf kalau semisal aku ada kesalahan yang aku ngga sadarin, karena jujur aku clueless banget, sayang.”

Seungmin menatap mata Jisung sejenak, lalu ia memegang lembut tangan kekasihnya itu dan menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang. Setelah mereka duduk berhadapan, Seungmin menghela napas panjang untuk mengumpulkan keberanian.

“Iya Ji, sebenarnya ada hal yang ganggu banget di aku. Awalnya aku pikir... mikir kayak gini tuh salah banget, soalnya apa yang aku dapetin dari kamu tuh justru kebalikannya,” ucap Seungmin memulai.

Jisung mengernyitkan dahi bingung. “Maksudnya kebalikannya gimana, Seung? Aku beneran nggak nangkep arah omongan kamu.”

Seungmin menarik napas dalam, meremas jemarinya pelan sebelum melanjutkan. “Aku kasih analogi ya, biar kamu paham maksudku. Bayangin kamu lagi kehilangan barang, dan kamu curiga sama satu orang. Tapi, orang yang kamu curigain ini justru nunjukin sikap yang 'anti-maling' banget. Dia yang paling semangat bantuin kamu nyari barang itu, dia yang paling sibuk jagain kamu, bahkan dia yang paling depan buat nangkep pelakunya.”

Seungmin menjeda sebentar, menatap mata Jisung yang tampak mulai serius menyimak.

“Otomatis pikiran kamu bakal terdistraksi, kan? Kamu bakal mikir, 'Nggak mungkin dia orangnya, lihat aja dia baik banget dan bantuin aku segininya'. Tapi di sisi lain, jauh di lubuk hati kamu, kamu juga tahu kalau ngebantu nangkep maling itu bukan bukti otomatis kalau dia bukan pelakunya—selama maling aslinya belum ketemu. Dia bisa aja cuma lagi bikin skenario buat nutupin jejaknya sendiri.”

Seungmin menghela napas panjang. “Pikiranku muter-muter di situ aja, Ji. Pas aku mau curiga, kamu baik banget ke aku, jadi pikiranku positif lagi. Tapi pas ada hal aneh muncul, aku balik negatif lagi. Dan siklus itu jujur... bener-bener ngeganggu dan capek banget di aku.”

“Oke, aku paham analoginya,” potong Jisung pelan. “Sekarang aku mau minta kamu langsung to the point. Apa yang bikin kamu mikir kayak gitu? Apa dan siapa?” Tanya Jisung. Ia berusaha memverifikasi kembali, benarkah yang Seungmin maksud itu adalah dirinya.

Seungmin menjawab singkat namun telak, “Kamu.”

Jisung tampak tersentak, namun ia memberikan ruang bagi Seungmin untuk mengurai semuanya. Seungmin pun mulai membedah kejanggalan yang ia rasakan: mulai dari sikap Jisung yang “terlalu baik” hingga ia merasa terbebani, kejadian semalam saat Jisung menghilang tanpa kabar, hingga kebiasaan tidur yang berubah drastis pagi tadi.

“Nih, aku bahas satu-satu ya Ji. Jujur, awalnya aku ngerasa sikap kamu akhir-akhir ini tuh baiknya beda. Oke, kamu biasanya memang baik, jajanin aku, kasih apa yang aku mau. Tapi kali ini tuh rasanya kayak ada yang ngeganjel, kayak kamu ngelakuin itu buat menutupi sesuatu. Demi apa pun, aku baru mikir kayak gini kali ini aja, Ji. Awalnya aku pikir ini cuma perasaan ngga enak karena aku terus-terusan kamu kasih sesuatu. You spend a lot for me, apalagi kita mau anniv. Aku stres mikir harus kasih kado apa yang setara karena kamu udah beneran all-in. Aku nggak mau hubungan kita berat sebelah. Awalnya aku pikir cuma sebatas itu.”

“Tapi lama-kelamaan, gerak-gerik kamu makin mencurigakan. Kamu ngga biasanya slow respon selama itu, bahkan ngga balas chat sampai malam. Aku beneran hilang arah, Ji. Aku sempat telepon via pulsa karena takut WA kamu di-silent, tapi kamu tetep ngga jawab. Padahal biasanya kamu selalu sigap kalo aku udah pake jalur pribadi kayak gitu.”

“Besokannya pas aku bangunin kamu, aku makin bingung. Kok kamu tumben tidurnya pakai baju lengkap dan selimut? Padahal aku hafal banget kebiasaan kamu yang ngga tahan gerah. Bahkan sampai barusan, kamu masih pakai baju di kamar. Padahal biasanya kalau udah di kost, kamu kayak ngga kenal baju. Puncaknya tadi pas aku lihat ada bercak kemerahan di dada kamu dan kamu panik buat nutup-nutupin itu... Coba kalau kamu jadi aku, kamu bakal mikir aneh-aneh ngga?”

Jisung menghela napas panjang, tampak lega. Ia membelai rambut Seungmin perlahan. “Seung, kamu ingat nggak waktu aku tanya soal My Body, My Choice? Di situ tuh aku... aku merasa butuh sesuatu yang baru dalam diriku. Dan kalau kamu mau tau...”

Jisung menjeda kalimatnya, lalu perlahan ia membuka kaosnya. Seungmin tersentak hebat. Di sana, di permukaan kulit dada Jisung, kini terukir sebuah tato permanen yang indah namun masih tampak kemerahan dan meradang.

“Ini konyol sih,” Jisung terkekeh ngeledek melihat reaksi Seungmin. “Maksud pertanyaanku waktu itu, aku mau tahu pendapat kamu gimana. Aku berencana bikin tato ini buat surprise pas anniversary nanti, makanya aku tanya secara terselubung.”

Jisung menggenggam tangan Seungmin erat. “Ternyata hal yang aku anggap simpel itu belum tentu diterima sesimpel itu di kamu. Buktinya kamu mikirnya sampai ke mana-mana. Harusnya aku jujur dari awal bukannya nutupin. Aku tahu arah pikiranmu ke mana, Seung... tapi aku janji, aku ngga bakal pernah ngecewain kamu. Aku ngga bakal ngulangin apa yang mantan kamu dulu lakuin. Maaf kalau aku udah bikin kamu overthinking dan gelisah. Tolong percaya sama aku, aku ngga pernah ada niat untuk ke arah (perselingkuhan) itu sama sekali.”

Seungmin mematung, menatap tato itu sebelum emosinya meledak. “Are you kidding me, Ji?!” seru Seungmin dengan suara naik satu oktav. Ia memukul pelan bahu Jisung berkali-kali. Istg, you really are an idiot! Kamu bikin aku gila semalaman cuma gara-gara ini?!”

Air mata Seungmin tumpah karena rasa lega yang luar biasa konyol. “Kamu tau ngga? Aku udah nyiapin mental kalau kamu bakal mutusin aku atau ada orang lain! Aku sampai ngabsen kebiasaan tidur kamu, aku ngerasa disogok sama kebaikan kamu... dan ternyata alasannya cuma karena tato?! Kenapa harus disembunyiin kayak gini?!”

Jisung justru terkekeh pelan ngeledek. “Aduh, aduh... pelan-pelan mukulnya, sayang. Ini pasien tato baru, lho. Jadi... kamu beneran mikir aku selingkuh? Wah, Seung, kreatif banget ya jalan pikiran kamu semalaman. Sampai segitunya kamu merhatiin aku, hm?”

Seungmin mendengus keras, tapi jemarinya mengusap pinggiran tato itu dengan hati-hati. Ia mendongak, menatap Jisung dengan senyum tipis yang mulai muncul.

“Tapi jujur ya, Ji... surprise-nya berhasil sih. Aku beneran kaget setengah mati. Dan tatonya... it actually looks really hot on you,” bisik Seungmin. Jisung menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan pujian tiba-tiba itu. “Oh ya? Tadi katanya aku idiot?”

“Ya emang idiot! Tapi ya emang bagus tatonya,” balas Seungmin cepat sambil mencubit pelan pinggang Jisung, membuat pria itu mengaduh kecil. Seungmin kemudian mendekatkan wajahnya, menatap tato itu dengan intensitas yang membuat Jisung mendadak salah tingkah.

“Pantesan kamu tiba-tiba banget nanya soal My Body My Choice. Ternyata mau pamer ginian toh? Kamu sengaja ya pilih penempatan di sini biar aku susah fokus kalau kamu lagi ngga pakai baju? Bilang aja kamu emang mau bikin aku makin nempel sama kamu, kan?”

Jisung berdehem, rona merah tipis muncul di telinganya. “E-eh? Mana ada pikiran ke sana...”

“Halah, bohong banget,” Seungmin tertawa kecil, merasa menang. Ia menepuk pelan dada Jisung. “Makasih ya, Ji. Aku apresiasi banget niat kamu—meskipun caranya bikin jantungan. Tatonya bagus banget, it suits you perfectly.

Jisung tertawa renyah, menarik Seungmin ke pelukannya lagi. “Oke, poin buat kamu. Tapi serius, makasih udah mau terima kejutan konyol ini. Nanti pas masa recovery-nya, kamu mungkin bakal agak merinding liatnya karena bakal gatal dan mengelupas. Tapi aku janji, kalau udah sembuh, hasilnya bakal jauh lebih cakep.”

Seungmin menyandarkan kepalanya di dada Jisung. “Iya, iya. Nanti aku bantuin kasih salep. Tapi inget, stay honest with me. Jangan pernah hilang kabar lagi cuma demi kejutan. Aku lebih milih kamu jujur mau tato seluruh badan daripada harus ngerasain takut kehilangan kamu kayak tadi.”

Jisung mencium puncak kepala Seungmin erat. “Iya, sayang. Janji. Sekarang kita makan ya? Keburu dingin tuh makanannya. Habis ini aku pamerin detail tatonya lebih jelas lagi, mumpung kamu lagi mode muji-muji begini.”

“Dih, mulai deh kepedeannya!” seru Seungmin sambil tertawa, akhirnya suasana tegang itu benar-benar mencair sempurna.